
Surat dari pasukan miliknya baru saja sampai, Raja duduk di singgasana dengan tangan terkepal kuat.
" Dasar lemah! bukankah aku sudah membekali mereka dengan peralatan lengkap. Belum juga satu bulan tapi mereka merengek minta makan? tidak bisa di percaya!" amuk Raja Prysona. pengawalnya hanya diam tidak berani memberikan saran.
" suruh mereka untuk segera masuk ke wilayah musuh, baru akan aku kirim permintaan mereka!" final. Raja Prysona tidak sedikitpun bersimpati, bahkan pengawal pribadinya sampai tidak percaya dengan keputusan yang tuannya keluarkan.
" baik yang mulia" hanya itu yang bisa pengawal itu katakan. Tidak mau membuat amarah Raja naik, dia segera pergi dari ruangan.
Petugas pembawa pesan segera melajukan kuda untuk mengantarkan perintah yang mulia. Hanya butuh beberapa hari pesan itu sudah sampai di lokasi perkemahan pasukan.
" panglima ada pesan dari yang mulia"
suara lantang prajurit pembawa pesan membuat semua mata memandang. Banyak sekali harapan yang ingin mereka dengar. Pasalnya badai buruk beberapa malam sangat memukul mental pada prajurit perang.
Kini panglima serta jenderal pasukan berkumpul di tenda utama mereka bersiap untuk mendengarkan pesan apa yang di bawa.
" katakan apa isi pesan yang mulia" ucap panglima.
" yang mulia memerintahkan bahwa akan mengirimkan semua kebutuhan pasukan, setelah pasukan masuk ke wilayah musuh" prajurit itu mengatakan dengan tegas dan lugas.
Semua orang yang mendengarkan langsung terdiam terpaku, mereka saling melemparkan tatapan. Apa benar apa yang mereka dengar ini. Apakah Raja tidak mengerti kondisi yang terjadi di medan perang.
" panglima kondisi pasukan masih sangat rentan dan lemah. Bagaimana caranya kita masuk ke wilayah musuh?" ucap salah satu jenderal.
" benar panglima, jika kita paksakan, pihak kita pasti akan kalah" saut yang lainnya.
panglima terdiam, keputusan memulai perang memang begitu mendadak dan di nilai ceroboh. Tidak ada pelatihan khusus untuk para pasukan. Dan beginilah yang terjadi. Raja Prysona dengan tanpa memikirkan pasukannya terus menekan mereka.
" kita tetap harus melaksanakan perintah Raja, segera persiapkan diri untuk masuk ke wilayah musuh" jelas panglima.
" panglima!"
" panglima!"
" Perintah Raja adalah mutlak!" jawab panglima tegas.
Semua terdiam, tidak ada yang berani membantah lagi. hanya raut sendu yang terlihat saat para jenderal itu keluar dari tenda utama. Tidak ada yang bisa mereka lakukan selain pasrah menjalankan tugas.
" panglima, kapan kita akan berangkat?" tanya penasehat militer.
" saat hari mulai petang" jawab panglima tanpa banyak berfikir.
" bukankah ini tindakan yang ceroboh? keputusan ini tentu akan mengorbankan banyak pihak"
" kita hanya punya 2 pilihan, maju dan melawan dengan kemungkinan kalah, atau maju menggunakan bendera putih" lirih panglima.
" jadi.. kita akan menyerah?"
" tidak ada pilihan lain jika ingin selamat, atau kita hanya akan mengirim nyawa kesana"
" panglima, apa ini keputusan sepihak, saya tidak yakin semua jendral akan bisa menerima keputusan ini"
" aku akan menjelaskannya saat sudah mendekati gerbang perbatasan"
Panglima dan penasehat militer terdiam, mereka sibuk dengan pikirannya sendiri. Bagaimana bisa pihak yang memulai perang adalah pihak yang menyerah lebih dulu.
Langit mulai gelap, para pasukan berjalan menuju tembok Garamantian. Meski dengan kaki gemetar mereka tetap siap dengan perlengkapan senjata.
gerbang Garamantian mulai terlihat meskipun masih jauh di depan.
panglima menghentikan kudanya, dan diikuti yang lainnya.
" perhatian" penasehat militer berteriak.
__ADS_1
para Jendera maju dan berkumpul melingkari panglima.
