
Gyan baru saja masuk ke dalam istananya, Aden langsung menyusul untuk memberikan laporannya.
" yang mulia, mereka menemukan keberadaannya " ucap Aden, sejak semalam lelaki itu menunggu Rajanya keluar dari kamar selir. Nyatanya baru pagi ini bisa menemui.
" dimana mereka?" Gyan langsung ingin tau.
" di markas terdekat"
" baiklah, aku akan kesana nanti" Gyan perlu menyiapkan sesuatu, apalagi sebentar lagi pagi. Dia harus bergegas agar tidak menimbulkan kecurigaan.
Gyan masuk ke ruangan rahasia, dia mencari sebuah cicin untuk di pergunakan nanti. Baru setelah mengganti pakaian rakyat biasa, Gyan langsung pergi bersama dengan Aden. mereka menggunakan jalan khusus, memacu kuda dengan laju yang cepat.
Cahaya fajar menghiasai langit pagi saat kedua lelaki itu melewati gurun pasir, dengan memakai penutup wajah berwarna hitam, keduanya masuk ke sebuah gua tersembunyi. Tak ada yang tau jika jalan masuk gua yang tersembunyi itu menyimpan banyak sekali rahasia. Bagian dalam sangatlah luas dengan pencahayaan yang cukup.
" yang mulia" ucap kelompok bayangan yang sedari malam sudah menunggu kedatangan Raja Gyan.
" bagaimana perkembangannya?" tanya Gyan tanpa perlu berbasa-basi.
" kami sudah menemukan 2 titik lokasi keberadaan penyihir Osmond, sebagian sudah menyelidiki dan dalam beberapa hari kami akan segera memastikan" jelas ketua kelompok bayangan.
" dimana kedua titik itu?"
" satu di barat kerajaan Prysona dan satu lagi sepertinya mulai menyeberangi laut ke sebuah pulau"
Gyan mengangguk pelan, dia akan menunggu lagi.
" kami juga menemukan sesuatu saat menggeledah rumah penyihir itu" salah seorang maju dan membawa sebuah kotak. dan beberapa buku kuno. Diletakkannya buku itu di atas meja, Gyan melihat satu persatu barang tersebut.
" buku tentang pusaka, senjata dan ini...?" Gyan tertarik dengan benda kotak yang dia lihat.
" ini hanya replika, tidak ada energi sihir sama sekali" cuma Gyan, dia yakin. Dengan ini semua penyihir Osmond pasti sedang mencari sesuatu. Ini hal yang mencurigakan.
" kau bawa semua ini" ucap Gyan pada Aden, lelaki iti mengangguk dan segera memasukkannya ke dalam kain kemudian mengikatnya menjadi satu.
__ADS_1
" kalian segeralah memastikan, jangan sampai kita terlampau jauh" pesan Gyan kemudian pergi dari markas.
Pancaran matahari bersinar terang, tak kala Gyan mendekati kerajaan, lelaki itu tidak menuju istananya, melainkan menuju istana Selir Agung. Meski keadaan Valmira terlihat tenang, namun bagi Gyan wanita itu masih membutuhkan perhatian.
" yang mulia" ucap Fleur menyambut kedatangan Raja.
" bagaimana keadaan Selir Alora?" tanya Gyan.
" Selir sudah di periksa oleh ahli obat, namun menolak untuk meminum ramuan nya bahkan menolak makan pagi." jawab Fleur, dia mengatakan hal yang sejak tadi dia cemaskan. Valmira tidak mau makan, apalagi ramuan yang sudah di siapkan. Wanita itu tidak mau keluar kamar dan membatasi siapapun yang masuk. Dia masih ketakutan dengan datangnya sesuatu yang mengerikan seperti kemarin.
"hem" Gyan berdehem dan berjalan masuk kamar.
Gyan bisa melihat Valmira yang duduk termenung menatap jendela namun dengan jarak yang jauh.
" kau sedang apa?" tanya Gyan membuat Valmira tersentak. Lelaki itu ikut duduk di samping Valmira. mereka berada di atas permadani empuk di samping ranjang.
" yang mulia" Valmira hanya mengatakannya, dia tidak berdiri untuk menyambut kedatangan Raja.
