
Pagi ini pertemuan di Aula dilaksankan, para pejabat sudah mempersiapkan beberapa berita untuk di laporkan dan di bahas bersama. Biasanya pertemuan hanya akan membahas seputar keadaan politik kerajaan, sayangnya kali ini berbeda.
" yang mulia, kita sudah lama menyelenggarakan pernikahan dengan kerajaan Prysona, tapi kenapa putri Shana tidak kunjung di resmikan statusnya?" tanya salah seorang pejabat yang memang sudah di atur oleh Shana sebelumnya.
" iya yang mulia, kerajaan Garamantian membutuhkan penerus dari garis penyihir" saut yang lainnya.
" mohon yang mulia segera memberi putri Shana status yang tinggi" saut mereka serempak.
Raja Gyan hanya diam sambil memijit keningnya. Sejak kapan pertemuan kerajaan membahas masalah Harem istananya.
" sudah basa basinya?" tanya Gyan datar. Bukannya tergugah, lelaki itu malah semakin membenci kehadiran putri Shana. Baru sebentar saja, dia sudah bisa mempengaruhi pejabatnya. Wanita itu sangatlah ambisius.
" yang mulia, kali ini saja pikirkan masa depan Garamantian" saut pejabat hasutan Shana.
" memangnya selama ini apa yang aku fikirkan?!" teriak Gyan tidak terima. Aula mendadak sunyi, tidak ada satupun yang berani menjawab. Semuanya mendudukkan kepala, takut terkena amukan.
" apa haah?!" ucap Gyan lagi.
" yang mulia mohon redakan amarah, kami hanya merasa khawatir dan sangat perhatian kepada yang mulia" ucap seorang pejabat yang masih netral. Dia tidak mau masalah ini semakin membesar.
" iya yang mulia, mohon pertimbangan kembali saran dari kami" nampaknya pejabat hasutan itu tidak mau mengalah dan terus menyerang Gyan. Dengan mengatasnamakan perhatian dia lebih cocok seperti menekan penguasa.
" sudahlah biarlah itu menjadi urusanku" jawab Gyan tak ingin memperpanjang masalah. Pertemuan kali ini hanya soal putri Shana, sangat di sayangkan. Padahal masih ada beberapa persoalan yang lebih membutuhkan perhatian Gyan.
Lelaki itu sudah kepalang emosi, dia dengan cepat menutup pertemuan dan pergi ke istanannya.
" semakin hari wanita itu semakin merepotkan saja" kesal Gyan, dia duduk di ruang depan dengan tatapan marah.
" yang mulia jangan terlalu di ambil hati, mereka memang sudah sering seenaknya sendiri bukan?" Aden mencoba menenangkan. Gyan masih mengatur emosinya.
" mungkin kali ini aku akan mengabulkan permintaan mereka" saut Gyan yang malah membuat Aden kebingungan.
" yang mulia yakin?" tanya Aden memastikan.
__ADS_1
" dengan begini semua akan bisa melihat dengan jelas bagaimana perangai asli wanita Itu" jawab yakin, menjadikan putri Shana sebagai Ratu tentunya membuat wanita itu akan menjadi sorotan. tingkah lakunya akan langsung bisa di komentari oleh lainnya. Karena Gyan yakin setelah menjadi Ratu, wanita itu akan melancarkan aksinya, dia tidak akan lama menduduki jabatan itu.
" pemikiran yang mulia, jauh lebih menyeluruh" balas Aden yang baru paham.
" besok panggilkan ibu suri kemari" perintah Gyan langsung.
" baik yang mulia" jawab Aden.
" apa ada laporan dari mata-mata untuk Shana?" tanya Gyan, lelaki itu tempo hari sudah menyuruh Aden untuk menempatkan seorang mata-mata untuk melihat aktivitas Shana di kerajaan.
" tidak ada hal penting selain seringnya pelayan putri keluar masuk kerajaan. Dan juga jumlah pelayan putri Shana semakin hari semakin bertambah. Tapi juga sering terjadi pelayan hilang disana" jelas Aden tanpa menutupi sediktipun.
" kemana hilangnya mereka?" Gyan sedikit tertarik dengan hal janggal ini.
" tidak tau, katanya mereka kabur saat malam hari" jawab Aden.
" ini sangat aneh, tingkatkan kewaspadaan dan cari alasan hilangnya pelayan-pelayan itu" saut Gyan, dia tidak mau kecolongan. Wanita itu sangatlah licik dan semuanya sendiri.
" baik yang mulai" jawab Aden.
" Aneh, tidak ada yang menyebutkan keturunan penyihir yang memimpin kerajaan" gumam Gyan mengerutkan keningnya.
