Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan

Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan
Terkejut


__ADS_3

Valmira merasa dia hanya berputar-putar saja, jalan setapak desa ternyata sangat rumit.


" tersesat nona?" segerombolan nelayan mengitarinya. Dari penampilannya tidak terlalu berbeda dengan lelaki sebelumnya, tapi wajah serta gerak tubuhnya membuat Valmira tidak nyaman.


" tidak" Valmira langsung berjalan menjauh dengan cepat.


" hey, kami bisa mengantarmu" celetuk salah satunya diantara mereka. Ada sekitar 5 lelaki yang semakin mendekatinya. Seakan menghadang jalannya, membuat Valmira semakin ketakutan.


" hey..." salah seorang dengan cepat menarik tangan dan Valmira langsung menyentaknya.


" apa yang kalian inginkan" Valmira berhenti dan segera menampilkan perlindungan diri.


" ikutlah bersama kami, akan kami tunjukkan jalannya" celoteh lelaki dengan cengengesan.


" akk" salah seorang lainnya menyentuh punggungnya.


" jangan kurang ajar!" Valmira berusaha menyingkir tapi jalannya terus di hadang.


" ikutlah bersama kami"


Valmira semakin terdesak, dia berusaha mencari jalan. bergerak kesana kemari sampai akhirnya ada celah. Di belakangnya sepertinya ada jalan kecil, Valmira segera melarikan diri. Melihat Valmira yang ketakutan membuat para gerombolan nelayan nakal itu tertawa senang. Mereka dengan santai mengikuti Valmira yang kesusahan berlari.


" kemarilah, nona cantik"


Valmira semakin tergesa, dia berlari dan ternyata jalan itu berujung pada pinggir pantai tempat dia duduk tadi.


" bagaimana ini?" lirih Valmira sambil menoleh ke belakang, yang ternyata gerombolan nelayan itu sudah semakin dekat.


Valmira berjalan sampai di pinggir pantai.


" akk" perutnya tiba-tiba sakit. Bayinya bergerak membuat langkah Valmira terhenti sesaat.


" kenapa? perutnya sakit,? hahahaha" salah seorang sudah menghadang jalannya.


" mau apa kalian?" para nelayan itu dengan cepat mengelilinginya. Valmira menatap sekeliling mungkin ada yang bisa menolongnya.


" mencari siapa? tidak ada seorang pun disini. Hanya ada kita, hahahah"


Rasanya Valmira ingin menangis saja, dia tidak bisa melakukan apapun. wanita itu terus mengelus perutnya, bayinya tidak mau diam di sana. Mungkin dia merasakan kekhwatiran ibunya. salah seorang memberikan isyarat mata, mereka akan memulai aksinya.


" lepaskan aku!" mendadak kedua tangan Valmira di cekal.

__ADS_1


" ikutlah dengan kami" bukan lagi sekedar rayuan, nada bicara lelaki itu seakan memerintah.


" jangan harap, lepaskan aku! tolong! tolong! " teriak Valmira. Tubuhnya dengan paksa di tarik. entah akan di bawa kemana.


" lepaskan aku, aku mohon. Kalian ingin uang, perhiasan?. akan aku berikan tapi mohon lepaskan aku"


" diam! kami tidak butuh hartamu.. tapi tubuhmu. hahaha " mereka tertawa bersamaan. Sungguh rendah sekali mereka. Valmira benar-benar jijik meskipun hanya mendengar suara mereka.


Tapi dia tidak bisa melakukan apapun. Tidak ada yang bisa menolongnya.


" akk" kakinya tersandung batu, tubuhnya terjatuh meskipun sebagian tubuhnya tertahan karena tarikan tangan.


" perutku" keluh Valmira membohongi para nelayan.


beberapa tampak percaya dan kebingungan. Mereka belum sampai di tempat tapi Valmira sudah tidak berdaya akibat kehamilannya.


" bagaimana ini?" salah seorang bertanya.


" sudah seret saja, kapan lagi kita bertemu wanita cantik seperti ini" lelaki itu kembali menarik tubuh Valmira dengan kasar. kali ini perutnya benar-benar terdorong dan mengenai pasir dengan keras.


" lepaskan aku!" teriak Valmira lagi.


" tidak akan,.ayoo"


Valmira berjalan dengan tergopoh-gopoh rasa sakit di perutnya kembali muncul. Dia semakin takut terjadi sesuatu dengan bayinya. Valmira bukan lagi ketakutan, wanita itu berubah menjadi marah atas tindakan para nelayan yang tidak pantas.


Tubuhnya mendadak bereaksi berbeda, Valmira menarik tangannya dan langsung terlepas. Para nelayan sontak terkejut dan menatap Valmira kesal.


