
Valmira mengejapkan matanya pelan, dia tertidur di samping G. Tapi dia merasakan ada sesuatu yang berat menempel di pinggang dan perutnya. Tak hanya itu ada hembusan nafas yang menerpa tengkuknya.
Valmira membalikkan badan pelan, dan tak perlu ditanya semua gangguan itu berasal dari sosok Gyan yang tertidur di belakangnya.
Valmira menatap wajah damai itu, dalam ingatannya Gyan adalah lelaki yang tangguh dan tak terkalahkan. Sangat berbeda dengan yang sekarang, Gyan terlihat lemah dan sakit-sakitan. kini Valmira bisa menebak jika gambaran orang yang sedih dan tidak memiliki harapan hidup yang dia lihat saat berkomunikasi dengan elang Kangta adalah Gyan yang sedang merindukan dirinya. Rasa kehilangan akibat kematiannya begitu menyiksa lelaki itu. Valmira sangat kasihan pada hidup Gyan.
" aku akan mencoba membantu" lirih Valmira.
wanita itu menempelkan tangannya di dada Gyan dan mulai menyalurkan energi putih dalam tubuh Gyan. Berharap kutukan Shana bisa memudar.
Tak lupa Valmira juga memasukkan mutiara bersinar dari Sereia pada tubuh Gyan. Meski tidak dapat mengusir ataupun menangkal kutukan tapi harta lautan ini cukup bisa di andalkan untuk mengusir aura gelap dalam tubuh Gyan.
Setelah semuanya selesai, Valmira kembali tidur dengan memeluk Gyan.
Pagi harinya, Gyan bangun lebih awal. Dia begitu senang saat mendapati Valmira tidur sambil memeluk tubuhnya. Tak hanya itu, G yang ada di sebrang sana juga ternyata sudah bangun dan kini tengah bermain-main dengan tangannya.
Gyan mencium kening Valmira singkat dan menyingkirkan tangan wanita itu. Dia akan menggendong G agar tidur Valmira tidak terganggu.
" yang mulia " sanjung Aden dan Deon yang sudah berada di ruang tengah istana.
" kebetulan kalian berada disini, kalian ajak G berjemur sinar matahari pagi di taman istana"
" baik yang mulia" jawab mereka dan mengambil alih G dari gendongan Gyan.
Sedangkan Gyan sengaja kembali ke kamar sambil melanjutkan tidur memeluk Valmira. Sayangnya mendadak Valmira memunggunginya.
" em, bukankah kau tadi sudah bangun?" gumam Valmira dengan suara serak khas orang bangun tidur. matanya masih terpejam mencari kenyamanan posisi.
" kau sudah bangun?" tanya Gyan pelan dan memeluk Valmira dari belakang.
" heum" gumam Valmira melanjutkan tidur. Semalam G sering meminta susu jadi Valmira bergadang sendirian.
Gyan semakin mengetatkan pelukannya dan menciumi leher Valmira.
" eu eum" Valmira menolak halus, dia tidak mau di ganggu. Matanya masih sangat mengantuk.
Gyan tersenyum senang dan langsung melanjutkan tidur juga.
Hari beranjak semakin siang, Aden dan Deon sudah berkali-kali mondar mandir di depan kamar Gyan. tapi orang yang mereka tunggu tetap tidak keluar.
" bagaimana?" tanya Aden yang menggendong G pada Deon yang baru saja kembali.
" yang mulia belum bangun, aku tidak berani mengetuk pintu. Takutnya mengganggu mereka" jawab Deon.
" lalu G bagaimana? dia terlihat lapar setelah mandi pagi"
" aku juga tak tau harus bagaimana,"
" kau beranikan diri mengetuk pintu, aku yakin baik yang mulai Raja ataupun Ratu pasti memaklumi. Mereka tidak akan menghukummu"
" kalau begitu kau saja yang mengetuk dan aku yang menggendong G"
" tidak usah, G udah sangat nyaman dalam gendongan ku. Kau saja yang pergi"
" tidak kau yang memberikan ide itu, jadi sebaiknya kaulah yang pergi"
__ADS_1
" tidak, kau saja. Cepatlah pergi" ucap Aden kekeh.
" apa yang kalian ributkan?" tanya Gyan yang entah dari mana sudah berada di sana.
" yang mulia. maafkan kami"
" apa yang terjadi?"
" em, tadi G terlihat kelaparan jadi kami ingin memberikannya kepada yang mulia"
" yasudah berikan padaku" Gyan mengulurkan tangannya dengan raut wajah setengah kesal. Kedua bawahannya begitu menganggunya. Jika bukan karena permintaan Valmira yang menyuruhnya pergi melihat karena mendengar suara keributan, mungkin Gyan masih bergulung dalam pelukan Valmira.
" maafkan kami yang mulia"
" emm, kalian pergilah dulu" Gyan berjalan menuju kamar. Dia masuk sambil membawa G dalam gendongannya.
" apa yang terjadi?" tanya Valmira yang sudah dalam posisi duduk di ranjang.
" tidak ada, aku meminta G dari Aden, aku pikir dia pasti kelaparan jika terus diluar"
" em berikan padaku. Dia memang waktunya makan" Valmira mengambil alih G, seakan tau bayi itu langsung terbangun dari tidurnya dan mulai menangis.
" oh sayang...kau lapar ya" Valmira menimang G.
" kau tidak keluar?" tanya Valmira pada Gyan yang berdiri di depannya.
