
Berita yang bonekanya bawa sangatlah membuat Violet senang bukan kepalang. Dia tidak menyangka jika Putri Valmira sudah memiliki bayi kecil. pantas saja saat dia menjaga jiwa Valmira, lampu lampion semakin redup. Ternyata darah dari Alvaro sudah kehilangan efeknya. Valmira memiliki anak dari lelaki lain. kini musuhnya memiliki kelemahan terbesarnya, Violet tentu akan memanfaatkan dengan baik.
" baiklah, kita akan melakukan penyerangan dari dalam istana. Valmira tidak akan menyangka jika bayi kecil itu akan menjadi alasan kematiannya. hahaha" ucap Violet senang.
" nyonya pasti akan mendapat kemenangan" ucap boneka itu menyenangkan Nyonyanya.
" kau pergilah kumpulkan energi untuk penyerangan besok" ucap Violet yakin.
" baik nyonya"
wwuussshh
boneka itu menghilang dan bersiap mencari mangsa.
sampai keesokan harinya mereka sudah bersiap.
" bagaimana situasi disana?" tanya Violet begitu boneka itu kembali setelah memantau keadaan istana.
" penjagaan masih ketat di area luar, tapi nyonya tenang saja. saya sudah tau celah untuk bisa masuk ke istana"
" bagus, bawa aku kesana malam ini"
" baik nyonya" jawab boneka itu riang. Dia sudah memiliki banyak sekali pasokan energi. Tidak sulit baginya untuk masuk dan menembus ke area sepi di istana.
Sesuai dugaan mereka, keadaan istana sangat sepi di bagian dalam. Saat ini Valmira sedang melihat laporan yang masuk dari kangta dan kepala pengamanan. Sedangkan di sampingnya G sedang tertidur lelap. Bayinya baru saja selesai menyusu dan masih ingin bersama dengan ibunya sampai tertidur pulas.
" putri sudah mulai larut. saya akan memindahkan G ke kamar"
" ehem. hati-hati" ucap Valmira tanpa merasa khawatir. Selama ini tidak pernah terjadi apapun di istana ini.
Violet memberikan kode pada boneka untuk mengikuti pelayan yang membawa bayi G. seakan paham dengan maksud nyonyanya, boneka itu mengangguk dan langsung pergi.
tap tap tap
suara langkah kaki membuat Valmira mendongak dari laporan yang ada di tangannya. matanya menatap tak percaya dengan seseorang yang berjalan mendekatinya pelan.
" Violet?" lirih Valmira setengah percaya. Dia langsung berdiri dan bersiap jika saja Violet ingin menyerangnya lagi.
" terkejut dengan kehadiranmu?" tanya Violet dengan senyum licik.
" bagaimana kau bisa masuk kemari?" tanya Valmira tegas.
" tentu saja bisa, aku adalah anggota kerajaan. Aku bebas keluar masuk istana ini" jawab Violet enteng.
" apa maumu datang kemari?"
" aku hanya ingin mengunjungi sepupu yang sudah mengambil kekuatanku" sarkas Violet.
" penjaga! periksa keseluruhan istana" teriak Valmira yang langsung membuat pasukan jaga di depan istana masuk menuju lokasi Valmira dan beberapa menyebar memeriksa lokasi lain sesuai perintah Valmira.
" kau terlihat sangat takut dengan ku" ejek violet yang kini sudah duduk di kursi kayu yang ada di depan Valmira.
" di mana Alvaro dan jelmaan sihirmu?" tanya Valmira curiga. Dia bisa menebak jika kehadiran Violet hanya untuk mengecohnya.
__ADS_1
" ah, aku lupa memberikan kabar. suamimu itu sudah tiada. Alvaro tewas di tanganku, aku menggunakannya untuk memulihkan energi boneka ku" ungkap Violet dan tentu saja membuat Valmira mengerutkan keningnya. Antara percaya atau tidak.
" lalu dimana boneka itu?"
" dia sedang menjemput sesuatu yang paling berharga" jawab Violet dengan ekspresi aneh.
" apa yang kau maksud" desis Valmira seakan merasakan kekhawatiran dari ucapan Violet.
wwuussshhh
mendadak boneka yang mereka perbincangan muncul dengan mengendong bayi G.
" Lepaskan dia!" teriak Valmira marah.
pasukan kerajaan langsung mengelilingi area tersebut. mereka benar-benar fokus agar penjahat Violet agar tidak bisa menyerang putri Valmira.
" hahahahah. apa ini keponakan ku?" Violet mengambil alih bayi G dari gendongan boneka sihir.
" violet jangan menyakitinya " pinta Valmira dengan nada sedikit memohon.
" dia tampan sekali, apa ayahnya yang membuatmu berpaling dari Alvaro? aku jadi penasaran seberapa hebat lelaki ini" Violet masih berbasa-basi.
" apa maumu? berikan dia padaku" Valmira berjalan mendekati Violet namun dengan cepat boneka itu menghadang.
" hahaha ini benar-benar menyenangkan. Aku bisa melihat putri Valmira begitu memohon" sindir Violet. Wanita itu berjalan menuju singgasana yang baru saja Valmira tinggalkan.
