Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan

Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan
Perjalanan 2


__ADS_3

" Marilla? sosok hebat itu bagaimana bisa aku menyamainya?" gumam Valmira merasa jika ucapan Kangta pasti tidak benar.


" mungkin itu hanya sebuah kebetulan" lanjut Valmira.


" Kebetulan yang sangat langka, Alora" balas Kangta dengan menerawang jauh. suara ombak membuat perbincangan mereka terhenti. Valmira dan Kangta sama- sama menyelami pikiran masing-masing. Keduanya hanyut dalam kekhawatiran serta angan-angan panjang.


" jadi kita akan menuju ke tempat Marilla?" setelah sekian lama diam, Valmira kembali bersuara.


" lebih tepatnya, ke pulau miliknya. Ada bencana besar yang sedang melanda kerajaan Mystick, baik aku maupun Gyan berusaha semaksimal mungkin berusaha menangkalnya"


" aku yakin kalian pasti bisa mengatasinya" Valmira memberikan semangatnya.


" entah saat aku ada atau sudah tiada, aku akan mendoakan keselamatan kalian" lanjutnya dengan suara yang rendah. tatapannya masih menuju ke langit malam. Sedangkan Kangta begitu tersentuh dengan ucapan Valmira. Meski hanya sesaat mengenal Valmira, Kangta merasa jika wanita di sampingnya ini adalah wanita istimewa. Hatinya selalu merasa teduh melihat mata Valmira yang indah.


......................


Di istana Ratu, Shana sedang merapikan barang-barang untuk dijadikan hadiah pada teman serta ibundanya. Sudah 2 hari yang lalu rombongan Prysona berada di kerajaan dan selama itu ibundanya terus menghindarinya, dengan alasan pertemuan dengan Raja Gyan serta para menteri lainnya.


" yang mulia kepala pelayan meminta izin bertemu" ucap pelayan pribadinya.


" persilakan masuk" jawab Shana tanpa merasa curiga sedikitpun.


Tak lama kepala pelayan masuk membawa serta beberapa pelayan lainnya.


" yang mulia ratu" sanjung kepala pelayan. Shana menoleh dan mengerutkan keningnya.


" ada apa datang ke mari?"


" kami di perintahkan yang mulia Raja untuk membantu Ratu mengemasi barang serta mempersiapkan segala perlengkapan untuk perjalan Ratu ke kerajaan Prysona" jelas kepala pelayan membuat Shana bingung sesaat.


" aku tidak berniat pergi ke kerajaan Prysona" balas Shana masih tak mengerti.


" kami hanya mengikuti perintah yang mulia Raja, Ratu"

__ADS_1


Shana semakin tak mengerti dia tidak pernah mengatakan apapun. apalagi keinginan pergi ke Prysona. Shana akhirnya bangkit.


" aku akan menemui Raja" Shana akan meminta kejelasan.


Shana berjalan menuju istana Raja dengan sedikit cepat, namun begitu sampai di pelataran langkahnya mulai melambat. Wanita itu melihat ibundanya juga sedang berbincang dengan Gyan.


" masuklah Shana" ucap Gyan yang menyadari kehadiran Shana disana.


" yang mulia, Raja. Ratu Prysona" Shana memberikan salam sanjungan.


" duduklah" balas Gyan, dengan memberikan kode lewat tangannya menujuk ke sebuah kursi kosong di sebelah ibundanya.


" Saya tidak menyangka Ratu Prysona juga berada di sini"


" kami memang sedang mendiskusikan hal yang serius. Jadi ... apa yang membuatmu datang menemui ku?" tanya Gyan dengan nada yang cukup tenang.


" em itu" Shana mulai ragu apakah ini waktu yang tepat untuk menanyakan perihal kepala pelayan. Baik Gyan dan Ratu Prysona sama sama menunggu jawaban Shana.


" ah ya, lalu ada masalah?"


