Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan

Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan
Tidak di Sangka


__ADS_3

Ratu segera menemui Shana di kamarnya. Putrinya sama sekali tidak terlihat khawatir dengan keputusan yang di ambil oleh Raja.


" Shana, ibu mohon bicaralah pada Raja. Hentikan Raja untuk memimpin perang. Semuanya hanya sia- sia, jelaskan jika semua ini adalah kesalahanmu. Ibu mohon"


" tidak ibu, aku tidak melakukan kesalahan apapun. Jika ayahanda ingin memulai perang kembali itu bagus. Kita harus melawan Garamantian agar Gyan tidak seenaknya pada kita"


" Shana! cukup jangan mengelak dari kesalahan mu. Jika ayahmu pergi berperang lalu bagaimana dengan Prysona. Kita tidak akan menang melawan mereka. Ibu mohon padamu, buat Raja mengurungkan niatnya"


" ibulah yang harus berhenti meragukan Shana. Jika ayah gugur maka aku yang akan memimpin Prysona"


Ratu langsung kehilangan kata-kata, putrinya yang dulu begitu manis dan manja kini berubah menjadi wanita tidak berperasaan. Rasanya tidak menyangka dan kecewa dengan apa yang baru saja dia dengar.


plak


satu tamparan mengenai pipi Shana.


" bagaimana bisa kau dengan entengnya mengorbankan ayahmu!. Sudah jelas kau yang bersalah. Ibu kecewa dengan Shana, kau sama sekali tidak memiliki perasaan. Ibu menyesal menemui" ucap Ratu dengan suara bergetar sulit sekali percaya jika Putrinya tega berbicara seperti itu.


" ibu, mau sampai kapanpun Gyan harus menerima pembalasanku! aku tidak peduli mau apapun yang terjadi" Shana menatap ibunya nyalang. Menantang tidak ingin di salahkan.


" ibu kecewa padamu Shana"


Tak ingin melihat keegoisan putrinya, Ratu Prysona segera pergi dari sana dengan perasaan kecewa. wanita itu kembali ke kamarnya dengan berurai air mata.


......................


Lautan sihir kedatangan tamu istimewa, malam itu Valmira di tarik para duyung masuk kedalam air. Dia di bawa ke dalam dengan paksa, padahal Valmira tidak memiliki kemampuan bernafas di dalam air. Untung saja ada salah satu duyung yang memberikan Valmira sebuah buah sihir yang membuat Valmira bisa bernafas di dalam air.


kawanan duyung itu menunjukkan sebuah tempat terdalam dari laut sihir Marilla. Disana juga Valmira bertemu dengan hewan suci Hippocampus yang sekarang selalu bersamanya membawanya mengelilingi lautan sihir. hewan ini tidak bisa berbicara hanya saja Valmira sedikit mengerti bahasa tubuh hewan suci ini.


Valmira mendapatkan hal baru yang menyenangkan membuatnya melupakan rombongannya di kapal yang sangat cemas dan khawatir mencarinya.


" tuan bagaimana ini, nona Alora tidak terlihat di manapun" ucap Deon, sejak matahari terbit lelaki itu berusaha mencari Valmira menggunakan perahu. Dan tidak membuahkan hasil. Kini kembali naik ke kapal dengan kesedihan.


" aku juga begitu cemas, duyung-duyung itu sangat menyebalkan. Bagaimana jika menemui mereka dan menanyakan keberadaan Alora pada mereka" Kangta sama sejak tadi tidak bisa diam. Dia memikirkan cara agar Valmira bisa di temukan.


" aku akan mencoba menarik mereka muncul" Deon berniat menurunkan perahu.


" mau kemana kalian?" tanya Aislinn yang baru saja sampai di geladak. Di belakangnya sudah ada Zephyr yang juga ingin melihat perkembangan situasi ini.


" kami menemukan cara untuk keluar dari sini, kalian bisa menunggu sejenak di kapal" jawab Kangta menutupi semuanya.


" oh begitu ya sudah, apa Alora belum bangun" tanya Aislinn.


" dia butuh banyak istirahat biarkan saja, sepertinya kehadiran Finnfolk sedikit mengagetkannya"


" iya, biarkan dia di kamarnya dulu" imbuh Deon.


