
"kalian hanya sekumpulan penyihir payah, tidak akan bisa mengalahkan ku" ucap Finnfolk bangga. Dia sudah lama tidak terlibat perkelahian, energinya melimpah meski tidak ada makanan selama puluhan tahun.
" hiyaa" Zephyr memulai serangan lelaki itu mengirimkan tembakan sihir bertubi-tubi.
" Zephyr, dia adalah monster laut Finnfolk. kelemahannya adalah api serta panas" Kangta memberikan penjelasan, meski Zephyr sebenarnya tidak mengerti apa maksud Finnflok yang jelas dia harus mengirim serangan berupa panas. Kangta mungkin lupa jika Zephyr adalah penyihir Arghi, untuk mengolah energi menjadi api membutuhkan beberapa waktu.
Zephyr dan Kangta membuat formasi untuk melawan Finnflok secara bersamaan.
" hiya.."
pertarungan kembali di mulai, gerakan Finnfolk sangat lincah membuat kedua lelaki itu sedikit kewalahan.
Segala macam serangan di keluarkan, Zephyr tidak memberi ampun sama sekali.
" akkk, uhuk uhuk " Finnfolk terduduk terkena serangan balas.
Zephyr dan Kangta sedikit lega, mereka memberikan jeda untuk memulihkan tenaga, keduanya tersengal-sengal setelah beberapa lama bertarung tanpa henti.
" pergi atau mati!" ancam Kangta sekali lagi. energinya semakin tipis dia hanya bisa menggertak, tenaga dalamnya masih belum stabil.
" aku tidak pernah kalah selama puluhan tahun, mana mungkin pergi dengan hina. kita selesaikan pertarungan ini" Finnflok tidak mau menyerah. Dia harus mendapatkan Valmira. Wanita itu menjadi sasaran empuk, aura tenaga dalamnya sangat langka bahkan menyamai tuannya yakni Marilla. Jika Finnfolk bisa mendapatkan tenaga itu bisa bisa melarikan diri dan keluar dari labirin yang mengurungnya sejak puluhan tahun.
" hiyaa." finnflok memulai serangan kali ini dia melemparkan sihir halusinasi yang biasa dia gunakan untuk membawa korban korbannya.
Kangta segera menghindar, sedangkan Zephyr terjatuh meski tidak sampai kena.
" Zephyr, hati-hati" teriak Kangta. jangan sampai mereka terkena serangan.
" kalian takut? hahahaha" Finnflok mulai merasa bangga, jelas sekali jika Zephyr sangat mudah di serang.
Kangta dan Zephyr saling melindungi, mereka sama-sama melemah. Energinya mulai terkuras.
" kalian tidak apa-apa?" Aislinn mulai bergabung, meninggalkan Valmira yang sudah aman.
" tambah satu tidak berpengaruh" hina Finnflok.
" dia monster laut, gunakan energi api untuk melemahkannya" lirih Zephyr tidak mau istrinya sampai celaka.
" baiklah" Aislinn sudah memilih serangan.
" baiklah, kita coba" Aislinn menantang.
" hiyaa" Aislinn memberikan serangan bola api.
Kini Aislinn menghadapi Finnfolk sendirian, mereka terlihat imbang.
pertarungan mulai terlihat sengit. sampai serangan Finnfolk berhasil mengenai Aislinn.
" Aislinn!"
" uhuk uhuk uhuk" wanita itu terbatuk darah.
" kalian menganggu saja, hiyyaa"
Finnfolk mengeluarkan serangan besar, membuat ketiga lawannya masuk dalam alam halusinasi.
Kangta segera menyingkir, dan berhasil menghindar.
__ADS_1
Finnfolk ikut terbang, dan melawan Kangta menaiki tiang-tiang kapal.
" hiyaa"
mereka saling memberikan serangan. Kangta berjuang hingga tubuhnya benar-benar terforsir.
crusshh
" akkk" serangan Kangta berhasil mengenai dada Finnfolk. wanita itu terjatuh sampai ke geladak.
