Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan

Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan
Ikut Pergi


__ADS_3

Pengawal Adipati dengan keras menarik Falla agar tidak berdekatan dengan tuannya. Dia masih mengira jika wanita tak jelas ini hanyalah wanita yang pandai berbohong dan menipu.


" pergi dari sini" usir pengawal dengan kasar.


" tidak, mereka akan menangkap ku lagi" tolak Falla dan malah menarik tangan Adipati dengan erat. Falla menggeleng cepat saat mata pengawal itu melototinya.


" yang mulia, mungkin lebih baik acara makan malam ini selesai dan anda bisa langsung beristirahat" ucap ketua penginapan agar adipati dan wanita asing ini bisa di pisahkan. Ketua Penginapan sudah sangat jengkel ada orang yang hampir merusak bisnisnya. Begitu jauh dari pandangan Adipati, barulah dia akan memberikan pelajaran pada Falla.


" baiklah," Adipati itu berjalan keluar, dan Falla mengikuti di belakang.


" hey, mau kemana kau?" pengawal langsung menarik baju Falla.


" aku akan pergi dengannya "


" tidak bisa, lancang sekali"


" biarkan dia " ucap Adipati membuat pertengkaran itu selesai. Falla bergegas menyusul Adipati. sedangkan pengawal itu bertambah kesal. Sama dengan ketua penginapan, dia akan membuat perhitungan dengan wanita itu nanti saat Adipati sudah pergi. Emosinya harus dia tahan.


" awas saja kau" lirih ketua dengan mengepalkan tangan. ruang makan sudah kosong hanya tinggal dia dan satu orang kepercayaannya.


" apa Kita perlu memberikan pelajaran?"


" nanti saja, tunggu waktu yang tepat" balas ketua dengan nafas mulai tenang.


Di sisi lain Falla terus mengikuti Adipati itu sampai di depan sebuah kamar mewah.


" eh kau, jangan masuk" pengawal menarik Falla saat hendak masuk ke kamar yang sama dengan Adipati.


" bagaimana jika mereka menculik ku lagi?" kilah Falla yang tidak mau berjauhan dengan Adipati.


" tetap saja. Kau ini bodoh atau bagaimana, kau wanita dan bukan siapa-siapa nya yang mulia. Kau di sini saja" ucap pengawal tegas dan langsung menutup pintu masuk dan menjaganya.


" tidur di sini atau pergi itu terserah padamu" ucap pengawal itu tak perduli sama sekali dengan keadaan Falla yang penuh dengan luka.


" aku akan tetap di sini" tekad Falla. Daripada bertemu dengan penjahat lagi lebih baik di sini. Tidur di lantai kayu tanpa alas bukan sebuah masalah besar.


pengawal itu tak peduli sama sekali, yang jelas tuannya aman dari wanita bodoh ini. Falla mencari posisi yang berdekatan dengan tembok. Dia menyandarkan tubuh sakitnya dan melemaskan otot-otot nya. berlarian kejar-kejaran dan mendapatkan berbagai macam pukulan membuat tubuhnya lemas. Tapi wanita itu tidak peduli sama sekali. Dia harus kuat di sini tak ada satu pun yang bisa menolongnya. kecuali dirinya sendiri.


malam terus berlanjut, Falla sedikit mengigau, tubuhnya menggigil kedinginan. Keadaan itu terus berlanjut sampai matahari menyingsing.


ceklek

__ADS_1


suara pintu terbuka, Falla langsung berjaga. Hanya dengan mengikuti lelaki ini dia akan selamat.


" yang mulia, apa kita langsung pergi?" tanya pengawal.


" tentu saja, tidak perlu berlama-lama" jawab Adipati itu.


Falla dengan lemas berdiri lalu ikut turun bersama dengan Adipati. Kali ini pengawal tidak melarang. bukan karena iba. Tapi karena tuannya tidak mengatakan apapun mengenai wanita ini.


" yang mulia, anda tidak sarapan terlebih dahulu? kami sudah menyiapkan hidangan khusus untuk anda" ketua penginapan sudah siap menyambut Adipati di lantai 2 sejak pagi buta.


" tidak perlu, " singkat Adipati dan menuju ke pintu keluar. ketua mengangguk pelan tanda mengerti.


Rombongan Adipati terlihat begitu panjang. Ketua penginapan jelas ikut mengantar beserta para orang terpandang di kota itu.


kereta kuda sudah siap menunggu di depan penginapan. Hari masih sangat pagi, tidak banyak penduduk yang menanti di luar. membuat situasi sedikit lenggang.


