
Emrick berjalan menuju balkon gedung pos perbatasan. Di tangannya ada busur beserta anak panah. lelaki itu baru saja mengatakan pada penjaga agar menyusul dan membebaskan para tahanan.
Semua penjaga dengan keras menentang, ini masalah pemerintah sejak lama. Mereka memerangi bandit dari awal ada sampai sekarang masih belum tuntas.
" yang mulia, pemimpin Rogue sudah mengatakan untuk menghukum mati jika berhasil menangkap bandit. kenapa ini malah..."
" sudah turuti ucapan ku" ucap Emrick tegas. Dia tak mau berdebat. pikiran dan hatinya sudah sakit.
Dan di sini lah Emrick berada. Lelaki itu bisa melihat jelas bagian depan pos. Di sana ada Kantata dan satu orang lain yang sedang menunggu Falla.
ingin rasanya Emrick menarik busur ini dan melepaskannya ke arah Kantata. Tapi dia masih waras. dia tidak akan mengecewakan Raja Gyan. Dia akan melindungi penduduk Garamantian di sini.
" terimakasih tuan..terimakasih kasih " terlihat para bandit sudah keluar dari pos. mereka bersalaman dengan Kantata dan kawannya.
Di sana juga ada Falla yang tersenyum senang melihat tahanan itu di bebaskan.
Emrick mulai aksinya, dia menarik sebuah anak panah. sudut bibirnya tertarik, lelaki itu menyeringai menatap kawanan bandit yang sedang bersandiwara.
crs .jleb...
" akkk" satu sasaran berhasil dia lumpuhkan. Tembakkan panah itu mengenai jantung bandit dari arah belakang.
Emrick memang lihai menggunakan senjata tajam dan berbagai alat lainnya.
semua menatap ke arah Emrick, tak terkecuali Falla. Wanita itu membelalakkan matanya tak percaya dengan apa yang dia lihat.
bagaimana Emrick begitu keji membunuh rakyatnya di depan matanya sendiri.
crs.. jleb .
" akk" satu sasaran lagi.
Emrick tertawa di atas sana.
" Emrick hentikan!" teriak Falla.
sedangkan para bandit itu ketakutan, mereka pasti akan mati.
" tidak" jawab Emrick tegas. lelaki itu mengambil satu anak panah lagi.
ccrrsa. ..jleb..
satu sasaran bersembunyi di belakang Kantata. Emrick berhasil membunuhnya tapi dia sengaja menggoreskan anak panahnya di telinga Kantata yang kini sedikit berdarah.
" Emrick,! aku peringat kau!" Falla merentangkan tangannya dan menjadikan tubuhnya sebagai tameng untuk menghalau anak panah Emrick.
Emrick menurunkan busur, hal ini di baca oleh para bandit mereka tau jika wanita di depannya adalah kelemahan Adipati.
Dengan cepat salah seorang mengambil pisau dari saku Kantata dan meletakkan di leher Falla.
" kau tarik lagi busur itu, wanita ini akan mati" ucap bandit dan semua rekannya yang tersisa segera menyandra Kantata dan lelaki satunya.
Falla menurunkan tangannya, sambil tidak percaya dengan apa yang terjadi. Dia di jadikan tawanan oleh warganya sendiri. Ini tidak mungkin.
" lepaskan mereka" ucap Emrick dengan nada malas. Ini hanya membuang waktu.
" turunkan senjata mu, Emrick sialan" jawab bandit itu.
Emrick berdiri di sana dengan tertawa riang. Dia dan para bandit sudah menjadi musuh bebuyutan. jika bertemu salah satu dari mereka harus mati.
brak
Emrick melompat dari lantai 2 dan kini berdiri di hadapan mereka.
" lepaskan mereka atau kau akan ke neraka lebih cepat?"
" jangan mengoceh, kau tidak akan bisa. beberapa anak buah ku sudah berhasil masuk. mereka akan membalas Kematianku"
" percaya diri sekali. aku bahkan bisa bertaruh saat kau mati, yang lain pasti akan kabur"
" sialan kau!"
Falla sangat ketakutan, ini mengingatkannya akan kejadian ibu suri meninggal. sangat menakutkan.
