
Beberapa hari setelahnya adalah hari dimana kerajaan Prysona sedang mengumpulkan beberapa penyihir untuk ikut memberikan serangan pada istana Garamantian. Mereka semua sedang mendiskusikan kapan dan bagaimana mereka harus menyerang.
" Ratu apa mungkin keamanan kerajaan akan semudah itu kita tembus?" tanya salah satu penyihir.
" kita bisa melakukannya, bukankah aku sudah menjelaskan bagaimana caranya agar kalian bisa mengendalikan sihir hitam?"
" tapi kami.... tidak mau menggunakan sihir hitam itu" jawab penyihir itu ragu-ragu.
" itu tidak masalah. kalian bisa mendaftarkan diri untuk menjadi korban persembahan" balas Shana halus namun menakutkan.
semua penyihir tampak kebingungan dan saling pandang. Mereka benar-benar tak memiliki pilihan lain agar hidup mereka lebih lama.
" kalian jangan khawatir, Raja Gyan yang kalian takutkan, sedang merasakan kutukan dariku. Lelaki itu tidak akan bisa melakukan banyak hal. belum lagi pasukan kerajaan milik kita akan menyusul menuju gerbang Garamantian"
Meski mereka sama sekali tidak mau berurusan dengan Garamantian, tapi bagaimana lagi. Di bunuh atau membunuh. Semuanya jelas memilih membunuh.
" baiklah akan kami laksanakan" ucap mereka dengan penuh pertimbangan.
selesai pertemuan Shana sibuk dalam ruangan persembahan. Wanita itu mengisi energinya dalam jumlah banyak, agar saat bertarung besok dirinya sudah memiliki banyak persiapan. Meskipun dia sendiri yakin jika dia pasti akan mengalahkan Gyan dengan mudah. Baginya Lelaki itu sudah dalam keadaan sekarat.
Persiapan juga di lakukan oleh Valmira beserta Kangta dan Deon. Kondisi Kangta juga jauh lebih baik. Meskipun luka tenaga dalamnya masih membutuhkan waktu untuk bisa pulih seutuhnya. Namun baik Deon ataupun Valmira sama sama tidak memaksa Kangta. Hanya saja lelaki itu yang ingin segera meninggalkan kerajaan. Perasaannya terasa tidak enak. Komunikasi dengan elangnya sudah lama sekali terputus, entah bagaimana keadaan dunia luar.
Dan di sisi lainnya pengasuh bayi G masih belum rela di tinggalkan. Wanita tua itu takut terjadi hal yang buruk pada Valmira ataupun anaknya. Baru saja dia lega atas kembalinya putri Valmira, sekarang harus berpisah lagi.
" yang mulia, bawalah saya pergi. Saya akan menjaga bayi G dengan baik" rengek Derya terus menerus sejak dia mengetahui rencana kepergian Valmira
" Derya, perjalanan ini tidak main-main. Ke wilayah selatan saja kau tidak aku izinkan ikut apalagi ke dunia luar. Bayi G sudah cukup besar, aku bisa mengurusnya sendirian"
" atau mungkin biarkan saja bayi G disini, saya akan menjaganya sampai yang mulia kembali" usul Derya yang memang sangat berat hati berpisah dengan bayi kecil itu.
" Tidak Derya, aku masih harus menyusuinya. Jangan merengek terus aku jadi bingung mau meninggalkanmu"
" yang mulia benar hanya sebentar saja di sana?"
" iya, kemungkinan tidak akan terlalu lama seperti sebelumnya. Lagi pula dengan bola kristal kita masih bisa bertukar kabar"
" baiklah yang mulia, hati-hati di jalan. saya akan menunggu kepulangan anda"
__ADS_1
" ya, aku titip kerajaan padamu"
setelah di rasa cukup pamitannya, ketiga orang itu langsung menuju ke pantai tak jauh dari istana. Disana sudah ada kapal yang siap melaju mengantar mereka sampai tujuan.
Dengan diiringi beberapa menteri dan anggota kerajaan Valmira naik ke kapal dengan menggendong G di depannya. Bayi itu cukup riang, tersenyum senang seolah sedang mendapatkan banyak hadiah.
Valmira melambaikan tangan, dan semua orang membalas. Kapal langsung bergerak menjauh, kapal yang mereka naiki tidak memerlukan nahkoda. Valmira sudah memberikan mantra khusus agar mereka bisa keluar dari tabir dengan cepat dan aman. Dengan ingatan utuhnya Valmira sangat hafal jalur pintas agar bisa masuk dan keluar tabir tanpa memerlukan banyak waktu.
