
Shana keluar dari kamar Valmira dengan wajah sendu. Rahasianya sudah ada di tangan Gyan, dia semakin tidak bisa melakukan apa-apa pada selir itu. Bagaimana caranya dia membuat wanita itu menghilang dari kehidupan Gyan. Bahkan sampai dia memberikan sihir jahat saja masih belum bisa menyingkirkan wanita itu.
" yang mulia Ratu, kenapa anda begitu sedih. Apa yang bisa saya lakukan agar yang mulia senang kembali?" tanya pelayan yang sejak awal merasa kasihan dengan Shana.
Mereka baru saja sampai di kamar Shana, wanita itu termenung menghadap kearah jendela ruang tengah.
" entahlah, aku seperti tidak punya harapan. Wanita itu sangat sulit untuk di singkirkan. Aku tidak tau harus bagaimana lagi" jawab Shana lesu.
" yang mulia jangan putus asa, saya yakin setelah ini yang mulia Raja pasti akan menerima anda. Hanya saja selir Alora terlihat begitu lemah, jadi Raja mencoba melindungi selir" jelas pelayan itu seakan membuat Shana berfikir.
" jadi kau menilai jika selir itu lemah jadi yang mulia terus menjaganya?" tanya Shana memastikan.
" iya Ratu, selir Alora sering mendapatkan musibah. Dia juga berasal dari Kaum bawah. Sangat kasihan" balas pelayan itu, membuat Shana tersenyum mendapatkan ide baru.
" sepertinya aku bisa mencobanya" saut Shana mulai bersemangat.
" maksud yang mulia, mencoba apa?" tanya pelayan itu masih tidak mengerti, padahal ide itu datangnya dari ucapannya.
" mencoba menjadi lemah di depan Raja" jawab Shana cepat.
" begitu, saya mengerti sekarang. yang mulia sangat pintar" pelayan itu memberikan apresiasi.
" kita lihat saja" ucap Shana senang.
waktu semakin malam, tubuh Valmira tak kunjung membaik. Total sudah ada 4 perapian di samping ranjang agar dingin tubuhnya tidak semakin memburuk.
" yang mulia" Aden baru saja kembali. Dia membawa serta laporan dari kelompok bayangan.
Saat ini Raja Gyan masih berada di kamar selir Agung, lelaki itu tidak berani meninggalkan Valmira dalam keadaan kritis seperti ini.
" simpan dulu, kau bawakan aku pusaka kain Beroa yang ada di perapianku" ucap Gyan pada Aden.
" baik yang mulia" jawab Aden cepat. sebenarnya dia masih belum tau kondisi terkini dari selir Alora. Lelaki itu hanya berfikir jika keadaan selir semakin memburuk.
Didalam Fleur terus memegang tangan Valmira, berusaha menyalurkan panas tubuhnya lewat sentuhan itu.
Tapi mana mungkin itu bisa, kondisi Valmira yang seperti ini terjadi karena energi milik Ratu Amanis di dalam tubuh Valmira semakin habis. Sedangkan Valmira yang tidak memiliki inti jiwanya tidak bisa memproduksi energi sendiri. Semakin banyak energi yang keluar, tubuhnya lama kelamaan akan semakin melemah dan dingin. Satu-satunya solusi adalah dengan memberikan energi tambahan pada tubuh wanita itu. Sayangnya siapapun termasuk Gyan masih belom mengetahui jika Valmira adalah seorang penyihir tanpa inti jiwa.
" yang mulia, ini" Aden sudah kembali di tangannya sudah ada kain Beroa yang Gyan inginkan.
Dengan pelan Gyan membawa kain itu masuk ke kamar. Fleur menyingkir dari sana. Perlahan Gyan menyelimuti Valmira menggunakan kain itu.
" itu untuk apa?" bisik Fleur pada Aden yang ada di sampingnya.
" kain itu bisa menyerap dan memancarkan panas" ucap Aden. Fleur mengangguk mengerti. Raja Gyan memberikannya pada Valmira agar tubuhnya menghangat.
__ADS_1
" kalian pergilah" ucap Gyan yang sedikit terganggu dengan percakapan kedua orang itu.
" baik yang mulia" jawab keduanya serentak.
