Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan

Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan
Menghilang


__ADS_3

Valmira baru saja menyelesaikan gambaran rute labirin ke tiga kalinya. Seperti yang Kangta khawatirkan labirin ini tidak memiliki ujung. Sudah berhari-hari mereka berlayar, pasokan makanan juga mulai menipis. Keadaan ini tidak bisa dibiarkan mereka bisa mati kelaparan sambil mengitari labirin ini.


" masih berapa banyak persediaan makanan?" tanya Kangta.


kini mereka berlima duduk di anjungan kapal, kali ini Valmira ikut berkumpul jadi bisa memberikan sedikit saran.


" kemungkinan masih bisa cukup untuk 5 hari ke depan saja" jawab Aislinn


" ini sangat merisaukan, apa ada jalan keluar dari keadaan ini?" Zephyr menimpali, lelaki ini mudah sekali cemas dan khawatir.


" mungkin kita bisa menangkap ikan," Deon mencoba memberikan ide.


" saran yang bagus" Valmira menyetujuinya.


" meskipun ada banyak ikan namun kita tidak bisa disini terus menerus. harus ada cara untuk keluar dari lautan ini" timpal Kangta. Tujuan mereka bukanlah bertahan hidup, tapi menemukan pulau Marilla.


" mungkin kita bisa berpatroli menggunakan perahu untuk mengenali jalan" Valmira memberikan suara lagi.


" itu bisa di lakukan, tapi hanya laki-laki saja. wanita jangan, aku rasa lautan ini sedikit mencurigakan" Zephyr tidak mau kehilangan istrinya.


" baiklah, kita bisa mulai berpatroli mulai nanti sore. jangan terlalu jauh takutnya malah membuat kita berpencar" Kangta menyetujui.


Semua akhirnya sepakat, keputusan ini di harapkan bisa membuat mereka keluar dari lautan. Masalah labirin ini memang hanya Zephyr dan Aislinn yang tidak mengetahuinya. Mereka tidak mengatakannya karena kondisi Zephyr yang terlihat selalu cemas.


Sesuai dengan kesepakatan sore yang pertama berpatroli adalah Kangta sendirian. Semuanya cukup yakin jika Kangta pasti bisa menjaga diri dengan baik.


" aku akan memberikan kabar lewat lemparan sihir di langit" ucap Kangta sebelum akhirnya menurunkan sebuah perahu.


" hati-hati tuan" ucap Deon yang memegang tali katrol perahu.


Semua di kapal menunggu dengan perasaan cemas. Menatap Kangta yang semakin jauh dan menghilang.


" aku tidak pernah menyadari jika Marilla benar-benar membuat tabir yang sangat ketat. Tidak heran jika tanpa perizinannya siapapun tidak akan bisa masuk ke kerajaan Mystick" ucap Aislinn yang sedang berbincang dengan Valmira di geladak kapal. Langit sore membuat mereka betah di luar sambil menunggu kedatangan Kangta.


" apa kau pernah bertemu dengan Marilla sebelumnya?"


" pernah, saat aku masih kecil. kata orang sejak kecil Marilla memang sudah terlihat berbeda. Dia memiliki bakat sihir yang hebat. Apalagi dengan garis keturunan murni Arghi membuatnya dengan mudah menguasai berbagai macam keterampilan sihir"


" begitu? itu artinya kau tidak pernah berbicara dengannya secara langsung?"

__ADS_1


" tidak, setelah perang besar berakhir. Marilla beserta orang-orang desanya pergi menyelamatkan diri. Saat itu banyak sekali penyihir hebat yang gugur dan keadaan masih sangat rawan. Mungkin bisa di katakan Azerbaza mengalami perang dingin. Sampai sekarangpun beberapa kelompok masih bersitegang"


" perang besar terjadi untuk mengalahkan siapa?"


" entahlah, itu menjadi rahasia. hanya orang yang terlibat saja yang mengerti. beritanya masih simpang siur"


" aku jadi ingin bertemu dengan Marilla"


" kau terlambat, Marilla sudah lama meninggal. meski banyak yang meragukannya, dengan adanya sihir hitam di kerajaan Mystick, seakan menandakan jika Marilla tidak berada di sana "


Valmira merasa sedih, sayang sekali. penyihir sehebat Marilla harus gugur secepat ini. Valmira menatap langit, cerita ini begitu membuatnya sedih. entah kenapa hatinya ikut sakit dan merindukan sosok Marilla ini.


