
Semburat kemerahan mulai menghiasi langit di ujung malam. Fajar mulai terlihat, pertanda mentari bersiap naik. Setelah semua kekacauan itu, kini Valmira berada di istana dengan bayi G yang menangis dalam pelukannya. Seakan tau jika ibunya nyaris tewas melawan penjahat kerajaan. Wanita itu sangat bersyukur semua masalah sihir hitam ini benar-benar selesai. Dan putranya tidak mengalami hal buruk apapun.
" maafkan ibu, G" ucap Valmira sambil menciumi pipi putranya.
tap tap tap
" putri, penjahat Violet sudah berhasil di temukan" lapor Deon pada Valmira.
" segera ikat dia di depan istana" ucap Valmira setengah marah. Wanita itu adalah sumber dari semua masalah yang terjadi.
" baik putri" ucap Deon dan langsung pergi. Lelaki itu sama dendamnya dengan Valmira. Saat tau tuan Kangta yang dia kagumi terluka cukup parah akibat boneka sihir milik wanita jahat ini. Deon akan bersumpah akan membuat wanita iblis ini menderita sebelum menemui kematiannya.
Saat ini Kangta sudah mendapatkan penanganan, tubuhnya pulih dengan cukup cepat. Energi dari Valmira sangat membantu pemulihan tenaga dalamnya. Tinggal luka luarnya yang dengan mudah di tangani tabib.
" lepaskan aku! kalian akan menerima balasan dariku, " teriak Violet tak terima dengan perlakuan kasar pada prajurit.
" jangan banyak bicara! kau pantas menerima semua ini" balas prajurit dengan nada tinggi. Mereka dengan kasarnya mengikat kedua tangan Violet pada tiang di halaman depan istana luar. Semua mata menatapnya dengan penuh marah dan merendahkan. Jika bukan karena perintah Valmira yang meminta agar menjaga keamanan Violet sesaat mungkin saat ini wanita itu sudah tak berbentuk akibat amukan rakyat Mystick.
" bagaimana keadaanya?" tanya Valmira pada tabib yang menangani Kangta.
" tuan Kangta baik-baik saja, mungkin beberapa lama lagi bisa sadar kembali" jawab tabib itu begitu melegakan Valmira.
" putri sebaiknya anda beristirahat untuk memulihkan diri. pertarungan panjang malam ini pasti membuat putri kelelahan " nasehat tabib yang merasa simpati.
" baiklah, kau urus dia" Valmira mengangguk dan pergi ke kamarnya.
Valmira tetap setia menggendong G, dia tidak membiarkan pelayan menggantikannya mengasuh G. sampai wanita itu akhirnya terlelap dalam keadaan duduk setelah menyusui G.
Waktu bergulir, hari semakin siang Valmira baru saja selesai membersihkan dirinya tak kala Deon mencarinya.
" putri, tuan Kangta sudah sadar"
" baiklah aku akan kesana"
" tuan Kangta langsung menemui penjahat Violet di halaman"
__ADS_1
Valmira mengerutkan keningnya, kenapa lelaki itu memaksakan diri menemui wanita itu.
" apa dia tidak mengatakan sesuatu?"
" tidak putri, tuan Kangta terlihat begitu panik dan langsung menanyakan keadaan Violet" jawab Deon semakin membuat Valmira bingung.
" suruh dia segera menemuiku" ucap Valmira ingin menanyakan langsung pada Kangta.
" baik putri"
Valmira menggendong Bayi G menuju aula pertemuan yang beberapa bagian sudah di perbaiki secara mendadak.
tap tap tap
langkah kaki tak teratur terdengar memasuki ruangan.
" putri" ucap Kangta dengan Deon yang berada di belakangnya.
" ku dengar begitu sadar kau langsung menemui Violet?" tanya Valmira tanpa basa basi.