" sial" kali ini dadanya terasa panas. Monster itu tidak menyangka jika Kangta masih memiliki banyak energi.
Kangta menarik nafas panjang, dia tidak bisa bertahan lama. Kangta turun dan melihat Zephyr dan Aislinn sedang terduduk terkena sihir halusinasi.
" kau cukup kuat juga" Finnfolk mulai beranjak, dan kembali berdiri dengan normal.
" kita akhiri saja pertarungan ini" lanjut Finnfolk
crashh
serangan di mulai secara bertubi-tubi, Kangta mulai kepayahan. Sekali terkena serangan mungkin dia akan tamat.
" begini saja kemampuanmu, hah" celetuk Kangta dengan sombong. Dia sangat lihai menutupi kelemahannya. Finnfolk sedikit gusar sejak tadi pak tua tidak ada habisnya.
" jangan sombong kau pak tua" Finnfolk mengumpulkan tenaganya kembali.
crsshh
kembali serangan di lemparkan. Kangta dan Finnfolk beradu energi.
" hiyaaa"
" ternyata kau hanya bisa bermulut besar" Finnfolk berjalan mendekati Kangta, tangannya sudah terkumpul tenaga untuk menyerang Kangta.
" aku katakan, Monster sepertiku sejak lama ingin bebas. puluhan tahun menghisap energi penyihir yang datang. Kau dan kawananmu tidak akan bisa mengalahkan ku. Sekarang tamat lah riwayatmu, aku akan membuat kematianmu lebih cepat" Finnfolk menaikkan tangannya bersiap melemparkan serangan.
" hahahahahhaha aku sudah lama menantikan kematian, jika kau memberikan secara cuma-cuma tentu akan aku terima. hahaha" Kangta mengecoh lawannya. Mendengar perkataan Kangta, Finnfolk merasa kesenangannya menghilang. Dia sudah membayangkan jika Kangta akan meminta ampunan padanya. Nyatanya tidak, lelaki itu sama sekali tidak keberatan dengan serangannya. Gairah membunuhnya langsung surut.
" tidak menyenangkan lagi, bagaimana dengan menghabisi wanita itu di depanmu?" Finnfolk menatap Valmira yang bersembunyi di bawah tangga sambil memegangi perutnya. Tentu saja Kangta mengetatkan rahangnya. lancang sekali monster hina ini membunuh seseorang yang berada dalam perlindungannya.
" hahahahah sepertinya itu lebih mengasyikan bukan"
" berani kau menyentuhnya, tamat riwayatmu" desis Kangta tidak main-main.
" hampir mati masih saja berani mengancam ku, hah!"
bruugh
Dengan keras Finnfolk menendang perut Kangta, lelaki itu terpental jauh dan menubruk balok kayu.
" uhuk uhuk" kembali lagi Kangta muntah darah.
fisiknya semakin lemah, tidak bisa bergerak sama sekali.
" baiklah mari kita mulai pertunjukkannya"
Finnfolk dengan kekuatannya menarik Valmira.
__ADS_1
" akk" jerit Valmira ketakutan, tubuhnya melayang dan berhenti di depan Kangta.
" Kangta" panggil Valmira berharap lelaki itu bisa menolongnya.
" lepaskan dia!" gertak Kangta sekuat tenaga. Jangan sampai Valmira ikut tewas bersamanya. Dia akan berhutang banyak pada Gyan.
" hahahaha " Finnfolk semakin bersemangat, dia bisa melihat Kangta ketakutan.
" akkkk" teriakan Valmira semakin keras Finnfolk kembali memberikan tali sihir untuk menyerap energi Valmira.
' Valmira, Valmira'
panggilan kembali muncul, Valmira merasa tubuhnya panas. seketika tali sihir terputus, Valmira terjatuh. Untung saja Kangta mengeluarkan sihir membuat tubuhnya Valmira tidak terbentur keras.
" bagaimana bisa" Finnfolk terheran-heran, ini pertama kalinya tali sihirnya bisa di putus dengan mudah.
