
sekembalinya tabib istana dari kamarnya, Falla memulai sarapan siangnya. Waktu sudah menunjukkan semakin siang. Falla bangun sedikit kesiangan tadi.
" Nyonya.. bagaimana kalau sore ini kita jalan-jalan di taman. mungkin bisa membuat pusing anda berkurang" tawar pelayan dengan maksud lain.
" boleh juga, sudah lama aku tidak keluar kamar karena luka-luka ini"
" baiklah" pelayan itu tertawa riang.
Siang itu Falla hanya tiduran saja setelah memakan bubur khusus untuk menghilang mabuk. saat hari menjelang sore, Falla langsung bersiap. itu juga karena desakan dari pelayannya.
" mari nyonya" pelayan itu terlalu antusias sampai Falla sedikit merasa aneh.
" iya tunggu, jepit rambutku sepertinya akan jatuh"
" tidak nyonya... lihat penampilan anda terbaik, dan ini untuk menghiasi leher anda" Pelayan itu memasangkan sebuah kain di lehernya lagi. Gunanya untuk menutupi ruam merah yang masih belum hilang.
" apa kau yakin, bukankah penampilanku malah terlihat aneh ?"
" tidak nyonya, lagipula sore ini terasa lebih dingin"
" baiklah jika begitu"
mereka akhirnya berjalan keluar kamar menuju taman samping. sejak mengetahui adanya taman ini, Falla tidak bosan-bosannya mengunjunginya. bunga yang indah belum pernah dia lihat sebelumnya.
" nyonya itu ada rombongan selir Thalasa" bisik pelayan. Taman ini memang memiliki akses yang lebih banyak ke istana samping, yakni kamar selir Thalasa. jadi wanita itu akan sering melewati taman ini.
" iya biarkan saja " ucap Falla. kebetulan dia juga ingin mendengar wanita itu memanggilnya nyonya. Sedangkan pelayan dengan sengaja menarik kain yang melilit leher Falla.
" selir.." ucap Falla terlebih dahulu. Karena rombongan itu tidak terlihat akan berhenti.
" oh hampir saja saya tidak melihat anda"
" kalian mau kemana?"
" kami baru akan melihat pelayan dapur, memastikan jika mereka menyiapkan makan malam yang mulia dengan benar"
" oh begitu, kau sangat rajin sekali selir"
" iya nyonya, terima kasih atas pujiannya" akhirnya kata itu keluar juga dari mulut Thalasa.
" kau jangan sungkan, kita sama -sama penghuni harem Adipati" mendengar ucapan itu Thalasa menaikkan pandangannya. Awalnya dia ingin melihat ekspresi Falla tapi tatapannya malah teralihkan pada tanda kemerahan di sepanjang leher Falla. Tangannya mengepal ringan, hal ini di saksikan jelas oleh pelayan Falla. Hatinya sangat puas
" jika ada masalah terkait dengan kediaman kau jangan sungkan meminta bantuan ku " lanjut Falla.
" ah iya, terimakasih Nyonya"
" iya sama-sama. sudah lanjutkan aku tidak akan menghalangi"
" saya pamit nyonya" Falla mengangguk pelan. Dia sudah puas mendengar Thalasa memanggilnya Nyonya berkali-kali.
sayangkan bukan itu yang membuat hati Thalasa dongkol penuh kemarahan. melainkan karena tanda yang tertinggal di leher Falla. Dia yang lebih dulu bersama dengan Emrick saja belum pernah di dekati lelaki itu apalagi menerima perlakuan yang sama dengan Falla.Thalasa semakin membenci Falla, nafasnya menderu sepanjang perjalanan ke bagian dapur.
.....................................
Di depan istana Raja Garamantian sudah berkumpul 3 orang yang dulu membahas mengenai persyaratan perizinan masuk ke kerajaan Garamantian. kejadian hari ini sangat di luar prediksi mereka. Ketiganya mendesak ingin bertemu dengan Raja. Tapi sampai sekarang Raja tidak bisa di temui. Di dalam masih adan pertemuan yang tidak bisa di tunda.
" saya rasa rumor yang tersebar di kalangan penduduk kota merupakan alasan yang membuat mereka bersedia pindah. Apalagi mereka tau jika putri Farfalla juga berada di sana. mereka semakin yakin"
" bagus. katakan jika putri Farfalla mendapatkan hadiah pernikahan sebuah wilayah dengan kondisi yang bagus. Dan mengizinkan para penduduk Garamantian untuk tinggal di sana"
" itu pasti akan menarik yang mulia, dengan pasokan makanan yang mulai terbatas di Garamantian, mereka pasti akan lebih mudah goyah dan berfikir untuk pindah" jawab Kantata dengan sangat yakin. begitu pula dengan Gyan dia menyusun rencana untuk membuat rakyatnya tidak betah berlama-lama tinggal di Garamantian lagi.