Setelah seluruh badan Valmira sudah terselimuti, Gyan duduk di sebelah Valmira. Dia menatap wajah pucat selirnya. Rasanya kasihan sekali melihat wanita ini menderita, coba saja jika Alora adalah seorang penyihir seperti dirinya. mungkin saja wanita ini bisa mendapatkan kehidupan yang bahagia di sampingnya.
" bertahanlah Alora, kau pasti bisa sembuh" ucap Gyan yang sedang menyemangati dirinya sendiri.
Gyan terus berjaga di samping tubuh Valmira, suhu tubuhnya tidak berubah. Kain Beroa miliknya tidak mampu membuat tubuh kecil itu menghangat.
" apa yang harus aku lakukan?" gumam Gyan yang bingung tak tau harus bagaimana.
Lelaki itu mulai menilai dan berfikir, apa yang salah dari cara mereka menolong Valmira. Mereka sudah melakukan yang terbaik bahkan sumber sihir jahatnya juga sudah tiada.
" apa mungkin?" Gyan memiliki ide lain, tapi lelaki itu tidak yakin bisa membuat wanita ini bertahan. Lelaki itu berniat menyalurkan panas tubuhnya menggunakan sihirnya. Raja Gyan adalah penyihir Reuben, dan inti jiwanya berasal dari Api. tidak sulit bagi Gyan untuk menyalurkan energi panas miliknya. Hanya saja status Valmira yang sebagai manusia biasa tentu bisa berakibat fatal. Jika tubuh manusia tidak kuat menerima energi sihir, malah bisa mengancam nyawanya. Namun saat ini situasinya berbeda, Valmira tengah di ambang kematian. Mau di coba atau tidak tubuhnya akan semakin melemah. Setidaknya Gyan masih memiliki sedikit peluang jika pemindahan panas tubuhnya berhasil.
" kau harus bertahan, Alora" ucap Gyan, sebelum akhirnya lelaki itu berdiri menghadap Valmira. Lelaki itu menempelkan tangannya pada dada Valmira. Setelah menemukan titik lokasi, Gyan mulai merapalkan mantra khusus. Energi panas di tubuhnya mulai menjalar melewati tangannya menuju tubuh Valmira. perlahan tubuh Valmira berangsur mulai menghangat, Gyan menghentikan penyaluran itu mendadak. Lelaki itu tidak mau terlalu banyak memberikan panasnya, tubuh manusia Alora tidak bisa menerima energi berlebihan.
sudut bibir Gyan tertarik lebar saat dia mengecek jika suhu Valmira mulai normal. Bahkan pernafasannya terdengar ringan. Melihat efek yang di timbulkan positif, Gyan kembali mencoba menyalurkan panasnya kembali. Sampai kemudian tangan Valmira bergerak membuat konsentrasi Gyan terganggu. Lelaki itu tidak sadar menghentikan penyaluran.
" Alora?" panggil Gyan pelan.
" Alora, bangunlah" ucap Gyan lagi.
" emm" Valmira merintih pelan. Gyan semakin lega mendengarnya. Tubuh yang awalnya dingin itu kini mulai terlihat membaik.
" buka matamu Alora" perintah Gyan sekali lagi.
Dan akhirnya apa yang dia harapkan benar- benar terjadi. Valmira membuka matanya dan menatap Gyan dengan sayu.
" syukurlah kau sadar, apa ada yang sakit?" tanya Gyan sambil mengelus kepala Valmira pelan.
Wanita itu masih terlalu lemah untuk menjawab pertanyaan Gyan. Valmira hanya menatap lelaki itu.
" kau ingin sesuatu?"tanya Gyan lagi, dia terlalu bersemangat sampai tidak menyadari jika Valmira masih butuh banyak istirahat.
" minum?" tanya Gyan terus, Valmira menggeleng pelan sambil menggenggam tangan Gyan yang ada di samping tangannya.
Baru setelahnya Gyan mengerti, Lelaki itu mulai tenang dan duduk di sebelah Valmira.
" maafkan aku, aku terlalu bersemangat" ucap Gyan sambil mengelus telapak tangan Valmira pelan. Valmira tersenyum tipis sebagai balasannya.
" tidurlah, kau masih lemah" ucap Gyan yang langsung di angguki oleh Valmira. Valmira menutup matanya sedang Gyan terus mengelus tangan Valmira sampai wanita itu terlelap. malam terus berlanjut tak sadar Gyan juga ikut tidur sambil tangan mereka saling menggenggam.
