Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan

Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan
Pertukaran


__ADS_3

" aku mohon bertahanlah" ucap Valmira berkali-kali. Wanita itu menatap Gyan sendu.


" aaakkk" teriak Gyan kesakitan.


tak ada jalan lain, Valmira mengeluarkan Giok yang di curinya, dia mengangkatnya dan menunjukkan pada Shana.


" kau tidak menyadari ini?" ucap Valmira.


" giok ku? bagaimana kau bisa mendapatkannya?" tanya Shana, wanita itu kini ikut turun dan berdiri tak jauh dari kawanan Valmira.


" berikan padaku!" tegas Shana, berhati-hati. Dia berharap jika Valmira tidak tau benda apa yang dia curi.


" cabut kutukan di tubuh Gyan" Valmira membuka penawaran.


" tidak mungkin!" tolak Shana mentah-mentah.


" baiklah aku akan menghancurkannya"


" tidak, ! berikan padaku atau aku membunuh Gyan" Shana malah membalik penawaran. Hal ini membuat Valmira semakin nekad. Dia mana mungkin menerima tawaran itu. Ini sama dengan membuat Shana semakin mudah menghancurkan Azerbaza.


" aakkk, uhuk uhuk" Gyan semakin kesakitan, dan muntah darah. Valmira semakin panik.


" baiklah, akan aku berikan" Valmira dengan memikirkan cara lain agar Giok ini tidak sampai di tangan Shana.


" Valmira jangan lakukan" peringatan dari Kangta, lelaki itu jelas tau apa yang ada dalam giok tersebut. antara hidup dan mati, Giok itu akan memilihkan inangnya antara pilihan itu.


" serahkan padaku" Shana mendekat dengan cepat dan ingin merebut langsung dari tangan Valmira. sayangnya dia kalah cepat, Valmira lebih dulu menjatuhkannya dan segera memasukkan Giok itu pada tubuh Gyan.


" tidaakkk! Giok kekekalan kuuu!" Shana sangat kaget dan terpuruk, dia sudah menantikan hal ini sejak kemarin. Kini dengan lancangnya Valmira mengambil dan memberikannya pada Gyan.


wusshh


Shana memberikan serangan pada Valmira dalam jarak dekat. Valmira langsung terhempas jauh dan menabrak tembok pembatas balkon.


" yang mulia"


" Valmira"


ccruusshhh


Kangta membalas serangan dan membuat Shana menyingkir jauh dari Gyan.


" uhuk uhuk " Valmira batuk, benturan yang dia dapatkan cukup keras. Wanita itu dengan di bantu Kangta mulai beranjak dan kini duduk bersandar di tembok.


" kau tak apa?"


" tidak, hanya luka luar"


Dia melihat Giok itu sudah bersatu dengan tubuh Gyan, semuanya menyingkir dan membiarkan Gyan terbaring di sana.


tubuh Gyan di selimut cahaya emas, tubuh lelaki itu perlahan naik dengan hembusan angin yang semakin kencang. membuat semuanya penasaran apa yang akan terjadi pada Raja Gyan.


" bagaimana kau bisa mengambil Giok itu?" tanya Kangta pelan.


" saat Shana lengah akibat bersatu dengan aura iblis, aku segera mengambil giok itu"


" ternyata wanita itu melakukan penggalian untuk menemukan pusaka ini" ucap Kangta. Dia salah berfikir jika Shana akan membuat boneka sihir.


" kau mengenali nya?" lanjut Kangta.


" tentu saja, Itulah alasan ibuku meninggal"


satu fakta lain yang Kangta dapatkan dari alasan meninggalnya Marilla yang sangat misterius.


" apa menurutmu Gyan bisa mengendalikan energi itu?"


" aku yakin tubuh Gyan akan sanggup menerima kekuatan yang ada di dalam Giok tersebut"


" kau tidak takut dengan efek dari giok itu?"


" semuanya akan baik-baik saja, aku sangat tau kerja dari giok itu" jawab Valmira dengan masih memegangi dadanya yang nyeri.


Tubuh Gyan disana di selimuti dengan cahaya terang. Sangat mencolok sekali karena saat itu malam sudah sangat larut. Tak ada cahaya lain yang bersinar selain dari tubuh Gyan. semuanya menatap tak berkedip tak kala Gyan kini berdiri dan meski matanya belum membuka lelaki itu sudah berganti posisi menjadi tegak.