" jangan bersedih, sebentar lagi kita pasti sampai di pulau itu. Kita bisa menjaga kerajaan Mystick peninggalan Marilla"


" aku sangat berharap kita bisa masuk ke pulau itu"


perbincangan terus berlanjut, hingga Aislinn pamit ke kamar meninggalkan Valmira di geladak sendirian. hingga menjelang malam Kangta tidak terlihat mendekat semua menjadi was was. khawatir terjadi sesuatu yang buruk pada lelaki tua itu.


Mereka menunggu di tepi geladak beberapa saat, sampai terdengar suara kembang api sihir, hal itu membuat yang lega. Tapi setelahnya mereka menjadi bingung pasalnya posisi kembang api itu berada di belakang kapal. Padahal seharusnya Kangta berada di depannya. Kini terlihat dari kejauhan sebuah perahu mendekati kapal. Dan seperti yang mereka tau, posisi Kangta malah berada di belakang mereka.


setelah berhasil mengangkat perahu, kini Kangta dan seluruh penumpang kapal berkumpul di geladak.


" bagaimana bisa tuan malah berada di belakang kapal?"


" itulah.. padahal aku mendayung lurus ke depan. Lautan ini sama sekali tidak memiliki celah" lanjut Kangta lagi.


" sepertinya ini tidak akan berguna, keadaan malah semakin tegang" saut Valmira, dia sendiri bisa menilai dengan jelas situasinya yang memang tidak ada celah.


" aku juga berfikir begitu" Kangta ikut menyetujui, lagipula dia juga sudah melihatnya. Lautan ini tanpa ujung.


" kita beristirahat dulu. Kondisi sudah malam, perbincangan ini kita lanjutkan besok pagi saja" Deon merasa jalan sudah buntu, malah akan membuat semakin gelisah.


" baiklah " semuanya menyetujui. apalagi sejak menunggu Kangta mereka juga ikut tegang.


Semuanya masuk kedalam kamar, sedangkan Valmira menunggu di dalam kabin. Ada sesuatu yang ingin dia diskusikan dengan Kangta.


" aku sudah mengira jika kau disini"


" aku akan menaiki perahu dan mendekati dinding labirin, bisa kau tutupi kepergianku?" tanya Valmira.

__ADS_1


" itu sangat berbahaya, laut ini penuh dengan duyung penjaga"


" aku akan coba menerobos, mungkin karena aku bisa melihatnya siapa tau bisa menerobosnya"


" aku akan mengantar"


" tidak,"


" aku yang mengantar, medan lautan tidak bisa di tebak"


" baiklah"


Akhirnya Deon menurunkan perahu lagi, Kangta akan sangat hati-hati karena membawa Valmira yang sedang hamil besar.


Perlahan Kangta membawa terbang Valmira naik ke perahu. Kangta mendayung dan perlahan perahu menjauhi kapal. Langit gelap membuat penerangan sangat minim.


menaiki perahu membuat Valmira bisa dengan jelas melihat kilatan cahaya biru dari air laut. Membuat wanita itu tidak tahan menyentuh airnya.


" dingin" lirih Valmira pelan.


" malam hari suhu air akan menurun. tetap jaga keseimbangan agar aman" pesan Kangta.


Valmira terdiam terpana dengan air lautan yang biru. Bagi Valmira ini sangat indah, sedangkan bagi Kangta hanya terlihat seperti air biasa. Tidak ada yang spesial.


" ambil sebelah kiri" ucap Valmira sambil menunjukkan arah. Kangta mengikuti saja, dia sendiri tidak bisa melihat dinding yang Valmira maksdukan.


Kangta terus mendayung, sambil mencoba meneliti mungkin dinding itu bisa terlihat dalam jarak pandang dekat.


" berhenti" Valmira berusaha berdiri dengan seimbang.


" apakah disini tempatnya?"


" iya, sebentar" Valmira menaikkan tangannya dan perlahan menyentuh dinding itu menggunakan kekuatannya.


" aku bisa melewatinya" lirih Valmira.


" kau cobalah" Kangta mendekatkan tangannya sesuai dengan perintah Valmira.


" akk" terasa sengatan listrik yang panas.

__ADS_1


" kau tidak bisa " balas Valmira singkat.


__ADS_2