
" aku baru tau kau memiliki hewan selucu itu" ungkap Valmira, mereka sudah dalam perjalanan menuju istana barat.
" aku memang baru mendapatkannya"
" kenapa kau memberikan Falla seekor binatang?"
" entahlah, mengikuti firasat saja. sejak Emrick meminta untuk segera kembali, aku merasa ada sesuatu yang janggal. setidaknya lewat hewan itu aku bisa tau kondisi Falla di sana"
" kau memberinya binatang sihir?"
" dia spesial, sama seperti elang milik Kangta, jika buka penyihir hebat mereka tidak akan bisa tau jika hewan itu bercampur dengan sihir"
" kau tidak benar-benar percaya dengan Emrick" balas Valmira.
" seperti nya begitu"
Memang bukan hanya Gyan saja yang curiga, Valmira bahkan para pelayan istana juga sedikit heran dengan menghilangnya pasangan pengantin.
" yang mulia beberapa penyihir sudah berkumpul" ucap Deon yang sudah mengatur pertemuan malam ini.
" bagus, kita mulai saja"
Gyan dan Valmira masuk ke sebuah ruangan dengan di penuhi beberapa orang.
" yang mulia" sanjung mereka bersamaan.
" baiklah kalian bisa menjelaskan keputusan yang akan kalian ambil" ucap Deon.
" yang mulia, kami sudah memikirkannya berkali-kali. beberapa orang di sini setuju untuk ikut pindah, dan sebagian lagi mereka siap untuk proses penghilangan kemampuan sihirnya"
" kalian benar-benar yakin dengan keputusan kalian? hal ini tidak ada jalan untuk kembali" pesan Gyan.
" kami semua yakin yang mulia"
" sebelumya aku ingin mengatakan, jika kepindahan kalian tidak semudah itu. Kami tetap menggunakan emas sebagai bahan tukar kalian memenuhi kebutuhan. bukan secara cuma-cuma mendapatkan keperluan dan kebutuhan terbaik" Valmira tidak mau mereka berfikir jika Mystick sudah menyiapkan secara sempurna kebutuhan mereka. Lalu mereka dengan tanpa berusaha mendapatkan segalanya.
" kami tentu akan mengikuti kesepakatan serta peraturan di sana"
" baiklah jika kalian sudah memahaminya"
" kalau begitu, kapan kemampuan kami akan di hilangkan?" saut yang lainnya.
Gyan menarik nafas panjang. semacam ragu apa mereka tidak akan menyesali nanti jika sewaktu-waktu kemampuan mereka lebih di butuhkan.
" kalian sudah bulat? aku tidak mau di kemudian hari kalian mengeluh atau bahkan menyalahkan ku" tegas Gyan sekali lagi.
" sudah yang mulia, kami hanya ingin bisa berkumpul dengan keluarga kami lagi. Kami tau jika pengorbanan kami ini sangatlah besar, tidak akan bisa kembali ke keadaan awal. Maka dari itu kami hanya bisa berharap jika keselamatan yang akan kami terima"
" kalian sangat berani mengambil resiko ini. aku akan mencoba membantu kalian agar hidup kalian semua aman"
" terimakasih atas kemurahan hati yang mulia" jawab mereka.
__ADS_1
" aku beri kalian waktu sehari lagi untuk memikirkan hal ini. Dan jika masih bulat, maka lusa aku akan membantu kalian untuk menghilangkan kemampuan sihir kalian"
" anda memang sangat bijaksana yang mulia"
mereka semua kembali, istana Garamantian kembali menerima tamu menginap. Kini jelas terpisah antara yang akan pindah dan yang akan kehilangan kemampuan.
Valmira dan Gyan tentu kembali memikirkan kondisi semuanya. Sebelum benar-benar ke Mystick rakyat nya harus aman.
Pagi harinya dengan tergopoh-gopoh Aden berlari menuju istana Raja. Dia sangat cemas dan terlihat panik.
tap tap tap
suara langkah kakinya memecah ketenangan istana. Bahkan Gyan yang sedang membaca laporan langsung mendongak melihat kehadiran Aden.
" yang mulia.."
" ada apa? kau terlihat begitu panik"
" ini ada surat dari pemerintah dan satu lagi surat dari kelompok bayangan"
Aden segera meletakkan surat itu di meja Gyan dengan nafas yang masih tersengal-sengal. Gyan mengerutkan keningnya, ini pertama kalinya dia menerima surat dari pemerintah manusia. Gyan membuka terlebih dahulu surat tersebut dan membaca dengan seksama. Aden dengan setia menunggu sambil menatap serius reaksi sang Raja.
" gawat.." gumam Gyan, wajahnya sangat serius atau lebih pada cemas.
" ada kabar apa yang mulia?" Aden jadi ikut penasaran.
" ini kabar buruk..." jawaban ini malah membuat Aden penasaran.
" Azerbaza semakin kacau" ungkap Gyan setelah membaca kedua surat itu.
Lelaki iyu berdiri dan menatap jendela ruangan dengan wajah datar. Aden tak ingin banyak bertanya, Reaksi Raja Gyan jelas mengungkapkan jika keadaan sedang tidak baik-baik saja.