" kita semua sudah tau jika kondisi pasukan sedang tidak siap dan kekalahan sudah ada di depan mata. Aku akan memberikan kalian pilihan. Maju dan berjuang sampai mati atau maju dengan mengibarkan bendera putih?"
seketika suara pasukan terdengar bergemuruh, ada yang setuju, ada juga yang menentang. Harga diri atau nyawa yang akan mereka pilih.
" panglima, bagaimana jika Raja Prysona nanti menghukum keluarga kita, kita tidak bisa menyerah begitu saja" saut jenderal.
" jadi apa kita maju dan berjuang!?"
" iya panglima. Meski kita sangat sedikit peluang untuk menang, kita tetap berjuang!" saut jenderal lainnya.
" baiklah, kita kobarkan semangat juang. Maju dan berjuang sampai mati!"
" maju dan berjuang sampai mati!"
" maju dan berjuang sampai mati!"
teriakkan itu langsung menggelegar, membakar api semangat pasukan yang sejak beberapa hari mulai padam. Pasukan menjadi lebih hidup, mereka tidak takut mati.
Di gerbang kerajaan Garamantian para ketua, serta panglima pasukan mengamati dengan jelas. Aden tidak perlu lagi meminta keputusan, Raja Gyan sudah jelas mengatakan jika sampai Radius sekitar 50 mil baru pasukan akan maju untuk melawan.
" Tuan, aku serahkan kelompok penyihir kepada anda" ucap Aden. Waktu telah tiba, kini mereka akan menunggu sampai kelompok penyihir kembali.
Suara terompet perang terdengar bersautan.
" panglima kedatangan kita sepertinya sudah di tunggu pasukan musuh" penasehat militer memberikan arahan.
mendadak semangat mereka menjadi kendor tak kala tanah yang mereka injak dengan perlahan bergerak. konsentrasi mereka pecah dan menatap tanah dengan ketakutan.
"akkk" teriak salah satu prajurit saat akar tumbuhan muncul dari bawah tanah lalu menariknya ke atas dan di jatuhkan dengan keras.
pasukan Prysona langsung kabur berceceran, formasi yang sudah di bentuk kini sudah tidak karuan. panglima dan pada jendral di buat bingung harus melakukan apa.
" panglima bagaimana ini kita bahkan belum di depan gerbang tapi dengan mudah sudah di kalahkan"
" kita lakukan sebisanya untuk bertahan hidup" jawab panglima.
Lelaki itu turun dari kuda dan mulai memotong akar-akar tumbuhan. Begitupun dengan para jenderal.
para penyihir berfikir jika mereka sudah cukup membuat pasukan Prysona kewalahan, kini memberikan aba-aba untuk pasukan kerajaan melakukan akhirnya.
suara gendang menjadi tanda bahwa pasukan bersenjata Garamantian mulai maju ke medan perang. sisa pasukan Prysona semakin terpuruk. Beberapa bahkan ada yang melarikan diri saking takutnya.
Dan tak lama pertempuran terjadi, dengan mudah pasukan Prysona di kalahkan. Semua musuh harus tewas tanpa meninggalkan tawanan. itulah pesan Raja Gyan. Pasukan Garamantian hanya berjumlah ratusan sudah mampu membabat habis pasukan Prysona yang jumlahnya 2 kali lipat. dari atas, padang Mazu berubah warna menjadi merah, pasukan Garamantian tidak main-main. Mereka membunuh secara brutal, sesuai dengan intruksi panglima. Tanpa perlu banyak waktu medan perang langsung sepi dengan mayat bertebaran. pasukan Prysona kalah telak tidak ada satupun yang selamat.
Setelah memastikan musuh sudah tewas, Aden segera terbang menuju istana Raja.
" yang mulia, pasukan Prysona sudah di kalahkan. Semuanya tewas tak bersisa tanpa meninggalkan tawanan" lapor Aden.
" bagus, kirim kepala para jenderal dan panglima ke istana Prysona. Sebagai peringatan"
" baik yang mulia"
Aden kembali ke pasukan kerajaan segera melaksanakan perintah.
" akkk"
" akka" teriak pelayan Prysona, saat taman utama kerajaan Prysona berjatuhan kepala manusia. Hal itu tentu aja membuat geger satu istana.
" yang mulia, pasukan kita kalah telak dan Garamantian mengirimkan kepala para jenderal serta panglima pasukan " lapor pengawalnya.
" tidak mungkin!"
