
" Putri sejak tadi anda selalu saja menunda makan, hari semakin malam tapi anda belum makan apapun. Bahkan bayi G sekarang sering menangis karena makanannya kurang" ucap Derya yang sudah menasehati Valmira berkali kali.
mendengar bayi G di sebut, Valmira segera berpaling menatap nenek tua.
" astaga, bawa kemari!" ucap Valmira sedikit panik. bagaimana bisa dia melupakan anaknya.
" baik Putri"
Tak lama Derya masuk.sambil menggendong G.
" anakku yang malang, lapar ya" Valmira langsung mengambil alih G dari gendongan Derya.
" sebenarnya apa yang membuat putri sampai bisa begitu sibuk sampai hampir melupakan G? "
" Kangta baru saja memberiku laporan, aku membacanya dan baru sadar jika banyak sekali hal buruk yang terjadi. aku baru meminta laporan peraturan kerajaan dan sampai sekarang belum bisaa membayangkan penderitaan yang rakyat rasakan, maafkan aku" jelas Valmira sambil menyusui G.
" putri harus bisa mengatur diri dengan baik, jangan sampai anda melupakan hal penting lainnya. Serta jaga kesehatan putri. Kerajaan Mystick hanya memiliki anda seorang" Derya hanya bisa memberikan nasehat. Dia tidak pandai mengatur urusan jadi mau tidak mau selama ini hanya mengasuh bayi G.
" iya, terimakasih. untuk seterusnya biarkan aku saja yang mengurus Bayi G. kau hanya perlu membawanya ke kamar jika dia telah tertidur"
__ADS_1
" baik putri"
Valmira berpaling sejenak dari tugas kerajaan. Dia harus memikirkan bayinya yang masih belum genap 1 bulan itu.
sedangkan di luar Kangta dan Deon sedang menjelajahi istana kerajaan. Berdasarkan penilaian mereka sat menjadi prajurit, masih ada beberapa tempat yang memiliki aura misterius. jadi mereka 3akn memeriksa, mereka sudah mengantongi izin Putri Valmira, sebuah giok putih menjadi bukti jika mereka bisa melakukan apapun atas perizinan Putri Valmira.
" Deon coba kita pergi ke tempat dimana lampion itu kita temukan"
" maksud tuan ke menara itu lagi? "
" iya, aku yakin ada yang tidak beres dengan tempat itu"
" memang, tapi jika di lihat dari luar menara tempat mereka melakukan pengorbanan sepertinya masih memiliki tempat tersembunyi" balas Kangta penuh keyakinan.
" baiklah tuan" Deon berjalan mengikuti Kangta. Mereka kali ini melewati bagian bawah dari menara. pintu yang menghubungkan sel tahanan dimana para hewan suci di kurung. Di jadi dalam pintu ini menghubungkan dengan hamparan tanah yang terhubung dengan sebuah tebing. Tebing itu berhadapan langsung dengan laut lepas, dimana Valmira melompat malam itu.
Kangta memilih tempat ini karena memang merasakan jika mungkin bagian dalam menara masih tersimpan sesuatu.
" tunggu, kita tidak pernah masuk ke lorong itu bukan?" tanya Kangta sambil mengarahkan padangan pada lorong dengan ujung sebuah tembok lengkap dengan lampion dinding yang menempel.
__ADS_1
" itu hanya lorong kosong"
" mungkin tidak" Kangta berjalan memutar untuk masuk lorong tersebut. Deon menunggu di tempatnya tidak bergerak, dia akan menunggu saja.
Kangta berjalan sambil meneliti setiap dari tembok serta lampion yang berjejer. mungkin saja ada hal yang terlewat dari pengawasannya.
" bagaimana tuan?" Deon kini ikut menghampiri Kangta.
" aku masih merasakan ada aura yang aneh di sekitaran sini"
" mungkin kita bisa melubangi sedikit temboknya"
" aku akan mencobanya"
kangta mengumpulkan energinya.
crussshhhh
" bagaimana bisa?" tanya Deon dan Kangta bersamaan. tembok yang dilempari energi sihir malah mengeluarkan sihir pembalik. tidak terjadi apapun.
__ADS_1
" tembok ini sudah dimantrai" lirih Kangta.