Emrick bisa melihat raut Falla yang berkeringat serta tangan wanita itu yang bergetar. istrinya ketakutan.
ccrssshh... jleb..
satu pisau langsung menancap di kening bandit yang menyandra Falla. wanita itu langsung terduduk,
Emrick segera mendekat.
" tidak" lirih Falla melihat mayat itu seakan adalah ibunda nya. Falla menutup kedua telinga nya erat.
sedangkan sisa bandit lainnya langsung di ringkus kembali oleh penjaga perbatasan dengan cepat.
" Falla.." panggil Emrick. tubuh itu semakin gemetar dan mendadak pingsan. untung saja Emrick bertindak cepat, dia memeluk tubuh Falla dan segera menggendong nya dan memindahkan ke tempat yang aman.
Malam sangat sunyi di kediaman Emrick. Tak ada suara selain dari binatang malam. Falla terbangun dari pingsannya menatap sekeliling. Dia sudah berasa di kamar.
" eeghh" wanita itu beranjak duduk dan mulai mengatur nafasnya. Dia mengingat kembali kejadian sebelumnya. Semuanya salahnya. Dia sudah melakukan kesalahan besar, terutama pada Emrick. Dia dengan kejamnya sudah menunduk lelaki itu sesuatu yang tidak berdasar.
" nyonya anda sudah sadar." pelayan masuk membawakan ramuan.
" dimana Adipati?"
" yang mulia masih belum kembali"
Falla tak mau percaya, wanita itu berjalan keluar.
" nyonya..."pelayan itu langsung panik. nyonya nya masih belum pulih benar.
Falla membuka pintu dan hari sudah sangat malam. hampir dini hari. Wanita itu berjalan cepat menuju kamar Emrick. membuka nya dan tak ada siapapun. Seharusnya dia sudah tau, di depan sana tidak ada pengawal pribadi Emrick.
__ADS_1
Falla terduduk lemas di atas sofa.
" nyonya.. malam sangat dingin" pelayan memberikan jubah penghangat pada tubuh Falla.
" kapan Adipati akan kembali?" lirihnya.
" saya tidak tau nyonya, yang mulia mendapatkan tugas untuk menangkap bandit oleh istana jadi mungkin akan sedikit lama untuk kembali" jawab pelayan itu. Falla menghembuskan nafas kasar, dia harus bagaimana menemui Emrick.
" apa kau tau dimana Adipati berada?"
" tidak nyonya, yang mulia pasti berkeliling Uthaman"
pupus sudah harapan Falla. Dia harus menanggung rasa bersalah ini sampai lelaki itu kembali.
Malam itu Falla menjadi lebih banyak diam, bahkan oleh selir Thalasa menggunakan kesempatan ini untuk menguasai kediaman. Falla tak peduli sama sekali.
Hari berganti hari, minggu berganti minggu. Emrick tak kunjung pulang. setiap hari Falla menunggu di kamar Emrick. membersihkan setiap sudut agar jika lelaki itu datang dia bisa langsung tau.
" nyonya.. waktu sudah malam mari kita kembali" ucap pelayannya.
Falla mengangguk pelan, tubuhnya melemah karena Falla sering melewatkan makan.
sampai pagi harinya terdengar suara ribut yang membuat Falla terbangun.
" ada apa?"
" nyonya.. yang mulia sudah kembali" ucap pelayannya yang baru saja kembali dengan wajah antusias.
" benarkah?" Falla berteriak senang.
wanita itu berlari menuju kamar Adipati. dan langsung masuk ke kamar.
" apa yang terjadi?" tanya Falla pada pengawal pribadi.
" yang mulia terluka karena melawan bandit, nyonya"
Emrick terbaring di atas ranjang, dengan balutan perban di bagian dada dan punggung.
Falla mendekati tubuh Emrick. lelaki itu awalnya menutup mata, tapi karena sentuhan tangan Falla di perutnya.
" maafkan aku..apa sakit?"
" pengawal antar nyonya kembali ke kamar" ucap Emrick. Dia tak mau terlihat lemah di depan istrinya.
Tapi Falla mengartikan jika Emrick masih marah padanya.
" aku akan merawat mu.."
" tidak usah biar selir Thalasa saja"
Falla mengerti dengan kemarahan Emrick, wanita itu mengangguk dengan sedih.
" aku pergi" ucap Falla.
