
Situasi kapal mulai membaik, meskipun pergerakan waktu masih melambat. Valmira masih tertidur saat pintu kamarnya di buka oleh seseorang.
Ceklek
Valmira yang tidak biasa mengunci pintu tentu memudahkan seseorang itu masuk dengan mudah. Sudut bibirnya tertarik senang saat melihat Valmira dengan nyenyak tidur di ranjang.
" dari semuanya hanya dia yang paling istimewa" lirih seseorang itu lalu berjalan mendekat ke ranjang.
tap tap tap.
Suara langkah kaki mendekat, seseorang itu segera bersembunyi di samping lemari.
Dan benar saja, Kangta masuk ke kamar Valmira, dia berniat membangunkan wanita itu. Ada memiliki hal yang penting untuk di lakukan.
" Alora" panggil Kangta sambil menggoyang pelan tubuh Valmira.
" Alora"
" emm ada apa Kangta?"
" bangunlah ada hal yang ingin aku tunjukkan padamu"
" baiklah"
Kangta membantu Valmira beranjak, memang ibu hamil tua sepertinya sedikit kesulitan saat bangun tidur.
" pelan-pelan" ucap Kangta melihat Valmira berdiri dan mulai berjalan keluar.
Seseorang yang di dalam kamar tentu saja memaki kesal dalam hati. sedikit lagi dia akan mendapat keinginannya tapi malah gagal.
Kangta menutup pintu kamar, dia mengerutkan keningnya saat lantai kamar Valmira terdapat bekas lendir yang berceceran. Kangta pasti bisa menangkap hal aneh ini.
" ada apa?" tanya Valmira melihat Kangta tak kunjung menyusul, malah diam menatap kamarnya.
" ah, ya. tak apa" jawab Kangta dan segera menutup pintu.
keduanya menuju ke anjungan kapal.
" seperti yang kau katakan setelah melewati rute kita akan menemukan pola lagi. Apa mungkin labirin yang kau katakan ini ternyata tidak memiliki ujung?" Kangta memulai pembicaraan.
" mungkin saja. Tapi aku tidak yakin kita bisa melewati batas rute yang ada"
" Alora bagaimana jika kau membawaku mendekati dinding kaca yang kau sebutkan itu. mungkin kita bisa menemukan jalan keluar"
" em, bagaimana caranya?"
" aku akan membawa kita terbang dan aku arahkan dimana letak dinding Itu"
" baiklah, setelah kita memasuki rute yang baru kita akan memastikan apa benar labirin ini tidak memiliki ujung"
" ya kau benar"
" ah ya dimana Deon. Tumben dia tidak memberikan laporan padaku" Kangta baru menyadarinya, dia berniat akan menitipkan pesan pada Deon tapi lelaki itu tidak muncul.
__ADS_1
" mungkin masih di ruang kendali membantu nahkoda kapal" jawab Valmira yang ingat saat tadi berbincang dengan nahkoda kapal.
" tunggu disini aku akan kembali"
Kangta turun menuju ruang kendali, sayangnya begitu sampai di ruang kendali Kangta mencari-mencari, disana tidak ada siapapun termasuk nahkoda. tapi ada hal aneh yang memenuhi ruang kendali. Banyak sekali lendir yang menutupi lantai serta kemudi kapal. sama seperti yang ada di kamar Valmira.
" apa yang terjadi?" lirih Kangta sambil mencari keberadaan Deon ataupun nahkoda.
" Deon" panggil Kangta.
Lelaki itu berkeliling sambil terkejut dengan kondisi kemudi yang di biarkan begitu saja.
" astaga!" Kangta tersandung sesuatu yang ternyata kaki Deon. seseorang yang dia cari tergeletak di kolong meja tak sadarkan diri.
" Deon" Kangta menarik tubuh Deon dan menepuk pipinya pelan. namun tetap saja Deon tidak bereaksi. Akhirnya Kangta memberikan sihir agar Deon cepat tersadar.
prangg,
suara benda jatuh terdengar dari arah anjungan kapal.
" Alora" Kangta mengkhawatirkan wanita itu. Dia meninggalkan Deon yang mulai tersadar.
" Alora" panggil Kangta menaiki tangga. dan dengan keras membuka pintu.
" Kangta, " lirih Valmira yang sudah tidak bisa bergerak. Di depannya ada nahkoda yang tersenyum senang.
" siapa kau?" tanya Kangta yang siap dengan perlindungan diri.
" kau selalu saja menggangguku lelaki tua, menyebalkan sekali" ucap nahkoda itu kesal.