Akhirnya tanpa menimbulkan kecurigaan kenapa Deon dan Kangta turun kembali menaiki perahu. Kangta mencoba mengingat-ingat lokasi dia mengajak Valmira semalam. Mungkin di sekitaran sana dia bisa menemukan kumpulan para duyung.


" tuan yakin disini ada pembatas yang nona Alora ceritakan?" tanya Deon, dia sudah mendengar cerita lengkap kenapa bisa Valmira dan Kangta bisa terpisah semalam.


" dia mengatakan seperti itu, aku sendiri juga tidak bisa melihatnya. Jika terasa panas menyengat kemungkinan pembatas itu benar ada di sebelah sana" sambil menunjukkan arah.

__ADS_1


Deon tentu saja semakin penasaran. Tidak ada yang bisa melihat dinding kaca itu selain Valmira. Hanya hamparan lautan yang terlihat oleh orang lain.


Disaat Kangta sedang sibuk mencari duyung. Deon melayang mencoba melintasi arah yang Kangta tunjukkan.


srekk


Deon terpantul ke laut, Kangta terkejut dan segera mengangkat Deon menggunakan sihirnya.


" apa yang kau lakukan?!"


" saya hanya ingin membuktikannya tuan" jawab Deon basah kuyup. Tubuhnya terasa sakit sekali, seperti baru saja di pukuli.


" sudah ku bilang, kita tidak akan bisa melewatinya, " kesal Kangta, dia tidak mau ada hal buruk yang terjadi pada Deon. Cukup satu orang saja yang menghilang jangan bertambah lagi.


" iya, kini aku mengerti" jawab Deon merasa bersalah.


tiba-tiba perahu mereka bergoyang keras. Kangta bisa menebak pasti duyung yang menggerakkannya.


" mereka datang" ucap Kangta sedikit senang.


" aku akan menyerahkan diri dan mungkin saja aku dibawa ke tempat mereka membawa Alora " ucap Kangta mantap.


" tapi tuan itu sangat berbahaya" cegah Deon, bukankah mereka awalnya hanya ingin berkomunikasi dan menanyakan keberadaan Alora.


" tidak ada pilihan lain, jika aku tak kunjung kembali, kau segera kembali ke kapal. dan ingat pembatas itu tidak memiliki atap, kalian bisa melayang dan pergi dari sini" jelas Kangta sebelum akhirnya dia menenggelamkan tangannya dan dengan cepat para duyung menarik ke dalam laut.


" tuan!"


Deon ingin menggapai namun terlambat, tubuh Kangta sudah jatuh ke laut. Deon hanya bisa melihat tubuh Kangta yang semakin kecil dan menghilang.


Kangta kini bisa dengan jelas melihat tubuh para duyung, mereka setengah ikan dan setengah manusia. sayangnya wajah mereka akan berubah cantik jika berada di atas permukaan air. Dan akan berubah kesemula begitu menyelam. untung saja sebelum masuk air Kangta sempat merapalkan mantra membuat gelembung udara sebagai cadangan agar bisa bernafas di dalam air lebih lama.


para duyung terus membawa Kangta menuju dasar laut, berbeda dengan Valmira yang di sambut baik. Kangta yang sudah terhipnotis tidak menyangka jika dirinya mulai di serang, tubuhnya akan di jadikan makanan para duyung.


Kangta memberontak dan berusaha naik ke permukaan. para duyung tidak membiarkan Kangta lolos begitu saja. Mereka menarik, mencakar dan memukul Kangta agar tidak bisa memberikan perlawan. Kangta terus mempertahankan diri, tapi naas akibat perkelahian itu gelembung cadangan oksigen malah pecah, Kangta tidak bisa bertahan lebih lama di dalam air, lelaki itu semakin keras melawan dan di sisa kesadarannya seorang wanita menunggangi Hippocampus datang dan menarik tangannya. membawanya menuju permukaan tak jauh dari perahu Deon.


" nona!" teriak Deon yang melihat pemandangan menakjubkan sekaligus menyedihkan.


Valmira melajukan kudanya mendekati perahu dan memberikan tubuh Kangta pada Deon.


" apa yang terjadi pada tuan?"


" para duyung menyerangnya, aku sedikit terlambat menolongnya"


Deon mencoba mengeluarkan air dalam tubuh Kangta, bisa dilihat dengan jelas tubuh Kangta penuh dengan goresan akibat serangan dari duyung.