Valmira mengeluarkan cahaya biru, menatap Finnfolk dengan tajam. Aura membunuh mulai terasa. Laut yang tenang mendadak bergelombang, angin berhembus kencang. Finnfolk seketika pucat, bagaimana bisa wanita lemah berubah menjadi kuat.
" berani kau mengganggu ku" desis Valmira dengan penuh penekanan.
Finnfolk ketakutan dan berniat kabur, tapi semua sudah terlambat. Valmira menggerakkan tangannya dan cahaya biru itu berubah menjadi tali yang menarik monster tersebut. Dengan keras Finnfolk di lemparkan ke geladak. Bukan hanya itu saja, tenaga dalam Finnfolk terasa habis, tersedot oleh Valmira.
" tidak, tidak. Siapa kau sebenarnya? aku mengaku kalah" Finnfolk langsung ketakutan. Dia bisa merasakan energi yang dasyat dalam serangan Valmira. Tidak akan butuh waktu lama dia pasti akan kalah di tangan wanita itu.
Valmira berjalan mendekat, kali ini dia sadar dengan apa yang dia lakukan. Valmira mulai bisa mengendalikan energi yang ada di dalam tubuhnya.
" begini saja sudah ketakutan. Dasar ikan jelek!" ejek Valmira tangannya sudah siap melemparkan serangan api biru. Jenis api yang bisa memusnahkan monster tanpa sisa.
" tidak, ampun! aku tidak akan menganggu kalian. Aku akan pergi. Aku mohon, aku berjanji" Finnfolk bahkan bergerak menyeret tubuhnya dan bersujud di kaki Valmira.
" bukankah kau sudah di peringatkan" Valmira menatap Monster itu dengan tajam, dia sudah menganggu nya. mengancam nyawa anaknya.
" kini tidak ada ampun" lanjut Valmira mengangkat tangannya.
" Ampun, aku hanya mengikuti Marilla. Aku terkurung puluhan tahun, aku hanya ingin kebebasan. Aku mohon lepaskan aku" Monster itu mengiba penuh kesedihan. Ini kedua kalinya dia mengiba, sebelumnya dia mengiba kepada Marilla dan kini ada orang lain yang berhasil mengalahkannya lagi.
" Marilla, apa yang dia suruh padamu" Valmira sedikit penasaran.
" Marilla mengalah aku, aku di suruh menjaga labirin ini. menangkap siapapun yang lewat ataupun berniat buruk" Monster itu mengatakan semuanya tanpa kebohongan. Dia hanya ingin hidup mau dimasukkan ke penjara labirin lagi pun dia tidak keberatan.
" baiklah" api biru Valmira mendadak hilang.
" sekali lagi kau terlihat olehku, maka saat itu juga kau menemui ajalmu" ancam Valmira.
" baik, baik. aku berjanji" Finnfolk langsung berjalan terseok-seok meninggalkan kapal. Dia sangat beruntung hari ini. Tak ingin berubah pikiran Finnfolk menghilang dalam sekejab.
Valmira mulai mereda, cahaya biru dalam dirinya menghilang. Tubuhnya sedikit lunglai bahkan mundur beberapa langkah. Setelahnya dia segera mendekat ke Kangta.
" kau tidak apa?"
" tidak" Kangta kemudian duduk.
dari jauh dia melihat Zephyr dan Aislinn baru tersadar. mereka sedikit kebingungan lalu ikut mendekati Valmira dan Kangta.
" kalian tidak apa-apa? dimana monster itu?" Zephyr menatap kesana kemari.
" dia sudah pergi, lebih baik kita segera mengobati Kangta dan mengamankan kapal" jawab Valmira. Wanita itu sedikit meringis kesakitan, bayinya bergerak terlalu keras.
__ADS_1
" kau juga, mari aku bantu ke kamar"
Situasi kapal mulai berangsur membaik, Deon juga tersadar dari pingsannya. Zephyr dan Aislinn ikut merawat mereka semua. semuanya masih mengira jika Kangta lah yang membuat Monster itu pergi. Tidak ada yang tau jika ternyata Valmira yang menghadapi monster itu sendirian.