Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan

Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan
Penjemputan


__ADS_3

Langit malam menjadi saksi atas perginya rombongan Raja Gyan menuju kaum Tyan. Lelaki itu sangat yakin jika selirnya berada di sana. Tanpa perlu menutupi identitasnya Raja Gyan pergi agar kaum itu tidak melakukan perlawanan. Dan tentunya sudah mengirimkan kabar selayaknya melakukan kunjungan.


" yang mulia" ucap ketua kaum yang mendengar kedatangan Raja ke pemukimannya secara mendadak. Segala persiapan singkat mereka lakukan untuk menyambut kedatangan lelaki nomor satu itu.


" bangunlah" ucap Gyan kepada kepala desa yang berdiri di depan pintu. Sedang keluarganya berada di baris belakangnya. Termasuk juga Tozka serta Brox yang juga termasuk petinggi desa.


" silahkan, yang mulia" ucap kepala desa yang masih tidak tau maksud serta tujuan kedatangan raja Gyan ke desa kecilnya.


rombongan itu berjalan masuk menuju aula desa, ruangan yang khusus digunakan untuk menerima tamu. Di sana tentu saja sudah siap berbagai macam kudapan serta makanan untuk Raja.


" mari yang mulia" kepala desa itu mempersilahkan Gyan duduk di kursi yang paling tinggi dari yang lainnya. Meski suasana tampak sangat sederhana tapi semuanya terasa sangat senang atas kedatangan Raja. Hal ini mencerminkan penghuni desa yang ramah.


" maafkan keterbatasan kami dalam menjamu yang mulia, kami tidak pernah memimpikan yang mulia bersedia datang kemari" jelas kepala desa mengucapkan rasa terhormatnya atas kunjungan Gyan.


" ini sudah lebih dari cukup. Bagaimana keadaan desa dalam setahun terakhir? " balas Gyan basa-basi. Lelaki itu mencoba memainkan segalanya agar tidak menimbulkan keributan.


Sedangkan di tempat lain dua wanita tengah beradu argumen. saling mengeluarkan pendapat, tidak mau mengalah.


" aku tidak mau Fleur, kembali ke sana kedua kalinya sama dengan masuk ke penjara berlapis. Keamanan pasti diperketat dan kita tidak akan memilki kesempatan lagi untuk pergi" jelas Valmira masih ingin kembali.


" tapi Alora, dengan kondisimu seperti ini apa kau kuat?. apa kau tidak kasihan dengan anakmu saat lahir nanti?. mengertilah, turunkan egomu. Kasihan bayi dalam kandungan mu, Alora" Fleur juga sama, dia ingin mereka kembali ke kerajaan agar bayi itu aman.


" aku yakin dia pasti kuat, aku bisa membesarkannya sendiri"


" iya kalau semua perhiasan yang kita bawa masih ada. Sekarang bahkan kurang dari separuh, kita sama sama mengantarkan nyawa ke bandit padang pasir. perjalanan ke pantai Otan juga masih jauh" ucap Fleur menggebu-nggebu. Dia tidak mau terjadi hal buruk pada temannya. apalagi dalam keadaan hamil muda seperti ini.

__ADS_1


" kita bisa melakukan sesuatu, bergadang atau berternak misalnya. Fleur, aku tidak mau kembali. tolong mengertilah" Valmira mengiba, dia terlihat sangat membenci kerajaan itu. wanita itu mati-matian menahan keinginan untuk pergi, lalu saat sudah berhasil malah tau jika dirinya hamil dan Fleur ingin dia kembali. itu tidak mungkin terjadi, Valmira tidak mau membuang semua usahanya menjadi sia-sia.


" Alora, percaya padaku. Aku sudah sejak dari kecil menjadi budak dan anak jalanan. Di luar sana tidak bisa kau atur seenaknya. Hidup kita tak menentu, banyak sekali ancaman. Kau juga harus sadar bayi yang kau kandung bukanlah bayi biasa. dia pewaris tahta. Sudah semestinya dia di besarkan di kerajaan"


mendengar Fleur yang tidak goyah sedikitpun membuat Valmira terdiam lama sambil menarik nafas panjang.