" saya tidak ingat jika mengatakan ikut pergi ke Prysona"


" kamu memang tidak pernah mengatakannya, itu adalah perintahku. mungkin Ratu Prysona bisa menjelaskan alasannya"


" Shana, sebenarnya ayahandamu sedang sakit, dan beliau ingin sekali melihatmu. Ibu sengaja meminta secara pribadi agar Raja Gyan mengizinkanmu kembali ke Prysona, apa kau keberatan?" jelas Ratu Prysona dengan lembut, namun rautnya begitu sendu. membuat Shana berfikir jika ayahnya sedang sakit keras. padahal semua itu hanyalah karangan saja. Gyan beserta Ratu Prysona memang sudah berunding bersama dan memilih merahasiakan alasan sebenarnya sampai Shana berada di Prysona. guna mengantisipasi penolakan Shana jika mengetahui yang sebenarnya.


" kenapa ibunda tidak mengatakan sejak awal. Shana tentu tidak keberatan. Asal Raja sudah mengizinkan, Shana akan mengunjungi ayahanda dan ikut ke Prysona" ucap Shana tanpa curiga. Ratu Prysona tersenyum lemah dan mengelus rambut putrinya. Melihat wajah polos dan cantik Valmira, tidak akan ada yang percaya jika Shana selama ini melakukan praktik sihir hitam. Jika Gyan tidak memberikan bukti-bukti Ratu Prysona tidak mungkin percaya dan mau menerima segala keputusan Gyan untuk putrinya.


" terimakasih Shana, besok kita akan berangkat"


" aku akan mengirimkan beberapa prajurit untuk melindungi kalian selama perjalanan" imbuh Gyan membuat Shana senang. Berfikir Gyan begitu perhatian padanya, Shana merasa menjadi wanita spesial.


" terimakasih yang mulia" ucap Shana dengan senyum lebar.

__ADS_1


......................


Seperti yang sudah di sepakati, besok harinya barisan rombongan kerajaan Prysona sudah terlihat di depan pintu masuk kerajaan. kunjungan mereka sangatlah singkat hanya 3 hari saja. Tandu Ratu Shana dan Ratu Prysona sebagai di bedakan. Selain mengindari tradisi Tabu, Ratu Prysona masih belum bisa berbincang ria dengan putrinya.


" Ratu kenapa anda selalu terlihat murung selama perjalanan?" tanya pelayan pribadi Ratu Prysona.


" bagaimana bisa aku tersenyum dengan rasa malu. Raja Gyan masih berbaik hati mengirim pulang Shana. Rasanya Prysona sudah tidak memiliki wajah di depan Raja Gyan, Bagaimana bisa Raja Gyan masih dengan ramah menyambut kedatangan kita" lirih Ratu Prysona dengan wajah sedihnya. Wanita itu benar-benar terpukul dengan apa yang sudah putrinya lakukan.


" Ratu, jangan bersedih hati. Semua akan baik-baik saja setelah ini. Saya yakin Ratu Shana akan bisa berubah menjadi lebih baik" hibur pelayan pribadinya.


" ya, itu yang selalu aku harapkan "


Kereta mulai berjalan meninggalkan kerajaan, Gyan hanya mengantar dari istana dalam. Lelaki itu sama sekali tidak terlihat setelahnya. Gyan kembali sibuk dalam istananya.


" yang mulia, rombongan kerajaan Prysona sudah meninggalkan kerajaan" lapor Aden.


" baguslah, ku harap dia tidak akan kembali lagi" gumam Gyan yang sudah tak peduli lagi dengan nasib Shana saat sampai di Prysona.


" apa ada surat dari Deon?" lanjut Gyan.


" ada yang mulia, baru datang saat menjelang fajar" Aden memberikan gulungan kertas. Gyan segera menerima dan membukanya.


" mereka sudah berlayar menuju Samudra Aegir, kurasa itu bukan arah yang benar. coba kau bawakan buku serta peta kemari"


Aden segera melaksanakan.


Gyan membuka kembali buku- buku yang berisi mengenai kerajaan Mystick.


" bukankah masih ada 2 buku lagi, kemana keduanya?" Gyan menyadari jika jumlah buku yang Aden bawakan berkurang.


" sepertinya masih tertinggal di kamar selir Agung, saya akan meminta pelayan untuk.."


" tak usah, aku akan mengambilnya sendiri" cegah Gyan. Aden mendadak menjadi merasa bersalah. Seharusnya dia mengambil sebelum Raja Gyan, kini Dia takut jika Raja Gyan kembali merasakan kesedihan lagi.

__ADS_1


__ADS_2