Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan

Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan
Tidak di Sangka 2


__ADS_3

uakk uakk


suara burung membuat kesadaran Kangta mulai kembali. Lelaki itu perlahan membuka matanya. Langit biru, itu yang pertama kali yang terlihat. Dia tidak bisa banyak bergerak, tubuhnya rasanya remuk redam. bahkan untuk menggerakkan kepalanya saja begitu sakit.


" ah" desis Kangta, memegang kakinya.


Dengan sedikit terpaksa akhirnya Kangta mencoba beranjak duduk. Tubuhnya tidak bergoyang-goyang dan tangannya bisa merasakan tanah. Dia pasti berada di daratan.


" ishh.. ah" lelaki itu meringis kesakitan. Tapi setelahnya rasa sakit mendadak tak terasa akibat pemandangan yang terbentang di depannya.


" ini.. ini.." seakan mengingat-ingat pemandangan yang sepertinya pernah dia lihat.


" bukan kah.." seakan banyak sekali pemikiran dalam pikirkannya membuatnya tidak bisa melanjutkan perkataannya.


Kangta mulai menoleh sekeliling, mencari Deon serta Valmira. Dia baru ingat jika sebelumnya mereka tengah melawan manusia kadal bahkan terkena lemparan ledakan. lalu kenapa tiba- tiba sudah sampai di daratan.


Dengan perlahan dan menahan sakit di kaki dan lengannya Kangta berjalan mencari kedua orang itu. Tidak terlalu jauh Kangta melihat Deon yang terbaring di antara pohon-pohon kelapa. Kangta berjalan dengan sedikit cepat menuju ke sana.


" Deon" panggil Kangta dengan menggoyangkan dan menepuk pipi lelaki itu.


" Deon" panggilan itu terus di ulang.


Kangta mulai memeriksa nadi serta nafas Deon. Memastikan jika lelaki ini tidak tewas. Kangta bisa bernafas lega saat Deon merasakan nadi Deon masih ada.


" Deon" panggil Kangta terus menerus. bahkan kini mencoba mengeluarkan air yang ada di tubuh Deon.


" uhuk uhuk"


Deon langsung terbatuk, dan sadar. Wajahnya dan lengannya terdapat goresan luka.


" kau tidak apa-apa?" tanya Kangta lalu duduk di sebelah Deon.


" tuan, kita dimana?" tanya Deon dengan suara yang sedikit parau. lalu ikut duduk menatap pantai di depannya.


" daratan? bagaimana bisa kita sampai di sini?" Deon kembali bertanya. Kangta tidak menjawab sama sekali. Dia juga tidak tau dimana mereka berada.


" bangunlah, ayo kita cari Alora" Kangta kembali meringis saat naik, kini Deon dengan tenaga yang lemah berusaha untuk mengikuti Kangta. Mereka berdua mengelilingi pantai, namun tidak menemukan jejak keberadaan Valmira.


Akhirnya mereka beristirahat sejenak di bawah salah satu pohon kelapa.


" kita berada dimana tuan?" tanya Deon sekali lagi.


" aku juga tidak yakin, tapi sepertinya aku pernah kemari"


" apa ini pulau Marilla itu?"


" mungkin, tapi sulit di percaya kita bisa dengan mudah sampai. Rasanya tidak mungkin"


" apa mungkin kuda nona Alora yang mengantar kita kemari?"


" entahlah, kita juga tidak bisa menemukan Alora dimanapun, entah dimana dia berada sekarang"


" apa mungkin nona Alora pergi dengan duyung itu?"


" ku harap dia baik-baik saja"


Mereka tetap di bawah pohon, keduanya sama-sama lelah karena tubuh mereka benar-benar terluka. Hingga saat keduanya tertidur ada seseorang yang mendekat.


" kalian darimana?" tanya seorang lelaki paru baya yang seketika membangunkan Kangta dan Deon.


" em, kami dari lautan, sepertinya kita terdampar disini" jawab Kangta sedikit menutupi identitasnya.


" tubuh kalian penuh luka, ikutlah denganku. Kalian harus mendapatkan pengobatan" ucap lelaki itu dengan senyum ramah.


Kangta dan Deon saling pandang, mereka tidak memiliki pilihan lain. Tidak mungkin mereka bisa mengobati luka-luka ini sendiri. Apalagi dengan lingkungan yang tidak mereka kenal.


" baiklah kalau begitu" jawab Kangta dan Deon bersamaan.

__ADS_1


Dengan sedikit di papah Kangta berjalan serta Deon yang mengikuti dari belakang. mereka berjalan cukup lama. Hingga sampai di sebuah jalan setapak. Hingga sampai di sebuah perkampungan. Untung saja waktu sudah malam saat mereka menginjakkan kaki di jalan itu, sehingga kehadiran mereka tidak menjadi perhatian warga lainnya.


