
Setelah memberikan hukuman pada Ratunya, Gyan kini menatap laporan yang sudah menumpuk tinggi. Sudah berhari-hari tidak dia sentuh membuat beberapa masalah terbengkalai. Rasanya lelaki itu tidak memiliki mood yang bagus untuk memeriksa mereka. Semua perhatiannya terkuras pada permasalahan Alora.
" yang mulia, makan siang sudah kami siapkan " ucap pelayan dapur beberapa kali. Bukannya Gyan tidak lapar tapi lelaki itu masih terasa kenyang meski sejak semalam belum makan.
" em" Gyan hanya berdehem sebagai jawabannya.
Melihat tumpukan laporan membuatnya jengah akhirnya Gyan memilih untuk menuju meja makan. Dia harus mendapatkan asupan makanan agar tenaganya terjaga.
Gyan duduk dan segera mengambil daging bakar yang tercium sangat lezat. Sayangnya belum juga sampai di mulutnya istananya di kejutkan dengan kedatangan seekor burung elang yang terbang mengambil dagingnya.
Gyan begitu terkejut sampai kemudian dia sadar jika burung itu mempunyai pemilik.
" Kangta!" teriak Gyan. Dia tertipu dan sadar jika selama ini menjadi tontonan lelaki tua itu.
" apa ?" Kangta sudah ada di belakangnya menikmati daging bakar itu.
" berani memantau ku?" desis Gyan.
" aku tidak berniat begitu. kau saja terlalu misterius" ucap Kangta lalu duduk di meja makan tanpa rasa bersalah.
" apa aku perlu mengatakan mengenai selendang itu?" tanya Kangta membuat Gyan yang awalnya kesal menjadi lunak seketika. Ini hal yang dia juga cari sejak kemarin.
__ADS_1
" kau tau siapa pemiliknya?" tanya Gyan cepat dengan wajah berbinar.
" aku tidak tau siapa pemiliknya" jawab Kangta enteng. Sambil mulutnya terus mengunyah.
" lalu apa ?" Gyan kembali kesal.
" aku hanya tau asal dan siapa yang mungkin biasa menggunakan selendang seperti itu"
" jelaskan padaku"
" em, nanti dulu setelah aku menghabiskan makananku" Kangta terlihat sibuk menghabiskan makanannya, dia seperti tidak makan dalam beberapa hari.
" kau ini, katakan sekarang. aku akan menambah makanannya" tawar Gyan, dia ingin segera mengetahui asal muasal selendang yang dia temukan itu.
" baik" jawab Gyan langsung tanpa perlu berfikir.
" baiklah" Kangta menghentikan makannya dan menatap Gyan serius.
" selendang itu berasal dari selatan padang pasir. Kaum Tyan terbiasa menggunakan selendang seperti itu untuk pakaian sehari-hari. Selain mencolok selendang lebar akan melindungi mereka dari terpaan badai pasir" jelas Kangta membuat Gyan puas. Kini tinggal menyiapkan pasukan untuk pergi kesana.
" kau yakin?" tanya Gyan memastikan dulu, takutnya Kangta sedang ingin mengujinya.
__ADS_1
" kaulah raja Garamantian. seharusnya kau yang lebih tau seluk beluk penduduk disini" cemooh Kangta.
Gyan malas menanggapi karena lebih dulu malu, dia akhirnya berdiri dan membiarkan Kangta makan sepuasnya.
Langit mulai sore tak kala Aden menginjak istana raja. Lelaki itu bergegas masuk dan menemui yang mulia.
" ah, Kangta maafkan saya" ucap Adem kaget melihat kehadiran Kangta di ruang baca. Lelaki itu tampak bersantai duduk sambil membaca buku.
" kau mencari Gyan,? dia ada di jendela menara" jawab Kangta tanpa perlu di tanya.
" terimakasih" Aden langsung pergi ke tempat yang di maksud, lelaki itu sudah hafal dengan tempat favorit junjungannya itu.
" yang mulia" ucap Aden saat melihat Raja.
" bagaimana?" tanya Gyan cepat sambil membalikkan badannya.
" kami sudah menemukan kemungkinan lokasinya, Ada kaum Tyan di Selatan padang pasir dan merupakan pemukiman terdekat dari hitam kurma" jelas Aden. Berita ini hampir sama dengan informasi yang Kangta sampaikan padanya tadi.
" berapa besar kemungkinannya? apa kalian sudah masuk ke sana?" tanya Gyan lagi.
" paling tinggi dari 4 tempat lainnya. Saat ini sebagian kelompok sudah masuk ke sana untuk memberikan informasi situasinya"
__ADS_1
" tidak perlu kita langsung pergi saja kesana" ucap Gyan yakin. Jika benar apa yang Kangta katakan sudah pasti Valmira berada di sana.