Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan

Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan
Bermalam


__ADS_3

Sepanjang perjalanan Valmira terus meremas kedua tangannya, dia sangat takut dan cemas. Bayangan bagaimana intim nya mereka kemarin malam membuat Valmira berfikir yang tidak-tidak. Apa mungkin yang mulia akan meminta lebih padanya malam ini. Valmira tidak mungkin bisa menolak mau bagaimanapun permintaannya.


" selir silahkan" ucap pelayan membuat lamunannya buyar. Dia sudah sampai ternyata, Valmira terlalu masuk dalam kekhawatirannya sampai tidak mengetahui jika di depannya adalah istana Raja.


" em" Valmira bergumam lalu berjalan pelan menuju anak tangga.


Semua pelayan menunggunya di bawah, Valmira berjalan sendiri seakan uji nyali. nafasnya mendadak sesak akibat rasa takutnya yang mencekiknya.


" selir" Aden baru saja selesai dari atas. Lelaki itu menatap Valmira dengan sopan. Dia tidak berani memandang selir Raja dalam waktu yang lama.


" silahkan" Aden memberikan jalan. Mereka berada di ujung tangga atas.


Valmira mengangguk pelan dan berjalan masuk. Di ruang depan Valmira melihat siluet lelaki yang sedang menunggunya, tak salah lagi pasti itu yang mulia Raja.


" masuklah" suara Gyan membuat Valmira tersentak kaget.


Valmira masuk dan mendekati lelaki itu.


" ya.. yang mulia" ucap Valmira terbata-bata.


" Alora, bagaimana? kau senang dengan status barumu?" tanya Raja Gyan yang mulai berbasa-basi.

__ADS_1


" s.saya tidak tau, yang mulia. Bagi saya menjadi selir Raja itu seperti burung dalam sangkar emas" jawab Valmira sedikit memberanikan diri. Dia memang sengaja melakukannya untuk membuat Raja Gyan tidak menyukainya. Dengan begitu rencana melarikan dirinya akan semakin mudah.


" kau sangat jujur, Alora." jawab Gyan yang malah semakin menarik perhatian Gyan.


" bagaimana jika kita pergi ke kamar?" tawar Gyan yang lebih pada pemaksaan. Karena sebelum Valmira menjawab lelaki itu menarik tangan Valmira menuju kamar.


" aku ingin kau meminum ini" Gyan memberikan cangkir yang terlihat berisi air berwarna. entah apa yang ada di dalam sana, Valmira tidak yakin jika itu baik untuknya.


" ti..tidak" tolak Valmira.


" minumlah. kau harus mencobanya. bagi manusia biasa air sihir ini bisa membuat tubuh lebih tenang" jelas Gyan yang sudah membawa cangkir itu di depan mulut Valmira. Raja Gyan belum tau saja jika di depannya ini adalah seorang penyihir hebat.


" ya, air yang di buat khusus oleh penyihir. minumlah" Gyan tanpa berlama-lama langsung memaksa Valmira meminumnya.


uhuk uhuk


Valmira tersedak karena Gyan terlalu cepat menuangkannya.


" ,kau sangat lucu, Alora" Gyan tersenyum tipis. Bukan saja penampilannya yang berbeda dari semua wanita yang Gyan kenal, tapi juga respon Valmira yang polos. Bagi Gyan jarang ada orang yang bersikap seperti itu di depannya.


Valmira menatap tak suka, apa yang lucu dari semua ini. semakin lama berhadapan dengan Gyan, Valmira semakin leluasa menampilkan emosinya.

__ADS_1


" jadi, kau berasal dari mana?" Raja Gyan mendekati nya. Valmira beringsut mundur perlahan.


" saya dari tepi pantai yang mulia" jawab Valmira menghindari tangan Gyan yang mencoba mengambil perhiasan di kepalanya. lelaki itu seakan bersiap untuk hal lain.


" kau masih saja malu-malu. Kemarilah. Aku tidak suka orang yang membangkang" Gyan sudah katakan berkali-kali agar Valmira diam saja saat dia melakukan sesuatu pada tubuhnya.


" a.pa yang akan yang mulia lakukan?" cicit Valmira, dia sebenarnya tau tapi pura-pura bertanya.


" memangnya apa lagi?" Raja Gyan malah balik bertanya. Kali ini dengan tatapan penuh intimidasi. Valmira menelan ludahnya kasar, apa dia sudah berbuat salah.


" s..saya tidak mengerti" balas Valmira berlagak tidak paham. Dia hanya ingin Gyan menghentikan aksinya. kenapa suasananya menjadi aneh begini.


" singkatnya, malam ini lakukan tugasmu sebagai selir" jawab Gyan, lelaki itu sudah tidak mau mengulur waktu. Tak ingin mendengar pertanyaan konyol lagi, Gyan langsung membungkam mulut Valmira dengan mulutnya.


Rasanya masih sama, traumanya tidak kambuh. Entah sihir apa yang Valmira punya, Gyan selalu bisa melakukan hal yang tak pernah bisa di lakukan sebelumnya.


Valmira memukul dada Gyan, ciuman itu berlangsung terlalu lama.


" se..ben...tar" ucap Valmira mengambil nafas. Gyan tersenyum puas. Wajah Valmira menjadi merah merona karena sesak nafas.


" waktunya pindah" Gyan menggendong Valmira menuju ranjang. Meski memberontak tetap saja tidak berhasil menghentikan aksi Gyan.

__ADS_1


__ADS_2