" kalian bersihkan diri dulu dan ganti baju. Aku akan menyiapkan obat untuk kalian"


" terimakasih banyak, kami berhutang budi pada tuan"


" Zale, panggil aku Zale saja" ucap lelaki itu.


" terimakasih Zale, aku Kangta dan dia anakku Deon. Kami hanya seorang pelayan biasa lalu hanyut terbawa gelombang laut" jelas Kangta,


" kangta dan Deon. Kalian bisa ke kamar sana dan beristirahat"


" iya, terimakasih sekali lagi " mereka saling melemparkan senyum singkat lalu Zale pergi meninggalkan Kangta Dan Deon di kamar.


" tuan kenapa anda tidak mengatakan yang sebenarnya kepada Zale?"


" kita belum mengetahui bagaimana situasinya, jika memang aman kita bisa menjelaskan lagi pada Zale" pendapat kangta. Deon mengangguk menurut saja.


Setelah beberapa lama, Zale sudah kembali dengan membawa sebuah mangkuk berisi bubur lalu pergi dan masuk lagi membawal seember air hangat. Lelaki itu masuk ke kamar. Kangta dan Deon duduk di tepi ranjang dengan tatapan bertanya.


" habiskan makanannya" ucap Zale.


" iya"


Kangta dan Deon mengambil mangkuk di meja dan langsung memakannya sampai habis.


" aku akan mencoba mengobati luka kalian"


Zale mendekat ke Kangta, dia mengambil kain dan di masukkan kedalam air hangat. Setelahnya di kompres di salah satu luka di kaki Kangta. Tak beberapa lama kain itu di angkat perlahan luka sobek terlihat menyatu.


" bagaimana bisa?" tanya Kangta yang terkejut melihat proses penyembuhan yang cepat.


" kebetulan aku memiliki air khusus untuk bisa mengobati luka dengan cepat" jawab Zale pelan.


" oh begitu. kalau boleh tau ini dimana ya?" tanya Deon yang benar- benar penasaran sejak tadi.


" ini adalah kerajaan Mystick"


" terimakasih Zale" ucap Kangta dan Deon setelah luka-luka mereka di obati. Zale meninggalkan kedua lelaki itu di dalam kamar.


" tuan kita berhasil" ucap Deon senang.


" tidak di sangka kita bisa sampai secepat ini" Kangta juga merasa seakan tidak percaya.


" lalu bagaimana rencana kita selanjutnya, apa kita langsung menuju ke kerajaan?"


" jangan dulu, energi serta tenaga dalamku masih belum pulih, kita tunggu sampai beberapa waktu"


" baik tuan"


Malam itu tidak banyak yang mereka diskusikan. Saking lelahnya kedua lelaki itu langsung tertidur.


pagi harinya setelah menyelesaikan sarapan dan minum ramuan Kangta dan Deon meminta izin untuk berkeliling pada Zale.


" bukannya aku melarang, tapi kalian masih sangat terlihat seperti orang asing. Kerajaan sedang mengalami masalah. Jadi aku sarankan kalian tetap disini. Jika ingin keluar, kalian bisa ikut denganku saat ke ladang atau ke laut. aku bisa mengatakan kalian adalah pekerja baru ku" Jelas Zale.


" jadi begitu, baiklah itu juga rencana yang bagus"


" malam nanti kalian bisa berpindah ke pondok depan rumah, tempat itu biasa di gunakan para pekerja dulu"


" terimakasih banyak, kami sudah sangat merepotkan"


" tidak masalah"


Entah kebetulan atau bagaimana mereka bisa bertemu dengan orang sebaik Zale. Selain mengobati luka mereka, dia juga ikut menyembunyikan identitas mereka dari pihak kerajaan. Ini sudah bantuan yang besar.


" kalian istirahat dulu, sampai luka di tubuh kalian benar-benar sembuh"

__ADS_1


Kangta dan Deon mengangguk sebagai jawaban.


" tuan, bukankah tingkah Zale sedikit berlebihan. aneh bukan, kenapa dia terlalu baik pada kita?"


" kau benar, dia terlalu percaya dan melindungi kita.Terasa sekali ada yang dia sembunyikan dari kita"


" kita harus siaga dan mencari tau alasannya" Kangta mengangguk menyetujuinya.


Beberapa hari berlalu, Kangta dan Deon sudah menempati pondok kecil yang berada di depan rumah Zale. bangunan itu terletak satu halaman dengan bangunan utama.


Semenjak penjelasan Zale, Kangta dan Deon secara bergantian ikut keluar saat Zale juga hendak pergi. lokasi kebun dan pantai tidak terlalu jauh. Setidaknya mereka perlu berjalan kaki selama 15 menit untuk bisa sampai.