Adipati itu langsung masuk ke kereta. Falla pun berjalan untuk naik.


" mau kemana kau? jangan harap bisa satu kereta dengan yang mulia. Kau jalan kaki sana" ucap pengawal dengan nada kasar setengah menghina.


Falla yang lemas tidak sanggup berdebat. Wanita itu mengangguk saja. Mana sudi dia pergi menjauh dari Adipati ini dan peluang tertangkap lebih besar.


cah cah.


sampai saat rombongan menjauhi penginapan Falla tidak kuat lagi. wanita itu pingsan ditengah perjalanan.


.....................................


Gyan baru saja sampai di istana, lelaki itu beberapa hari menyibukkan dirinya di pos perbatasan. semuanya tidak lain karena kabar Falla masih belum di temukan.


" Valmira" lelaki itu memeluk istirnya dari belakang. Rasanya dia ingin bermanja-manja dengan wanita cantik ini. meluapkan segala keresahan dan kegundahan hati.


" kau sudah kembali, bagaimana perkembangan nya?" tanya Valmira yang tidak menolak pelukan suaminya. Gyan pasti lelah dan butuh pelampiasan.


" masih belum ada kabar. Tapi kau tenang saja, aku sudah mengirim beberapa burung untuk mencari ke wilayah tempat kelahiran nya"


" maksud mu?" Valmira tidak mengerti. mungkin dia salah satu anggota kerajaan yang belum mengetahui jika Falla bukanlah wanita Garamantian.


" ceritanya panjang nanti akan aku jelaskan pelan-pelan"


" baiklah, kau bersihkan diri dan istirahat sebentar. Jaga kesehatan mu" jawab Valmira. Wanita itu melanjutkan aktivitasnya bermain dengan G. Dan Gyan masuk ke kamar untuk membersihkan tubuhnya.

__ADS_1


" aku mendapatkan kabar jika beberapa penyihir di wilayah lain mulai menyembunyikan diri. Bahkan pemerintahan setempat memberlakukan hukuman jika menangkap aktifitas sihir di sana" jelas Gyan di ruang tengah. G baru saja tidur dan dia berdua dengan Valmira membuka dokumen mengenai data penyihir yang akan pindah.


" situasinya semakin buruk. mereka yang memilih bertahan harus menyembunyikan kemampuan sihirnya untuk selamanya" respon Valmira yang memang sudah pernah mendengar isu seperti ini sebelum nya.


" maka dari itu, perpindahan harus segera di laksanakan. apalagi tekanan dari penguasa lain yang memang menunjuk Garamantian sebagai sarang penyihir"


" lalu posisi tahta bagaimana?"


" aku akan merundingkan hal ini dengan anggota kerajaan serta menteri untuk mencari solusi terbaik nya"


" hal ini akan membuat perubahan besar"


" aku hanya khawatir dengan penduduk biasa. Jangan sampai mereka menjadi korban para manusia yang serakah. Karena jelas kebencian mereka hanya alasan agar mereka bisa memiliki kekuatan untuk menduduki tahta"


" jika Garamantian di curigai sarang penyihir, maka tidak mungkin lagi keamanan kerajaan bisa stabil"


" kau benar, Garamantian akan menjadi ancaman bagi mereka. mau tidak mau Garamantian harus melakukan perlindungan diri"


" tapi bukankah nanti malah menimbulkan ketegangan?"


" itu lah resikonya, sepertinya memang kita harus berpisah beberapa lama sampai keadaan membaik"


" mungkin itu solusi terbaik"


" kau tidak keberatan? " Valmira menggeleng pelan dengan wajah polosnya.


" kenapa aku yang malah tidak rela, kau pasti berkumpul dengan suamimu lagi di Sana" ucap Gyan dengan sedikit merajuk.


" jangan berfikir berlebihan"


" kau tidak menyangkalnya, jadi benar... tunggu saja sampai kau hamil anakku.."


" G masih kecil usianya baru 1 tahun bulan depan" koreksi Valmira, dia sama sekali tidak memiliki pemikiran untuk hamil dalam waktu dekat.


" tidak masalah, "


" Gyan!" pekik Valmira saat Gyan sudah membaringkan tubuhnya di sofa dan lelaki itu berada di atasnya.


" ssuutt " balas Gyan tidak peduli dengan keengganan Valmira.


" kau sudah melakukannya semalaman" mencoba menyingkirkan wajah dan tangan Gyan yang bergelirya di tubuh nya.

__ADS_1


" aku ingin kau hamil" jawab Gyan cepat, jika begini Valmira juga tak bisa apa-apa.


__ADS_2