" kerajaan Mystick sangatlah terlindungi, aku harus bisa mencari tau sejarahnya. mungkin saja bisa menguntungkan kerajaan" Gyan mengutarakan keinginannya. Dan itu tidak akan jauh- jauh dari kepentingan kerajaan.
Di sisi lain, Valmira sedang menghabiskan makan malam nya. Semenjak mengonsumsi obat dari tabib nafsu makannya semakin bertambah. Semua yang tersaji selalu habis dengan cepat. Valmira bahkan sering meminta cemilan berat di tengah waktu.
" Selir masih mau menambah makanan?" tanya pelayan penyaji makanan.
" em, boleh, tapi ini saja. Ambilkan aku menu ini lagi" ucap Valmira senang. Dia sangat menyukai makanan berserat dan protein. Valmira selalu meminta lebih untuk hidangan ikan dan buah-buahan.
" baik selir" jawab pelayan setelah membersihkan meja.
" kenapa kau makan banyak sekali, akhir-akhir ini?" tanya Fleur keheranan.
__ADS_1
" entahlah selera makan ku sedang baik, pasti karena ramuan dari ahli obat" jawab Valmira enteng.
" selir, ini makanannya" pelayan itu kembali membawa 2 menu tambahan.
" baiklah, kau bisa pergi" ucap Valmira karena dia ingin berdua saja dengan Fleur. Mereka bisa berbicara dengan santai.
" lagi?" tanya Fleur tak percaya.
" kau bisa sakit perut Alora" Fleur mencoba mengingatkan. Tidak kali ini saja Valmira meminta makanan tambahan. Hampir setiap kali makan wanita itu selalu meminta lebih.
" mau bagaimana lagi, aku masih lapar" jawab Valmira cuek, lalu memulai aktifitas makannya. Fleur menatap dengan tidak percaya. Valmira makan cukup lahap padahal tadi dia sudah menghabiskan satu meja makanan.
" kau seperti orang yang tidak makan berhari-hari" ungkap Fleur, lalu pergi untuk menyiapkan pemandian untuk Valmira.
Valmira tetap menghabiskan makanan itu dengan tenang, dia juga heran dengan dirinya. Meski sudah banyak sekali makanan yang masuk, tapi perutnya tidak merasa kenyang. Masih saja ada tempat kosong untuk bisa menghabiskan makanan tambahan.
Keesokan harinya, seperti yang sudah Gyan katakan. Ibu Suri Raveena kini berjalan menuju istana. Kemarin pelayan istana Raja sudah memberikan pesan jika Raja Gyan menyuruhnya datang hari ini.
" yang Mulia" ucap Raveena saat tau Gyan sudah menunggunya di ruang depan istana.
" duduklah" balas Gyan tanpa melihat Raveena.
" ada apa yang mulia meminta saya datang kemari?"
" kau persiapkan acara peresmian Shana menjadi Ratu" jawab Gyan singkat. Sontak saja mata Raveena melebar tak percaya. Pasalnya yang dia tau , Gyan sama sekali tidak suka dengan wanita itu. Alih-alih mau menikahinya dulu, Gyan harus di paksa dengan berbagai cara agar menyetujuinya. Lalu sekarang dengan wajah yang terlihat yakin dan kesadaran penuh meminta Shana menjadi Ratu. Pasti ada yang tidak beres.
" Ratu,? yang mulia?" tanya Raveena memastikan. Dia tidak mau salah paham dan berkahir mendapat hukuman.
" hem, buat acara yang sederhana dengan para selir saja" jelas Gyan lagi. Dia memang sengaja tidak mau membuat acara besar. Wanita itu perlu mendapatkan pelajaran dari nya sekali-kali.
" baiklah yang mulia, oh ya soal selir Agung, apa dia juga di libatkan dalam acara ini?" tanya Raveena takut. Tapi dia juga ingin memastikan apakah Wanita ini masih mendapat perhatian Raja.
" Jadikan dia sebagai tamu khusus acara itu. Lagipula dialah yang memegang status tertinggi saat ini" jawab Gyan, baginya Selir Alora tidak ada gantinya. Wanita pertama yang dia sentuh dan berhasil membuat trauma nya hilang jika bersamanya, tentu dia mendapatkan tempat khusus di hati Gyan.
__ADS_1
" saya akan melaksanakan sesuai dengan permintaan yang mulia" Raveena menurut saja. Tampaknya selir Alora masih menduduki nomor 1 dalam menarik perhatian Gyan.
" saya pamit undur diri" Raveena segera pergi. Jika sesuai dengan aturan memang tidak ada kewajiban khusus yang harus dilakukan. Membuat peresmian secara besar atau sederhana itu merupakan hak istimewa dari Raja. Nampaknya meskipun menjadi Ratu, Shana tetap bukan tandingan selir Alora.