" uhuk uhuk" semua merasa lega, Kangta akhirnya sadar.


" tuan!"


" Kangta"


lelaki itu membuka matanya, dia melihat Deon lalu sedikit menoleh, ada Valmira yang mengambang di air dengan seekor kuda cantik.

__ADS_1


" Alora, kau.." Kangta langsung terduduk, terkejut dengan apa yang ada di depannya.


" ceritanya panjang," balas Valmira yang sudah mengerti apa yang akan Kangta tanyakan.


" kau tidak apa- apa?" tanya balik Valmira.


" tidak, hanya syok saat para duyung mencoba membunuhku. bagaimana bisa kau menemukanku?"


" aku melihat keributan saat duyung berbondong menuju ke satu arah, dan aku tidak menyangka jika mereka berusaha menyakiti mu"


" kau kemana saja? aku mencari mu"


" aku bersama dengan Sereia dan kuda ini. maaf aku tidak sempat menemui kalian"


" kembalilah, kita cari cara untuk keluar dari sini" ucap Kangta, dia masih tidak tenang jika Valmira tidak berada dalam pengawasannya.


" em baiklah, aku sudah terlalu lama juga di dalam air"


Valmira berpindah ke perahu, setelahnya Sereia, yang adalah duyung kecil serta hippocampus itu pamit pergi. Perahu Valmira kini pergi menuju kapal. Kangta dan Deon bisa bernafas lega.


" kau berhutang cerita padaku" tegas Kangta. saat mereka sudah naik ke geladak kapal.


untung saja saat mereka kembali Zephyr dan Aislinn tidak berada di geladak. Mereka tidak tau kedatangan Kangta bersama dengan Valmira. Kini sebelum pasangan itu keluar Kangta menyuruh Valmira untuk membersihkan diri serta beristirahat di kamar.


malam harinya semua duduk di geladak dan makan bersama. Menu makanan semakin hari semakin berkurang, seperti malam ini hanya ada ikan 2 rekor saja untuk berlima.


" besok stok makanan sudah habis, mungkin setelah ini kita hanya bisa makan ikan" ucap Aislinn menjelaskan keadaan perbekalan.


" seharian ini aku mencoba memancing, untuk mendapatkan ikan sangat sulit sekali. bahkan beberapa malah harus kecewa karena hanya hewan sihir yang di dapatkan" jelas Zephyr dengan nada kesal.


" mungkin karena berada di lautan sihir jadi tidak banyak ikan yang bisa hidup" Kangta menyahut.


" jadi bagaimana jalan keluarnya?"


" aku menemukan jalan keluar dari atas, kita akan berpindah tempat dan terbang lewat atas. Mungkin bisa ada harapan kita pergi dari sini" Kangta tidak menjelaskan detail mengenai dinding kaca. Baginya penyihir Arghi masih terlalu dini untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya. khawatirnya mereka akan semakin menutup diri dan sentimentil dengannya ataupun dunia luar.


" kapan kita mencobanya?" tanya Deon bersemangat. kegagalan tadi cukup membuat adrenalinnya tertantang.


" besok pagi saja, saat fajar naik"


semuanya mengangguk kecuali Valmira, wanita itu mendadak ingat jika selama dia pergi di telah melewati dinding pembatas itu. dia, Sereia dan hewan suci dapat dengan mudah melewatinya. kenapa yang lain tidak bisa.


" Alora?" terdengar panggilan dirinya baru Valmira tersadar.


" kau kenapa?" tanya Aislinn tapi semua mata menatapnya penuh tanya.


" tidak, aku hanya sedikit mengantuk saja. Akhir- akhir ini aku lebih suka di kamar"


" mungkin karena bayimu" lanjut Aislinn.


" sepertinya begitu" Valmira mengangguk sambil tersenyum kecil.


" baiklah selesaikan makan malam, kita perlu beristirahat untuk mempersiapkan diri besok" Kangta memberikan masukan.

__ADS_1


" baik" jawab Deon.


pasangan suami istri hanya mengangguk. meski mereka berasal dari penyihir bahkan klan mereka adalah klan terdekat dari kan Marilla, tapi untuk menebak celah sihir Marilla tetap tidak bisa. Tabir pelindung begitu rapi dan tertata.


__ADS_2