" kau ingin dia selamat?" lirih Violet di depan Valmira.
pasukan kerajaan sudah sangat ingin menyerang tapi kepala pengamanan belum memberikan instruksi. Ini situasi yang sulit. Jika mereka memberikan pergerakan kemungkinan nyawa pangeran G dalam bahaya. Tapi jika mereka tidak tanggap bisa jadi nyawa putri Valmira yang akan terancam.
" berlututlah" ucap Violet langsung. Valmira mengangguk dan perlahan menekuk kakinya.
" putri" panggil kepala pasukan tidak terima.
" suruh mereka membuang senjata dan menjauh dari sini" celetuk Violet dengan menatap angkuh pada kepala pasukan.
" kalian tinggalkan senjata disini dan pergilah ke area depan!" teriak Valmira tegas.
" putri!" ucap pasukan berat hati. Mereka tidak mungkin membiarkan junjungannya dalam bahaya.
" cepat!!" teriak Valmira sekali lagi. Satu-satunya hal yang dia pikirkan adalah putranya.
" laksanakan perintah putri" ucap kepala itu dengan nada bergetar menahan tangis.
tang tang tang
Suara tombak dan beberapa pedang berjatuhan. Pasukan itu sudah kehilangan semangat. Meraka semua menatap nanar ke arah putri Valmira. Kehadiran mereka tidak berguna sama sekali.
tap tap tap
semuanya berjalan mundur perlahan dan semakin menjauh dari ruangan.
Violet tersenyum senang, dia berhasil membuat putri Valmira bertekuk lutut di hadapannya.
__ADS_1
" selanjutnya... aku ingin kau mengembalikan kekuatanku"
Valmira menatap tak percaya, ini tidak akan mungkin bisa dia lakukan.
" itu tidak bisa, kekuatan yang sudah diambil tidak bisa kembali lagi" jawab Valmira jujur.
" lalu bagaimana caranya aku bisa memiliki kekuatan sihir lagi?"
" tak bisa. kau tidak akan bisa memiliki kemampuan sihir lagi" jawab Valmira tegas.
" bagaimana jika kau memberikan inti jiwamu padaku?" Violet tidak akan menyerah begitu saja. Dia akan meminta apapun sesuai keinginannya dan itu harus tercapai.
Valmira tak bisa menjawab, ini memang cara terlarang bagi seseorang jika ingin menguasai kemampuan sihir secara instan.
"bukankah itu bisa membuatku memiliki kekuatan lagi?"
Valmira terdiam tidak tau harus bagaimana menjawabnya. jika dia memberikan inti jiwanya itu sama saja membunuh semua penduduk Mystick serta menghancurkan kerajaan serta tanah Azerbaza.
" jawab" tekan Violet.
" ak.. aku akan mencobanya" jawab Valmira ragu-ragu. Dia masih memikirkan bagaimana caranya menolong putranya itu tanpa menyerahkan inti jiwanya.
Valmira seketika dilema, antara mengorbankan putranya atau kerajaan Mystick.
" cepat lakukan atau anak ini akan aku lenyapkan" desak Violet atas tindakan Valmira yang lambat.
" baiklah"
Valmira berdiri dan mengumpulkan energinya, dia tidak mungkin menyerahkan hal penting ini begitu saja.
Cruusshsh
Valmira menghilang dan langsung berada di belakang Violet dengan cepat mengambil putranya. Valmira sudah yakin akan berhasil sebelum boneka sihir itu dengan cepat menyadari.
wuusshhh
boneka memberikan serangan dan membuat Valmira terhempas kebelakang dengan keras.
brugh
Valmira terlempar dan menubruk sebuah lemari kayu.
Violet langsung menoleh ke belakang dengan sedikit terkejut.
" kau berani rupanya, baiklah aku tidak akan segan-segan akan membunuh anak ini di depan matamu" ucap Violet tak main-main dengan ucapannya, dia memberikan kode pada boneka itu.
" jangan lakukan, aku mohon" lirih Valmira yang berusaha bangkit.
" berikan inti jiwa milikmu" tekan Violet. Jika penyihir dengan suka rela menyerahkan inti jiwanya, maka segala kemampuan sihir akan dengan mudah di kuasai oleh pemilik baru. Berbeda dengan pengambilan paksa, akan ada penolakan dari inti jiwa yang bisa mengancam nyawa pemilik baru. Apalagi Pemiliki baru memiliki kemampuan yang begitu rendah daripada pemilik aslinya.
" jika kau berani menipuku lagi anak ini akan langsung aku bunuh!" ancam Violet.
" baiklah" ucap Valmira pelan. Tubuhnya masih sedikit sakit akibat hantaman sihir hitam tadi.
__ADS_1
Violet memberikan bayi G pada boneka sihir saat Valmira bersiap diri. wanita itu mengumpulkan energinya perlahan, Valmira terus mencari celah bagaimana menyerang Violet dan menyelamatkan putranya. Apalagi dengan kendaraan bayinya yang berada di boneka itu semakin membuat Valmira berani mencelakai Violet.