Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan

Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan
Membujuk


__ADS_3

Mereka sampai di ruang tengah sekaligus ruang istirahat. Gyan dan Valmira duduk di sofa empuk, Valmira masih merasa sedikit kesal dengan perlakuan Gyan sebelumnya. Dan Gyan terus mencoba meluluhkan hati sang istri.


" aaaabbss ts" celoteh G saat melihat ayahnya. Bayi itu berusaha merentangkan tangannya meminta di gendong.


" sayang, kangen sama ayah?.. ayoo" Gyan meminta G dari Valmira. Lelaki itu sudah sangat merindukan bayi kecil ini.


" jangan terlalu keras mengayun nya" pesan Valmira.


" iya"


Akhirnya Gyan mengasuh bayi G sedangkan Valmira masih menata makanan saat pelayan baru saja sampai.


Di sisi lain putri Farfalla sudah lebih dahulu keluar dari gerbang kerajaan. Wanita itu bergerak lebih cepat dari pada pasukan kerajaan.


" kini waktunya aku berjuang sendiri" lirih Farfalla sambil menghembuskan nafas kasar. kereta itu melaju membelah gelapnya malam di padang pasir. Angin berhembus pelan membuat kelambu kereta berkibar pelan.


Mulai malam ini, hidup wanita itu tidak akan sama. Dia sama sekali tidak memiliki pengalaman ataupun pengetahuan mengenai dunia luar sedikitpun. Farfalla benar-benar memulai menelusuri jalan tersulit dari hidup nya.


" tuan, selanjutnya anda ingin kemana?" suara kusir kuda membuyarkan lamunan Farfalla.


" kita akan pergi ke wilayah Barat. tujuanku adalah pergi ke Uthaman" ucap Farfalla.


" apa Uthaman? tuan yakin akan ke sana? " kusir itu terlihat kaget dan dan setengah tak percaya.


" yakin sekali, berapapun yang kau inginkan aku akan membayar mu" balas Farfalla tanpa keraguan.

__ADS_1


" bukan begitu tuan, saya hanya ingin memastikan. Wilayah Uthaman sudah lama sekali tak terdengar. Tidak ada yang berani mendekati bekas wilayah pertempuran besar, selain para keluarga korban yang ingin mengenang kerabatnya, apa tuan juga memiliki kerabat yang menjadi korban ?" tanya kusir itu, Falla mencerna semua informasi itu dengan lengkap. Sejenak dia terdiam sambil memikirkan jawabannya.


" em. mungkin. Sepertinya aku memiliki kerabat di sana" jawab Falla lemah.


" oh begitu rupa nya"


Setelahnya tidak ada perbincangan lagi, Falla sibuk dengan pikirannya sedangkan Kusir berkosentrasi melewati medan perjalanan. Penerangan mulai terbatas membuat jarak pandangan semakin sulit. Kusir itu berkonsentrasi penuh, demi mendapatkan bayaran melimpah dia harus tetap fokus.


Waktu terus bergulir, pagi mulai menyapa. Istana kerajaan terlihat masih sepi, Aden dan Deon masih belum kembali. Pencarian sama sekali tidak membuahkan hasil. Tidak ada jejak dari putri Farfalla di mana pun mereka mencari. keadaan menjadi sedikit rumit. keduanya terlihat cemas dan gusar.


Begitupun dengan Gyan, lelaki itu sudah berada di ruang kerjanya. Duduk tenang sambil melihat beberapa buku yabg di temukan di kamar adiknya. Lelaki itu sedang menganalisis, jelas hal ini berhubungan dengan kepergian Farfalla.


" kau serius sekali memandangi buku-buku itu?" tanya Valmira yang baru saja masuk bersama dengan pelayan yang menggendong G.


" semua buku-buku ini di temukan di kamar Farfalla, aku memiliki firasat jika semua buku ini bisa menunjukkan alasan dan kemana kepergiannya Farfalla"


" Farfalla bukan orang yang gemar membaca, jika tiba-tiba saja menyimpan buku, pastilah ada sesuatu yang dia cari"


" jadi sejauh ini apa yang kau dapatkan dari menatap serius buku ini?"


" belum pasti, hanya saja Falla sedang menuju dunia luar, dia pasti tidak main-main merencanakannya. Tekadnya bulat jadi pasti alasannya kuat" jelas Gyan. Valmira mengangguk mendengarkan.


" kau jangan ikut memikirkan masalah ini, beban mu sudah sangat banyak" lanjut Gyan lalu berdiri dari tempat duduknya, dan merengkuh tubuh Valmira yang berdiri di sampingnya.


" tak masalah, dia juga adikku" balas Valmira mencoba menguatkan Gyan. lelaki itu pasti sangat sudah kebingungan, belum lagi masalah penyihir juga belum. Suaminya ini sangat kasihan.

__ADS_1


" bawa dia bermain" usir Gyan pada pelayan.


" padahal G ingin bermain denganmu" balas Valmira menyindir Gyan. Lelaki itu bilang merindukan anaknya tapi perlakuannya lebih berbeda.


" nanti, masih banyak waktu. Aku masih ingin bermain denganmu" balas Gyan lalu mencium bibir Valmira.


" aku kemari ingin mendiskusikan hal penting denganmu" Valmira mendorong Gyan pelan saat ciuman itu mulai liar.


" katakan saja" Gyan masih tidak mau menyudahi kemesraan mereka.


" tidak begini, " Valmira melepaskan pelukan Gyan, membuat empunya merajuk.


" ini masalah penyihir, Deon melaporkan jika jumlahnya sekitar 300, aku masih tidak memiliki cara untuk bisa membawa mereka. Sihir dimensi jelas tidak bisa, karena terhalang tabir. kapal pasti menimbulkan banyak perhatian manusia. terbang jelas tidak mungkin. Jadi bagaimana?" jelas Valmira panjang lebar. Hal ini memang sedikit menganggu nya belakangan ini. Dan sampai sekarang juga belum menemukan cara yang tepat.


" em, jika kita membuka tabir sejenak bagaimana? bukankah energinya bisa di kurangi?"


" bisa saja tapi aku yakin sihirnya bisa kembali semula"


" begitu ya, jika di dilihat lagi jumlah penyihir yang ingin pindah semakin menurun. Aku bisa menilai hanya keturunan asli yang ikut pindah. sedangkan yang mengalami pernikahan silang dan tidak memiliki kemampuan sihir memilih menetap bersama dengan manusia "


" kalau begitu aku akan mencari cara untuk mengendalikan tabir"


" itu ide yang bagus, aku juga akan mencari cara lain. sejauh ini membuka tabir dan membuat sihir dimensi adalah cara terbaik" balas Gyan.


" kau benar, baiklah aku akan menemui para penyihir dan menjelaskan situasi yang harus mereka persiapkan untuk pindah ke Mystick"

__ADS_1


" aku ikut" Gyan berjalan berdua dengan Valmira. Lelaki itu ingin menunjukkan jika Valmira adalah istrinya. Karena menurut isu banyak penyihir lajang yang tertarik ingin menikah dengan Valmira. mereka mengira jika Ratu kerajaan Mystick itu masih sendiri.


__ADS_2