" tinggal menunggu beberapa waktu mereka akan tergoda dan pindah ke Uthaman"
" iya yang mulia, apalagi dengan rumor bahwa seseorang ajan berhasil saat pindah ke sana, kemungkinan pemberangkatan bisa di percepat"
" semoga situasinya akan semakin baik. ah ya kau temani aku makan terlebih dahulu. kita melawati makan siang karena harus berbincang"
" tidak perlu yang mulia, seperti nya di depan sudah ada yang menunggu ingin bertemu dengan anda" Kantata bisa tau karena saat dia datang, para pembasmi penyihir lebih dulu berdiri di depan istana.
" merekalah yang menjadi alasanku memindahkan semua orang. Aku sengaja memberikan pelajaran pada mereka. Jadi biarkan saja" Kantata tidak bisa menolak lagi. Raja sedang menggunakan dirinya, jadi dia harus bisa membantu Raja.
" ayo, silahkan jangan sungkan"
Mereka berdua duduk di meja makan. Meski Kantata merasa tidak pantas, tapi sebisa mungkin dia menyembunyikan rasa itu. Raja sudah baik dengan menjamunya jangan sampai dia mengecewakan Raja.
__ADS_1
Hari semakin sore mendekati senja, Kantata baru keluar dari istana Raja.
" Raja menyuruh kalian untuk kembali karena beliau ingin beristirahat" ucap Kantata sesuai dengan instruksi Gyan.
Mereka bertiga saling berpandangan, enggan untuk meninggalkan tempat karena masalah mereka belum selesai.
" apa yang mulia terlihat marah?" Kantata di tahan agar tidak pergi.
" mungkin Yang mulia kecewa dengan sikap anak buah kalian. menurut ku kalian pergi saja, beri yang mulia waktu untuk tenang. Jika kalian tetap di sini malah akan membuat yang mulia jengkel" jelas Kantata.
" begitu?"
" itu pendapatku yang selama ini melayani yang mulia"
" baiklah kami akan pergi, terima kasih atas sarannya"
" tidak masalah"
Di atas saja Gyan menyeringai puas. Akhirnya mereka pergi. Dia sudah merasa terganggu dengan kehadiran mereka sejak awal.
Hari berganti, para anak buah manusia tinggal di tahanan yang kotor. Mereka tidak percaya keadaan malah berbalik pada mereka. seandainya mereka bisa menahan kemarahan semua ini pasti tidak akan terjadi.
" ada tamu untuk kalian" ucap penjaga tahanan.
mereka bertujuh langsung melihat kedatangan 3 ketua mereka.
" ketua, bagaimana ini. Kami tidak bisa tinggal di sini lebih lama lagi" keluh salah satu anggota.
" Sudah semua ini adalah kesalahan kalian juga. Bagaimana bisa melawan dan melukai kerajaan. Dengan satu tinta Raja kita pasti akan tamat" omel sang ketua. Bawahannya tidak tau bagaimana perjuangannya sampai akhirnya mereka bisa masuk dan mendapatkan izin dari Gyan.
" tapi yang mulia hendak membebaskan para penyihir itu. tentu saja aku tidak bisa tinggal diam" celetuk laki-laki yang sudah melukai prajurit kerajaan.
" tetap saja. Semua bisa di selesaikan baik-baik. Aku tak mau tau lagi, kalian harus meminta pengampun pada yang mulia"
" ketua, kita tidak bisa tunduk begitu saja. Aku yakin antara yang mulia dengan penyihir pasti memiliki hubungan. Tidak mungkin jika yang mulia begitu membela penyihir-penyihir itu..."
" sudah jangan berikan aku alasan apapun lagi. Kalian minta maaf, dan selalu ikuti perintah. Jangan suka membangkang"
" baik ketua" jawab mereka lemas.
" kami ingin Menemui yang mulia Raja" ucap mereka pada penjaga istana.
" Raja baru saja pergi, kalian bisa kembali nanti"
" pergi? lalu kapan yang mulia akan kembali?"
" kami tidak tau," jawab penjaga itu singkat padat. Mereka sama sekali tidak bisa di katakan ramah sama sekali.
" kalau boleh tau. kemana yang mulia pergi, mungkin kami bisa menemuinya di sana"
" yang mulia pergi ke luar kerajaan, hanya itu yang kami tau"
ketiga orang itu saling berpandangan. mereka tentu saja tidak mungkin mengelilingi Garamantian untuk bisa menemukan Raja.
" baiklah kami akan kembali sore nanti" ucap mereka. penjaga itu hanya menatap sekilas saja. mereka juga tidak peduli dengan itu.
Di sisi lain, memang apa yang di ucapkan para penjaga tidaklah sebuah kebohongan. pagi ini Gyan pergi untuk menemui Emrick di Uthaman. Dia akan membuat sebuah rencana dan akan segera menemui pimpinan Uthaman untuk merundingkan persyaratannya mengusung rakyat nya kemari.
" jadi kakak mengatasnamakan aku atas kepindahan mereka?" tanya Falla memastikan.
