Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan

Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan
Menyadari


__ADS_3

Dalam gelapnya malam, kedua wanita itu berjalan menyusuri jalan setapak di belakang kerajaan. Mereka sudah memikirkan tempat beristirahat malam ini. Karena tidak mungkin meneruskan perjalanan saat malam tanpa penerangan. Bisa-bisa mereka malah bertemu dengan hewan buas atau para bandit. Dan berujung pada kematian.


" kita kembali ke tempat awal kita bertemu" ungkap Fleur saat mereka berada di bangunan bekas kandang kuda yang dulu pernah mereka huni.


" iya, memang tidak ada yang tau rahasia takdir. Kita bisa di paling bawah, lalu naik ke atas dan kini berada di bawah lagi" jelas Valmira yang menceritakan perjalanan mereka berdua.


" lalu rencana kita selanjutnya apa?" tanya Fleur.


" kita pergi ke pantai, aku memiliki kenalan disana. Aku yakin kau pasti akan suka" jawab Valmira dengan nada antusias.


" baiklah, asal ada kau, aku tidak akan keberatan"


" memangnya kau tidak ada keluarga disini?" tanya Valmira dari kemarin memang ingin menanyakan hal ini. Tapi tidak berani.


" tidak, aku bukan berasal dari sini" ucap Fleur tanpa rasa sedih.


" bukankah aku pernah bercerita jika aku sudah menjadi budak sejak kecil?" tanya Fleur.


" iya, tapi mungkin saja ada seseorang yang ingin kau temui disini"


" tidak ada, bagiku sekarang satu-satunya keluarga yang aku miliki adalah kamu" balas Fleur menyentuh hati Valmira. kedua wanita itu saling berpelukan. suasana yang hangat bagi mereka. Tak lama mereka mempersiapkan diri untuk tidur.


Lain hal nya dengan kedua wanita yang sudah bebas itu, di tengah hutan keadaan pertemuan sama sekali tidak membuahkan hasil.


" lebih baik kita sudahi saja, dan kita bahas besok. aku yakin semua orang disini pasti syok mendengar berita buruk ini. Sambil menenangkan diri, kita bisa memikirkan cara lain agar bencana ini tidak terjadi" jelas Gyan tak ingin terburu- buru. Dia berniat menemui Kangta secara pribadi, ada hal-hal rahasia yang tak mungkin dia ungkapkan di depan umum.


" ya aku setuju" ucap Rachi.


" aku ikut saja" Yohan juga menimpali.


Gyan menatap Aden agar lelaki itu segera menutup sementara pertemuan ini.


" sesuai kesepakatan, pertemuan akan di tunda sampai besok malam" ucap Aden.


Terlihat beberapa penyihir berjalan keluar, semuanya tampak lesu dan sendu. Berita mencengangkan ini tidak mungkin bisa mereka anggap remeh. Apalagi tidak ada jalan keluar yang bisa mereka usahakan untuk menggagalkan bencana ini.


Gyan turun dari kursinya berjalan menuju tempat Kangta. Lelaki itu juga ikut berdiri dan berjalan mendekat kearah Gyan juga.


" kau cukup bersemangat" ungkap Kangta yang melihat Gyan langsung menemuinya.


" kenapa kau suka sekali main petak umpet?" sindir Gyan.


" hahaha" Kangta tertawa renyah.


" dimana?" tanya Gyan yang ingin berbicara serius.


" bagiku semua tempat sama saja" jawab Kangta.


" baiklah kita ke istana ku" ucap Gyan, Kangta mengangguk dia memanggil elangnya dan dalam sekejab kedua lelaki itu berganti tempat di depan istana Gyan. Mereka meninggalkan Ade dan Deon yang kini menggerutu karena mereka harus pulang secara manual.


" masuklah" ucap Gyan mengarahkan pada ruangan yang terhubung dengan menara.


Kangta berjalan masuk, elang nya terbang bertengger pada puncak kerajaan.


" apa yang kau dapatkan dari pesanku?" tanya Kangta, Gyan berfikir sejenak.


" jadi kau sengaja meninggalkan buku itu?" tanya Gyan yang baru menyadarinya.