" aku harus menyelamatkan diri" lirih Shana ketakutan. Dia tidak mau mati secepat ini.


wuushh


ccruusshh


Valmira langsung menghalau, dia mengikat Shana dengan tali sihirnya.


" mau kemana kau, tak akan aku biarkan kau pergi dari sini" ucap Valmira.


" lepaskan aku!" Shana memberontak.


cccruusshh


cccruusshh


Kangta dan Deon juga memberikan tali sihirnya, Shana semakin terikat tidak bisa bergerak.

__ADS_1


" sialan kalian! " Shana mengeluarkan sihir hitamnya namun tetap tidak bisa membuka ikatan.


Disisi lain penyatuan Gyan sedikit lagi selesai. lelaki itu kini turun dan berdiri tegap di depan semua orang.


Shana semakin ketakutan, matanya melotot dan tubuhnya memberontak keras.


" lepaskan aku" teriak Shana semakin kencang.


wuussshhhh


akhirnya ikatan itu terlepas, Shana langsung terbang menyelamatkan diri.


cccrrraaassshhhh


sesuatu menahannya terbang, Gyan sepenuhnya tersadar dengan kekuatan barunya.


" kau ingin lari kemana?" tanya Gyan. Dia sudah lama ingin membalas dendam perbuatan Shana pada keluarganya. Baik Ibu suri, Falla, bahkan Valmira. Dia akan membalas semua itu dengan berkali-kali lipat.


wwinng


Shana di banting dengan keras ke halaman utama kerajaan. jatuhnya Shana membuat retakan pada tanah tersebut.


" uhuk uhuk.uhuk" Shana langsung batuk darah.


Gyan terbang ke bawah mendekati Shana. Valmira dan yang lainnya menyaksikannya dari atas istana.


" dengan ini kita tidak perlu khawatir lagi" lirih Valmira dengan menghembuskan nafas lega.


" ya kau benar, Gyan tidak akan kesulitan sama sekali untuk menghukum Shana. bahkan dia bisa memilih berbagai cara untuk menyiksa wanita itu" balas Kangta dengan penuh rasa syukur.


" kau sudah aku peringatkan untuk berhenti menyentuh keluargaku, tapi kau malah tidak menghiraukan aku" ucap Gyan dengan berjalan pelan mendekati Shana. Wanita itu semakin merinding ketakutan, raut wajah Gyan benar-benar menyeramkan.


ccrrraasshhh


" aakkk" Shana teriak lagi, Gyan memberikan cambukan pada tubuh Shana. Wanita itu tidak memiliki kesempatan untuk membalas.


" ampun, tolong maafkan aku" teriak Shana kesakitan.


" maaf ku tidak akan bisa mengembalikan semua yang sudah kau ambil" desis Gyan penuh amarah. Ibu Suri sudah meninggal dan tidak akan bisa hidup lagi.


cccrrraassshhh


" akkk"


semua menatap dengan perasaan lega dan senang. Bahkan para pelayan serta penjaga istana Prysona hanya diam menyaksikan Ratu mereka di siksa di depan mata mereka. tabiat Shana yang sudah sangat keterlaluan membuat hati nurani mereka mati pada Shana. Wanita itu memang pantas mendapatkannya.


" Gyan hancurkan aura iblis dalam tubuh Shana terlebih dahulu" teriak Valmira. jangan sampai kejadian di Mystick terulang kembali. Aura iblis kabur saat inangnya tewas. Karena memang seharusnya aura itu di musnahkan terlebih dahulu baru inangnya.


cccraaaasshhh


Gyan membuat tubuh Shana melayang dengan satu tangannya. Sedangkan tangan yang lainnya mengeluarkan energi lain dan di lemparkannya pada dada Shana.


" aaakkkk" Shana mendongak ke atas dengan tubuh kaku. Rasa sakit yang dia terima sangatlah menyiksa. Gyan berusaha mengeluarkannya energi iblis dalam tubuh Shana.


cccrraaassshhh


energi itu terlalu menyatu dengan Shana, sangat besar dan sulit untuk di keluarkan. Shana sudah sangat lemas, dia tak tau lagi akan bagaimana nasibnya. Jika rasa sakit ini tidak segera berhenti dia lebih memilih mati saja. siksaan ini tiada tara rasanya.


cccrrraasshh


" aaaaakkkkkk"


Gyan menambah lagi kekuatannya, dia masih berusaha mengeluarkan energi hitam itu. Sedikit lagi, dia akan bisa mengeluarkannya.


