
Padang Mazu kini kembali menjadi saksi bisu atas tragedi peperangan antar kerajaan yang sama. tanah yang mengering kini kembali tersiram darah merah para prajurit. Pemandangan ini jelas membuat pilu siapa yang melihat.Terlebih pasukan Prysona yang benar-benar habis tak bersisa. Tidak ada yang mengurusi mayat-mayat yang sudah hampir habis di makan burung pemakan bangkai. Bahkan beberapa keluarga mereka yang masih tersisa di kerajaan juga ikut menjadi korban persembahan putri mahkotanya.
Sedangkan dari pihak Garamantian, mereka dengan suka rela mengumpulkan lalu mengubur mayat-mayat musuh agar tidak menimbulkan bau serta penyakit menular, sembari mencari mayat prajurit Garamantian yang akan di perlakukan berbeda.
Setelah perang berakhir kondisi kerajaan tidak seperti biasa. Kali ini Garamantian mengalami kematian yang lebih banyak daripada sebelumnya. Meski tidak di pihak kalah, tapi karena sihir hitam itu banyak prajurit yang berakhir meninggal karena saling membunuh satu sama lain.
" ini tahun terberat bagiku, setelah kehilangan anak dan istri. Kematian prajurit kali ini adalah terbanyak selama aku memimpin perang" lirih Gyan yang berdiri di atas tembok gerbang perbatasan. Lelaki itu menatap lurus ke arah padang Mazu yang masih berwarna merah darah.
" yang mulia jangan bersedih. anda sudah melakukan yang terbaik. Meski banyak yang gugur tapi semua ini demi untuk melindungi yang lainnya" hibur Aden.
" aku tidak rela kematian rakyatku karena terkotori oleh tangan hina Douglas"
" apa yang mulia akan melakukan sesuatu?" Tanya Aden memastikan, karena dia merasakan aura kebencian yang sangat dari Raja Gyan.
" tentu saja, tapi aku akan menunggu waktu yang tepat" jawab Gyan yakin. Dia tentu akan membalas semua yang menimpa rakyatnya. Dengan mengepalkan tangannya Gyan menatap lurus penuh tekad.
Disisi lain di depan gerbang kerajaan Prysona prajurit di kagetkan dengan penemuan seseorang yang terbaring di depan pintu. Mereka segera membopong lelaki itu dan membawanya masuk sebuah gazebo.
" ini yang mulia Raja" teriak prajurit yang mengenali wajah Raja yang terkotori darah serta lumpur. Suara teriakan itu tidak saja membuat yang lain kaget tapi juga mengusik alam bawah sadar sang Raja.
Setelah lama tak sadar, mata itu mulai terbuka. Dengan perasaan yang masih berkecamuk lelaki itu langsung bangkit tanpa bisa mengenali jika dia sudah berada di kerajaannya.
__ADS_1
" mau apa kalian? ingin membunuhku? pergi!" teriak lelaki itu seperti orang tak waras.
" yang mulia, ini kami" saut prajurit penjaga dengan hati-hati.
" siapa kalian? hah?" masih juga tidak mengenali rakyatnya sendiri.
" yang mulia, kami prajurit penjaga gerbang kerajaan" jawab prajurit tanpa merasa aneh dengan tingkah sang Raja. Lelaki itu menatap wajah prajurit nya dengan penuh ketakutan. kilasan peristiwa di padang Mazu masih sangat jelas di pikirannya. Bagaimana liarnya pasukannya membunuh bahkan memakan lawannya tanpa jijik. Pemandangan itu sangat menyeramkan baginya. membuatnya takut bukan kepalang.
" menjauh dariku, pergi!" teriak Raja menarik perhatian orang lain. Mereka mengerubungi gazebo perbatasan.
" yang mulia" ucap prajurit lain yang melihat kegaduhan di sekitar pos jaga perbatasan.
" pergi dari ku!" Raja mengusir semuanya, berfikir mereka akan memakan dirinya.
" putri, saat ini Raja sedang berada di pos perbatasan" lapor prajurit.
" Raja? kau tidak salah?"
" tidak Putri, Raja di temukan terbaring di depan gerbang sendirian. Saat ini berada di pos perbatasan dengan prajurit lainnya" ucapnya tanpa menjelaskan kondisi Raja yang sebenarnya. Dia takut Putri menganggapnya dia berbohong.
" baiklah kau bisa pergi" ucap Shana dengan sedikit kesal. Kenapa bisa ayahnya selamat dan sampai di kerajaan dengan sangat cepat.
__ADS_1
" pelayan siapkan kereta, kita ke perbatasan sekarang juga" perintah putri. Wanita itu ingin memastikan sendiri bagaimana caranya ayahnya pulang.
.....................................
Hal yang sama juga tengah terjadi di kerajaan Mystick. Aula samping istana dalam kini terdapat 3 orang yang sedang membahas masalah sihir hitam juga.
" seperti yang sudah mereka katakan. Baik Alvaro maupun Violet sama-sama tidak mau mengakui kesalahan. Mereka selalu mengatakan jika semua terjadi begitu saja dan saling menuduh" ucap Deon yang sudah melakukan pemeriksaan dalam bentuk penyiksaan pada penjahat sihir hitam.
" kita tidak bisa menunggu lagi, atau para boneka serta pasukan sihir itu akan bangkit" balas Valmira yang sudah hilang kesabaran.
" putri, masalah ini tidak bisa di putuskan dengan gegabah. Saya akan mencoba ikut turun tangan dalam menekan mereka" usul Kangta.
" aku tidak suka bertele-tele. mereka cukup menunda banyak waktu. Apa menurut mu kematian mereka jelas akan membuat semua ini berakhir?"
" ada kemungkinan iya dan juga tidak. Jalan kematian memang sedikit membuat kita lega, tapi jika hal buruk terjadi setelahnya maka ini akan lebih parah dari pada kematian itu sendiri" saran Kangta yang tidak bisa menjelaskan secara gamblang resiko terburuk yang akan terjadi.
" para menteri semakin khawatir, mereka mengira kita tidak bisa mengatasi masalah ini"
" kami sangat mengerti dengan situasinya. maafkan kami putri"
" baiklah aku beri waktu 3 hari, jika mereka tetap bungkam segera lakukan eksekusi sesuai dengan keputusan sebelumnya" jelas Valmira tegas. kejahatan mereka sudah terlampau banyak untuk sekedar menerima satu hari hidup. Meraka tidak pantas menerima keringanan dalam bentuk apapun.
__ADS_1
" baik putri, akan kami laksanakan" jawab Deon dan Kangta bersamaan. setelahnya mereka langsung menuju ke ruang tahanan.