
Lorong istana terlihat lebih sepi apalagi saat mendekati posisi kamar selir Agung, begitu yang Farfalla rasakan saat ini. Wanita itu tidak mengindahkan nasehat ibundanya. Dia berjalan menuju kamar Alora dengan pelayannya membawa serta satu keranjang buah-buahan. Dia memerlukan alasan yang bagus agar Selir tidak mencurigainya.
" Alora, ada putri Farfalla datang" Fleur mendekati Valmira yang ada di ruang baca.
" baiklah"
" tunggu! apa kau tak ingin menata rambutmu dulu, aku rasa putri Farfalla akan sedikit kaget jika melihat penampilanmu yang seperti ini" ungkap Fleur yang khawatir jika putri Farfalla melihat rambut putih milik Valmira.
" tidak, biarkan saja dia tau"
Fleur terdiam saja melihat Valmira berjalan menuju ruang depan. Wanita itu entah bagaimana seakan sudah pasrah dengan hidupnya. Alora baginya sudah kehilangan semangatnya, dia tidak tau harus melakukan apa agar temannya ini bisa bangkit lagi.
" Selir Agung" sanjung Farfalla sambil berdiri.
" duduklah, ada hal apa membuat putri datang kemari?" tanya Valmira yang sudah duduk di samping Farfalla.
" saya membawakan buah-buahan yang begitu segar untuk selir" jawab Farfalla yang masih belum berani menaikkan pandangannya. dia akan mencari waktu yang pas.
" wah, terimakasih sudah begitu perhatian" jawab Valmira meminta Fleur mengambil keranjang buah dari pelayan putri.
" bagaimana kondisi kakak dan calon keponakanku?"
" seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja"
__ADS_1
pelayan datang membawakan minuman dan cemilan. Ini waktu yang pas, Farfalla melirik kearah rambut Valmira saat wanita itu ikut menata makanan di atas meja.
Farfalla tertegun sesaat, apa yang tersebar di luar ternyata memang benar. kakak iparnya memiliki rambut putih dan seakan menua lebih cepat.
" putri datang hanya ingin memastikan ini? " Valmira dengan jelas memergoki wajah terkejut Farfalla yang menatap rambutnya.
" eh...itu.. maafkan saya selir" Farfalla merasa tidak enak dan bimbang.
" setelah melihatnya apa yang akan putri lakukan?" tanya Valmira semakin membuat Farfalla kebingungan. Bagaimana Valmira masih tenang dan tidak tersinggung sedikitpun saat melihat tingkahnya.
" saya.. entahlah. bagaimana bisa hal itu terjadi. Apa mungkin kau memang seorang penyihir hitam?" cicit Farfalla sambil curi-curi menatap wajah Valmira. Dia jelas sudah keterlaluan sampai menanyakan hal ini. Tapi Farfalla tetaplah Farfalla, wanita muda dengan rasa penasarannya.
" putri tenang saja. Meski rambut ini memang memutih, itu bukan karena kutukan ataupun akibat dari sihir hitam. Saya bukanlah wanita jahat seperti yang orang lain katakan" Valmira mencoba menjelaskan dengan penuh kelembutan, meskipun tak bisa di pungkiri. Hatinya sedikit sakit mendengar langsung tuduhan atas dirinya.
" yang mulia sejak awal sudah mengetahuinya"
Farfalla terdiam, benar kata ibunda. Setelah tau apa yang sebenarnya dia juga tidak tau harus bagaimana. Akhirnya setelah beberapa saat berbincang wanita itu memilih kembali ke kamarnya.
" aku tidak menyangka jika putri datang hanya untuk melihat rambutmu. Dia pasti sudah ke makan kabar di luar" ucap Fleur dengan perasaan sedikit kesal.
" sudah, dia masih baik dengan menanyakan secara langsung. Daripada harus ikut mempercayai begitu saja"
" tapi itu artinya putri selama ini tidak percaya padamu"
__ADS_1
" di dunia ini mana ada orang yang percaya pada orang asing. Baginya aku hanyalah orang asing yang kebetulan menikah dengan kakaknya. Tidak ada istimewanya"
" Alora jangan bicara begitu. Aku dan kamu juga awalnya orang asing, tapi kita dengan mudah bisa saling mempercayai satu sama lain"
Valmira tersenyum tipis mendengar perkataan Fleur. Apa yang wanita itu katakan ada benarnya.
" kita hanya perlu memulai jika ingin percaya pada seseorang" Fleur mengusap lembut kedua tangan Valmira.
......................
" jadi bagaimana? ibu dengar kau kekeh datang ke kamar Selir?"
selepas dari kamar Valmira, putri memilih berdiam diri di istana Harem. Dia belum fokus untuk memulai pelajaran di kamarnya. otaknya masih penuh dengan informasi mengejutkan yang barusaja dia dapatkan.
" entahlah bu, Falla bingung"
" bukankah sudah ibu katakan. Lebih baik tidak usah ikut campur. Biarkan saja kabar itu di tangani oleh Raja" Raveena duduk di samping putrinya yang melamun di samping jendela begitu lama.
" tapi, bagaimana bisa kakak diam saja saat situasi sudah mulai kacau. Kakak biasanya selalu tanggap jika ada masalah serius" Farfalla mengungkapkan apa yang dia bingungkan sejak tadi.
" ibu juga tidak tau. Raja pasti mempunyai alasan hingga tidak membuat keputusan sampai sekarang. Dan kau jangan berniat menemui Raja" Raveena harus menasehati Farfalla lagi. dia tau betul bagaimana sikap Farfalla jika sudah penasaran.
" aku kan menemui Ratu" lirih Farfalla yang sudah memiliki banyak pertanyaan untuk wanita Prysona itu.
__ADS_1