Mentari pagi mulai terlihat di ufuk timur. kedua sejoli itu masih belum terlihat ingin bangun. Diluar Fleur dan Aden sudah sangat cemas. Mereka berfikir jika Selir Alora tidak bisa sembuh bahkan Aden sudah menyiapkan diri dengan kabar terburuk. Baginya Selor Alora sudah menyembuhkan tuannya. Wanita itu setidaknya menjadi wanita pertama yang tidur di kamar sang Raja. Namun waktu yang dia miliki terlalu singkat. Aden sangat kasihan dengan Alora dan juga Raja Gyan.
__ADS_1
" kau tidak boleh terlihat menangis seperti itu" ucap Aden saat Fleur terus terisak di sampingnya.
" aku dan selir Alora sudah seperti saudara, kami berjuang bersama hingga sampai di titik ini" jawab Fleur dengan nada sedih.
" kau harus bersiap dengan kabar terburuknya" balas Aden menasehati.
" tidak, aku yakin Selir Alora pasti bisa sembuh". kekeh Fleur yang masih berharap banyak.
Di dalam kamar Gyan mulai terganggu dengan perbincangan kedua orang itu. suara mereka cukup keras, bagaimana tidak. Fleur dan Aden berdiri di depan pintu masuk.
" mereka itu" gerutu Gyan mulai membuka mata. Lelaki itu ketiduran dan kini baru sadar jika di depannya Valmira masih tertidur.
" Alora" panggil Gyan pelan, dia ingin memastikan jika semalam adalah benar, bukan mimpi semata. Valmira sudah sadar, bahkan selir nya sempat terseyum semalam. lelaki itu mengelus pipi wanita itu pelan.
" Alora, bangunlah" ucap Gyan sekali lagi. Lelaki itu menyentuh beberapa bagian wajah Valmira agar wanita itu terganggu tidurnya.
" em, yang mulia" ucap Valmira dengan nada serak. Valmira membuka matanya. menatap Gyan dengan kesal.
" bangunlah, hari sudah pagi" ucap Gyan lembut. Valmira mulai ingat, jika sejak semalam lelaki ini menunggu di sampingnya.
" iya yang mulia" jawab Valmira. Wanita itu sudah tampak lebih baik. Tubuhnya kembali normal.
" sini aku bantu duduk. Kau perlu menambah energi tubuh" Gyan memegang punggung dan pinggang Valmira, wanita itu berpegangan pada tubuh Gyan dan kemudian duduk bersandar di kepala ranjang.
" aku ambilkan minum" ucap Gyan. Lelaki itu sudah seperti pelayan pribadinya. Semuanya dilakukan dengan sangat baik dan begitu hati-hati.
" ini, aku campurkan dengan sedikit air lebah, minumlah" Gyan membawakan cangkir berisi air hangat dengan tambahan madu. Untuk manusia biasa, makanan manis cukup membantu memulihkan energi.
Gyan dengan telaten menyuapi wanita itu sedikit demi sedikit. Valmira sedikit tersentuh, perlakuan Gyan terlihat sangat tulus dan perhatian.
" bagaimana, mau lagi?" tanya Gyan saat air di cangkir sudah habis.
" sudah cukup, tubuh saya sudah lebih baik. yang mulia jangan khawatir" ucap Valmira lembut. Dia bisa melihat dengan jelas, Gyan masih mencemaskan dirinya. Valmira merasa kasihan, jadi dia berusaha menenangkan lelaki itu.Gyan mengangguk ringan.
" aku suruh pelayan membuatkan sup hangat" Gyan berjalan menuju pintu, lelaki itu diam sejanak melihat Fleur dan Aden masih berada di sana. Keduanya menatap Raja Gyan dengan tatapan terkejut.
" suruh pelayan dapur membuatkan sup penghangat tubuh" ucap Gyan datar. Lalu berbalik badan.
" yang mulia.."panggil Fleur takut. Gyan menoleh sedikit.
" apa selir baik-baik saja?" cicit Fleur.
" Alora sudah lebih baik, jadi sebaiknya kau cepat siapkan sup untuknya" ucap Gyan mengingatkan perintahnya tadi.
" baik yang mulia" ucap Fleur cepat. Wanita itu langsung pergi.
__ADS_1