
Valmira sudah merasa lega, tidak ada yang menganggunya lagi. Sayangnya hal itu tidak berlangsung lama. Nyatanya para perampok itu malah melaporkan Valmira pada prajurit kerajaan yang biasa berpatroli di sana.
Untung saja Valmira lebih dulu mengetahuinya, sebelum para prajurit itu sampai, dia langsung melarikan diri.
Valmira segera bersembunyi tak jauh dari sana.
" dimana orang yang kalian maksud?" tanya prajurit itu.
" tadi disini. Wanita itu menggunakan pakaian lelaki dan juga menguasai sihir, iya kan?" tanya salah satu perampok kepada temannya.
" iya,"
" iya,"
" kami sangat takut, dia berniat mengambil harta kami" salah satu malah memutar balikkan fakta. Valmira menggeleng pelan, kerajaan ini sangat tidak aman. Pantas saja Kangta mengatakan jika ada sihir hitam yang tumbuh disini. Melihat kondisi rakyatnya saja sudah terbiasa melakukan kejahatan.
" segera cari!" perintah salah satu prajurit kepada yang lainnya.
Valmira langsung pergi begitu saja sebelum mereka menyadarinya.
" untung saja" lirihnya setelah jauh dari pantai. Dia berjalan menuju pasar, seharian ini dia belum makan. perutnya harus segera diisi.
Di tengah perjalanannya, Valmira teringat dengan bayi kecilnya yang sudah 2 hari di tinggalkannya tentu membuat rindu. Besok dia akan kembali sebentar ke hutan dan akan meneruskan pencariannya lagi.
" itu dia!" teriak seseorang menunjuk ke arah Valmira. Baru saja dia duduk dan memakan roti, sudah ada yang menganggunya.
" sial" ucap Valmira saat menyadari seseorang yang berteriak adalah salah satu perampok tadi dan dia bersama dengan prajurit kerajaan.
" tangkap dia!"
Valmira segera berlari dari pasar. dia tidak ingin sampai tertangkap pihak kerajaan. sampai akhirnya datang seseorang prajurit dengan tingkat bela diri yang tinggi menghadang Valmira.
" siapa kau, berani berulah di sini?" tanya prajurit itu dengan gaya tegas.
" aku hanya lewat saja, dan mereka mencoba merampok uangku" jawab Valmira tidak takut. Dia juga sengaja menunjukkan identitasnya.
" bagaimana bisa kau bisa lolos dari prajurit kerajaan?"
" aku tidak melakukan apapun, kenapa harus ikut prajurit kerajaan" jawab Valmira, dia tidak mungkin mengatakan jika dirinya adalah orang asing. Beberapa warga yang melihat tentu ikut terkejut dengan identitas Valmira.
" sekarang ikutlah dengan kami, semua wanita di haruskan menjadi pelayan istana"
" menjadi pelayan atau menjadi tumbal ritual,? kau fikir aku tidak tau perbuatan menjijikkan kerajaan yang membunuh para wanita hanya untuk menjadikan mereka tumbal kesenangan? maaf aku tidak akan percaya" jelas Valmira, semua orang bisa mendengarnya dengan jelas. Valmira mengatakan dengan lantang. beberapa nampak kaget saat mengetahui fakta ini.
" baiklah, terpaksa aku akan berbuat kasar, hiyaa" prajurit ini langsung memulai serangan, Valmira langsung menghindar. Tak berselang lama, Valmira membalas serangan itu. Mereka masih menggunakan bela diri biasa. belum sampai mengeluarkan sihir. Valmira juga sedikit ragu untuk mengeluarkan sihir disini. Karena jika mereka tau, kemungkinan dia akan langsung di eksekusi. padahal dia belum menemukan Kangta dan Deon, tidak. Valmira akan berusaha menyembunyikan energi sihirnya.
" hiyaa"
prajurit itu kembali mengirimkan serangan, Valmira terus saja menghindar dan menangkis. Semakin lama dia sedikit kewalahan. Valmira tidak pandai bela diri.
