Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan

Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan
Amukan Manja


__ADS_3

Saat hari sudah menjelang malam, Emrick berjalan dengan nafas menderu menuju kamar Falla. informasi dari Thalasa begitu membuatnya emosi. Baru saja dia di buat melayang saat mengira Falla cemburu Padanya. Ternyata tebakannya salah, wanita itu malah berniat membawa selir baru untuk nya. bagaimana bisa hal ini tidak di rundingan kan dengannya terlebih dahulu.


" Yang mulia.."


" dimana Falla..?"


" nyonya sedang menemani Butin di kandangnya yang mulia"


Emrick langsung berbalik badan, menuju kandang Butin. pelayan Falla sudah bergetar ketakutan. Dia tidak bisa menjelaskan raut kemarahan yang ada di wajah Yang mulia.


" Falla, .." Panggil Emrick datar.


" Adipati" wajah Falla setengah mengerutkan keningnya.


" apa ada sesuatu yang kau harus mendiskusikannya denganku?" pancing Emrick. Dia memberikan kesempatan pada Falla. Mungkin saja wanita ini lupa menjelaskan masalah selir baru itu.


" emm masalah Greojen?"


" ini tidak ada kaitannya dengan Greojen. ini tentang kediaman dan rumah tangga kita"


Falla berfikir keras, apa Emrick sedang berhalusinasi lagi. wanita itu tidak merasa melupakan sesuatu yang harusnya di diskusikan dengan Emrick.


" tidak ada Adipati"


" kau yakin? atau jangan-jangan kau memang sengaja merahasiakannya dari ku?" Falla semakin tidak mengerti kemana arah pertanyaan Emrick.


" maafkan saya Adipati, saya tidak mengerti. Jika memang Adipati mempersalahkan hal itu, katakan saja apa itu"


" baiklah kalau begitu, aku dengar kau akan menerima selir baru, apa itu benar?"


Falla terdiam, bagaimana bisa Adipati mengetahui hal ini. padahal yang tau mengenai hal ini hanya dia dan pelayannya saja.


" Falla, jawab apa itu benar?" tanya Emrick membuat lamunan Falla terhenti.


" saya masih mempertimbangkannya. menurut Adipati bagaimana?"


" tidak ada selir baru. Kau tolak saja"


" gadis ini sangat cantik dan penurut. Berasal dari keluarga bangsawan. Apa Adipati tidak kecewa nanti karena sudah menolak wanita ini?" rayu Falla.


" tidak Falla. Bagiku diri mu saja sudah cukup bagiku"


Rasanya Falla ingin muntah, kalimat ini jika mendengarnya sebelum dia menguping waktu itu mungkin Falla akan bersorak riang. tapi kini tidak lagi, sulit percaya pada lelaki yang ada di hadapannya ini.


" jika memang Adipati tidak berkenan, saya akan mengatakan keengganan Adipati pada mereka" jawab Falla tanpa menampilkan emosi apapun.


" jika aku tidak mempermasalahkan hal ini apa mungkin kau benar-benar akan menerima wanita itu menjadi selir di sini?"


" kenapa tidak, Adipati sudah memiliki selir sebelumnya. bukankah kehidupan seperti ini sudah umum terjadi? saya sangat tau bagaimana kehidupan para anggota kerajaan seperti anda" balas Falla tak merasa takut bahkan bersalah sedikitpun.


" apa kau tidak takut jika wanita baru ini akan merebut perhatian ku?"


" saya yakin Adipati pasti bisa mengambil sikap dan berlaku adil" Jawaban Falla semakin membuat Emrick tak terima. Sebenarnya Falla menyukai dirinya atau tidak. Emrick menjadi bimbang dengan sikap Falla saat ini. Dia kecewa jika Falla tidak menyukai nya lagi, Emrick merasa tertipu.


" kau tidak cemburu, Falla?" tanya Emrick dengan harapan bahwa Falla akan mengakui perasaannya.


" tidak" jawab Falla singkat. Dan sangat melukai hati Emrick. Emrick menatapnya dengan tatapan terluka, dia tidak menyangka. Rasa cinta Falla ternyata hanya ucapan bibir saja.