" pergi atau kalian akan aku habisi"


para lelaki itu saling melemparkan tatapan, Valmira tampak berbeda. Apalagi tatapannya menjadi tajam menakutkan, tidak seperti sebelumnya yang cemas dan ketakutan.


" wanita murahan" salah satu di antaranya tidak melihat perubahan Valmira, lelaki itu berniat memukul tubuh Valmira.


entah dari bagaimana air laut mendadak melingkupi tubuh Valmira, bahkan ombak nya seakan ingin melahap mereka. Valmira berdiri membelakangi laut kedua tangannya terbuka dengan setiap jarinya memancarkan cahaya biru.


" pergi!" teriak Valmira marah.


Tapi para nelayan kurang ajar itu hanya menganggap kemarahan Valmira dengan sebelah mata. mereka dengan cepat segera mendekati dengan memberikan pukulan.


" baiklah aku sudah memperingatkan" lirih Valmira. Satu tangannya berayun maju, dan bersamaan ombak air menghantam 2 orang. keduanya terjatuh bergulung gulung di pasir. 3 lainnya menatap heran, tidak terima temannya kalah, mereka berniat membalas.

__ADS_1


Valmira menarik sudut bibirnya dan dia mengayunkan tangan satunya dan ombak menerjang keras lawannya. Tidak sampai di sama, Valmira membawa ke 5 tubuh lelaki itu terseret air laut dan menghilang di bawa ombak. Semuanya menghilang, tidak ada lagi para bajingan yang menganggunya.


" apa yang aku lakukan?" seakan baru tersadar, Valmira berjalan mundur menatap lautan dengan ombak yang mulai tenang.


Valmira tidak mengenali dirinya sesaat, bagaimana semua itu terjadi dengan cepat. Rasa takut kembali muncul dan menjadi berlipat ganda. Baru saja dia membunuh beberapa orang, dan itu dengan tangannya sendiri.


" bagaimana bisa?" Valmira menoleh kesana kemari, tidak ada siapapun. Bukan orang lain yang melakukan semua itu.


Tak ingin melihat hal mengerikan yang baru saja dia lakukan, Valmira memilih pergi dari sana. Dia kembali memasuki gang kecil berharap kali ini dia tidak akan tersesat ataupun menemui orang-orang brengsek seperti sebelumnya.


" nona!" seorang memanggilnya, Valmira yang masih trauma sengaja tidak menghiraukan panggilan itu dan pergi menjauh.


" nona, " Panggil seseorang di belakangnya lebih keras lagi.


tap tap tap


suara langkah kaki mengejar, Valmira ikut mempercepat langkahnya.


" nona, kapal sudah mau berangkat. Anda mau ke mana?" Tangan Valmira di tarik dan wanita itu baru sadar jika seseorang itu adalah Deon. Dengan wajah cemas Deon menatap Valmira, nafas mereka masih tersengal-sengal.


" Deon, untung kau datang" saut Valmira merasa lega. Rasanya badannya lemas dan lelah akibat berlari.


" kau kenapa nona? wajah anda begitu ketakutan"


" t..tidak. Aku sejak tadi tersesat sendirian, jadi takut sekali"


" ya ampun nona. Maafkan saya baru datang mencari. Mari nona kita kembali ke kapal" Deon memimpin jalan. Valmira melangkah di belakang lelaki itu. Mereka dengan cepat sampai di kapal, di sana sudah ada Kangta, Zephyr dan Aislinn yang menunggu di dek kapal. Raut wajah mereka yang awalnya panik menjadi lega saat Deon kembali dengan Valmira berjalan di belakangnya.


" kau kemana saja?" Aislinn mendekati Valmira yang sudah naik ke kapal.


" aku tersesat" jawab Valmira lirih.


" kasihan sekali, ayo masuk dan beristirahat lah dulu"


" segera berangkat!!" teriak Kangta kepada nahkoda di atas.


Valmira dan Aislinn masuk ke kabin dan menuju kamar Valmira.


" perutmu tidak apa-apa?" tanya Aislinn sambil mengelus perut Valmira, dia pasti tau jika Valmira telah berjalan lama dan itu akan mempengaruhi perutnya.


Valmira menggeleng pelan, dia tidak ingin banyak bicara. Begitu masuk ke kamar Valmira segera meminta tidur dulu dan menutup pintu. Valmira mengambil nafas panjang dan mendekati ranjang. Bayangan dia membuat mereka tenggelam masih sangat nyata. Bagaimana bisa dia melakukan semua itu.

__ADS_1


" apa yang terjadi padaku" Valmira terus bertanya kepada dirinya sendiri.


__ADS_2