Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan

Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan
Pertanda 2


__ADS_3

Setelah memastikan jika Valmira sudah tenang, Gyan baru bisa bernafas lega. Lelaki itu kemudian duduk sambil menatap Valmira dengan seksama. Perubahan yang dia saksikan tadi kini menghilang lagi. Rambut wanita itu menjadi hitam lagi dan gelang itu kembali berwarna putih.


" apa yang terjadi padamu Alora?" gumam Gyan dengan rasa penasaran bercampur khawatir.


Tidak ada satupun pelayan yang mengetahui apa yang baru saja terjadi. Untung saja mereka tidak berani masuk saat Gyan ada di kamar.


Semalaman Gyan terjaga tidak menutup mata menunggu di samping Gyan. Lelaki itu begitu takut jika terjadi sesuatu yang buruk ada Valmira.


" yang mulia" Aden memanggil dari ambang pintu.


Gyan menoleh. pengawalnya pasti membawa kabar penting.


" masuklah" Gyan memberikan izin.


" Ada surat dari Deon, baru saja datang" lapor Aden.


jika Deon yang mengirim, ini pasti mengenai masalah kerajaan Mystick. Gyan tidak terlalu memikirkan masalah ini, karena dia yakin Kangta pasti lebih handal dalam menangani ini.


" baiklah, nanti aku lihat" jawab Gyan.


" Dan ada satu hal lagi yang mulia. Ini mengenai mata-mata Ratu" ucap Aden dengan nada sedikit lebih rendah.


" ada berita apa?"


" sepertinya Shana mulai membuat rumor aneh agar semua orang membenci Selir Alora"


" rumor? jelaskan padaku"


" Ratu menyuruh pelayannya agar menyebarkan kabar jika Selir bisa mengandung anak kerajaan adalah karena dia adalah penyihir hitam. Semua orang dengan mudah percaya karena melihat penampilan selir dulu yang tidak secantik sekarang" jelas Aden yang hanya mengatakan beberapa rumor saja. Sejatinya masih banyak sekali rumor jelek tentang Selir Alora yang begitu tidak masuk akal dan membuat hati panas. Aden sengaja memilih yang lebih krusial dan lebih di percaya agar Raja tidak terbawa emosi.


" dia selalu saja membuatku repot. oh ya apa kau sudah mengirimkan suratnya ke Prysona?"

__ADS_1


tanpa sepengetahuan siapapun, Gyan menulis surat kepada ayah Shana. Dia menjelaskan semua yang wanita itu lakukan selama di Garamantian dalam surat itu. Termasuk upaya Shana yang menggunakan sihir hitam untuk menyerang Valmira.


Gyan tidak akan banyak berbicara, dia langsung bertindak. Begitu pihak Prysona menerima surat itu mereka jelas akan segera datang dan membawa Shana pergi apapun yang terjadi.


" sudah yang mulia"


Gyan menarik sudut bibirnya puas. Satu halangan akan pergi tanpa perlu banyak bertindak.


" bagus," balas Gyan.


Aden pergi setelah menyelesaikan laporannya, dia kembali menunggu di depan kamar.


perlahan Valmira menggerakkan tangannya. Suara percakapan Gyan dan Aden tadi membuat kesadarannya kembali.


" Alora" panggil Gyan.


" ada yang sakit?"lanjut Gyan, Valmira memegang kepalanya.


" rasanya pusing sekali" jawab Valmira dengan suara serak.


setelah membantu Valmira duduk bersandar, Gyan membantu wanita itu minum air. Kondisi Valmira terlihat lemah.


" masih sakit?" tanya Gyan.


" sudah mendingan" jawab Valmira.


" ada yang sakit lagi?" Valmira menggeleng.


" lapar? aku akan menyuruh pelayan menyiapkan makanan hangat ya?" tawar Gyan yang langsung di angguki oleh Valmira.


wanita itu menatap sekeliling saat Gyan pergi keluar. Dia seperti baru saja terbangun dari tidur yang begitu lama.

__ADS_1


" kau tunggu sebentar ya" ucap Gyan saat kembali.


" berapa lama saya tidur yang mulia?"


" dari kemarin siang kata pelayanmu" jawab Gyan.


" rasanya tubuh saya lemah sekali"


" kau hanya kekurangan tenaga akibat kebanyakan tidur" alasan Gyan.


" begitu?"


" iya, sudah mulai besok kau tinggal saja di istana ku. Agar aku bisa memantau Aktivitas mu" pesan Gyan yang lebih seperti perintah mutlak.


" baiklah" Valmira sedang tidak ingin beradu argumen.


" oh ya selama kau tidur, kau selalu memanggil nama Alvaro. siapa dia?" tanya Gyan penasaran. Lelaki itu tidak akan tenang sampai tau siapa pemilik nama laki-laki itu.


" siapa? Alvaro?. saya tidak mengenal siapa dia, yang mulia" jawab Valmira dengan wajah serius. Gyan merasa jika Selirnya tidak sedang berbohong.


" apa mungkin itu nama ayahmu atau saudaramu?"


" saya tidak mengingat apapun selain saat saya terdampar di pantai"


" masa lalu mu sama sekali tidak ingat? keluarga atau teman masa kecil?"


" tidak yang mulia, saya tidak mengingat apapun" jawab Valmira jujur. Wanita itu memang melupakan kehidupannya di masa lalu.


" memangnya kenapa yang mulia?" lanjut Valmira yang melihat Gyan kebingungan.


" em tidak, mungkin saja aku salah dengar" Gyan terus menutupi hal-hal aneh yang dia lihat dan dia tau. jangan sampai Valmira mengetahui kecemasannya.

__ADS_1


" yang mulia," pelayan dapur memanggilnya dari pintu.


" bawa kemari" perintah Gyan. Mereka masuk dengan membawa menu makanan yang Gyan minta. Valmira menatap dengan penuh minat. Gyan menyuruh pihak dapur memberikan sejumlah bahan untuk memulihkan keadaan Valmira.


__ADS_2