Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan

Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan
Kunjungan


__ADS_3

Langit Senja mulai menguning membuat hari mulai redup. Suasana kerajaan terlihat begitu lenggang, para pelayan lebih cepat kembali ke kamar dan menenangkan tubuhnya mengingat kabar mengenai Selir Agung. mereka takut berkeliaran terlalu malam kecuali bagi yang mendapatkan tugas malam. Meski keberatan mereka juga harus berkerja dengan perasaan was-was.


Di istananya Gyan tengah berdiri menatap langit barat dari jendela menara. Angin dingin terkadang menerpa jubah kebesarannya. Padang pasir terasa sedikit lebih dingin dari biasanya.


tap tap tap


Suara langkah kaki mendekat dan berhenti tepat di belakang Raja.


" yang mulia, Ratu meminta bertemu" ucap Aden dengan sangat berhati-hati. Perasaan Gyan sedang tidak baik-baik saja. Junjungannya akan mudah marah dengan masalah kecil. Apalagi kedatangan Ratu kali ini jelas seakan menguji kesabaran Rajanya.


" berani sekali dia menemui ku" bisik Gyan dingin. Lelaki itu bahkan tidak melepaskan pandangannya pada matahari yang mulai tenggelam.


" apa di tolak saja yang mulia?" Aden memberikan saran.


" tak perlu, suruh dia menunggu" perintah Gyan.


" baik yang mulia" Aden berbalik badan dan kembali ke istana.


Gyan mengambil nafas panjang, tahun-tahun yang tenang telah mulai berlalu. Dia merasakan begitu banyak masalah yang terjadi akhir-akhir ini. Biasanya yang dia hadapi adalah seputar musuh dan peperangan. Semua itu sangat mudah bagi Gyan. Namun kali ini masalahnya sangat jauh berbeda. Begitu menguras emosi dan pikirannya. Masalah yang dengan kekerasan saja tidak bisa menyelesaikannya.


Langit mulai gelap tak kala Gyan berjalan menuju istananya. Dia memang sengaja mengulur waktu sampai bisa mengendalikan emosinya.


" yang mulia" sanjung Shana berdiri melihat Gyan datang.

__ADS_1


" ada perlu apa kau kemari?" tanya Gyan tanpa basa-basi. Lelaki itu mengambil duduk dengan jarak yang sedikit jauh dari Shana.


" saya ingin mengurangi beban yang mulia" jawab Shana begitu pandai berbicara.


" beban apa yang kau maksudkan?"


" apa lagi jika bukan mengenai kabar selir Agung yang membuat risau penghuni kerajaan" Shana sudah tidak memiliki ketakutan. Wanita itu cukup berani bermuka dua di depan Gyan yang nyatanya sudah mengetahui semua keburukannya.


" kau terlalu berlebihan, kerajaan sudah sering menjadi sasaran kabar seperti ini" kilah Gyan.


" kali ini sedikit berbeda yang mulia. Ini berkaitan dengan anda. Banyak dari pejabat serta bangsawan yang mengeluhkan jika yang mulia telah tertutup matanya dan terkena guna-guna dari selir" Shana juga tidak kehabisan akal.


" kau yakin jika mereka yang mengatakannya. Atau jangan-jangan ada yang sengaja mematik dan membuat semuanya terbakar?" sindir Gyan.


" entahlah, mungkin saja seseorang yang memiliki hati yang busuk bahkan lebih mengerikan daripada seorang penyihir hitam. tapi kau tenang saja, aku sudah melakukan pemeriksaan dari mana sumber kabar ini. Mungkin sebentar lagi juga akan ketemu" Gyan sedikit menakut-nakuti.


" begitu? takutnya sebelum pelaku itu tertangkap, status selir Agung akan lebih dulu terancam. Mengingat para pejabat dan bangsawan sudah sangat ingin melakukan sesuatu pada selir" Shana tidak gentar. Dia sudah repot-repot datang kemari mana mungkin ciut dengan hanya gertakan dari Gyan.


" memangnya apa yang bisa mereka lakukan?"


" saya juga tidak tau yang mulia, tapi saya merasa mereka akan melakukan sesuatu yang buruk. Mohon yang mulia segera menyanggupi apapun permintaan mereka" Shana tersenyum tipis, senyum penuh kepuasaan.


Gyan mengepalkan tangannya erat, Shana berani sekali mengancamnya. wanita ini semakin tidak memiliki malu.

__ADS_1


" Tentu saja, aku yakin sekali kabar yang beredar sangat tidak benar" Gyan tak suka di tantang. Dia akan membungkam semua mulut siapapun yang sudah merendahkan selirnya.


" baguslah jika yang mulia berfikir begitu, tapi ingat yang mulia. Jika semuanya tidak sesuai keinginan anda, jangan terlalu bersedih hati" Shana terang-terangan mengibarkan bendera perang padanya. tatapan mereka bertemu, masing-masing dengan sorot mata yang tajam. situasi memanas dan tidak ada kata maaf. Aden yang menyimak sejak awal saja sampai menelan ludahnya kasar. Pertikaian Raja dan Ratu Garamantian akan sangat berpengaruh pada kelangsungan kerajaan.


Berbeda hal nya dengan istana Raja yang panas, di kamar selir Agung saat ini Valmira baru saja selesai membersihkan diri. Dia duduk di depan cermin besar sedang Fleur berdiri di belakangnya sambil mengeringkan rambut wanita itu.


" jangan menatapnya seperti itu" tegur Valmira saat mendapati Fleur yang menatap rambutnya dengan wajah sedih.


Fleur menghembuskan nafas kasar.


" mau sampai kapan kau menggunakan arang untuk menutupi rambutmu yang terus memutih? ini sangat tidak wajar Alora" keluh Fleur.


" entahlah, yang jelas jangan sampai Raja tau mengenai hal ini. Aku merasa kasihan dengan Raja"


" kau harus bercerita padanya, termasuk perutmu yang sering sakit dan tubuhmu yang mulai ringkih. aku yakin ini pasti karena bayi dalam perutmu" Fleur mencoba menasehati. Belakangan ini Gyan sudah jarang berkunjung ke kamarnya. Valmira pikir lelaki itu pasti memiliki banyak masalah kerajaan yang harus di urus.


" yang mulia sudah banyak memikirkan masalah. jangan kita tambah lagi" larang Valmira pelan.


" tapi Alora, tubuhmu semakin kurus padahal makanmu tidak berkurang. kesehatanmu..."


" sudah jangan mengoceh, kepalaku sakit mendengar omelanmu setiap saat"


" kau itu..." Fleur terpaksa diam. Wanita itu kembali menata penampilan Valmira. Fleur begitu kasihan dengan nasib temannya itu.

__ADS_1


__ADS_2