Falla tak ambil hati, pikirannya hanya tertuju pada Emrick.
kini meskipun lelaki itu sudah kembali, tapi Falla tidak bisa menemaninya. Dalam pikirkan nya Emrick pasti sangat membenci nya.
" nyonya, tonik anda"
" letakkan saja"
Falla beberapa hari ini terus di kirimi tonik, entah untuk apa. Dia yang tidak memiliki semangat lagi, malah berbohong jika meminumnya. semua tonik itu di buang ke sebuah pot tanaman. Dia tidak mau sembuh biarkan saja dia sakit seperti, sebagai hukuman karena sudah menyakiti hati Emrick.
bahkan pelayan pribadinya sudah di ganti oleh selir Thalasa, dia sudah bertanya kenapa tapi tak ada jawaban, dan berakhir dia hanya diam saja. Tak ada hiburan yang dia lakukan selain bersama dengan butin yang sekarang tingginya sudah melebihi dirinya.
" nyonya ada tamu untuk anda"
" baiklah"
Falla berjalan menuju istana depan.
" Kantata, apa ini sudah awal bulan?"
" iya putri, "
" baiklah aku akan mengambil catatannya"
" oh ya,.putri apa Adipati sudah kembali?"
" sudah"
" apa saya boleh bertemu dengan beliau"
" ikutlah denganku"
meski Falla tidak yakin Emrick akan bersedia menerima Kantata tapi setidaknya dia akan mencoba.
" apa yang mulia bisa di temui?" tanya Falla pada pengawal pribadi.
" bisa nyonya, apa tuan Kantata ingin bertemu?"
" iya,"
" silahkan masuk"
Kantata berjalan mengikuti pengawal itu.
" putri tidak masuk?"
" tidak, Adipati sedang tidak ingin bertemu denganku" jawab Falla pelan lalu berjalan menuju kamarnya untuk mengambil catatan, ini akan menjadi terkahir Kalinya mereka membagikan bahan makanan. Para penduduk Garamantian sudah bisa mandiri dan kini Greojen menjadi wilayah perdagangan yang di kenal banyak orang.
" nyonya.." panggil pengawal saat urusan Kantata dan dirinya sudah selesai. Lelaki itu baru saja pergi dari kediaman.
__ADS_1
Falla berniat kembali ke kamar namun di hadang oleh pengawal Adipati.
" iya , ada apa?"
" apa nyonya memiliki waktu sebentar. Saya ingin berbincang dengan anda" Falla merasa heran, tapi mengangguk pelan.
" mari nyonya kita ke sana" tunjuk pengawal itu pada sebuah lorong.
" kenapa nyonya menjauh dari yang mulia?"
" Adipati tidak suka jika berdekatan denganku. terkahir kali kita bertengkar hebat dan mungkin belum bisa memaafkan kesalahanku"
" nyonya salah, yang mulia hanya tidak mau membuat nyonya khawatir dan sedih. yang mulia sebenarnya sangat merindukan anda nyonya"
" tidak, dia pasti membenciku karena sudah meragukannya. Aku memang pantas di benci"
" selama ini yang mulia hanya selalu memikirkan anda. beliau merasa bersalah karena sudah terlalu kasar sehingga membuat anda pingsan"
" benarkah?"
" iya nyonya, sepertinya kalian berdua harus bicara agar tidak salah paham, Dalam hati yang mulia hanya ada anda seorang, nyonya"
" tapi bagaimana dengan gadis kuil dan .. aku pernah mendengar jika Adipati menikahi ku hanya untuk membalas hutang budi. Aku.. aku tidak berharga sama sekali di matanya"
" nyonya pasti salah sangka. yang mulia sangat mencintai anda. Bahkan rela membunuh semua bandit agar tidak lagi menimbulkan masalah lagi di antara kalian. nyonya harus memberanikan diri untuk menemui yang mulia" Falla mencerna semua perkataan pengawal itu dengan baik. Dia harus berbicara dengan Emrick.
Malam harinya dengan memaki jubah karena pakaiannya entah bagaimana menghilang dan hanya menyisakan pakaian tipis di musim dingin seperti ini. Falla berjalan menuju kamar Emrick. Dengan senang pengawal itu membuka pintu, di dalam ada selir Thalasa yang berdiri sambil melihat Emrick mengolesi lukanya.