" akkk" Valmira terkena pukulan di perutnya. Dia yang belum lama ini melahirkan tentu saja langsung merasakan sakit yang luar biasa.
" tangkap dia!" perintah prajurit itu.
__ADS_1
kali ini Valmira pasrah saja, saat 2 prajurit lainnya memapahnya berdiri dan segera mengikat kedua tangan Valmira.
beberapa orang yang melihat tampak kasihan dengan Valmira. mereka juga mulai.percaya dia dengan apa yang Valmira katakan mengenai tumbal ritual adalah benar. karena selama ini mereka tidak pernah melihat wanita yang menjadi pelayan itu kembali atau sekedar melihat keluarganya. Mereka seakan menghilangkan di telan bumi.
" lepaskan aku!" teriak Valmira sat dia di masukkan ke sebuah penjara kurungan kecil di atas sebuah gerobak yang di seret kuda. Kurungan itu hanya muat untuk 2 sampai 3 orang saja.
" diam!"
prang
suara besi tahanan yang di pukul dengan pedang agar Valmira berhenti berteriak. Valmira mengambil nafas panjang, kini rencana dia pulang harus batal. Bagaimana dia akan keluar dari kerajaan, Kangta dan Deon saja belum ketemu. wanita itu akhirnya duduk dan menatap sekeliling sepanjang perjalanan. Dia menjadi pusat perhatian, semua orang yang melihat selalu menatapnya dengan tatapan sendu. kejadian seperti ini memang sering terjadi, tapi tidak ada yang berani melawan.
Beberapa saat setelahnya Valmira melihat bangunan kerajaan berada di depannya. Sebentar lagi dia akan masuk ke gerbang utama kerajaan. Nafasnya semakin bergemuruh, dia harus segera mencari cara agar bisa keluar dari tempat terkutuk ini.
" Kenapa dia?" tanya prajurit penjaga gerbang pada prajurit yang berpatroli.
" dia wanita" jawab mereka membuatnya melempar pandangan ke arah Valmira sekali lagi. Valmira membuang muka. Dan tepat saat itu dia menatap prajurit lain yang wajahnya mirip sekali dengan Deon.
" akkk!" teriak Kangta menarik perhatian Deon agar melihatnya. Dan benar saja semua kini menatap Valmira termasuk Deon.
lelaki itu langsung terpaku saat Valmira menyebut namanya tanpa suara. Meski tubuh di depannya berbaju laki-laki dengan kulit kusam, tapi mengetahui namanya itu pasti Valmira.
" masuk!" teriak petugas pada rombongan prajurit patroli.
Deon dan Valmira saling pandang dalam diam. sampai Valmira benar-benar masuk dan tak terlihat lagi.
jantung Deon berdetak kencang, nona yang selama ini dicari kini tertangkap oleh kerajaan. Hal ini harus dia laporkan pada Kangta secepatnya.
Saat itu langit masih sore, Deon menunggu saat hari sudah gelap untuk bisa menemui Kangta. Mereka memiliki jadwal pertemuan di suatu tempat saat malam tiba.
Mereka sudah hampir satu bulan mengawasi beberapa area membuat mereka sangat tau jadwal di laksanakannya ritual bulan purnama, ritual pengorbanan hewan suci dan berbagai macam hukuman berat bagi pelayan ataupun pemberontak.
" Alora tertangkap? ini tidak bisa di biarkan. besok malam kita akan mengeluarkannya. Tapi sudah lama sekali tidak ada kabar mengenaiinya kini bisa bertemu juga merupakan hal yang baik" Kangta ikut terkejut, tapi masih bisa berpikir dengan tenang.
" tapi tuan, perut nona sudah tidak besar lagi. Apa dia kehilangan bayinya? atau mungkin..."
" Alora sudah melahirkan? usia kandungannya bukankah masih sekitar berapa? 7 bulan?"