" iya. kaka akan menggunakan namamu agar penduduk yang lain mau tinggal di sini"
" saat mereka pindah dan tidak menemukan keuntungan yang sudah kakak katakan tadi mereka pasti akan kembali ke Garamantian"
" untuk itu kakak akan mengirimkan bahan makanan serta beberapa harta kerajaan untuk menjamin kehidupan mereka saat awal pindah. Saat ini pasokan makanan di Garamantian mulai di batasi dan dalam beberapa waktu dekat perpindahan bisa saja terjadi"
" Raja berfikir sangat menyeluruh. Saya akan siapkan tempat untuk menyimpan bahan makanan dan keperluan lainnya" saut Emrick.
" terimakasih Emrick, Dan aku juga ingin segera bertemu dengan Pemimpin Uthaman. kita belum melakukan kesepakatan untuk harganya"
" Raja tenang saja,.saya sudah sempat merundingkan hal ini dengan pemimpin. Dan soal harga tentu tidak akan terlalu tinggi" balas Emrick.
" kalau begitu bagaimana jika hari ini kita langsung bertemu dengan Pemimpin"
" bukan maksud saya menolak, tapi pemimpin Uthaman sama sekali tidak mengenal sihir. kita perlu melakukan hal ini selayaknya manusia normal" usul Emrick.
__ADS_1
" ah ya kau benar, begini saja sampaikan jika besok lusa aku akan datang ke istananya. Dan saat ini sedang melakukan perjalanan"
" itu terdengar lebih baik kak"
" iya Raja, saya akan mengirim seseorang untuk menjemput anda di perbatasan nanti"
" baiklah, begitu saja. aku akan kembali"
" kakak tidak ingin tinggal sebentar?" tanya Falla.
" kali ini belum bisa, maafkan kakak ya Falla"
" tak apa, Falla sangat mengerti " adik kakak itu berpelukan lama.
" untuk selanjutnya kakak menunjuk Kantata untuk mengurus semua rakyat yang pindah" .ucap Gyan.
" Kantata?"
" iya, mungkin dia juga akan sering kemari. lelaki itu cukup bisa di andalkan" balas Gyan. Falla mengangguk singkat.
Setelah berpamitan Gyan langsung menghilang dari Kamar Falla.
" siapa Kantata itu?" tanya Emrick dia sedikit mendengar perbincangan adik kakak tadi.
" bukan siapa-siapa. Dia yang biasa mengurusi hewan yang aku bawa itu.." kilah Falla berbohong. Dia tidak mau Emrick mengetahui jika Kantata adalah Lelaki yang hampir saja akan menikah dengannya di waktu dan tempat yang sama saat mereka menikah.
" oh, baguslah. Aku tidak perlu mencari seseorang lagi untuk mengurus hewan itu" balas Emrick.
Lelaki itu tidak langsung pergi dia duduk di sana sambil menunggu waktu makan siang.
" Adipati makan siang di sini?"
" boleh juga"
" baiklah saya akan menyuruh pelayan untuk segera menyiapkannya"
Emrick mengangguk ringan, sebenarnya dia sedikit malu bertemu dengan Falla. Mengingat apa yang sudah dia lakukan pada istrinya malam itu. Tapi entah mengapa semakin lama berada di dekat Falla cukup menyenangkan.
Emrick juga sejak tadi mencuri-curi pandang pada leher Falla. meski rona kemerahan sudah mulai pudar namun Emrick masih bisa melihat bekas nya. mendadak dia merasa bangga pada dirinya karena bisa meninggalkan jejaknya di sana.
" Adipati sepertinya begitu senang hari ini. Dari tadi senyum-senyum sendiri" ucap Falla menghentikan imajinasi Emrick.
" iya, mendengar kabar dari Raja Gyan aku jadi ikut senang" kilahnya.
" oh ya... apa wilayah yang ingin kakak beli jaraknya jauh dari sini?"
" tidak begitu jauh dari kita. wilayah itu hanya tidak berada dalam pengawasan pimpinan. Jadi lebih dekat dengan perbatasan"
" jika Adipati memiliki waktu luang, bisakah mengajak saya untuk melihat nya?"
" tentu saja. setelah semua urusan administrasi ini selesai. wilayah itu akan berganti atas nama dirimu"
" benar?"
" iya, Raja Gyan sudah mengatur semuanya agar tidak terlalu menimbulkan kecurigaan"
" kakak selalu memikul tanggung jawab sendiri, dia selalu mementingkan orang lain daripada dirinya sendiri" Falla menatap menerawang. Mengingat bagaimana dulu kakak nya begitu menjaga dirinya.
tok tok tok
" ah itu pasti pelayan"
" masuklah"
pelayan datang dengan berbagai makanan yang biasa di makan oleh Falla. Menu khas dari Garamantian.
semuanya menatap sedemikan rupa sampai memenuhi satu meja makan.
" kenapa banyak sekali?" tanya Emrick menatap semua makanan.
" saya ingin memperkenalkan makanan Garamantian pada Adipati"
" semuanya terlihat sangat lezat"
" mari Adipati di cicipi makanannya"
__ADS_1
siang itu Emrick makan sampai perutnya.kenyang. Bahkan sampai ketiduran di kamar Falla. Lelaki itu menghabiskan siangnya di sana. Sampai hari menjelang sore, Emrick keluar dari sana. Dia akan pergi ke istana untuk menyampaikan pesan dari kakak iparnya.