Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan

Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan
Kepanasan


__ADS_3

Di istana Harem, putri Shana tiada hentinya mengutuk Valmira dalam setiap nafasnya. Tangannya terus mengepal setiap mengingat wanita itu berciuman dengan Raja Gyan. Sejak mendengar jika malam ini Raja meminta selir barunya untuk menemani lagi, kebencian dalam dadanya semakin besar.


" sialan kau Alora! aku harus melakukan sesuatu. Kau sudah mengambil milikku, tunggu pembalasan ku" desis putri Shana menatap jendela kamarnya.


" putri sesuai dengan ucapan anda, Alora memanglah berasal dari budak yang kita bawa" ucap pelayan pribadinya yang baru saja datang dan memberikan laporannya.


" dasar wanita murahan! berani sekali seorang budak melakukan ini padaku!" emosinya semakin meluap. Shana menyesal kenapa saat Gyan menolak hadiah pernikahan dia tidak menurut saja. kini nasi sudah menjadi bubur. Hadiah yang dia bawa malah menjerat lehernya.


" buat semua orang mengetahui fakta ini. mereka pasti tidak mau selir Raja adalah seorang budak dulunya" ucap Shana dengan tersenyum jahat.


" baik putri" jawab pelayan itu kemudian pergi.


Malam semakin larut, Gyan baru menuruni ranjang. Malam ini banyak sekali kemajuan yang dia lakukan. Bahkan tidak hanya sekedar pelukan dan ciuman, lelaki itu baru saja mengambil kesucian Valmira. Hal itu terlihat dari noda darah yang mengotori ranjangnya. Wanita itu kini tertidur lemas karena ulah dirinya, Gyan menyeringai puas sesaat setelah menatap Valmira lalu pergi meninggalkan kamar.


Gyan berjalan menuju ruang baca, dia mengambil selembar kertas dan mulai menuliskan sesuatu disana.


Meski sebagai media penyembuhan serta pelampiasan nafsunya, Valmira tetap harus mendapatkan perlindungan darinya. Gyan menuliskan surat keputusan untuk mengangkat Valmira sebagai selir Agung. Dengan ini tidak ada siapapun yang berani mengusiknya. Statusnya paling tinggi di antara wanita yang ada di sisinya. Meskipun dibawah status ratu yang sampai saat ini masih kosong.


Pagi menjelang Gyan sudah berada di aula kerajaan, sedangkan Valmira kini berendam dengan di layani oleh para pelayan. Wanita itu mulai terbiasa dengan rutinitas sebagai anggota kerajaan.


" selir" ucap Fleur memberikan handuk. Valmira menerimanya. sejak semalam rasa kesal masih memenuhi wajahnya. Apa yang dia takutkan nyatanya terjadi. Rasanya masih tidak percaya, dia sudah tidak suci lagi. Bagaimana mudahnya Raja Gyan melakukan ini padanya.


" kalian pergilah" ucap Valmira di depan sebuah kaca. hanya tinggal Fleur seorang.


" kau masih marah denganku?" tanya Fleur sedih.


" marah kenapa?" tanya Valmira datar, berlagak tidak ada mengerti maksud Fleur.


" aku tidak membantumu semalam" jawab Fleur semakin merasa bersalah. Wanita ini menundukkan wajahnya lesu. Valmira pun jadi merasa tidak enak. Tidak seharusnya dia mempersulit Fleur.

__ADS_1


" awalnya memang aku kesal, namun kemudian aku sadar. baik aku ataupun kau sama-sama tidak memiliki pilihan" balas Valmira, Fleur mengangkat wajahnya. Dia menatap Valmira dengan tersenyum tipis.


" maafkan aku" Fleur memeluk Valmira pelan.


" maafkan aku juga" balas Valmira, membalas pelukan Fleur. Hubungan keduanya membaik.


Berbeda dengan kedua wanita itu yang akur, di aula kerajaan beberapa pejabat sedang mengungkapkan ketidaksetujuannya dengan keputusan yang Raja mereka ambil.


" mohon yang mulia mencabut keputusan ini, Selir Alora berasal dari budak persembahan. Statusnya sangat tidak sesuai dengan keputusan baru ini, yang mulia" ucap salah satu pejabat.


" memangnya kenapa jika dia seorang budak, selir yang lain juga memiliki status yang sama sebelumnya" jawab Gyan tidak mengada-ngada.