" aku ingin melihat dia..."
" keluar Gyan" ucap Valmira tegas.
" iya baiklah" jawab Gyan lemah dan berjalan keluar dengan berat hati.
" yang mulia ada pergerakan aneh dari penjahat Shana, wanita itu sedang melakukan penggalian pada beberapa tempat di kerajaan" jelas Aden
" penggalian?"
" iya yang mulia, ada sekitar 3 tempat yang digunakan dalam penggalian ini"
" tempat apa saja?"
" area pemujaan, halaman istana belakang serta di kawasan yang dekat dengan penjara kerajaan"
" ini bukan hal yang wajar dilakukan. Shana tidak mungkin mengambil keputusan jika bukan karena ingin membalas dendam. wanita itu pasti sedang mencari sesuatu" lirih Gyan
" apa mereka tidak bisa menemukan alasan penggalian ini dilakukan?" lanjut Gyan
" kami masih mendalami, dan terus melakukan pengintaian"
" jangan lupa, Kau beritahu Kangta mengenai hal ini, aku memiliki firasat jika ini bukan penggalian biasa"
" baik yang mulia"
Sedangkan seseorang yang sedang mereka perbincangan saat ini sedang duduk di balkon istana Raja. Dia melihat dari atas proses penggalian yang hari ini dilakukan langsung pada 3 tempat.
Shana sangat yakin jika keberadaan Giok tersebut pasti ada di salah satu tempat itu.
__ADS_1
" yang mulia, kami tidak menemukan apapun di ruang persembahan" ucap salah satu prajurit penggalian.
" perluas area penggalian, ceri dengan teliti"
" baik yang mulia"
Shana memulai penggalian saat pagi buta, siang ini termasuk setengah dari pengerjaan. sementara hanya dari area persembahan yang melapor. 2 tempat lainnya belum memberikan laporan.
" kau pergilah berkeliling" perintah Shana pada Raja Glorantha. Lelaki itu sengaja di bawa oleh Shana ke Prysona, mulai sekarang dia adalah bawahannya.
" baik yang mulia" jawab Raja Glorantha lalu turun ke bawah memantau pengerjaan penggalian. Dia sudah tau apa yang Shana cari.
Hari terus berlanjut sore, tapi belum ada laporan penemuan yang masuk. Shana tiba-tiba gusar.
" sebenarnya apa yang mereka lakukan?" tanya Shanan marah pada Raja Glorantha.
" ampun yang mulia, mereka sudah melakukan semua nya sesuai dengan instruksi anda. Namun memang tidak menemukan apapun"
" kalau begitu coba lebih dalam lagi, mereka tidak boleh beristirahat sampai nereka menemukan barang yang aku cari" ancam Shana membuat Raja Glorantha menelan ludahnya kasar. Diantara pekerja itu ada sebagian berasal dari prajurit Glorantha. Hal ini semakin membuat Raja Glorantha khawatir akan keselamatan prajuritnya.
Malam harinya Kangta pergi menemui Gyan, dia sudah mendengar masalah penggalian itu.
" yang mulia" disana sudah ada Gyan dan Valmira. Wanita itu tidak sengaja mendengar saat Aden memberikan laporan jadi meminta ikut dalam misi.
" kau sudah mendengar tentang penggalian yang di lakukan Shana?"
" Aden sudah menjelaskan semuanya padaku, inilah alasannya aku datang kemari"
" kita terlalu mengulur waktu, lebih baik kita serang saja wanita itu" potong Valmira menggebu.
" tapi yang mulia, kita tidak tau apa yang penjahat Shana rencanakan"
" selama kita bisa menemukan keberadaanya, kita bisa langsung mengeksekusinya"
Gyan dan Kangta saling melempar pandangan, sebenarnya saran dari Valmira memanglah sangat bagus. Tapi keduanya sama-sama tidak tega menyuruh Valmira melakukannya. Karena mereka menyadari jika energi mereka tidak bisa membantu banyak. khawatirnya Valmira malah berjuang sendirian, tentu saja ini sangat beresiko.
" tapi yang mulai, Keadaan Prysona sedang sangat tidak bisa di prediksi. Kabarnya kerajaan Glorantha dan Avantazia ikut membantu pengamanan Kerajaan"
" jangan putus asa, sebaiknya kita jangan terlalu banyak pertimbangan"
Gyan dan Kangta mengangguk mengerti.
" saya berfikir apa mungkin penjahat Shana sedang mencari sesuatu yang berkaitan dengan meningkatkan energi. wanita itu begitu terobsesi untuk menjadi kuat tak tertandingi"
" memangnya apa yang dia cari dari penggalian itu?" tanya Gyan.
" apa dia sedang menyusun rencana untuk menggunakan mayat untuk menjadi pasukan sihir?"
" itu bisa terjadi"
" kita tidak bisa menundanya lagi. Besok kita harus pergi dan membunuh wanita itu"
" tunggu jangan gegabah" cegah Gyan. A
" aku rasa ini bukan tindakan yang gegabah, kondisi penjahat itu sedang lemah terkena serangan dariku. Aku bisa melawannya sendiri jika kalian tetap ragu"
__ADS_1
" tidak bisa, kita lawan bersama. kalau begitu Kita akan membuat strategi kecil untuk menyerangnya besok malam"
" itu lebih baik, tidak perlu menunda lagi. Aku yakin wanita itu akan mudah di kalahkan" ucap Valmira dengan sangat yakin.