Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan

Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan
Tidak Beres


__ADS_3

Gyan setengah berlari menghampiri ranjang Valmira. melihat selirnya yang nampak tidak berdaya terbaring di sana membuat rasa cemasnya meningkat.


Gyan duduk di tepi ranjang lalu menyentuh wajah Valmira pelan.


" Alora, kau bisa mendengarku?" panggil Gyan pelan. Dia memang berniat membuat wanita itu terbangun. Lelaki itu begitu cemas jika sampai Alora tidak bisa membuka matanya sekarang. Mau bagaimanapun caranya, Valmira harus membuka matanya.


" Alora," panggil Gyan lagi. Sambil menggoyangkan tubuh wanita itu.


namun tetap saja tidak ada sautan. Gyan semakin cemas. Gyan memikirkan cara lain agar bisa membuat wanita itu terbangun.


Gyan berdiri dan memberikan energinya,


" Alora" bisik Gyan pada dirinya sendiri.


" Al... Alvaro" cicit Valmira yang bisa di dengar jelas oleh Gyan. Seketika Gyan terhenti. Nama itu adalah jenis nama untuk laki-laki. Tapi bagaimana bisa Alora memanggil nama laki-laki lain.


" Tidak, jangan. Bibi!" teriak Valmira dan dia terbangun dengan nafas tersengal. Valmira terduduk di ranjang dengan pandangan masih fokus kedepan. Wanita itu tidak menyadari kehadiran Gyan disana.

__ADS_1


Gyan mengerutkan keningnya. Sepertinya Valmira sedang memimpikan atau mengingat keluarganya. Gyan hanya bisa berfikir positif agar emosinya tidak meluap.


" Alora, kau kenapa?" tanya Gyan yang duduk di samping Valmira.


" Al, " panggil Valmira.


ingatan Wanita itu mulai kacau kembali. sebagaimana saat dia kehilangan kekuatannya. Saat kekuatan dan energinya mulai kembali ingatan yang selama ini dia dapatkan akan terlupakan sedikit demi sedikit.


" Al? siapa dia?" tanya Gyan yang masih menahan diri.


" Alvaro siapa? ayahmu? kakakmu?" Gyan terus mencerca Valmira dengan pertanyaan siapa pemilik nama itu. Gyan masih berfikir positif bahwa lelaki itu adalah keluarganya yang sudah lama tidak bertemu.


" selamatkan bibiku" Valmira masih memegang kepalanya dan matanya tertutup. Dia mengingat wanita yang merintih di atas tebing.


" katakan dengan jelas" Gyan tidak mengerti.


Lelaki itu mengamati Valmira dengan seksama. tangan itu mencengkram kuat kepala. Gyan melihat gelang yang dia berikan seakan berubah dan berganti-ganti warna. putih dan biru muda terus bergerak seakan ombak di lautan. Gyan bisa menilai jika pusaka ini mendadak memiliki energi yang berlipat ganda. Ini sangat aneh.

__ADS_1


" Alora, kau kenapa?" Gyan tidak tau harus melakukan apa.


" bibi, mereka membunuh bibiku" ucap Valmira lagi.


" cepat, bantu kami. tolong lah kami, hiks, hiks" lanjut Valmira dengan kilasan masa lalu yang mulai menghilang.


" jelaskan padaku?" Gyan mulai mengalirkan sihir. dia ingin tau apa yang menganggu dalam pikiran Valmira.


" akkk" teriak Valmira. Tubuhnya langsung menolak energi dari Gyan.


" Bagaimana bisa?" Gyan tidak percaya. Tubuh selirnya memiliki energi sihir dengan jumlah yang banyak. Lelaki itu melihat beberapa helai rambut Alora memutih sekilas. tangan wanita itu mengeluarkan cahaya putih kebiruan. Sama persis seperti yang pernah dia lihat dulu.


Dari sini Gyan bisa menilai jika selirnya sedang menghadapi kesulitan dengan ingatannya. Gyan kembali mengalirkan energinya, dia menyentuh kepala Valmira membuatnya agar lebih tenang. Lelaki itu tidak tega melihat selirnya kesakitan seperti ini.


Ruangan kamar mendadak dingin, nafas Valmira juga semakin teratur. cekalan tangan Valmira mulai melemah. Gyan berhasil menenangkan wanita itu.


perlahan tubuh Valmira melemas dan kini terbaring kembali dengan mata yang tertutup.

__ADS_1


__ADS_2