Lelaki itu pergi tanpa meninggalkan sepatah kata pun. Falla mendadak menjadi kasihan, tapi mau bagaimana lagi, Emrick terlalu jahat padanya.


Tak berselang lama Falla kembali masuk ke kamarnya. Dia memikirkan siapa yang sudah membocorkan masalah selir ini.


" nyonya, tadi yang mulia kemari, wajahnya sangat menakutkan memang apa yang terjadi?" tanya pelayannya. Falla menatap wanita itu sejenak, pelayannya tidak mungkin berbohong padanya.


" tidak ada, hanya kesalahpahaman saja" jawab Falla, menatap sekitar. dia tidak menemukan apapun sampai ekor matanya menangkap adanya pelayan lain yang sedang memotong rumput dengan gerakan aneh.


" pantas saja" lirih Falla setelah mengetahuinya. kamarnya sedang di awasi, dia terlalu santai menganggap jika dirinya akan aman di sini.


" apa nyonya?"


" tidak, aku hanya melihat tikus dan mendadak ingin menangkapnya" Jawab Falla asal.


Di sisi lain Emrick kembali ke kamarnya dengan nafas menderu, dia masih tidak terima dengan sikap Falla yang biasa saja saat dia sedang bersama wanita lain.


" ada yang salah dengan Falla. Aku bisa ingat bagaimana Raja mengatakan Falla yang meminta pernikahan ini. tapi kenapa Falla berubah dingin seperti ini. Pasti ada alasannya. apa mungkin karena Kantata? Lelaki itu mengalihkan perasaan Falla padaku? bisa jadi" gumam Emrick sambil mengomel sendiri. Lelaki sudah menargetkan Kantata. Cepat atau lambat dia akan memberikan pelajaran pada lelaki itu.


keesokan harinya Emrick kembali pada rutinitas nya semula. Dia pergi ke istana untuk mendiskusikan masalah perbatasan itu.


Falla di kamarnya mulai menulis surat balasan kepada nyonya Duan. Sebisa mungkin wanita itu menjelaskan situasinya. Jika Adipati sedang di pengaruhi selir nya untuk tidak mengambil selir dalam waktu dekat.


" nyonya jadi benar Yang mulia marah akibat masalah Selir itu?" tanya pelayannya yang sudah mendapatkan cerita lengkapnya.


" iya, Adipati mendengar jika aku akan mengambil selir baru. menurutmu bagaimana bisa Adipati mengetahui hal ini? apa itu kau?"


" tidak nyonya, saya sama sekali tidak pernah mengkhianati anda" sambil menggeleng pelan.

__ADS_1


"emm tapi mungkin ..." pelayan itu menatap ke luar.


" jangan di bahas lagi, lebih baik ini kau berikan pada pembawa pesan, suruh mengirimkannya pada Nyonya Duan"


" baik Nyonya,"


Falla terdiam lama, dia masih memikirkan tatapan terluka Emrick sore itu. Lelaki itu pintar sekali bersandiwara. Kenapa tidak sekalian dia menangis di depannya. Lelaki yang menganggapnya sebagai pelumas hutang budi tidak mungkin bisa mencintainya dengan tulus.


Sedangkan di sisi lain, Gyan menatap sekitar. Garamantian sudah benar-benar kosong. para anggota bangsawan dan saudagar kaya mereka memilih pindah. Namun bukan ke Greojen, mereka pergi ke sanak saudara mereka di tempat lain. agar kedudukan mereka tidak turun karena hidup bersama dengan.rakyat miskin lainnya.


Gyan tidak memaksa mereka, terserah mereka mau kemana yang penting mereka mau pindah dan meninggalkan Garamantian.


" yang Mulia.." ucap menterinya yang baru saja kembali.


" kau sudah membawa semua barang mu?"


" sudah, yang mulia"


" baiklah. Malam ini juga. aku akan mengubur kerajaan. Membuat badai pasir yang besar dan menenggelamkan kerajaan dalam waktu semalam"


" baik yang mulia. jadi ini adalah akhirnya?"