" saya juga tidak tau, kasihan sekali jika sampai nona kehilangan bayinya. Dia sudah menjaga dan menunggunya beberapa bulan ini"
" 7 bulan bukan usia yang kecil jika melahirkan anak. Apalagi dengan pertumbuhan energi sihir dalam tubuh Alora, hal itu tidak mustahil terjadi. Tapi dimana bayinya ? "
" kita harus bertanya pada nona secara langsung apa yang sebenarnya terjadi dengan bayinya"
" ya, semoga saja bukan berita buruk"
setelah menyusun rencana Kangta dan Deon berpisah. Mereka tetap melaksanakan pengintaian seperti biasa. hal ini semacam rutinitas agar mereka bisa mengetahui situasi kerajaan. karenanya Deon dan Kangta hafal dengan berbagai jalan yang ada di istana. setiap bangunan dan celah masuk. mereka begitu lihai jika di suruh menyelinap masuk.
......................
kerajaan Prysona kini terlihat sangat sepi semenjak pasukan kerajaan berangkat ke medan perang. Kota-kota hanya menyisakan para wanita, janda, serta anak yatim piatu. semua laki-laki diharuskan menjadi prajurit pasukan kerajaan.
bahkan di istana saja ikut sepi, hanya beberapa orang pelayan dan penjaga saja. Dan tentu saja Putri Shana. Wanita sangat senang ayahnya akhirnya mau meneruskan rencana untuk berperang, meski sempat nyaris di gagalkan karena kematian sang istri. Tapi dengan hasutan dari Shana, Raja Prysona tetap melanjutkan perang.
__ADS_1
Saat Raja Prysona tidak berada di tempat maka Shana lah yang mengurusi masalah kerajaan. Karena sebelum Raja memimpin pasukan perang, dia sudah lebih dulu mengeluarkan keputusan bahwa Shana menjadi putri mahkota kerajaan Prysona. secara tidak langsung Raja berfikir jika untuk kembali ke kerajaan dalam keadaan selamat akan sangat kecil kemungkinannya.
Jika bukan karena putrinya yang ingin membalas dendam serta ingin menggantikannya ke medan perang, Raja Prysona mungkin akan mengurungkan niatnya dan memilih membiarkan saja kerajaan Garamantian.
Pasukan berjalan dengan semangat, mereka sudah di berikan janji setelah pulang perang nanti Raja dengan sukarela membagikan harta kerajaan. Hal ini setidaknya membuat pasukan sedikit terhibur setelah mereka ditekan berbulan-bulan.
Kali ini mereka membawa perlengkapan yang lebih mumpuni. Belajar dari sebelumnya, panglima dan jenderal perang sudah mempelajari pertahanan hidup di medan berpasir. perbekalan juga semakin banyak. Semuanya di rasa cukup dan mereka akan bisa memenangkan perang.
Sejak meninggalnya Ratu Prysona, Kondisi emosi Raja mulai menurun. lelaki itu bisa mengatur amarahnya dengan lebih baik. Entah kenapa ada sesuatu yang menganggu pikirannya. Dia masih ingat bagaimana wajah istri tersenyum, sebelum akhirnya di makamkan. Dia juga melihat kondisi terakhir Ratu Prysona yang menjadi korban sihir Raja Gyan. Saat itu dia bisa merasakan jika pernyataan para penyihir sepetinya berbohong. Meskipun dia sendiri begitu dendam dengan Gyan, tapi dia tau benar jika Gyan bukan orang yang akan membalas dendam menggunakan orang lain. Gyan pasti akan menemuinya dan membunuhnya.
" yang mulia" panggil panglima perang setelah beberapa kali tidak di dengar.
" ada apa?" lamunan Raja langsung menghilang.
" di depan adalah wilayah perbatasan Prysona, sedangkan waktu sudah mendekati malam. Bagaimana jika kita menginap disini malam ini?" tanya panglima dengan hati-hati.
" baiklah" jawab Raja.
Semua pasukan langsung bersiap diri memasang tenda serta perapian. Perjalanan mereka masih sangat panjang. mereka tidak boleh berlebihan dan tetap menghemat makanan.
Sedangkan di kerajaan, Shana sedang bersenang-senang dengan kebijakan istana. Dia sudah membuat sebuah pengumuman bahwa kerajaan sedang membuka lowongan sebagai pelayan istana. Bagi wanita khusunya yang masih perawan bisa mendaftar dan bagi yang lolos mereka akan mendapatkan jaminan upah yang banyak.
