
Sayangnya di tempat lain, saat menjelang Fajar kereta yang di tumpangi Valmira dan Fleur mendadak di kepung oleh par bandit.
" ada apa?" tanya Alora saat suara langkah kaki mendadak membangunkannya.
" entahlah" Fleur sudah lebih dulu terbangun dan kini sedang mengambil obor untuk penerangan mereka.
tap tap tap
brugh sreng.
Suara yang mirip dengan orang-orang berkelahi membuat kedua wanita itu mencari asal suara. Fleur menggandeng tangan Valmira dan mengajaknya mendekati kuda.
" kita mau kemana?" tanya Valmira saat Fleur memberikan obor sedang dia melepaskan tali kuda.
" pergi dari sini" jawab Fleur menarik kuda agar mendekat.
Valmira mengarahkan obor ke berbagai arah, suara itu entah dari mana. Kedua wanita itu tidak tau jika kelompok mata-mata Gyan sedang bertarung dengan bandit yang mencoba mencelakai kedua wanita itu.
" ayo" ucap Fleur yang sudah lebih dulu naik. Dia meminta obor lalu Valmira ikut naik.
" kau bisa mengendalikannya?" tanya Valmira sedikit takut. Salah satu tangannya berpegangan pada tubuh Fleur, sedang satunya membawa obor penerangan mereka.
__ADS_1
" setidaknya pernah beberapa kali saat mencuri kuda, membuatku cukup mahir menaiki kuda" jawab Fleur.
cah.
cah
cah.
kuda itu bergerak sesuai dengan arahan Fleur, mereka berjalan menjauhi area tersebut. Entah semakin menjauh atau malah mendekati Garamantian, keduanya tidak tau. Yang penting mereka harus pergi agar tidak di ganggu bandit ataupun orang jahat lainnya.
cah
cah
cah
" sial" Fleur sedikit kesulitan dengan medan yang terdapat beberapa pohon kaktus serta paair yang halus. Apalagi penerangan yang dia miliki sangatlah minim. Bahkan beberapa kuda itu hampir terjerembap lada lubang hewan-hewan gurun. Angin fajar malam semakin kencang.
" ada 2 orang yang mengikuti kita" ucap Valmira lagi.
Mereka sampai di jalanan kering dan luas. Valmira bisa melihat sosok itu dengan jelas. Meskipun hanya siluet kasar.
__ADS_1
cah
cah
cah.
Valmira mempererat pegangan tangannya pada tubuh Fleur.
" kita tidak bisa begini terus, kita harus melawan" ucap Valmira, saat kedua lelaki itu semakin mendekati mereka.
" akk" teriak Valmira saat mereka berusaha menggapai tubuhnya. Valmira memukulkan obornya membuat lelaki itu menjauh.
" kita akan bersembunyi" Fleur membelokkan kudanya dan menuju ke hutan pohon kurma. Meski beberapa goresan mereka dapatkan dari daun tajam pohon itu, tapi setidaknya mereka bisa membuat kedua pengikut itu kesusahan.
" ayo turun " Fleur dan Valmira Segera meninggalkan obor dan kudanya. Mereka bergandengan tangan dan berlari menyembunyikan diri.
Pertemuan akhirnya di tutup tadi pagi. Saat ini hampir semua peserta perayaan sudah mulai datang ke kerajaan. Raja Gyan mempersiapkan pesta sesuai dengan permintaan, pesta sederhana. Bahkan tidak di adakan di aula kerajaan, meskipun penyihir yang datang berasal dari kaum bangsawan.
" sudah berapa orang yang hadir?" tanya Gyan yang baru saja sampai di kerajaan. setelah mengurus beberapa kepentingan lain.
" hampir 50% yang mulia" jawab Aden.
__ADS_1
" kau suruh Shana yang menjamu mereka, aku akan pergi ke kamar Alora" ucap Gyan, semenjak mengadakan pertemuan Gyan merasa khawatir dengan selirnya itu. Entah ada perasaan tidak enak yang menyelimutinya sejak beberapa hari yang lalu.
" yang mulia, sebenarnya. Ada berita yang baru saja dapatkan dari mata-mata Ratu Shana" lirih Aden dengan sedikit ragu, dia memang menyalahkan kenapa mereka baru melaporkan masalah ini hari ini. Membuatnya ketakutan untuk melaporkan karena akan mendapat hukuman. Dan parahnya lagi, para mata-mata itu tidak bertanggung jawab karena mereka dengan mudahnya meninggalkannya dengan dalih pergi mencari selir Alora.