Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan

Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan
Mulai Rencana


__ADS_3

Meski malam begitu larut Kangta dan Deon berjalan menuju aula samping. Mereka tidak ingin membuat putri Valmira menunggu. Setelah selesai merapikan penampilan, lelaki itu berjalan masuk dan meminta bertemu dengan Valmira.


" Putri" ucap keduanya saat Valmira keluar dari pintu dalam. aula samping memang terhubung langsung dengan kamar Shana. dan jaraknya yang begitu dekat itu membuat Shana sering menggunakannya untuk pertemuan yang bersifat pribadi.


" tak perlu berlama-lama, katakan padaku apa saja yang sudah kalian temukan 2 hari ini" ucap Valmira, dia baru selesai urusannya dengan bayi kecilnya. Dan ingin segera istirahat. Masalah kerajaan ini benar-benar tak ada habisnya.


" aku sudah menemukan cara untuk memutuskan sihir arwah pada mayat-mayat itu" jawab Kangta jelas dan padat. Hal ini terasa sedikit janggal di telinga Valmira.


" besok segera lakukan" perintah Valmira, meski banyak sekali pertanyaan dalam pikirannya, tapi Valmira mengurungkannya. Kangta pasti memiliki alasan kenapa tidak menjelaskan sesuatu tentang sihir pikiran itu.


" baik putri"


Setelah selesai, keduanya langsung pamit pergi.


" tuan akan kemana?" tanya Deon saat mendapati Kangta malah berjalan keluar istana bukannya ke area kamar.


" aku akan berkeliling sebentar, kau istirahatlah dulu" balas Kangta dan mereka langsung berpencar. Lelaki itu ingin mengunjungi suatu tempat dulu.


Pagi harinya semua menteri datang ke aula utama kerajaan. Mereka akan mendengarkan penjelasan Kangta terkait penanganan sihir hitam yang selama ini mereka tunggu.


" putri apakah benar jika sudah di temukan solusi untuk menangani kejahatan Violet dan Alvaro?" tanya salah satu menteri.


" benar, hari ini tuan Kangta akan memutus mantra pengikat arwah pada mayat-mayat persembahan" jawab Valmira ikut senang.


" kami sangat lega mendengarnya" ucap beberapa menteri berbarengan.


" kalian jangan khawatir tuan Kangta memang sudah ahli dalam hal ini, untuk selengkapnya kalian akan tau setelah dia melakukannya"


" baik putri"


pertemuan tidak terlalu panjang, mereka hanya membahas mengenai perkembangan pada masing-masing bidang. Tidak ada masalah serius, jadi pertemuan langsung di bubarkan.

__ADS_1


Baru setelahnya Kangta, Deon dan Valmira keluar dari istana menuju gua pembuangan mayat persembahan itu dengan di kawal beberapa prajurit khusus yang memiliki sedikit keahlian sihir.


" saya akan turun ke dasar gua" ucap Kangta. Valmira mengawasi dari atas, Deon tentu saja ikut Kangta mungkin dia bisa membantu disana.


" kalian jaga diri" imbuh Valmira saat mereka turun.


Pemandangan mayat seperti ini bukan pertama kalinya bagi mereka. Kengerian yang ada di Mystick sudah sering mereka lihat dengan jelas. Hal semacam bukan lagi hal baru.


" Deon kau tetap disana, pancarkan energimu pada langit-langit atap"


" kalian juga" lanjut Kangta pada prajurit kerajaan.


" baik tuan"


Kangta lalu mengumpulkan energinya, bersiap merasakan mantra yang di pasang Violet. Deon sudah mulai berkonsentrasi dan mengirimkan energinya pada langit-langit atap bersamaan dengan milik para prajurit.


Perlahan Kangta mulai menemukan kunci mantranya, dia terus menjelajahi setiap arwah yang diikat. energi sihirnya berjalan lamban namun pasti. Semua mayat satu persatu di buka pengikatnya, mereka tidak bisa kemana-mana bagian atas sudah tertutupi dengan energi dari Deon dan para prajurit.


.....................................


Malam harinya di kerajaan Prysona putri Shana sedang melangsungkan hal yang selama ini dia tunggu-tunggu. Dengan berbekal sebuah botol porselen Shana kembali merapalkan mantra sihir hitam. kekuatannya kini bisa di andalkan di tambah dengan ritual yang terkahir kali, membuat Shana bisa membuka portal sihir sesuai dengan keinginannya.