Kini mulai terlihat gumpalan asap hitam yang sedikit demi sedikit keluar dari tubuh Shana. Gyan langsung mengumpulkannya dalam tabir penjara.


ccrrrraasshhh


gumpalan itu semakin banyak dan pekat. semuanya melihat seakan tidak percaya, aura iblis itu sangat banyak, bahkan ada kilatan merah menyala dari dalam gumpalan itu.


" apakah itu aura iblis itu?" tanya Aden pada Deon yang berdiri di sampingnya.


" iya, itulah yang kami hadapi saat berada di kerajaan Mystick" jawab Deon setengah bangga pada dirinya.


" kalian sangat hebat jika pernah melawannya" balas Aden semakin menyanjung Deon.


".tentu saja " jawab Deon sombong.


Valmira mendadak turun di samping Gyan.


" aku akan ikut mengeluarkan kutukan pada tubuhmu" Gyan mengangguk, malam ini segala sihir hitam akan Gyan musnahkan.


ccruuashhh


Valmira mengarahkan tangannya pada dada Gyan. Karena energi hitam yang ada dalam tubuh Gyan semakin melemah, Valmira bisa dengan mudah mengeluarkannya. bahkan Gyan sama sekali tidak merasakan sakit.


Valmira mencampurkan aura itu bersama dengan aura milik Shana. Tabir itu kini terlihat sangat penuh, Dan sesekali aura itu terlihat mengeluarkan serangan agar bisa menghancurkan tabir penjara.


" kita musnahkan bersama" ucap Gyan pada Valmira.


wanita itu mengangguk.

__ADS_1


crruuussshh


Valmira mengeluarkan energinya, dan perlahan semua energi hitam dalam tubuh Shana sepenuhnya keluar. Gyan menurunkan tubuh lemah Shana, membiarkannya terbaring di atas tanah. Dia dan Valmira berkonsentrasi untuk menghancurkan energi hitam ini.


ccrraashhh


cccrruussshh


Valmira dan Gyan terus meningkatkan energinya. Aura tersebut semakin memberontak, karena dia bisa merasakan energi lain yang akan memusnahkannya.


Valmira dan Gyan tak menyerah, mereka berdua terus mengerahkan energinya. Aura itu sedikit demi sedikit memudar. Dan tak beberapa lama menghilang.


Valmira dan Gyan saling pandang dengan senyum senang. Saking bahagianya Gyan mendekati Valmira dan langsung mencium bibir wanita itu.


" selalu saja" gerutu Aden. semuanya jadi memalingkan wajahnya. karena aksi Gyan yang terlalu berani.


Sedangkan Valmira yang ikut senang, hanya diam saja tidak menolak. Dia lupa dia jika atas ada banyak pasang mata yang melihat.


Rombongan Kangta memilih turun menuju halaman istana. Mereka akan menemui pasangan hebat itu.


Valmira mendorong dada Gyan saat mendengar langkah kaki mendekat.


" kau sangat hebat Gyan" ucap Kangta.


" lalu bagaimana nasib wanita itu?" tunjuk Deon pada Shana yang terbaring lemas.


" aku hampir melupakannya" ucap Gyan. mereka semua berjalan menuju Shana.


" apa yang ingin kalian lakukan?" ucap Shana sambil menyeret tubuhnya menjauh. Dia tidak memiliki banyak kekuatan untuk melawan, apa lagi energinya sudah habis.


ccrruusshh


Kangta mengikat tubuh Shana, dan membuat wanita itu semakin ketakutan.


" lepaskan aku, kalian jangan harap bisa membunuhku" ucap Shana yang masih belum bisa menyadari kekalahannya.


" lebih baik kita kurung dulu Shana,dan kita undang petinggi Prysona yang masih selamat untuk melaksanan hukuman pada Shana. Bagaimanapun selama ini dia terpengaruh aura iblis yang ada di tubuhnya" ucap Kangta bijak.


" baiklah, tapi wanita ini harus segera mati. Jika tidak aku sendiri yang akan membunuhnya" ucap Gyan keras. Valmira menyentuh dada Gyan agar lelaki ini menahan emosinya.


" kau tak perlu khawatir, hukumannya pasti tidak jauh-jauh dari kematian" ucap Kangta.


" tidak! lepaskan aku" Shana masih terus memberontak.


