
Sudah beberapa hari terlewati, kapal Kangta terus berlayar menyebrangi lautan. Sebentar lagi mereka akan terhubung dengan samudra. Mereka semakin menjauhi pulau menuju samudra Aegir. Angin laut semakin berhembus dengan kencang.
setelah perbincangan aneh di meja makan waktu itu, semua orang menjadi sangat perhatian pada Valmira. setiap apapun yang Valmira lakukan pasti akan menjadi fokus perhatian mereka. Apalagi dengan Aislinn, wanita itu semakin sering mengajak Valmira berbincang mengenai kehidupan masa lalu. membuat Valmira terus terusan mengarang cerita agar tidak menimbulkan kecurigaan.
Hingga akhirnya malam ini dia memilih memisahkan diri, Valmira duduk di atas kabin kapal bagian atas. Wanita itu menatap langit malam yang nampak sangat mempesona dengan taburan bintang serta bulan purnama.
Hanya ada suara ombak yang perlahan mengantarkan pikirannya melayang. Tidak ada lagi yang memenuhi pikirannya selain bagaimana kabar Gyan saat ini. Apa Gyan sudah melupakannya dan hidup bahagia bersama dengan Shana. lalu apakah penghuni kerajaan bahagia atas ketidakhadirannya di sana.
Valmira mengambil nafas panjang, dari sekian banyak kekhawatirannya dia hanya menginginkan agar Gyan baik baik saja disana. Agar lelaki itu tidak lagi bertemu dengan wanita sepertinya, yang hanya bisa menyusahkan dan mengancam kerajaan.
" memikirkan Gyan?" suara Kangta membuat Valmira menurunkan pandangannya dari langit.
" tuan belum tidur?"
" sudah berapa kali aku katakan, jangan memanggilku tuan. aku lebih suka panggilanmu sebelumnya"
__ADS_1
" saya merasa lancang jika .."
" sudah, anggap aku sebagai ayahmu sendiri, jangan sungkan"
Kangta duduk di sebelah Valmira dan ikut memandangi langit malam. Valmira mulai menyetujui saran Kangta, dia akan bersikap sedikit santai pada Kangta agar hubungan mereka mencair.
" ada yang ingin aku tanyakan pada anda"
" mengenai gelang ?" Kangta sudah bisa menebak. Valmira mengangguk sebagai jawabannya.
Kangta lalu diam beberapa saat.
" iya, Gyan mengatakan agar tidak melepaskan gelang ini"
" gelang itu sebenarnya milik Marilla, dia penyihir Arghi terkuat. Sebagian inti jiwanya ada di gelang tersebut, saat itu Gyan meminta padaku agar memberinya pusaka yang bisa mengeluarkan energi sihir. Karena aku tak membawa banyak pusaka jadi aku berikan gelang itu padanya"
__ADS_1
" Gyan meminta pusaka untukku?"
" kau mungkin belum mengerti saat itu. untuk bertahan hidup seorang penyihir harus memiliki energi sihir yang di hasilkan oleh inti jiwanya. Sedangkan kau tidak memilikinya, Gyan harus memastikan ketersediaan energi dalam tubuhmu agar kau dan bayimu bisa selamat"
" jadi karena itu Gyan memberikan energinya pada ku" lirih Valmira yang akhirnya mengerti bagaimana pengorbanan Gyan selama ini.
" dia bahkan tidak peduli dengan keselamatan dirinya sendiri serta bagaimana kelangsungan kerajaan setelahnya. aku membuatmu tewas di depannya agar Gyan berhenti mengirim energinya, maafkan aku jika aku terlalu kasar saat itu"
" tidak. kau melakukannya dengan benar. Hidupku tidak akan lama tanpa inti jiwa. aku sudah mengerti sekarang"
" aku tidak ingin Gyan kehilangan akal dengan mengorbankan dirinya."
" lalu saat itu, kenapa kalian terlihat kaget saat gelang ini aku pakai ? "
" gelang ini seharusnya hanya bisa mengeluarkan energi yang tersimpan di dalamnya, tapi saat kau memakainya tidak hanya mengeluarkan energi tapi inti jiwa Marilla mampu menghasilkan energi baru sehingga energinya tidak mudah habis"
__ADS_1
" apa itu suatu keanehan?" tanya Valmira yang masih belum mengerti.
" hanya penyihir dengan inti jiwa yang sama yang mampu mengelola inti jiwa lainnya. kau dan Marilla kemungkinan memiliki kesamaan" lirih Kangta menatap dalam Valmira. Lelaki itu meneliti segala hal yang ada di wajah Valmira. Kangta menggali apa mungkin pemikirannya benar.