Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan

Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan
Pemandangan Baru


__ADS_3

Sudah berhari-hari kapal Kangta terus melaju menuju Samudra Chantara. mereka perlu melewati beberapa pulau dulu sampai bisa menuju arus Samudra Chantara. Luatan demi lautan harus mereka telusuri, tidak banyak yang tau mengenai apa saja pelindung pulau yang di gunakan Marilla. Tapi menurut Aislinn yang memiliki hubungan darah dengan Marilla, beberapa tabir pelindung bisa berupa badai petir ataupun angin. Dan sampai saat ini mereka belum menemukan hal semacam itu.


" tuan kita sudah melewati beberapa pulau kosong, mungkin sebentar lagi akan sampai di lautan lepas" ucap Deon. Mereka berada di dek atas kapal. Malam ini suasana lautan sangatlah tenang. Ombak tidak terlalu kencang bahkan langit juga terlihat cerah.


" baiklah, kita tetap ikuti arahan dari Gyan" jawab Kangta singkat.


" em, tuan ada yang ingin saya tanyakan" Deon sedikit ragu tapi dia penasaran dengan jawaban dari Kangta.


" katakan"


" beberapa hari ini saya melihat tuan sering memberikan energi pada selir Kerajaan. bukankah anda selama ini tidak suka dengannya?"


Kangta terdiam lama, hal ini juga sempat membuatnya bimbang.


" entahlah, aku merasa kasihan saja. Aku memang awalnya tak peduli bahkan aku mengajaknya berlayar karena kufikir saat dia tewas aku bisa menyembunyikan jasadnya di lautan. Tapi bersama dengannya beberapa hari, aku merasakan ada sedikit energi aneh yang melingkupi tubuh wanita itu"


" energi apa itu?"


" aku tak tau, padahal wanita itu tidak memiliki inti jiwa tapi tubuhnya memiliki susunan energi yang besar"


" apa karena bayinya memiliki darah Raja Gyan?"

__ADS_1


" emm, mungkin saja. Bayi itu seakan tidak mengizinkan ibunya tiada. Dan soal rambut putih itu juga, aku masih mencari hal yang mungkin bisa menjelaskannya"


" rambut selir berubah putih dengan cepat, apa mungkin jika sebenarnya rambutnya tidak berubah tapi kembali putih? karena warna kulit selir juga terlihat tidak seperti kebanyakan orang yang berambut hitam" jelas Aden mengetakan hal yang selama ini dia pikirkan berulang kali. sebagai lelaki dia juga menilai Valmira sebagai wanita yang sangat cantik. kulitnya seputih susu dengan rambut hitam panjang. Tak pernah dia melihat wanita seperti ini sebelumnya. Sampai dia mengingat sebuah buku, yang memperlihatkan manusia dengan rambut putih.


" maksudmu rambutnya selama ini berubah menjadi hitam, Apa mungkin dia memiliki darah penyihir Arghi?" Kangta tidak main-main menanggapi penjelasan Deon. Dia baru menyadarinya, apa yang Deon katakan juga tidak salah sepenuhnya. Kulit Valmira memang tidak seperti kebanyakan orang.


" mungkin Raja Gyan mengetahui sesuatu, jadi beliau begitu perhatian pada selirnnya"


" aku tidak pernah menanyakan hal ini sebelumnya"


Perbincangan mereka setidaknya membuat Kangta mulai berfikir dalam sudut pandang yang berbeda. Valmira bukan lagi beban melainkan misteri yang harus mereka pecahkan.


Langit pagi mengantarkan Valmira dalam kesadaran. Wanita itu berjalan menuju dek kapal, saat ini mereka tengah singgah di salah satu pulau untuk mengambil beberapa sumber makanan. Aislinn beserta Zephyr sudah pergi hanya tinggal Valmira dan juga Deon yang sibuk mengeluarkan barang yang tidak berguna di dalam kapal.


" mereka pergi ke pulau, Nona mau saya temani berkeliling ?" tawar Deon, dia tidak tega melihat Valmira yang terlihat tertarik tapi perutnya membuatnya susah berjalan.


" em, mungkin aku akan berkeliling di sekitar pantai saja, tidak usah di temani" jawab Valmira tidak ingin merepotkan Deon.


" oh begitu, baiklah. Hati-hati nona"


Setelah membantu Valmira menuruni tangga, Deon kembali memilah barang-barang. Dia juga menyempatkan untuk menengok Valmira memastikan jika wanita itu tidak dalam bahaya.

__ADS_1


Valmira begitu senang melihat pasir pantai, seketika membuatnya teringat dengan Taruni dan Vanessa. Entah bagaimana kabar kedua wanita itu, Valmira begitu merindukan mereka.


Valmira berjalan mengikuti kata hati, sampai tidak terasa dia berada di hutan kelapa yang sepi. Wanita itu kemudian duduk di salah satu pohon yang tumbang, menikmati angin laut serta pemandangan pantai.


Suasana sunyi membuatnya merindukan Gyan, selama ini dia tidak pernah mengatakan kerinduan dan rasa sayangnya. Dia baru menyadari jika selama ini Gyan tulus perhatian padanya. Memang penyesalan itu datang di akhir. Kenapa dulu dia selalu menginginkan pergi dari kerajaan saat Gyan menyayanginya. Dan kini setelah benar-benar tidak bisa kembali ke kerajaan Valmira merasa sedih.


" ayahmu pasti bahagia, maafkan ibu tidak bisa mengenalkanmu padanya nanti. Ibu hanya berharap jika suatu saat nanti kalian pasti akan bertemu" ucap Valmira sambil mengelus perutnya pelan. Pertumbuhan bayinya semakin pesat, setelah beberapa kali menerima energi dari Kangta.


" akk" sebuah tendangan kecil membuat Valmira kaget.


" kau suka dengan cerita tentang ayahmu? kalau begitu ibu akan sering menceritakan nanti" senyum Valmira mekar bayinya sudah bisa di ajak berinteraksi. Rasanya dia ingin tidak sabar menunggu hari persalinan tiba.


" kau sendirian?" seorang laki-laki datang menghampiri. Valmira menoleh sejenak.


" iya," jawab Valmira langsung berdiri. Melihat penampilan lelaki paruh baya itu membuatnya sedikit kawatir. Dia membawa semacam sabuk dengan pisau yang melekat di pinggang. Belum lagi dengan wajah yang sedikit menyeramkan dengan warna kulit yang gelap.


" kau bukan berasal dari sini ya?"


" saya hanya berkunjung sebentar. Setelah ini saya akan pergi"


" jangan pergi sendirian di sini banyak bandit" pesan lelaki itu lalu berjalan pergi. Valmira sedikit lega ternyata dia terlalu berlebihan.

__ADS_1


Setelah lelaki itu pergi, Valmira ikut kembali ke kapal. Tapi setelah beberapa lama dia baru sadar jika telah berjalan terlalu jauh. membuatnya kebingungan mencari jalan.


__ADS_2