" yang mulia, kita tidak memiliki bahan makanan yang cukup untuk perjalanan, Jadi untuk selanjutnya bagaimana?" tanya Deon dengan nada sedikit panik.
" kau tenang saja, palingan perjalanan ini hanya membutuhkan waktu sehari" jawab Valmira enteng.
" bagaimana bisa? sebelumnya untuk bisa sampai disini saja membutuhkan waktu berbulan-bulan" balas Deon dengan rasa tidak percaya.
" saat itu aku belum mengetahui identitas ku dan kehilangan ingatan. Berbeda dengan sekarang"
" syukurlah kita bisa sampai lebih cepat" balas Depan senang. Dia tidak sabar bertemu dengan Raja Gyan dan menceritakan semuanya.
" apa kau sudah melihat kondisi Kangta?"
" tuan Kangta sedang beristirahat di kamar setelah sebelumnya meminum ramuan"
" saya lihat tuan Kangta sudah jauh lebih baik. saya yakin jika tidak ada yang perlu dikhawatirkan"
" baguslah kalau begitu"
Perbincangan singkat itu baru selesai tak kala hari semakin siang. Mau tidak mau yang bertindak sebagai koki dadakan adalah Deon. lelaki itu asal saja memasak, dengan pengalaman seadanya mengolah bahan makanan yang tersedia. Entah bagaimana rasanya yang penting makanannya bisa di santap dan tidak menimbulkan keracunan.
Sedangkan Valmira sibuk menidurkan bayi G di kamarnya. Wanita itu tidak kesulitan sama sekali mengurus bayinya. G cukup pengertian dan Valmira juga sudah terbiasa mengurus bayinya dalam sela-sela kesibukannya.
Waktu makan siang telah bisa, langit terlihat mendung dan mungkin sebentar lagi hujan akan turun. Mereka bertiga duduk bertiga sambil mengambil makanan.
" bagaimana kondisi tubuhmu Kangta? " tanya Valmira mengisi keheningan meja makan.
" saya sudah lebih baik, ramuan dari tabib kerajaan sudah sangat membantu" jawab Kangta dengan suara seraknya.
" syukurlah kalau begitu"
__ADS_1
" lagi pula kata Deon perjalanan kali ini hanya memakan waktu seharian saja. Yang mulia jangan terlalu cemas"
" aku rasa perjalanan ini tidak akan membuatmu kelelahan"
" yang mulia Ratu memang yang terbaik" imbuh Deon dengan wajah senang.
Makan sing terus berlanjut, waktu bergulir dan tak terasa hujan yang mereka nantikan dengan pelan dan deras mengguyur kapal.
Semua orang sudah masuk ke kamar masing-masing, dan mulai beristirahat, jika keadaan mendukung saat tengah malam atau paling tidak besok pagi mereka akan sampai di daratan.
Valmira tertidur dengan bayi G yang mulai terbangun, bayi kecil itu menatap ibunya dan mulai memainkan apa saja yang ada di sekitarnya.
" em kau sudah bangun?" tanya Valmira yang ikut terbangun.
" kau ingin susu?" Valmira bersiap menyusui tak kala ekor matanya melihat seorang duyung yang berenang.
" Sereia" lirih Valmira, duyung itu adalah teman masa kecil Valmira. Wanita itu membuka kamarnya dan pergi ke geladak.
hujan baru saja berhenti jadi Valmira berani membawa G keluar. Valmira mendekat ke bagian kapal yang paling landai.
" Sereia, bagaimana kabarmu?" tanya Valmira dalam bahasa duyung.
" aku baik, kau melakukan perjalanan lagi? apa dia bayi kecil itu?"
" apa sebelumnya kita bertemu? iya, dia anakku"
" saat kau pulang ke kerajaan, sayangnya kau tidak mengingatku. tapi sekarang nampaknya kau sudah menjadi Valmira yang dulu aku kenal"
" terimakasih kau sudah mau membantuku waktu itu"
" aku memiliki sesuatu sebagai hadiah untuk bayi kecil itu" Sereia mengeluarkan sebuah kerang dan membuatnya melayang ke arah Valmira.
" apa ini?"
" itu mutiara bersinar. Ini akan berguna menjaga seseorang dari aura gelap ataupun sesuatu yang buruk. Aku hanya bisa memberikan harta lautan sederhana pada bayi itu" jelas Sereia.
" ini sudah sangat berharga. Terimakasih sekali lagi, maaf merepotkan mu"
__ADS_1
" tidak masalah, kalau begitu aku pergi dulu. selamat tinggal" Sereia berpamitan dan Valmira melambaikan tangan pelan. Bayi G mengambil kerang yang berisikan mutiara. wajahnya senang sekali. Baginya ini adalah mainan yang bagus.