" memangnya apa lagi, pergerakan kelompok cukup cepat juga" nilai Kangta yang selama ini di kejar oleh kelompok bayangan milik Gyan.


" mereka cukup terlatih" balas Gyan sombong.


" lalu bagaimana dengan binatang itu? aku yakin kau sudah melakukan antisipasi"


" kau memang benar, salah satu dari mereka sudah aku tandai. aku ingin tau kemana mereka pergi"

__ADS_1


" lalu bagaimana perkembangannya?" Kangta mulai penasaran.


" jejak itu menghilang saat menyentuh air, ini sangat tidak bisa aku mengerti. Penyihir Arghi ini sangat rapi. mereka tidak bisa terdeteksi dengan mudah"


" sebenarnya ada satu klan penyihir Arghi yang menguasai unsur air, tapi mereka sangat membenci penyihir lain. baik Reuben ataupun Osmond mereka tidak pernah membuka pintu"


" klan apa?"


" klan Ralba, mereka sepupu jauh dari klan Aera. Mereka juga menyembunyikan diri tapi tidak serumit tabir pelindung marilla"


" tunggu, apa tidak ada satupun klan Aera yang berada di luar pulau?" tanya Gyan, sedikit heran.


" tidak ada, klan Aera hanya tersisa Marillah saat itu. Pertempuran waktu itu membunuh sebagian besar klan yang memiliki sihir hebat. tak terkecuali klan Aera, itulah alasannya mereka membangun tabir, agar keturunan mereka tidak di ganggu lagi" jelas Kangta, kini Gyan baru tau. Meski tidak langsung terlibat dalam pertempuran, tapi dari sejarah dan ucapan Kangta, Gyan jadi mengerti sedikit.


" kita sama sekali tidak memiliki kesempatan" lirih Gyan.


" ada, aku memiliki dugaan jika di dalam pulau itu tidak ada keturunan klan Aera. tabir itu bisa diruntuhkan jika ada penyihir Arghi yang memiliki unsur sama dengan milik Marilla mau bekerjasama" ucap Kangta memicu rasa penasaran Gyan.


" kenapa kau berfikir jika disana tidak ada keturunan Aera?"


" keturunan Marilla tidak mungkin melakukan sihir hitam, kekuatan mereka sudah cukup hebat lagipula sihir hitam itu tidak ada gunanya jika tidak di gunakan untuk menyerang " perkataan Kangta memang ada benarnya.


Jika keturunan Aera ada di dalam tabir, mereka tidak tidak perlu melakukan sihir hitam.


" jadi kita pergi menemui klan Ralba dan meminta mereka untuk mencoba meruntuhkan tabir itu?"


" tepat sekali" Kangta mulai senang dengan pemikiran Gyan yang sama dengan dirinya.


" lalu di mana mereka saat ini?"


" mereka hidup bersama dengan manusia biasa, di kota tanpa pemimpin" jawab Kangta tak bisa menyebutkan lokasinya.


" apa kau berniat mencarinya sendirian?"


" aku seorang Raja, mana mungkin meninggalkan tahta" jawab Gyan enteng.


" tapi aku akan Menyuruh Deon untuk membantumu. Dia cukup bisa di andalkan. itulah kenapa dia aku suruh datang kemari" lanjut Gyan yang sudah memprediksikan jika lelaki itu akan berguna baginya.


" bisa juga, dimana dia?" tanya Kangta.


" kakak!" teriak Deon.


" itu dia" jawab Gyan, Deon datang di waktu yang tepat.


" Kenapa kau meninggalkanku? capek sekali tau. Aku sudah berkuda 3 hari tanpa jeda, dan sekarang naik kuda lagi" gerutu Deon sambil duduk di sebelah Gyan. Dia tidak menyangka jika Kangta juga ada di ruangan itu.


" kau bisa mencoba menaiki unta jika mau" ledek Kangta.


" astaga, penyihir Kangta juga disini? maaf atas ketidaktahuan saya" ucap Deon sopan.


" kau yang bernama Deon?" tanya Kangta.


" iya, penyihir" jawab Deon sambil mengangguk pelan.


" apa inti jiwamu?" tanya Kangta ingin mengukur kemampuan yang mungkin dimiliki Deon.