Seperti saat ini, tiba giliran Kangta ikut Zale pergi ke pantai. hari masih sangat pagi saat keduanya meninggalkan pondok. Dengan membawa peralatan nelayan Kangta menaiki perahu. dan mulai menangkap ikan. Sedangkan di dalam pondok, Deon sudah menyusun rencana untuk masuk ke rumah utama dan melihat- lihat barang- barang milik Zale. Mungkin saja ada hal mencurigakan atau benda buruk lainnya.


Sebenarnya Kangta tidak tahu menahu mengenai hal ini. Semuanya murni keinginan Deon. Dia sudah sejak awal merasa aneh kenapa ada orang asing yang mau menolong tanpa perhitungan sama sekali bahkan cenderung merugikan dirinya sendiri. Dia semacam teringat dengan kejadian Zephyr dan Aislinn. Dimana mereka dengan teganya mengusir dirinya dan orang lain meskipun berakhir tewas.


Deon masuk ke ruang tengah, tempat mereka dulu pertama kali di bawa, lalu masuk lagi lebih dalam. Deon memilih satu kamar yang mungkin adalah kamar Zale. Dia masuk, dan dugaanya benar. Disana ada pakaian yang biasa Zale gunakan. Tapi Deon semakin bingung, karena tak ada barang yang mencurigakan, terlihat ranjang dan ornamen kamar biasa. Semuanya normal. Deon tidak menemukan apapun.


Sedangkan di pantai, Kangta memang berpisah dengan Zale. Mereka sudah menyetujui waktu berkumpul sebelum pulang. Kangta masih mencari keberadaan Valmira, sudah hampir semingguan tidak ada kabar apapun. atau mungkin wanita itu juga sudah di tolong orang lain seperti dirinya. Lama Kangta berputar-putar. Mendadak dia mulai menyadari sesuatu. Hal yang normal tapi tidak di temukan disini. Sudah beberapa lama dia memastikan dan hari ini di semakin yakin.


Hari mulai siang, Kangta dan Zale kini sudah berkumpul dengan membawa ikan hasil tangkapan. Zale termasuk orang yang pendiam, lelaki itu hanya menatap Kangta sekilas lalu berjalan mendahului. Sama sekali tidak ada perbincangan sampai mereka sampai di dalam pondok.


" hari ini dapat ikan banyak tuan?" tanya Deon.


" tidak juga,"


" lalu apa ada berita mengenai Nona?"


" tidak ada juga"


" kenapa nona tidak kunjung di temukan? apa nona tidak ikut terdampar disini dan malah terombang-ambing di laut?"


" tidak mungkin, aku dan kamu ada disini. Aku yakin Alora pasti ada disini juga"


tok tok


" kalian makanlah di tempatku" suara Zale membuat perbincangan mereka terhenti dan langsung menatap pintu.


" baiklah"


Mereka duduk di meja bundar dekat dengan ruang tengah.


" Zale, maaf sebelumnya ada yang ingin aku tanyakan padamu, kamu tinggal sendirian di sini. apa tidak ada keluarga ataupun anak istri? " Deon begitu berani, Kangta sampai menyentuh kakinya untuk mengingatkan.


" tidak ada" kawan Zale singkat.


" desa ini juga sangat sepi, sejak datang kami tidak melihat wanita satupun. Apa mereka selalu di dalam rumah?" Lanjut Deon tidak mengindahkan peringatan dari Kangta.


" aku sudah mengira kalian pasti akan menanyakan hal ini"


" lalu bagaimana jawabannya?" tanya Kangta yang kini juga ingin mengetahui kejanggalan ini.


" tidak ada wanita yang tersisa di pulau ini. semuanya berada di kerajaan untuk menjadi pelayan"


Kangta dan Deon saling pandang. Kerajaan membawa semua wanita, ini bukan hal yang normal.


" sudah sejak lama? apa ini termasuk tradisi disini?" Deon terus mencerca dengan berbagai pertanyaan.


" bukan tradisi, hanya peraturan baru dari Ratu sekarang. setelah Ratu sebelumnya meninggal dan pewaris satu-satunya menghilang entah kemana. Kerajaan Mystick di pimpin oleh Ratu baru ini"


" Zale, kenapa kau mau menolong kita dan menyembunyikan kehadiran kami dari kerajaan? ini akan merugikan mu jika sampai tercium oleh pihak istana" Kangta bertanya secara terang-terangan.


Kali ini Zale tidak langsung menjawab, dia meletakkan peralatan makan dan menatap ke jendela rumah. Terdiam beberapa saat.


" aku hanya merasa kalian orang yang baik"


Tentu saja jawaban seperti ini tidak akan bisa menjelaskan semuanya.

__ADS_1


" itu bukan jawaban" lirih Kangta. Zale menarik sudut bibirnya pelan.


" aku yakin sang pewaris itu pasti kembali, jadi berfikir siapapun orang asing yang datang, itu pasti kiriman dari pewaris tahta kerajaan, Putri Valmira" lanjut Zale membuat Kangta dan Deon terdiam sesaat.


__ADS_2