Gyan menyerahkan semua urusan mengenai Shana dan Prysona pada Kangta dan Aden. mereka berdua dengan yang lainnya tetap tinggal di Prysona. Sedangkan Valmira harus kembali untuk melihat Bayi G. Gyan dengan alasan yang sama juga ikut pulang ke Garamantian.


matahari bersinar di timur, tak kala Gyan dan Valmira kembali ke kerajaan. Setelah membersihkan diri Valmira langsung menemui bayinya. G sudah sangat merindukan ibunya. terlebih lagi dia sangat haus dan ingin segera minum susu.


" kau menunggu ibu?" Valmira menggendong sebentar G lalu membaringkannya untuk minum susu.


Tak perlu waktu lama G langsung menyedot dengan kencang makanannya. Valmira tersenyum pelan sambil mengelus kepala G pelan. Lama kelamaan Valmira mulai mengantuk. Rasa lelah langsung menyergap tubuhnya setelah berhasil melumpuhkan Shana.


Gyan memilih keluar istana, dia masih menyesuaikan dirinya dengan energi yang baru saja dia terima.


" Giok kekekalan" lirih Gyan, dia mencari semua buku yang berkaitan dengan pusaka ini. tapi sangat sedikit yang membahasnya, bahkan beberapa mengatakan jika Giok ini hanyalah karangan fiktif semata. Tidak ada yang percaya jika benda ini benar-benar ada.


kerajaan Prysona hari ini mengalami keterpurukan yang sangat. Karena setelah di periksa, jumlah mayat untuk pengorbanan sangatlah banyak. hampir menyamai jumlah korban di kerajaan Mystick. banyak sekali pelayan yang mengalami trauma dan kehilangan kesadaran.


" aku tidak percaya jika hal seperti ini juga terjadi di Prysona" ucap Kangta, kejahatan yang terjadi di sini tidak jauh beda dengan di kerajaan Mystick. pantas saja aura iblis itu bisa langsung menuju kemari dan bergabung dengan tubuh Shana.


" ini sangat keterlaluan, bahkan anggota kerajaan yang selamat hanya segelintir saja. itupun karena mereka masih kecil dan di sembunyikan keluarga lainnya"


" tidak ada yang bisa mengambil keputusan lebih baik kita saja yang mengaturnya" ucap Aden. Dia sendiri tak bisa melakukan banyak hal. Percuma menyerahkan Shana pada Prysona saat kerajaan kosong tanpa ada yang bisa mengeluarkan keputusan.


" ya Aden benar" imbuh Deon.


" baiklah, kita lanjutkan pemeriksaan dan nanti kita laporkan pada Gyan. mungkin Raja Gyan memiliki saran yang baik untuk masalah ini"


" iya tuan, begitu saja"


Alhasil satu harian ini Kangta dan yang lainnya sibuk mengumpulkan berbagai macam kasus kejahatan yang sudah lakukan di kerajaannya.


mereka hanya istirahat saat siang hari, dan sore harinya tetap melanjutkan pemeriksaan.


Sedangkan Gyan di kerajaan sedang menemani Falla yang sudah semakin pulih. Wanita itu masih banyak termenung karena mengingat kematian ibu suri.


" kakak minta maaf padamu karena tidak bisa menolong ibu suri waktu itu. kakak benar-benar tidak berguna" ucap Gyan sambil mengelus pundak Falla. Dia memeluk Falla pelan, adiknya masih terisak dalam pelukannya.


" kakak jangan bilang seperti itu, semuanya sudah takdir. kini setelah semua yang kakak ceritakan pada Falla, Falla benar-benar lega. Wanita iblis itu sudah mendapat hukumannya. Falla akan ikut menyaksikan saat wanita itu menerima kematiannya"


" kau tenang saja, wanita itu akan menerima hukuman yang berat" ucap Gyan menghibur adiknya.


" Falla dengar Selir Alora sudah kembali bahkan membawa pangeran kecil"


" sebenarnya dia bukan Alora, dia adalah Ratu Valmira, putri Marilla"


" astaga, jadi dia wanita yang sangat terhormat ?"


" iya, dia mengalami hal buruk yang membuat ingatannya hilang. Dan menamai dirinya Alora"


" aku ingin menemuinya kak"

__ADS_1


" kau memang harus menemuinya, tapi tunggu sampai tubuhmu benar-benar pulih" kedua saudara itu saling berpelukan, akhirnya mala petaka di Azerbaza telah lenyap.


__ADS_2