__ADS_1
Raja Prysona berjalan menuju taman, dia ingin memastikan sendiri laporan yang baru saja dia dengar.
Alangkah mengerikannya saat baru sampai di ambang pintu aula yang terhubung dengan taman, Raja Prysona bisa melihat beberapa kelapa berjejer, dengan mulut tersumpal kertas peringatan.
Lelaki itu langsung memalingkan wajahnya dengan mengepalkan tangannya.
" brengsek kau Gyan! " teriak Raja Prysona kesal.
" yang mulia apa kita perlu mengambil kertas-kertas tersebut?" tanya pengawal itu dengan polos.
" segera kuburkan dan kumpulan panglima serta jenderal yang tersisa. Aku sendiri yang akan memimpin perang!"
" yang mulia, tolong ..."
" cepat laksanakan!"
" ba.baik yang mulia"
Raja Prysona dengan penuh amarah kembali masuk ke istana. Dia akan mempersiapkan diri, dia sudah tidak sabar menebas kepala Gyan menggunakan tangannya.
Di kamar Ratu seorang pelayan masuk dengan membawa makanan. Penjaga tanpa curiga langsung membukakan pintu.
" yang mulia" ucap pelayan tersebut.
" bagaimana situasi perang?" tanya Ratu, pelayan yang masuk ternyata pelayan yang ditugaskan Ratu untuk memantau keadaan.
" pasukan kita kalah yang mulia, Raja Garamantian bahkan mengirimkan kepala para Jendera dan panglima perang dengan pesan peringatan di mulut mereka"
Ratu yang mendengarnya langsung limbung, ketakutannya terjadi. mereka tidak akan mungkin bisa melawan Garamantian.
" lalu bagaimana dengan Raja?"
" Raja marah besar dan berdasarkan informasi, Raja sedang mengumpulkan jenderal yang tersisa untuk memimpin perang bersama"
" apa? Raja ingin memimpin pasukan berperang? tidak, tidak. Aku harus mencegahnya" Ratu Prysona langsung kelimpungan, jangan sampai Raja nekat dan pergi ke medan perang.
" kau alihkan perhatian penjaga, aku akan keluar menemui Raja"
" baik Ratu"
Setelah berhasil keluar, Ratu bergegas berlari menuju aula kerajaan. Disana Raja sedang duduk sambil menatap beberapa jenderal yang bersimpuh.
" yang mulia, saya mohon hilangkan tekad untuk mulai perang lagi. kerajaan Prysona sudah begitu menderita yang mulia" Ratu langsung menerobos dan berdiri di depan Raja.
" ini tidak akan berhasil, melawan Garamantian hanya akan membuat Prysona hancur. Kita harus terima bahwa memang kita yang bersalah. Saya mohon yang mulia tidak memaksakan diri" lanjut sang Ratu.
" mohon yang mulia tidak memaksakan diri" para jenderal juga ikut meminta.
Bukannya memikirkan saran dari Ratu nya, Raja Prysona malah semakin tidak terima. Dia menganggap Ratu dan para jenderal sudah meragukan kemampuannya. Harga dirinya sebagai Raja mendadak di coreng.
" tidak! kita akan melawan Garamantian. Aku tidak akan berhenti sampai kita menang"
" yang mulia, mohon pikirkan kembali. Rakyat akan menjadi korban. Kerajaan Garamantian bukanlah tandingan kita" Ratu kembali bersuara.
" jangan meremehkanku Ratu, kita pasti bisa mengalahkan Gyan yang sombong itu"
" yang mulia, putri kita yang bersalah. Kita harus bisa menerimanya. Jangan seperti ini, kita..."
" Ratu jangan pernah membela kerajaan lain. Mau sampai kapanpun aku tidak akan terima putri kita di hina seperti itu!"
" yang mulia.."
" pengawal!! bawa Ratu pergi dari sini" teriak Raja dia tidak mau mendengar apapun lagi dari sang istri. Hatinya sudah tertutup oleh rasa benci dan dendam.
__ADS_1
" yang mulia pikirkan anggota kerajaan lainnya, yang mulia.." 2 orang pengawal menyeret Ratu keluar dari aula. Dan melarang untuk masuk. Ratu hanya bisa menangis, bagaimana semuanya malah berakhir runyam. Dia harus menemui Putrinya agar mau membujuk Raja untuk mengurungkan niatnya.