" inti jiwanya batu" jawab Aden berniat mengolok.


" enak saja, Bara penyihir" jawab Deon sedikit kesal.


" bara?"


" iya penyihir, saya hanya menguasai sihir dasar. tidak bisa melayang atau menghilang" jelas Deon berterus terang.


" kau akan menemani Kangta bertemu dengan klan Ralba" ucap Gyan tak ingin bertele-tele.

__ADS_1


" Klan Ralba?" Deon tak mengerti bahkan tidak pernah mendengar nama ini sebelumnya.


" kau akan tau nanti" jawab Kangta tak ingin membahas lagi.


" aku pergi dulu, waktunya tidur" lanjut Kangta dan segera menghilang.


" hebat sekali" lirih Deon tanpa sadar. Baginya menghilang seperti itu sangatlah keren. Dia ingin mengasah kemampuannya agar bisa melakukan hal yang sama.


" kalian pergilah tidur" Gyan juga ingin membaringkan tubuhnya.


Pagi menjelang, Valmira dan Fleur sudah bersiap melanjutkan perjalanan. Kedua wanita itu berjalan menuju pemukiman terdekat. Dan menyewa kereta untuk sampai di tepi pantai.


" bagaimana jika kita cari makanan terlebih dahulu" ucap Valmira saat menyusuri jalanan pasar.


" Boleh juga, bisa buat bekal perjalanan juga" ungkap Fleur yang langsung menyetujui keinginan Valmira.


Mereka dengan senang tanpa perhitungan membeli makanan dengan jumlah banyak. Alhasil perilaku mereka ini menarik perhatian bandit yang menyamar. mereka dengan mudah akan menjadi target korban mereka.


" kau beli banyak sekali?" Fleur baru menyadarinya.


" aku sangat lapar, kita makan disini sejenak bagaimana?" usul Valmira yang sejak semalam menahan perutnya yang kosong.


" kau ini, masih saja suka makan banyak. yasudah ayo"


Valmira dan Fleur duduk di sebuah kedai makanan. Mereka memesan secukupnya dan segera memakannya.


" tidak seenak makanan Istana" ucap Valmira.


" baru saja keluar sudah mengeluh,aku sudah mengatakannya di awal. Meski kita keluar istana belum tentu kita senang" omel Fleur.


" iya-iya" jawab Valmira merasa bersalah.


" ayo habiskan jangan sampai membuang makanan" ucap Fleur. Wanita itu merasa ada yang tidak beres, dia merasa diintai.


Fleur sudah terbiasa hidup susah sebelumnya, jadi wanita itu sangat mudah terbiasa jeli sejak dini.


" sudah, perutku kenyang sekali" ungkap Valmira sambil mengelus perutnya yang semakin besar.


" mari kita pergi" ajak Fleur.


setelah melakukan pembayaran kedua wanita itu meneruskan perjalanan. Mereka mencari kereta sewaan. Dan segera pergi dari ibukota.


" apa nama pantai yang kalian tuju?" tanya pemilik kereta.


" emm" Valmira baru sadar jika dia tidak tau nama desa yang dia tinggali dulu.


" apa Alora?" tanya Fleur yang merasa jika Valmira terlalu lama menjawab.


" aku lupa" jawab Valmira tanpa dosa.


" bagaimana bisa kau lupa?" bisik Fleur penuh penekanan.


" memangnya ada berapa pantai di Garamantian?" tanya Fleur pada pemilik kereta, dia juga tak tau. Dia bukan penduduk sini.


" ada 3 nona, yang paling dekat pantai Deus, dan yang paling jauh adalah pantai otan" jawab pemilik kereta yang untungnya begitu sabar menghadapi nona yang tidak tau jalan.


" yang mana, Alora?" bisik Fleur.


" yang paling dekat dengan perbatasan yang mana?" tanya Valmira balik.


" pantai otan"


" iya, itu. kita ke pantai Otan" jawab Valmira cepat.


" apa kalian yakin? pantai Otan banyak sekali banditnya. Apalagi beberapa waktu yang lalu sempat terjadi badai besar yang membuat permukiman disana hancur berantakan" jelas pemilik kereta, yang masih perhatian kepada calon penyewa.

__ADS_1


__ADS_2