
" Mari yang mulia kita makan hidangannya" ucap putri Shana yang duduk berdampingan dengan Raja.
" tidak usah" jawab Gyan dingin.
iringan musik dan tari terkadang menyiksa batin lelaki itu. Entah kenapa dia tidak suka dengan pertunjukan seperti ini jika dilakukan terlalu lama.
Shana memberikan kode kepada pelayan pribadinya untuk mengeluarkan sesuatu yang sudah dia siapkan.
" kalau begitu minumlah ini" Shana mengisi gelas Gyan dengan anggur khusus yang sudah dia campuri ramuan perangsang.
" emm" Gyan mengangguk dan tanpa curiga menerimanya. Dia perlu menenangkan diri. Gyan menghabiskannya dengan cepat
" lagi yang mulia?" Shana langsung mengisi tanpa menunggu jawaban. Gyan mengira jika itu hanya air biasa.
Shana tersenyum puas, dia akan membuat Gyan mau menyentuhnya malam ini. Shana sebenarnya tau trauma Gyan yang sulit berdekatan dengan wanita. Tapi Shana terlalu percaya jika hal itu bisa diatasi dengan ramuan cinta miliknya. Dia tidak memikirkan apa yang Gyan rasakan akibat dari efek ramuan itu.
pertunjukan semakin seru saat para penari berganti kostum dengan bahan yang lebih tipis.
Saat inilah tubuh Gyan merasakan keanehan. nafasnya menjadi berat dan tubuhnya terasa lebih panas.
" apa yang kau berikan padaku?" desis Gyan menatap Shana tajam. Wanita itu tidak menjawab, dia ketakutan. Dia tidak menyangka Gyan akan merasakannya secepat ini.
Tanpa menunggu lama, Gyan langsung berdiri dan meninggalkan pesta. Suasana mendadak menjadi dingin, musik dan penari langsung terhenti dan mereka semua berdiri mengiringi kepergian Raja.
" ada apa yang mulia?" tanya Aden khawatir, dia merasa ada yang tidak beres dengan junjungannya.
" wanita itu memberiku ramuan " singkat Gyan, dan Aden langsung mengerti ramuan apa yang di maksud.
" segera siapkan ramuan khusus" perintah Gyan.
" baik yang mulai" Aden langsung memisahkan diri, dia menuju ruangan khusus meramu. Sedang Raja Gyan langsung berjalan menuju istananya.
" dasar wanita licik!" caci Gyan saat baru memasuki kamarnya.
Dia segera melepaskan bajunya dan menuju pemandian.
Valmira masih berada di dalam, dia sendirian karena pelayan wanita tadi dia suruh pergi. wajahnya sangat pucat. membuat Valmira tidak tega.
" siapa kau?!" tanya Gyan saat tau di pemandiannya masih ada pelayan wanita, namun terlihat asing.
" sa..saya pelayan baru yang mulia" jawab Valmira terkejut bercampur takut dan panik.
" pergi dari sini!" usir Gyan. Valmira yang masih menunduk langsung melangkah dia lupa jika di depannya masih ada ember.
braakkk byyuuur. Valmira terjatuh di kolam pemandian dan naasnya di bagian yang terdalam. wanita itu menggapai permukaan dengan dorongan kakinya.
Sedangkan Gyan menahan kekesalan. Ada saja masalah yang terjadi hari ini.
Baru saja Gyan mau pergi, lelaki itu menangkap warna lain yang mengubah airnya. Dia mengira jika itu darah. Raja Gyan segera mendekati kolam, dia juga tidak mau ada seseorang yang mati disini.
" aakkk" teriak Valmira saat kepalanya sampai di permukaan.
Gyan menyaksikannya dengan jelas. Wanita yang tenggelam ini tampak berbeda dari sebelumnya.
Valmira terus berenang menuju ke tepi. Dia sangat takut dengan kemarahan raja sampai di melupakan perubahan dirinya.
__ADS_1
" maafkan saya yang mulia, saya tidak sengaja terjatuh" ucap Valmira bersimpuh meminta ampun.
" kau siapa?" tanya Gyan dengan nada dingin. baru disinilah Valmira tersadar dan semakin ketakutan dengan lunturnya lumpur di tubuhnya.
" ampun yang mulia, saya pelayan..."
" siapa kau?" Gyan langsung menarik wajah Valmira agar bisa dia melihat dengan jelas. lelaki itu mencengkram pipi Valmira kuat.
" berdiri?" ucap Gyan setelah melepaskan tangannya dengan kasar.
" cepat!" teriak Gyan. Valmira perlahan berdiri berhadapan dengan Gyan.
" lihat aku" perintah Gyan selanjutnya. dengan tangan terus bergetar Valmira menaikkan wajahnya.
Gyan melihat dengan seksama. Wanita ini jelas bukan berasal dari Garamantian, dia sangat berbeda dengan kulit putihnya.
Gyan mendekat, Valmira berjalan mundur.
" berhenti" tegas Gyan. lelaki itu menyentuh wajah Valmira, mengusap bibir merah wanita itu dengan ibu jarinya.
Aneh, rasa jijik yang biasa dia rasakan tidak muncul. mungkin karena penampilan Valmira yang begitu berbeda dengan kenangan buruknya membuat trauma nya tidak kambuh.
kulit putihnya membuat tubuh Valmira terlihat sangat bersih dan menarik. Valmira semakin meremang saat tangan Raja Gyan turun ke lehernya.
