
Setelah kembali dari istana luar Valmira memasuki kamarnya. Bayi G di tangani oleh Derya, membuat wanita itu memiliki waktu luang untuk menyelidiki sesuatu yang mengganggunya sejak ia datang. dia menunggu seseorang itu sampai, hingga saat langit mulai gelap akhirnya Valmira bisa menemukan keberadaan seseorang tersebut. Dengan energi barunya Valmira tanpa di ketahui menyelinap masuk.
Wanita itu sempat merasa aneh dengan tempat tujuan seseorang ini. Dia berada di menara tak jauh dari kamarnya dulu. Masuk ke lorong-lorong yang terasa asing. Sama seperti lorong tempat mereka menemukan boneka sihir, kali ini lorong yang dia masuki juga memerlukan sihir pembuka.
" apa yang dia cari?" lirih Valmira terus masuk.
Hingga dia tiba di salah satu ruangan yang sudah nampak terang.
Terlihat seseorang itu merapalkan mantra dan keluar sebuah kotak kayu yang berisi sebuah buku usang.
" jadi tujuanmu kemari adalah karena buku itu?" ucap Valmira mengagetkan seseorang itu. Lelaki itu langsung menatap Valmira dengan raut datar tapi juga sendu.
" saya tidak menyangka putri begitu perhatian dengan saya sampai menyempatkan waktu hanya untuk mengurusi urusan saya" ucap Kangta dengan nada tak suka. Lalu meletakkan kotak yang ada di tangannya.
" apa yang ada disana?" tanya Valmira tegas.
" hanya buku usang" jawab Kangta singkat. Valmira menatap Kangta dalam, lelaki ini mengalami perubahan yang cukup besar. Sebenarnya apa yang sudah terjadi pada lelaki tua ini, dia tampak begitu berbeda dari pertama mereka bertemu.
" darimana kau mengetahui jika di ruangan ini terdapat buku itu? aku saja tidak tau menahu akan hal ini" Valmira berjalan mendekat ingin tau lebih dalam buku yang ada di hadapannya.
" menurut putri kira-kira darimana?" tanya Kangta balik dan berjalan menjauhi Valmira.
" kau bukan Kangta yang aku kenal" balas Valmira menyelidiki.
" lalu seperti apa Kangta di mata putri?"
" entahlah, lebih baik kau berikan padaku" ucap Valmira saat Kangta berusaha mengambil kotak kayu dari jangkauan Valmira.
" putri tertarik juga dengan buku ini?"
" tidak, aku hanya ingin mengetahui buku macam apa yang disimpan di tempat seperti ini"
situasi mendadak tegang, Valmira dan Kangta tidak seakur biasanya.
ccruusshhh
wwuusshhh
Valmira menatap tak percaya dengan penglihatannya. Kangta mengeluarkan serangan tapi mengandung aura hitam. Jelas ada yang tidak beres dengan lelaki tua di hadapannya.
ccruusshh
Valmira langsung mengambil alih kotak tersebut dan kini berada dalam genggamannya.
" jangan memaksaku" ucap Kangta dengan suara yang berbeda. seakan ada suara lain yang mengikuti.
wwwuusshh
Kangta membalas, Valmira dengan cepat menghindar.
crusshh
Valmira mengeluarkan serangan dan langsung mengenai tubuh Kangta.
__ADS_1
" putri, pergi.." lirih Kangta tak sadar.
" hahahaha" tapi tak lama dia tertawa.
Valmira yang melihatnya menjadi bingung apa yang sedang terjadi di tubuh Kangta.
ccruussshhh
Valmira mengirimkan sihirnya dengan cepat pada tubuh Kangta.
" aaakkk" teriak Kangta kesakitan.
" tubuhmu memiliki aura gelap, iblis itu berpindah ke tubuh mu" ucap Valmira mencoba menyadarkan Kangta.
" aaakkk"
" aku akan mencobanya mengeluarkannya"
Dengan energi barunya, tentu hal semacam ini tidak sulit. Valmira memberikan energi putih untuk mengusir aura gelap itu.
" aaakkk" Kangta bertambah kesakitan. Tubuhnya terasa panas dan perih seakan di tusuk pedang tajam.
" bertahanlah" ucap Valmira berusaha selembut mungkin mencabut aura iblis dalam tubuh Kangta.
Hingga mulai terlihat aura yang dia cari, Valmira langsung mengumpulkan aura itu dalam tabir lingkaran yang sudah di persiapkan.
" Valmira, terimakasih" lirih Kangta yang sudah terduduk lemas. Aura iblis terlihat menggeliat ingin keluar dari tabir kurungan.