" pastikan dia meminumnya" ucap Douglas sebelum Shana membuka portal ke istana Garamantian.


Disisi lain pasca peperangan lalu, dimana Garamantian mengalami banyak dari prajuritnya yang gugur membuat perasaan bersalah pada diri Gyan semakin besar. Selesai perang Gyan kembali merasakan rasa sedih yang membuatnya kehilangan nafsu makan. Setiap hari selalu memantau keadaan kerajaan serta rakyatnya. membuat tubuhnya terforsir banyak.


Gyan mulai lemah dan malam ini dia langsung beristirahat di kamar selepas kembali dari perbatasan. Daya sensitifnya berkurang dan kesempatan ini sangat menguntungkan bagi Shana.


Wanita itu memilih sebuah tempat yang biasa terdapat aura gelap yakni di dekat gedung tahanan. Dia jelas sekali mengingat semua jalur rahasia yang bisa dengan mudah membawanya menuju istana Raja. Dengan pengalaman sebelumnya Shana langsung masuk ke kamar Gyan dan memberikan mantra halusinasi pada lelaki yang terbaring itu. Tak sulit bagi Shana untuk memilih hal apa yang dia gunakan untuk menyerang Gyan, tentu saja semua hal yang berkaitan dengan Valmira.


perlahan Gyan masuk tanpa perlawanan, lelaki ini tak berdaya jika berkaitan dengan Valmira. Shana menarik tangan Gyan dan membuat lelaki itu terduduk di atas ranjang.

__ADS_1


" Gyan..bangunlah" panggil Shana. Dalam pikiran Gyan suara Shana kini berubah menjadi suara khas Valmira.


" apa kau merindukanku?" tanya Shana sambil duduk bergelayut manja di tubuh Gyan. Dalam pengaruh mantra sihir hitam Gyan sama sekali tidak bisa melakukan perlawanan. apalagi sosok Valmira yang hadir begitu mempesona bagi Gyan.


" tentu saja, aku sangat merindukanmu" balas Gyan menatap Shana penuh cinta.


" kau tidak berbohong padaku?"


" tidak Alora, aku begitu ingin bersamamu"


Shana tersenyum senang saat tangan Gyan menyentuh pipi lembut. Perlakuan seperti inilah yang Shana damba dari Gyan selama ini. Rasa cinta kasih, perhatian serta kata - kata lembut semuanya. Sayangnya semua itu tak pernah dia dapatkan, akhirnya Shana menggunakan caranya sendiri untuk mendapatkan semua itu.


" peluklah aku " bisik Shana. Gyan langsung patuh, lelaki itu menarik tubuh Shana dalam dekapannya. Sangat erat, Gyan menyalurkan rasa rindunya pada sosok yang dia pikir Valmira.


" aku begitu mencintaimu Gyan"


" aku juga.... Alora"


Hampir saja Shana percaya jika jawaban itu adalah untuknya, sampai kata terkahir membuat Shana sadar. Dia harus segera melaksanakan misinya.


Shana menarik diri dan membuat pelukan itu terputus. Dia turun ke ranjang menuju meja dan tersedia minuman anggur. Tak lama dia menuangkan anggur kedalam 2 cangkir kecil. tak lupa mencampuri salah satu cangkir dengan ramuan ramuan yang dia bawa.


Dengan senyum lebar, Shana berjalan mendekati ranjang.


" minumlah" ucap Shana.


Gyan menatap cangkir tersebut, dan perlahan mengambilnya. Shana mengusap wajah Gyan pelan, membuat Gyan semakin ingin merengkuh sosok Valmira di depannya. Shana menyentuh dagu Gyan lalu meminum anggur miliknya. lalu Gyan pun dengan patuh mengikuti Shana. Meminum anggur dalam cangkirnya sampai habis.


" pintar" gumam Shana mengambil kembali cangkir itu bersamaan dengan dia membuat Gyan tak sadarkan diri.


" lelaki bodoh" lirih Shana sebelum akhirnya menuruni ranjang dan kembali ke kerajaan Prysona.

__ADS_1


__ADS_2