" iya, senang mengenalmu"


" terimakasih yang mulia, saya sangat beruntung di akhir waktu ini bisa lebih dekat dengan yang mulia"


" ah ya.. ini untukmu. Bukankah kau meminta sesuatu padaku? ini aku berikan benda ini sebagai kenangan "


Gyan memberikan sebuah giok kecil seukuran telapak tangannya. Patung kecil yang berbentuk kerajaan.


" ini indah sekali"


" simpan ini baik-baik"


" tentu saja yang mulia"


Gyan menarik menterinya dalam pelukan. hari ini telah datang. Hari yang lelaki itu tunggu dari lama.


" kau pergilah. aku akan bersiap"


menteri itu mengangguk, dia akan keluar dari kerajaan.


" selamat tinggal Yang mulia" lirihnya dan berjalan menuju gerbang perbatasan menggunakan kuda.


ssssrrrhhhhh


suara angin semakin kencang. langit malam membuat semua sihir Gyan tertutupi. Lelaki itu membuka portal dimensi, lubang besar yang terbuka di langit Garamantian.


pasir yang berterbangan itu masuk ke portal dan menghujani Garamantian. Perlahan jalan-jalan serta atap rumah mulai tertutup pasir. Hal ini terus menerus terjadi sampai menjelang pagi.


Benar kata Gyan, kerajaan Garamantian menghilang dalam waktu semalam. Lelaki itu menatap gundukan pasir dengan nafas panjang. Semuanya benar-benar berakhir. Sudut bibirnya tertarik sedang matanya berair. Sedih dan senang dalam waktu bersamaan.


Setelahnya dia membuka portal ke Uthaman. lelaki itu akan menemui Falla dan berpamitan dengannya. Saat itu di Uthaman waktu masih malam, Gyan mendekati ranjang Falla dan menatap adiknya.


" Fall..." panggil Gyan pelan setelah duduk di teli ranjang.


" emgh" tidurnya terganggu dan Falla membuka matanya.


" kakak.." ucap Falla dengan suara serak.


" hey, bangunlah kakak ingin mengajakmu ke sebuah tempat"


" kemana kak"


" rahasia, ayoo"


Falla bangkit dan mereka masuk ke portal sihir. Mereka berganti di pinggir pantai.


" indah sekali kak.."


" dulu kau senang sekali bermain di pantai, sayang saat ini kita tidak bisa lagi pergi pantai yang sama" suara Gyan sedikit bergetar karena sedih.


" ada apa kak?" tanya Falla. Dia bisa merasakan perubahan suara kakaknya yang menahan tangis serta wajahnya yang sedih.


" hari ini kakak akan pergi ke Mystick" singkat Gyan,tapi bisa membuat Falla terdiam dan ikut berurai air mata.


" cepat sekali.." lirih Falla langsung memeluk sang kakak.


" saat ini Garamantian sudah terkubur dan menghilang dari peradaban. Tempatmu sekarang adalah di Uthaman, kakak akan sering mengunjungi mu ya.."


Falla mengangguk tak bisa berkata-kata, air matanya turun dengan deras membasahi pakaian Gyan.


" sudah ya jangan menangis, angkat wajahmu. kakak berikan ini" Gyan mengeluarkan Kalung dengan liontin berbentuk jam pasir dan kini terpasang pada leher adiknya.


" kakak..hiks hiks" Falla semakin tersedu- sedu. dia tidak memiliki keluarga lagi. Meski kakaknya akan sering berkunjung tapi rasanya pasti berbeda saat masih di Garamantian.

__ADS_1


" sudah jangan menangis, kau sudah jadi istri orang tapi masih cengeng.. malu"


Falla memeluk Gyan lagi. Lelaki itu mengelus punggung Falla, membiarkan adiknya memeluknya sepuasnya. Gyan menikmati pemandangan laut fajar yang begitu indah.


" sudah?" tanya Gyan saat Falla melepaskan pelukan.


" kakak janji akan sering berkunjung ?"