" hahahaahhah, kau baru menyadarinya? coba kau fikirkan "
" lepaskan dia,!" Kangta tidak menghiraukan, dia hanya khawatir dengan kondisi kehamilan Valmira.
" tidak akan, dia begitu istimewa. Sudah lama sekali aku tidak melihat wanita hamil dengan energi yang bagus"
" kau monster laut, katakan siapa kau? dan apa maumu? " Kangta terus mengulur waktu dia sedang menyusun rencana untuk mengalahkan lelaki yang ada di depannya.
" sudah puluhan tahun aku tidak menerima tamu, dan kini kalian datang, tentu aku akan menyambut dengan baik. hahahahah"
" lepaskan dia, bawa aku saja" Kangta mencoba tawar menawar.
" kau tidak bisa di bandingkan dengan dia, energinya lebih banyak dan lebih murni"
" dia hanyalah wanita lemah, bahkan tidak memiliki inti jiwa. Dia tidak akan menguntungkan mu sama sekali"
" kata siapa? energinya paling banyak dari kalian semua. Wanita ini memiliki aura yang khas. kau tenang saja, setelah ini kalian juga pasti akan berkumpul di tempatku"
brak..
Kangta melempar sebuah benda ke arah nahkoda dan seketika membuat lelaki itu kehilangan konsentrasinya.
" sial!" nahkoda itu menghindar, membuat tali sihir yang mengikat tubuh Valmira terlepas.
__ADS_1
" kau tidak apa-apa?" tanya Kangta sambil menangkap tubuh Valmira dan menariknya di belakang tubuhnya.
" tidak" lirih Valmira, tubuhnya masih lemah.
" pergi atau aku akan membunuh mu" ancam Kangta, meski dia tidak yakin bisa mengalahkan nahkoda karena kondisi tenaga dalamnya yang masih lemah.
" kau bukan tandinganku pak tua"
crushh..
nahkoda itu melemparkan serangan, Kangta langsung menangkis.
crusshh. crush..
Kangta memberikan serangan balik. barang-barang langsung berserakan menimpa nahkoda itu. Kesempatan itu di gunakan Kangta untuk melarikan diri.
" dasar tua bangka" nahkoda itu terdiam, serangan itu sama sekali tidak berpengaruh. Hanya melukai tubuh luarnya saja. Nahkoda itu lalu mengedipkan matanya dan menghilang menggunakan sihir.
" mau kemana?" nahkoda itu dengan cepat menghadang Kangta dan Valmira yang berlari di geladak.
crushh
" akk" Kangta terkena serangan di dadanya.
" Kangta!" Valmira panik dan segera membantu Kangta berdiri.
sayangnya pergerakannya terlalu lambat, nahkoda dengan cepat mengeluarkan tali sihirnya lagi.
" lepaskan aku" teriak Valmira.
" kasihan sekali kau, energi dalam tubuhmu menjadi sia-sia. lebih baik berikan padaku itu lebih berguna" nahkoda itu tiba-tiba berubah bentuk menjadi wujud wanita cantik.
" Finnflok" lirih Kangta dia bisa dengan cepat mengenali monster setelah melihatnya berubah wujud.
" aakkk" teriak Valmira, tali sihirnya semakin kuat mengikat, bahkan menarik energi yang ada di tubuh Valmira.
crashh.
Kangta memberikan balasan bola api, berharap monster ikan itu bisa segera pergi.
" berani sekali kau!" dan benar saja, hewan laut pasti tidak suka dengan api. Kangta mulai bangkit. Sayangnya tali sihir belum terlepas, Finnfolk dapat menghindarinya dengan cepat.
crshhh
Serangan benda tajam melayang ke arah Kangta, lelaki itu menangkis dan membalikkan serangan. terjadi perkelahian yang imbang, Kangta dengan cepat bisa tau kelemahan sang lawan.
Valmira berusaha melepaskan tali sihir, dia berkonsentrasi berharap kekuatan yang ada tubuhnya bisa dia kendalikan sama seperti saat dia melawan para nelayan.
" Kangta!" untung saja Zephyr dan Aislinn keluar dari kabin dan ikut memberikan serangan pada Finnflok.
" ah, ada pengunjung lain rupanya" lirih Finnflok.
Zephyr dan Aislinn langsung membagi tugas, Aislinn mendekati Valmira sedang sang suami ikut melawan dengan Kangta.
__ADS_1
" kau tidak apa-apa?" tanya Aislinn, setelah melepaskan tali sihir. Valmira menggeleng pelan. Tubuhnya sangat lemah. Dia dan Aislinn segera mencari tempat aman. jangan sampai Finnfolk itu kembali mengancam nyawa Valmira.