Shana sedang menyusun rencananya sendiri, ayahnya memimpin perang memang hanya sebagai bentuk pengalihan saja. Shana akan membalas dendam dengan datang langsung ke istana Raja Gyan. Saat Garamantian sibuk menghadapi pasukan perang ayahnya Shana akan menyelinap dan akan melakukan sihir kutukannya. itu adalah rencana besarnya. wanita itu bahkan rela mengorbankan ayahnya sendiri untuk bisa melancarkan rencananya.
Sihir kutukan adalah sihir hitam paling mematikan dan menyakitkan. Wanita tidak main-main dalam hal ini. Shana sudah menyetujuinya, perjanjian antara dirinya dan Douglas tentu akan segera dilaksanakan.
" putri, semua nama yang putri minta sudah disiapkan oleh bagian kerumahtanggaan istana. Mungkin beberapa hari akan dikirim kepada anda" jelas pelayan pribadinya.
" katakan pada mereka jika aku ingin besok daftar nama itu sudah ada di ruanganku, dan juga pastikan nama yang di tulis hanya nama pelayan yang masih perawan"
" baiklah, putri. saya akan melaksanakan perintah anda" pelayan itu segera pergi.
" kau terlihat mudah sekali marah, sayang" ucap Douglas sambil mengelus rambut Shana pelan.
" perhatikan ucapan dan tanganmu, Douglas!" Shana memperingati meski mereka memang memiliki perjanjian terlarang, tapi Shana hanya memandangnya sebagai bentuk kerja sama. Dia sam sekali tidak sudi di sentuh oleh lelaki hina ini.
" emm baiklah" jawab Douglas sambil senyum mengejek. Dia akan membiarkan Shana memperlakukan dirinya seenaknya sekarang, tapi nanti saat wanita itu menunaikan perjanjiannya Douglas tidak akan berlaku lemah lembut.
Douglas dan Shana memang sedang bertemu untuk mendiskusikan tujuan mereka dalam mengirim sihir kutukan pada Gyan. Kapan dan bagaimana semua sudah mereka sepakati.
" aku akan pergi dulu, dan jangan lupa siapkan 15 wanita perawan serta darah hewan ular hitam" ucap Douglas sebelum berpamitan pergi.
" jangan khawatir, semuanya akan aku urus dengan baik" jawab Shana ketus.
lelaki itupun pergi ke kamar khusus yang sudah Shana siapkan di area istananya. Hal ini di maksudkan agar dia bisa dengan mudah berkomunikasi dengan Douglas. Mereka tidak khawatir mengenai rumor, istana sedang sepi tak ada siapapun yang berani menasehatinya.
Douglas pergi dengan wajah puas, lelaki ini sangat menjijikkan di mata Shana. hanya karena dia menguasai sihir hitam baru Shana mau bekerja sama dengannya.
beberapa hari setelahnya, barisan wanita memadati istana bagian kerumahtanggaan. Lowongan pelayan istana yang sudah Shana keluarkan beberapa hari yang lalu kini sudah penuh dengan para pendaftar. mereka semua sudah lolos beberapa tahapan seleksi dan sekarang waktunya pembagian tempat kerja.
" yang mulia putri mahkota datang!" teriak salah satu penjaga.
semua orang segera memberikan sanjungan serta salam penghormatan. Shana berjalan dengan angkuh. menatap semua wanita yang berdiri berbaris dengan pandangan merendahkan.
__ADS_1
" kalian beruntung masuk menjadi pelayan istana saat keadaan kerajaan sedang sulit seperti ini. Aku sarankan hindari melakukan kesalahan atau membuat masalah. patuh dan jangan banyak bertanya. Jika hal itu kalian lakukan bisa di pastikan kalian akan aman dan mendapatkan status yang tinggi" jelas Shana kepada para wanita itu. Seakan semuanya perkataanya adalah untuk memperingati para wanita polos yang menunduk ketakutan.
" baik yang mulia putri mahkota" ucap mereka bersamaan.