" mungkin saat saya mencoba masuk ke dalam pikirkan Violet"
" Tak salah, saat itu kondisimu begitu lemah dan memaksakan diri menggunakan sihir tinggi. Pantas saja semburan naga hitam malam itu tak menewaskanmu"
" aku sendiri tak menyadarinya sampai setelah sadar aku tak bisa mengendalikan tubuhku"
" lalu tujuannya membawamu kemari apa?"
" dia menuntunku" jawab Kangta lemah, dia seperti sedang mengakui kesalahan.
" menuntun mu? jangan bilang kau memiliki niatan menggunakan sihir hitam?"
Kangta terdiam lama hingga membuat Valmira terpaku tak percaya. Ada sesuatu yang di rahasiakan Kangta.
wwuusshhh
energi hitam itu Mencoba melepaskan diri dari tabir Valmira.
" ada sesuatu dalam diriku yang memang ingin menggunakan sihir hitam" lirih Kangta jelas.
" aku ingin melakukan sesuatu yang hanya bisa di lakukan jika menggunakan sihir terlarang, itulah alasannya mengapa iblis itu bisa menguasai tubuhku dengan mudah" lanjut Kangta dengan perasaan bersalah, tidak seharusnya dia berfikir untuk menggunakan sihir terlarang. Karena sekali saja dia lengah dia akan kehilangan dirinya. iblis akan mencari sedikit celah untuk bisa mengendalikan mangsanya.
" kau singkirkan buku itu, aku merasa jika buku tersebut memiliki efek yang besar pada kekuatan aura ini" ucap Valmira terlihat kesusahan menahan aura iblis yang mulai memberontak kuat.
" baiklah" Kangta beranjak pelan dan mengambil kotak tersebut lalu menutupnya dengan cepat.
__ADS_1
Tak di sangka aura iblis kini bertambah memberontak, seperti tak mau jika kotak itu berjauhan dengannya.
" apa kau masih memiliki energi untuk memusnahkan kotak berserta buku itu?" tanya Valmira membagi konsentrasinya. Antara mengurung aura iblis dan berkomunikasi dengan Kangta.
" ada, tapi tidak terlalu banyak. aku akan mencobanya" jawab Kangta. Dia mulai mengumpulkan energi memfokuskan serangan hanya pada kotak itu saja. Perlahan kotak tersebut melayang dan Kangta memulai merapal kan mantra.
" iissshhhh"
brukk
sayangnya energinya terlalu lemah sehingga tidak kuat menopang kotak tersebut. kotak tersebut jatuh dengan posisi buku yang terbuka.
" astaga!" teriak Kangta terkejut, disaat buku tersebut mengeluarkan semacam mantra secara mandiri.
" apa yang terjadi?" tanya Valmira merasa jika kekuatan aura tersebut bertambah banyak.
" buku ini tak mau di tutup" seru Kangta panik.
wwuusshhh
kekuatan aura iblis sudah tak terkendali. Benda itu terus memberontak mencoba melepaskan diri.
" ini tidak bisa dibiarkan, iblis terus mencoba untuk melepaskan diri" balas Valmira sedikit kesusahan.
" aaakkk" teriak Kangta saat buku itu tiba-tiba memberikan serangan dan mencoba mengisap jiwa lelaki itu.
Valmira bingung harus melakukan apa, dia tak mungkin membiarkan Kangta terluka, namun di satu sisi dia juga tak ingin kehilangan iblis ini.
" Kangta, bertahanlah" Valmira berusaha agar aura itu terpenjara dalam tabirnya. Wanita itu melakukan segala cara.
" aaakkk" teriak Kangta semakin keras. Valmira tidak memiliki pilihan lain.
pryarrrr
tabir miliknya berlubang dan dengan cepat aura itu terbang ke atas menembus langit-langit ruangan.
ccruusshhh
Valmira mengirimkan serangan pada buku tersebut. Untung saja dalam seketika buku tersebut tertutup dan Kangta berhasil di selamatkan.
" kau tak apa?" tanya Valmira cemas.
" jangan hiraukan aku, segera kejar aura iblis itu" ucap Kangta tegas dan sedikit memaksa.
" bagaimana denganmu?"
" aku tak apa, cepat kejar jangan sampai aura itu lolos"
Dengan sedikit berat hati akhirnya meninggalkan Kangta. Wanita itu langsung menghilang dan berpindah di luar menara.
aura iblis itu sudah terbang jauh keatas, Valmira melayang mengikuti kemana perginya aura tersebut.
Sampai akhirnya Valmira menyerah, aura itu pergi menembus awan dan entah kemana tujuannya, yang jelas aura tersebut pergi meninggalkan kerajaan Mystick.
__ADS_1