
Falla sama sekali tidak tau apa yang harus dia lakukan. Wanita itu menggenggam dengan tangan gemetar botol porselen itu lalu mengayunkan keras melempar botol tersebut.
Mata Shana langsung melotot. Sayangnya keinginan Falla untuk memecahkan botol tersebut kandas tak kala melihat botol porselen itu sama semakin tidak rusak ataupun pecah. Masih utuh menggelinding jauh melewati Shana. Shana sudah lebih dulu mengantisipasi dengan memberikan mantra khusus.
wuusshhh
" sialan kau! kau pikir bisa menggagalkan rencana ku" sentak Shana sambil mengirim serangan kecil pada Falla.
" aaakk" teriak Falla kesakitan setelah terlempar beberapa meter di belakang Gyan.
Lelaki itu masih lemas, tubuhnya terbaring dengan menahan rasa sakit. Dia hanya bisa melihat semua kejadian itu dengan tubuh tak berdaya.
tap tap tap
suara langkah kaki terdengar, tidak ada yang menyangka Ibu suri yang bersembunyi sejak tadi sudah mendengar semuanya. Wanita itu dengan cepat mengambil lain botol porselen tersebut dan membukanya.
" ibu.." lirih Falla
" tidak" Shana bersiap menyerang.
Tapi semuanya terlambat, ibu suri dengan cepat menenggak ramuan yang ada di sana dengan lelehan air mata deras mengalir.
tiba-tiba saja waktu terasa begitu lambat, Shana tidak terima. Mantra kutukan yang dia arahkan kepada Gyan mulai terputus.
" ibuuuuuu" teriak Falla dan berusaha bangkir.
pyaarrrr
botol itu terjatuh bersamaan dengan tubuh Raveena yang merasakan panas membakar.
" sialan kau!"
wwuussshhh
Shana memberikan serangan, Raveena terpental dan terjatuh.
Falla berjalan mendekati ibunya, tapi Gyan berusaha bangkit dan menahannya.
" tidak" cegah Gyan dengan suara yang parau.
" ibu.. kakak.. ibu.. tidakk" berontak Falla. Gyan langsung mendekap erat wajah Falla di depan dadanya. Saat ini Raveena menerima segala bentuk kutukan dalam tubuhnya. Wanita biasa itu tentu tidak akan sanggup menahannya.
" sial sial sial" teriak Shana kesal. wanita itu mengambil botol yang sudah pecah dengan genggaman erat. Sedangkan Douglas yang sudah berada di samping Raveena hanya menatap dengan wajah santai.
" aaakkkkk" teriak Raveena saat tubuhnya mulai rusak.
Gyan semakin erat memeluk Falla, jangan sampai gadis ini melihat hal mengerikan ini, apalagi terjadi pada ibunya.
" aaakkkk" Perlahan tubuh Raveena menghitam dan menjadi abu. Semua Gyan saksikan dengan tangan mengepal erat. Dia tidak akan tinggal diam, Shana harus menerima balasan darinya.
crruussshhh
Gyan memanfaatkan kesempatan ini untuk melarikan diri. Lelaki itu berpindah ke halaman utama kerajaan. Yang dekat dengan gerbang keluar.
" Falla cepat kau pergi dari sini" seru Gyan sedikit memaksa. Dia menyadarkan adiknya dari meratapi kepergian ibu suri.
" tapi kakak bagaimana, kita pergi bersama saja hiks" Falla tidak sanggup, wanita ini masih sangat lemah setelah kehilangan ibunya.
__ADS_1
" Falla dengarkan kakak, setelah ini kakak akan menjemputmu. kau sembunyi di tempat biasa kita kunjungi saat kau masih kecil dulu. tempat di pinggir pantai" jelas Gyan berusaha menenangkan. Karena mungkin sebentar lagi Shana pasti menemukannya.
" tidak kaka" geleng Falla cepat.
" Falla turuti perintah kakak, pergi dari sini sekarang juga!" Gyan sedikit mendorong tubuh ringkih itu.
" pergi! kakak bilang" sentak Gyan, dia tidak benar -benar ingin memarahi adiknya. Tapi situasinya memang sedang genting, dia harus membuat Falla menuruti ucapannya.
" hiks hiks," Falla tak bisa berkata apapun dia berjalan pelan menuju gerbang keluar.
" pergi, tunggu kakak" ucap Gyan sedikit melemah. Falla terus menangis sambil berjalan mundur menatap kakaknya. Dalam hatinya dia seakan meragukan perkataan Gyan yang akan menjemputnya. Kakaknya sudah sangat lemah dan dia takut jika kakaknya juga mengalami hal yang sama dengan ibunya. Mungkin ini adalah terakhir kali dia melihat kakaknya. Falla menangis sesenggukan sambil menatap Gyan.
wwuusshhh
Shana langsung mengurung Gyan saat melihat lelaki itu berada di bawah sana. Shana segera turun dan Falla yang belum sampai di gerbang langsung berlari bersembunyi di balik semak-semak. Untung saja Shana tidak sampai menyadarinya karena wanita itu melayang di atas.