" segera suruh para menteri untuk berkumpul siang ini"
" baik yang mulia" Aden dengan cepat pergi dan melaksanakan perintah.
Gyan sendiri di sana, lelaki itu masih betah menatap kedua surat yang ada di meja kerjanya.
hari semakin siang, Valmira berkeliling istana namun tidak menemukan kehadiran sang suami.
" di mana Raja?" tanya Valmira pada salah satu penjaga istana.
" seperti nya tadi yang mulia berjalan menuju ke balkon Ratu"
" baiklah"
Valmira menaiki anak tangga dan menuju ke balkon. Dan benar saja. Di sana Gyan berdiri menatap ke penjuru Garamantian.
" kau di sini, aku mencari mu kemana-mana" Valmira berdiri di samping Gyan. Dia menatap wajah lelaki itu sejenak.
" pagi ini aku mendapatkan 2 surat dan keduanya sama-sama berisikan kabar buruk" Gyan memulai pembicaraan. Dia ingin tau bagaimana reaksi Valmira sekaligus ingin mendengar solusi wanita itu.
__ADS_1
" dari mana saja surat itu?"
" pemerintah manusia dan kelompok rahasia milikku" jawab Gyan dengan suara datar. Valmira sudah merasa jika kabar buruk ini pasti serius. Hal ini terlihat dari aura dingin Gyan yang menyeruak menyentuh kulitnya.
" pemerintah? apa isinya?" Valmira penasaran.
" mereka meminta di berikan izin untuk masuk kerajaan dan memulai pencarian penyihir. Jika dalam waktu dekat aku tidak memberikan izin sudah di pastikan Garamantian adalah sarang penyihir dan mereka akan siap memusuhi bahkan menghukum setiap orang di Garamantian"
Valmira menarik nafas panjang, buah simalakama datang lebih cepat.
" ini sangat kejam, mereka terlalu ketakutan jika kita akan membuat bahaya"
" seperti nya tidak. Mereka sama sekali tidak merasa ketakutan. Mereka hanya ingin menyingkirkan kita, kemampuan kita yang luar biasa ini pasti menghalangi jalan mereka meraih sesuatu. Aku semakin tidak tenang harus meninggalkan rakyatku"
" lalu surat yang kedua juga berisi hal yang sama?"
" mereka mengabarkan jika pembantai di lakukan di mana-mana. bahkan sudah tidak memerlukan pengecekkan. Mereka membunuh siapapun yang mereka inginkan dengan dalih penyihir"
Valmira tak bisa berkata apapun, dia semakin tidak percaya jika manusia bisa sekejam itu.
" tak bisa di percaya, kita harus segera mempercepat kepindahan, lalu yang lain setelah kehilangan kemampuan mereka tentu akan baik-baik saja dan bisa pergi dari sini"
" tidak semudah itu, aku yakin para manusia itu pasti sudah mengepung setiap pintu keluar kerajaan. Hanya ada salah satu dari kita yang harus pergi"
" maksudmu?"
" hari ini kau pergilah bersama dengan G dan para menteri mu. Aku akan menunggu sampai portal sihir bisa di buka dari sana"
" tidak- tidak, aku tidak bisa meninggalkan mu. portal akan aku usahakan terbuka dari Garamantian... aku.."
" tidak Valmira, mereka pasti menunggu setidaknya kurang dari 5 hari sebelum melakukan penyerangan. Kau pergilah ke Mystick, aku akan mencoba mengulur waktu sampai portal bisa terbuka. Aku tidak ingin mengambil resiko, kau dan G harus aman terlebih dahulu"
" tapi Gyan, bagaimana dengan...."
" jangan pikirkan apapun, ini Garamantian dan harus aku yang bertanggung jawab. Kau jaga G dan Mystick sebaik mungkin"
Gyan menatap sang istri yang menghembuskan nafas panjang. dia mengulurkan tangannya mengelus pipi sang istri pelan.
" jaga dirimu,," lirih Valmira menatap Gyan dalam.
" tentu saja, ku harap ini adalah masalah terakhir. Dan kita bisa hidup aman setelahnya" balas Gyan, lalu mencium bibir Valmira pelan.
" pergilah, kita tidak memiliki banyak waktu" lajut Gyan dan melepaskan ciuman itu. Lelaki itu bahkan langsung pergi begitu saja, sangat berat jika berpisah dengan Valmira. Tapi ini mungkin yang terbaik.
Valmira menatap dengan air mata yang mengalir pelan. Gyan masih tidak rela dengan kepergiannya namun lelaki itu berusaha tegar.
Akhirnya Valmira mau tidak mau segera menuju istana Raja. Dia akan membuka portal menuju pelabuhan, seperti kata Gyan. Manusia pasti akan membuntutinya jika menggunakan kereta ataupun Elang Kangta.
Bersamaan dengan itu, Gyan dan para menteri sudah berada di aula kerajaan. Mereka memulai rapat serius ini dengan wajah tegang. kabar Raja Gyan yang menyuruh mereka segera berkumpul jelas memberikan sinyal jika masalah besar telah terjadi. dan ini kabar terburuk selama Gyan menjabat.
......................................
__ADS_1