" iya janji" Gyan tersenyum tipis.


" ayo kita kembali"


crrusshshhh


mereka kembali ke kamar Falla. Uthaman sudah pagi dan kebetulan saat itu Emrick datang berkunjung.


" Raja" sanjung nya pada Gyan.


" kemari lah, mari kita bicara sebentar " ajak Gyan pada Emrick.


mereka menyusuri lorong.


" hari ini adalah hari terkahir aku di sini. Setelahnya aku pergi. Jaga Falla untukku, jangan pernah berfikir untuk menyakitinya. aku bisa tau semua yang kau lakukan pada adikku. Aku akan mengawasi mu" ucap Gyan yang terdengar seperti ancaman.


" jangan khawatir Raja, saya benar-benar sangat mencintai Falla. meski bukan yang pertama. Falla akan menjadi cinta terakhir saya" jawab Emrick tanpa keraguan.


Kedua lelaki itu berbincang cukup lama sampai akhir nya mereka kembali ke Kamar Falla.


" kaka pergi ya. jaga diri kalian baik-baik"


Falla mengangguk dan terus menangis. Emrick merangkulnya dengan lembut.


" selamat tinggal" Gyan membuka portal dan menghilang.


Falla semakin tak bisa menguasai diri, dia menangjs tersedu-sedu. Emrick memeluknya membawa tubuh kecil itu dalam dekapannya. Emrick mengelus pelan punggung Falla. biarkan wanita ini menangis sampai puas.


Di samping itu, Gyan sampai di pelabuhan. Dia menyewa sebuah kapal yang tidak terlalu besar dengan harga sewa yang tinggi. Karena kapal ini tidak akan lagi kembali.


" tuan, anda mau kemana?"


" ke Samudra Chantara"


" itu, itu jauh sekali tuan. saya.."


kalimat itu langsung terhenti saat Gyan mengeluarkan harga dari sewanya.


" kau turunlah, biar aku sendiri yang akan pergi"


" baik tuan" pemilik perahu begitu senang, harga sewa kapal nya hampir menyamai harga jual kapal. Dia untung besar.


Gyan menarik jangkar dan langsung berangkat melajukan kapal. perjalanannya cukup panjang untuk bisa sampai di Mystick.


......................................


Hari ini Emrick tidak datang ke istana. Dia menemani Falla di dalam kamarnya. Wanita itu tertidur karena kelelahan menangis. Emrick sangat kasihan pada istrinya.


" kau berikan aku kain dan seember air hangat" ucap Emrick pelan pada pelayan Falla.


Tubuh Falla sedikit hangat serta beberapa bulir keringat terlihat membasahi wajah dan leher Falla.


" ini yang mulia" meletakkan pesanan Emrick di tepi ranjang. Falla terbaring di ranjang dengan nafas teratur.


Emrick mengambil kain itu dan membasahinya, mengelap wajah Falla dan leher wanita itu agar tidak basah karena keringat.


Emrick terus di samping Falla sampai hari menjelang siang. wanita itu terbangun dan menemukan Emrick duduk di tepi ranjang sambil membaca laporan.


" eghhj"


Emrick langsung menoleh dan Falla berusaha duduk bersandar di kepala ranjang.


" kau sudah bangun?" Falla mengangguk.


" ini minumlah" , Emrick mengambil tonik yang masih hangat. Falla menerimanya dengan masih setengah sadar.


" kenapa Adipati di sini?"


" kau tak ingat jika sudah menangis dalam pelukan ku sampai tertidur?"


" maafkan saya"


" tak usah minta maaf, aku senang kau mau berbagi duka denganku" Falla terdiam.


" sudah jangan di tangis i lagi. nanti kau sakit karena terlalu banyak menangis" pesan Emrick lemah lembut. Falla mengangguk pelan.


" ayo makanlah dulu. biar tubuhmu tidak lemas" Emrick memapah Falla duduk di meja makan. Menemani istirnya makan dengan sangat sabar. Falla tak banyak bicara, makanan itu habis lalu Emrick pamit kembali ke kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2