" kau berniat kabur?" ejek Shana. lalu turun dan berdiri di depan Gyan yang masih terkurung.
" sama sekali bukan dirimu, atau memang seperti inilah kau aslinya. Memilik kabur daripada menyelamatkan kerajaan ini, hahahaha" Shana tertawa mengejek.
" bagaimana jika semua penghuni melihat ketidakberdayaan mu? akan sangat menyenangkan membunuhmu di depan semua orang"
Shana melepaskan kurungannya. Dan tanpa dia sadari Gyan sudah menunggu hal ini.
ccrruusshhh
serangan langsung melayang menuju Shana, sayangnya wanita itu terlalu cepat menghindar.
wusshhh
tak terima dengan serangan Gyan, Shana melempar serangan lagi. Kini terjadi perkelahian kecil.
ccrruushhh
apalagi mendadak Aden dan beberapa penyihir sudah sampai di istana. Mereka langsung menolong Gyan, ikut dalam perkelahian.
" yang mulia, anda tidak apa-apa?" tanya Aden. lelaki itu langsung memapah tuannya berdiri.
" aku baik-baik saja" jawab Gyan. Di balik semak semak sana Falla juga merasa lega. Akhirnya datang pertolongan.
" dasar iblis, kau tidak pantas berada di Azerbaza. kami akan menghukummu karena sudah melakukan kejahatan" ucap salah satu penyihir kerajaan. mereka semua tidak tau apa yang sudah terjadi sebelumnya.
" ahaahahha. menghukum ku? konyol sekali" ejek Shana dengan wajah sombong.
" hiya"
crruusshhhh
wuussshhh
perkelahian langsung berlanjut. kini Shana melawan 5 orang penyihir kerajaan. Wanita itu tampaknya tidak kesusahan sama sekali. Dengan mudah Shana menepis dan menghindar dari serangan.
" kalian semua sama sekali bukan tandinganku" remeh Shana.
wwuusshhh
Shana mengeluarkan sihir hitam yang menjerat leher para penyihir itu. Mereka kesakitan dan tidak bisa berbuat banyak.
__ADS_1
ccrruushh
aden dan Gyan maju. sihir penjerat terlepas.
" kau belum menyerah rupanya, baiklah sebaiknya kita tidak berlama-lama" Shana mengirimkan sihir kutukan pada Gyan.
Gyan langsung kesakitan,
" yang mulia" teriak Aden memegangi tubuh Gyan yang seolah seperti sedang tercekik. semua penyihir menatap tidak percaya. Mereka terduduk lemas sambil saling pandang.
" kalian pasti belum tau jika Raja kalian ini sudah menerima kutukan dariku. Dia tidak bisa melindungi kalian lagi. Dan ya meskipun ibu suri tewas karena ramuan terkahir tapi Gyan sudah meminum 2 ramuan sebelumnya. Raja kalian akan tewas di tanganku. hahahha" ucap Shana dengan senang.
" tidak,,, ini tidak mungkin. jika Raja Gyan saja kalah lalu siapa lagi yang bisa melawannya" para penyihir mendadak merasa ketakutan.
" kalian jangan terkecoh, Aku yakin Raja Gyan tidak akan kalah semudah itu. kau iblis hina yang pasti akan kalah"
ccrruuuussshhh
Aden memberikan serangan, dia mencoba memutus mantra agar tuannya selamat.
wwuussshhh
" kau pengganggu saja"
Shana dengan mudah mengangkat tubuh Aden dan memberikan sihir penjerat pada lehernya.
Aden terlihat kesusahan bernafas, kakinya berayun kesana kemari berharap bisa turun.
" bagaimana jika kalian mati bersamaan?"
Falla yang melihat itu tentu saja tak bisa tinggal diam. Dia mencari batu besar dan dengan kencang melemparkan batu itu. Dengan keras batu itu mengenai tangan Shana. Sihir Gyan dan Aden terlepas.
" sialan, !" Shana menatap arah lemparan dan menemukan Falla berada di sana.
Baru saja melangkah, namun Gyan segera memberikan sihir pengikat pada tubuh Shana.
" lari" ucap Gyan pada Falla. Gadis itupun berlari menjauh. bersamaan dengan para penyihir yang kembali bangkit. Melihat Raja Gyan yang berjuang keras merekapun ikut bersemangat.
ccrruushhh
ccruusshhh
semuanya memberikan sihir pengikat para Shana. wanita itu tidak bisa bergerak sama sekali.
" brengsek. kalian cari mati" Shana memberontak.
para penyihir itu sekuat tenaga berusaha melumpuhkan Shana. membuatnya terpenjara agar bisa mencabut tenaga dalam wanita ini.
" kalian tidak akan aku maafkan" teriak Shana sekali ini.
" yang mulia segera ambil tenaga dalamnya" teriak salah satu penyihir.
" tidak semudah itu"
wwuussshhh
Douglas datang dan langsung membebaskan Shana. Lelaki itu datang di waktu yang tepat.
__ADS_1
Semua penyihir termasuk Gyan terlempar beberapa meter.
" kalian jangan pernah berfikir bisa mengalahkanku"