Keduanya kini diam saling berpandangan. tapi tidak ada yang mau mengalah, mereka masih teguh dalam pemikiran masing-masing.


" aku akan menemui yang mulia. Raja Gyan kemari pasti ingin menjemputmu" saut Fleur dan berjalan menuju pintu.


Valmira berjalan mengikuti untuk menghalangi Fleur. sayangnya belum juga sampai suara pintu terketuk mengejutkan mereka.


tok tok tok


Fleur terdiam sejenak lalu meneruskan langkahnya dan membuka pintu.


" em, baiklah" jawab Fleur ragu lalu melihat Valmira. Mereka sudah mendengar kabar kedatangan Gyan ke desa ini.


Akibat terlalu lama bertengkar mereka jadi melewatkan banyak waktu begitu saja.


" ayo" ajak Fleur. Dia bisa melihat rasa enggan dari Valmira. Fleur mendekat dan menggandeng tangan temannya pelan. Dia harus memberikan kekuatan agar temannya mau memikirkan bayinya daripada egonya.


hampir saja kedua penjaga lelaki berniat masuk saat Fleur dan Valmira keluar dari kamar. Mereka berjalan pelan mengikuti wanita muda dan di jaga ketat di belakangnya mereka.


Dari jarak sedekat ini saja, Valmira dan Fleur bisa merasakan kemegahan penyambutan kedatangan rombongan raja. keduanya sama-sama ketakutan, mereka pasti akan menerima hukuman setelah tertangkap. tinggal menunggu waktu sampai di istana hidup mereka pasti terancam. Namun bagi Fleur itu lebih baik daripada meneruskan pelarian ini dengan membawa keturunan kerajaan.

__ADS_1


" masuklah" ucap wanita muda itu yang berhenti di depan pintu. Dia tidak di perkenankan masuk ke aula.


Valmira dan Fleur mengeratkan pegangan tangan mereka, saling memberikan kekuatan. Mereka saling berpandangan sebelum akhirnya masuk ke dalam aula.


Semua pandangan terpusat pada mereka berdua. Fleur berjalan di belakang Valmira. keduanya menundukkan kepala menyembunyikan ketakutan mereka.


Sedangkan Gyan di depan sama dengan jantung berdegup kencang menatap selirnya yang beberapa hari yang lalu mengacaukan dirinya. Valmira berjalan mendekat dan Gyan semakin tidak kuasa menahan dirinya untuk berdiri dan mendekat.


" yang mulia, apa mereka adalah tamu yang anda maksud?" tanya kepala desa.


" kau tau siapa kedua wanita ini?" tanya Gyan. saat Valmira dan Fleur di suruh duduk bersimpuh di depannya oleh kepala desa. Nada bicara Gyan yang sedikit berbeda dan penuh penekanan membuat kepala desa merasa telah melakukan kesalahan.


kepala desa itu terdiam sejenak sambil menatap kedua wanita di sampingnya.


" saya tidak tau yang mulia" jawab kepala desa dengan hati-hati.


" mereka adalah selir dan pelayan milik yang mulia" ucap Aden berbisik kepada kepala desa itu. Sontak saja kepala desa itu langsung ikut bersimpuh di depan Gyan.


" maafkan ketidaktahuan kami yang mulia" ucap kepala desa itu dengan suara bergetar.


" maafkan saya selir, maafkan atas kelancangan saya" kepala desa itu memberikan kode kepala istrinya untuk membantu. dan wanita itu langsung tanggap dan mendekati Valmira, membantunya untuk berdiri.


Gyan diam saja, dia tidak mengatakan apapun mengenai Valmira yang sedang melarikan diri.


" kalian harus jeli, mereka sedang melakukan kunjungan. Lain kali jangan seenaknya memperlakukan tamu" jelas Gyan lalu duduk kembali.

__ADS_1


mendengar perkataan Gyan, Valmira dan Fleur bisa mengetahui jika kesalahan mereka sedang di tutupi. kedua wanita itu berdiri dengan wajah masih sedikit menunduk. tidak enak pada yang lainnya, karena sudah membuat gaduh satu desa akibat ulah mereka.


__ADS_2