" kau sudah lebih baik?" tanya Gyan terus, meski pertanyaan sebelumnya tidak di jawab oleh Valmira.
" ada yang kau sembunyikan?" Gyan mencerca Valmira pertanyaan demi pertanyaan. Valmira memutus tatapan mereka, wanita itu menunduk. Dia masih belum percaya dengan Raja. Selama ini hubungan mereka sebatas teman tidur di ranjang. Selebihnya Valmira tidak tau bagaimana sifat Raja.
" baiklah jika kau tak ingin mengatakannya" Gyan bersikap pasrah, padahal ini adalah salah satu strateginya untuk menarik simpati Valmira.
" apa yang mulia seorang penyihir?" tanya Valmira takut, Dia berniat mengatakan semuanya jika yang mulia bersedia menjawab pertanyaannya dengan jujur.
Gyan menatap kedua mata itu, mata yang terlihat takut tapi terlintas keberanian.
" iya," jawab Gyan singkat, menunggu reaksi yang akan Valmira berikan.
" penyihir keluarga apa?" lanjut Valmira.
" Reuben" Gyan menjawab dengan jujur, dia merasa jika wanita ini sedang mencari keamanan dengan pertanyaan itu.
__ADS_1
" sepertinya semalam saya melihat benda sihir, apa itu mungkin, yang mulia?" tanya Valmira sekali lagi.
Gyan bukannya langsung menjawab, lelaki itu berdiri lalu mengendong tubuh Valmira dan meletakkannya di atas ranjang. Valmira hanya diam saja, sambil menunggu jawaban dari Gyan.
" mungkin saja" jawab Gyan, mereka duduk bersandar di kepala ranjang dengan Gyan menjadi tumpuan bahu Valmira.
" tapi bagaimana bisa? menurut buku hanya penyihir yang bisa melihat hal-hal berbau sihir" ungkap Valmira yang sampai saat ini masih heran.
" mungkin saja kau memiliki hal lain di tubuhmu yang tidak kau sadari" jawaban Gyan semakin membuat Valmira bingung. wanita itu menatap mata Gyan lama, dia ingin tau maksud dari ucapan Gyan.
" jangan kau fikirkan, sekarang kau harus lebih berhati-hati. dan percaya padaku"
" saya belum bisa percaya" ucap Valmira takut.
" pelan-pelan" jawab Gyan lembut.
" dan ini aku berikan cincin ini, sebagai bentuk perhatianku. Jangan kau lepaskan ya"lanjut Gyan kemudian memasangkan cincin perak bermata merah. Gyan berbohong jika cincin ini hanyalah bentuk perhatian, nyatanya cincin itu adalah salah satu benda pusaka keluarga Reuben yang bisa mendeteksi energi sihir manapun.
" indah sekali" ungkap Valmira, cincin itu sangat pas di jari tengahnya.
" aku ambilkan makan, kau harus mengisi perutmu biar tidak sakit" Gyan beranjak turun dan mengambil makanan di meja.
" nanti saja" tolak Valmira halus.
" tidak, aku akan menyuapimu" Gyan duduk dengan membawa piring ditangannya.
" akk" Gyan mengangkat sendok ke mulut Valmira. Meski enggan Valmira tak mau mengecewakan Raja Gyan. wanita itu dengan pelan membuka mulutnya dan mulai mengunyah.
Di kamar lainnya, saat ini putri Shana menyusun rencana untuk membuat Gyan mau menyentuhnya. Wanita itu sedang menulis surat khusus untuk pejabat kerajaan yang dirasa bisa di ajak bekerja sama.
" kirim secara rahasia, aku tak ingin ada sedikit saja kesalahan" ucap Shana kepada pelayannya. Meski masih membutuhkan waktu sampai Gyan bersedia, Shana tetap akan menunggu. Selama ada kesempatan, dia yakin bisa memberikan keturunan untuk Gyan.
" baik putri" jawab pelayan itu kemudian pergi. Shana menatap kepergian pelayan dengan senyum senang.
__ADS_1
" tunggu saja, aku akan menjadi satu-satunya untukmu, Gyan" guman Shana penuh niat tersembunyi.