" yang mulia" cicit Valmira ketakutan. Wanita itu bahkan berani menahan tangan Gyan agar tidak semakin turun.
tap tap suara langkah mendekat.
" yang mulia, ramuan anda." Aden mencari Raja dan dia tau jika raja ada di pemandian. Lelaki itu memanggilnya pelan di pintu masuk.
Gyan langsung tersadar, dia berjalan mundur. melihat penampilan Valmira yang pertama kali membuatnya tertarik.
" pelayan wanita? untuk apa..."
" cepat jangan banyak bertanya!" sentak Gyan.
" baik yang mulai" Aden segera berlari melaksanakan tugas.
Lelaki itu menyuruh acak para pelayan wanita yang dia temui sepanjang jalan.
" kalian segera ikut aku, cepat!" ucap Aden pada 2 orang pelayan wanita yang bersiap kembali.
" ayo cepat!" teriak Aden, mereka bertiga langsung berlari menuju istana Raja.
Gyan mengenakan jubah tidurnya, menunggu di ruangan depan. Dia menyuruh Valmira untuk tetap berada di pemandian. wanita itu bergetar ketakutan, bahkan dia terisak menangisi nasibnya.
" yang mulia saya sudah membawa pelayan " ucap Aden sambil tersengal-sengal sehabis berlari.
" kalian bantu wanita di dalam untuk bersiap. dandani dia dan suruh dia memakai ini" ucap Gyan datar sambil memberikan pelayan itu sebuah baju satin.
" baik yang mulia" jawab kedua pelayan itu.
Aden yang mendengarnya terlihat tak percaya.
" siapa wanita itu yang mulia?" tanya Aden yang baru pertama kali mendengar ada wanita di dalam istana.
__ADS_1
" entahlah, dia bilang pelayan baru" jawab Gyan mencoba untuk tenang. reaksi ramuan Shana masih terus bekerja di dalam tubuhnya.
" oh ya, yang mulai, ramuan anda .."
" tidak perlu," jawab Gyan cepat. Dia ingin memastikan sesuatu. Karena jika pada Valmira tubuhnya menampilkan reaksi yang berbeda tidak seperti saat dia berdekatan dengan wanita lain.
" yang mulia yakin?" tanya Aden memastikan, dia sedikit curiga pasalnya ini pertama kalinya Raja Gyan menolak ramuan khusus.
Di dalam pemandian kedua pelayan wanita itu seakan memaksa Valmira untuk mengikuti perintah mereka. keduanya sama-sama tidak memiliki pilihan. Baik pelayan maupun Valmira tidak mau terkena hukuman tidak menjalankan tugas.
" kau sangat cantik," ucap pelayan yang saat ini sedang menata rambut Valmira.
Valmira sudah capek menangis, wanita itu diam saja.
" yang mulia sudah selesai" ucap salah satu pelayan. Sedangkan satunya lagi menggandeng Valmira keluar.
Raja Gyan menatap dengan dalam, ada sesuatu yang asing terasa dalam tubuhnya.
Baik Aden dan kedua pelayan itu sama -sama tak percaya ada wanita secantik ini. kulitnya seputih susu, mulus dan cantik.
" kalian pergilah dan jangan biarkan seseorang masuk " ucap Raja membuat Valmira semakin ketakutan.
" baik yang mulia " ucap mereka bersamaan. Kini tinggal Raja Gyan dan Valmira.
" kau masuklah ke kamar" perintah Gyan.
" yang mulia, apa yang..."
" jangan banyak bicara" potong Gyan langsung.
Valmira menuju tempat yang di suruh dengan langkah ragu. ingin sekali dia ikut pergi bersama pelayan tadi.
Gyan mematikan semua lilin kecuali di kamar dengan sekali kibasan tangan. Lelaki itu masuk ke kamar.
Dia melihat Valmira sekali lagi, baju satin itu mencetak jelas bagian tubuh Valmira. Biasanya Gyan akan langsung teringat dengan trauma nya jika melihat tubuh seperti ini.
" kemari" panggil Gyan menyuruh Valmira mendekat.
" siapa namamu?" tanya Gyan pelan. Valmira berhadapan dengannya. pantuan cahaya lilin membuat wajah Valmira berkali lipat bersinar.
" alora" jawab Valmira pelan.
" alora?" Gyan mengulangi lagi. Dia kembali menyentuh pipi Valmira. Dengan Valmira tubuhnya berekasi berbeda. Gyan ingin sejauh apa tubuhnya merespon baik keberadaan Valmira.
" yang mulai" Valmira menahan tangan Gyan sekali lagi saat tangan itu ingin menyentuh bibirnya.
Valmira menolaknya, wanita pertama yang menolak sentuhannya.
" sssttt jangan bicara jika tidak aku tanya" ucap Gyan menasehati.
Gyan meneruskan aksinya, ibu jarinya menyentuh bibir mungil Valmira. Tangan sebelahnya kini sudah memegang pinggang Valmira. Posisi mereka sangatlah dekat.
Valmira menahan tangisnya, dia tidak suka orang asing menyentuhnya.
Gyan semakin mendekatkan tubuhnya, lelaki itu menarik wajah Valmira agar semakin mendekat. Valmira reflek menahan tubuh Gyan dengan tangannya.
__ADS_1
sekali lagi Valmira melakukan penolakan. Hal yang tidak biasa terjadi, membuat responnya juga tak biasa.
" emm" Valmira mencoba memalingkan wajahnya, saat Gyan berusaha menciumnya. Tapi itu tidak mudah. Gyan menahan kepala dan membuat bibir mereka bertemu.