" tapi mereka hanya selir biasa. ini posisi selir Agung yang mulia. Seharusnya di berikan kepada wanita yang terhormat" balas lagi.


" siapa? putri Shana? baiklah jika begitu" para pejabat semakin kelimpungan, jika putri Shana menjadi selir lalu siapa yang cocok menjadi Ratu. kandidat paling cocok sebagai Ratu saat ini memanglah putri Shana.


" tidak yang mulia" jawab mereka cepat.


" sudahlah, aku bukan ingin meminta pendapat kalian. jika ada yang tidak menyetujui keputusanku kalian silahkan keluar dari sini" lanjut Gyan. semua pejabat diam tidak berani. memang benar, mereka hanya ingin terlihat peduli dengan kerajaan, padahal nyatanya semuanya demi memperkaya diri mereka sendiri. cih.


" kami menerima keputusan yang mulia" ucap mereka bersama. Gyan menarik sudut bibirnya. Pejabatnya semakin tidak berguna.


" apa?" tanya Shana. Wanita itu baru saja menerima kabar jika Alora berubah status menjadi selir Agung.


" bagaimana bisa, aku saja belum mendapatkan status apa-apa. sedangkan dia?! ini tidak bisa di biarkan" Shana segera pergi menemui ibu suri. Dia harus menggagalkan keputusan ini.


Putri Shana datang bersamaan dengan selesainya pembacaan keputusan di aula istana Harem. Disana beberapa selir ikut menyaksikan selir Alora menjadi selir Agung mereka.


Mata Shana langsung menyalang menatap Alora dengan gaun mewah dan ornamen perhiasan di kepalanya.

__ADS_1


" putri Shana kenapa anda datang begitu terlambat?" tanya ibu Suri dengan hangat namun sangat menusuk.


" saya berfikir jika undangan ibu suri hanyalah sebuah candaan, tetapi kini melihatnya langsung membuat saya tidak percaya" jawab Shana menyindir Alora.


" Raja meminta hal ini segera di lakukan." jelas ibu Suri mencari aman. Dia memang sekarang mulai bergeser perhatiannya kepada Valmira, karena dirasa Shana sama sekali tidak bisa memberinya keuntungan.


" saya mengerti sekali keputusan ibu suri" jawab Shana ketus, dia mulai tidak percaya dengan wanita di depannya ini.


" putri Shana" ucap Valmira pelan, sebagai bentuk sapaan bukan penghormatan.


" Selir Alora, selamat atas status barumu" ucap Shana berbasa-basi. Semua mata menatap ke arah mereka. akan ada pertengkaran sebentar lagi, pikir mereka.


" terimakasih putri, " jawab Valmira tenang. Dia masih ingat bagaimana perlakuan putri Shana kepadanya saat menjadi budak dahulu. kini dengan cepat status mereka tidak beda jauh. menyenangkan sekali.


" ah ya ibu suri, saya pamit undur diri dulu. apakah boleh?" tanya Valmira menatap lembut ke arah ibu suri.


" tentu saja, kau bisa pergi sekarang" jawab ibu Suri datar tapi terkesan bersahabat.


" terimakasih ibu suri" Valmira langsung berjalan tanpa berpamitan dengan Putri Shana. dia memang sengaja melakukannya.


Hal ini sukses membuat Shana meradang, Valmira berani bersikap sombong padanya. Dia harus segera di berantas.


Valmira berjalan masuk ke kamarnya.


" kau sangat berani Alora" tanggapan Fleur, mereka hanya berdua di kamar.


" itu kan yang ingin kau lihat,? kau sejak tadi membahas putri Shana yang akan marah, jadi sekalian saja aku membuatnya marah" jelas Valmira.


" pasti kau memiliki alasan lain, tidak mungkin kau berniat membalas dendam padanya?" Fleur yang kenal bagaimana perangai Valmira langsung bisa menilai.

__ADS_1


" memang, aku ingin putri Shana segera berfikir untuk menyingkirkan ku dari posisi selir. Dengan begitu aku mendapatkan bantuan secara tidak langsung" jawab Valmira pintar. Dia harus mencari celah dengan baik. Putri Shana pasti akan melakukan segala cara agar membuatnya pergi. Dan memang itu yang Valmira inginkan.


" kau sangat pintar" ucap Fleur menyetujui.


__ADS_2