" memangnya tubuhmu sudah pulih?" tanya Valmira dengan nada perhatian. Bukan masalah pertemuan dengan Violet yang membuat Valmira kesal. melainkan karena Kangta seakan menyepelekan keadaan dirinya dengan memaksakan diri. Padahal berjalan saja harus di bantu Deon.
" tubuh saya lebih baik setelah menerima energi dari putri" jawab Kangta sedikit menyanjung Valmira.
" memangnya hal mendesak apa yang membuatmu pergi menemui Violet?"
" saya hanya ingin memastikan beberapa hal" jawab Kangta tak berterus terang.
" apa itu?" Valmira terus mengejar.
" saya hanya menakutkan beberapa hal saja bukan sesuatu yang penting" jawab Kangta tetap tak ingin mengatakannya.
" baiklah, lebih baik kau beristirahat. lagi pula aku akan segara mengeksekusinya hari ini. jadi kau jangan khawatir" balas Valmira.
" jangan terburu-buru Putri"
__ADS_1
" apa maksudmu dengan terburu-buru, keadaan sudah sangat kacau akibat ulahnya. Jika tidak segera menghukumnya mau menunggu apa lagi?" tanya Valmira sedikit meninggi, dia masih ingat betul bagaimana putranya di gendong asal oleh wanita iblis itu bahkan sempat mengancam nyawanya.
" putri tahan amarah dulu. saya hanya tidak ingin ada hal yang terlewat dari pengawasan saja. Jika memang putri sudah yakin maka saya tidak bisa melarang" Kangta memberikan penjelasan yang malah membuat Valmira tak mengerti. Kali ini dia berbeda pendapat dengan lelaki tua itu.
" keputusanku sudah bulat. Hari ini juga hukuman pada Violet akan segera di laksanakan" ucap Valmira yakin.
" kami semua akan menerima semua keputusan putri" jawab Kangta.
" ada hal lain yang ingin aku tanyakan padamu" tanya Valmira sambil memberikan isyarat agar yang lain untuk pergi sejenak.
" hal apa itu?"
" darimana kau tau mengenai energi tabir pelindung yang bisa aku gunakan?" Valmira berulang kali memikirkannya tapi tidak bisa menjelaskan bagaimana bisa ada orang luar yang mengatakan hal yang dia saja masih meragukannya.
" saya hanya menebak saja" jawaban Kangta terdengar asal.
" kau ingin aku mempercayainya?"
" dari semua tabir pelindung memang hanya tabir Marilla yang terkenal paling hebat dan tak bisa ditembus. Tapi semua tabir yang pernah ada memang bisa di gunakan kembali oleh pembuatnya"
" tabir pelindung ini milik Ratu Marilla, kau tau itu"
" tabir bisa merasakan aura pemiliknya, tentu saja selain seseorang yang memiliki kesamaan aura dengan pemiliknya tidak akan bisa mengubah dan mengambil tabir. Ini hanya pengetahuan umum saja, putri jangan berfikir terlalu berlebihan" jelas Kangta dengan wajah sedikit menunduk.
" sepertinya pengetahuanmu cukup banyak." balas Valmira sarkas. dia merasa semua penjelasan Kangta hanya bernilai normatif saja. Lelaki itu tidak benar-benar menjawab pertanyaannya.
" terimakasih atas pujiannya,"
" baiklah, kau istirahatlah dulu" ucap Valmira mengakhiri perbincangan.
setelah kepergian Kangta, Valmira sedikit gusar. Apa maksud dari perkataan Kangta. Serta alasan Kangta menemui Violet juga belum jelas.
Kangta berjalan menuju ruang pengobatan dengan hati yang merasa bersalah. Bukannya dia ingin menutupi sesuatu dari Valmira, tapi dia juga belum bisa memastikan hal ini.
Pengumuman eksekusi Violet di sambut senang oleh semua orang, apalagi hukuman Violet masih sama. Semua orang bisa ikut dalam proses eksekusi Violet. saat sore nanti adalah waktu yang di sepakati sebagai waktu mulainya hukuman.
__ADS_1