" Adipati" ucap Falla lembut.
" yang mulia sedang tidak bisa di ganggu nyonya bisa . .."
" ada apa?" tanya Emrick.
" ada hal yang ingin saya bicarakan dengan anda"
Thalasa menatap dengan benci pada Falla.
" selir kau pergilah" usir Emrick. Thalasa ingin sekali membantah tapi tidak. Dia harus menjadi wanita penurut agar di sukai Emrick.
" apa yang ingin kau bicarakan?"
Emrick meletakkan ramuan obat, lelaki itu duduk di tepi ranjang dengan hanya bertelanjang dada. karena posisi lukanya memang di area sana.
srewt
Falla membuka jubah yang membungkus tubuhnya. Emrick terperangah dengan pemandangan di depannya.
Falla hanya mengenakan gaun tipis dari satin hitam. Sangat kontras dengan kulitnya yang putih.
Bukannya menjawab Falla mendekati Emrick. mendadak lelaki itu terserang rasa gugup, jantungnya berdegup kencang.
Falla menunduk dan mengambil ramuan obat dengan tangannya. Emrick hanya diam menyaksikan apa yang dilakukan istrinya.
Falla mengolesi luka Emrick dengan tangannya yang mungil dan lembut itu.
" saya berhutang maaf pada Adipati, sebagai gantinya saya ingin membantu Adipati untuk merawat luka-luka ini " ucap Falla lembur.
sayangnya Emrick tidak bisa mencerna ucapan itu. dia sibuk mengatur nafasnya yang mulai berat. sentuhan Falla sangat berpengaruh pada jantung dan sesuatu di sana.
" kau ingin menebusnya?" tanya Emrick, lelaki itu berdiri dan Falla ikut berdiri.
" bagaimana jika aku ingin kau membayar hutang mu malam ini?".Falla masih terdiam, Emrick bergerak maju dan dia terus mundur. Apa yang salah dengan lelaki ini.
" apa yang Adipati inginkan?"
sreg
Falla melotot saat tali gaunnya di tarik paksa bahkan sampai terbuka menampilkan tubuh putihnya.
" berikan aku seorang pangeran" bisik Emrick lalu menggendong tubuh Falla dan membawanya ke ranjang.
" Adipati kita perlu meluruskan kesalah paham kita"
" aku yakin caraku akan lebih efektif, setelah ini semua kesalahpahaman diantara kita akan sirna"
Falla semakin ketakutan saat manik Emrick terlihat berkabut dan nafas lelaki itu semakin berat. Lelaki itu merangkak di atas tubuhnya.
" Ini.. kita.."
" ssttt tenanglah"
" Adipati.. bagiamana jika..."
Emrick langsung membuat Falla terdiam dengan mulutnya. Lelaki itu mencium Falla sangat dalam. wanita itu jelas gak bisa mengimbangi.
Emrick tak memberi kesempatan Falla untuk mengambil nafas, dia sangat menuntut. Sudah lama sekali dia ingin merasakan lagi bibir manis milik Falla.
" eggh" Falla protes, Emrick berganti pada leher jenjang Falla. Dia meninggalkan banyak bekas seperti dulu.
Emrick seperti orang yang kehausan dan tubuh Falla adalah sumber mata airnya. Falla tak sempat memikirkan apapun saat Emrick mengambil seluruh gaunnya. hanya menyisakan pakaian dalam.
" kau cantik sekali.." bisik Emrick lalu melanjutkan aksinya.
" Adipati..luka anda.." Falla mengingatkan Emrick, jangan sampai lelaki itu kelewatan dan membuat lukanya terbuka.
" meski dengan luka ini, aku masih bisa memuaskan mu" ucap Emrick dan terus menjelajahi tubuh polos itu.
ini adalah pengalaman pertama nya, sayangnya Emrick tak bisa menahan nafsunya. Falla benar-benar kelelahan di buat nya.
wanita itu berulang kali meminta waktu untuk istirahat, tapi Emrick selalu saja memberikan alasan jika akan jadi yang terkahir kali.
Ternyata itu hanya bualan, lelaki itu terus meminta sampai Falla akhirnya menyerah dan mengikuti apapun yang Emrick inginkan dari tubuhnya.
__ADS_1