
Sejak mengunjungi kamar selir Agung, Gyan lebih banyak diam. hari itu Gyan memutuskan untuk tidur di ranjang Valmira, malam itu tidurnya terasa lebih nyenyak dari biasanya. Ada untungnya juga pelayan tidak langsung membersihkan kamar, aroma tubuh Valmira masih begitu kental tertinggal disana. Gyan merasakan ketenangan sama seperti saat bersama dengan Valmira. sayangnya saat matanya terbuka, dia harus bisa menerima kenyataan jika semua itu hanya tinggal kenangan.
" Aden" panggil Gyan dari ruang baca.
" kau kirimkan surat serta peta ini pada Deon. Mereka pasti akan menyadari jika sudah salah arah" jelas Gyan.
" baik yang mulia" Aden menerima surat tersebut.
Malam harinya surat yang di kirim baru saja di terima oleh Deon. Pemuda itu berjalan menuju anjungan dimana kangta berada.
" tuan surat dari yang mulia" ucap Deon, membuat Kangta melepaskan pandangan sejenak dari lautan.
" kau bukalah" perintah Kangta.
Deon membuka dan membaca dengan seksama isi surat dari Gyan.
" yang mulia mengatakan jika kita telah salah memilih arah, Raja Gyan juga mengirimkan sebuah peta"
Kangta mengambil peta tersebut, dia meletakkannya di meja.
" apa Gyan mengatakan arah mana yang tepat?"
" Raja Gyan menyuruh kita mengambil arah menuju Samudra Chantara"
" Samudra Chantara?" Kangta mengamati peta dihadapannya. Samudra Aegir dengan Samudra Chantara setidaknya tidak saling bertolak belakang. Mereka yang perlu mengubah arah beberapa derajat saja.
" mana suratnya"
Kangta membaca alasan kenapa Gyan mengatakan mereka salah arah. Disana Gyan juga menuliskan bagaimana gambaran kerajaan Mystick agar tidak salah menentukan lagi.
" padahal aku yang pernah ke Mystick saja tidak bisa menemukan arahnya, kenapa Gyan yang hanya mendengar ceritanya saja sudah bisa memprediksikan. Dasar Gyan" lirih Kangta yang menyetujui pemikiran Gyan terkait arah menuju pulau Marilla.
" jadi bagaimana tuan?"
" ikuti arahan Gyan, lelaki itu tampaknya lebih hebat dari yang ku bayangkan"
__ADS_1
" baik tuan"
Deon segera pergi menuju area kemudi untuk mengarahkan nahkoda kapal.
Kangta yang sendirian di anjungan menatap surat Gyan dalam diam. Lelaki itu masih dalam suasana berduka namun logika dan pemikiran tidak berubah. membuatnya merasa bersalah karena sudah memisahkannya dengan Alora.
tap tap tap
suara langkah kaki mendekat, ini pasti langkah kaki Zephyr dan Aislinn.
" kita berganti arah?" tanya Aislinn. Benar dugaan Kangta. pasangan suami istri itu langsung dengan cepat bisa menyadarinya.
" iya, ada informasi baru dari Raja Garamantian. Dia memberikan saran untuk mengubah arah menuju Samudra Chantara" jelas Kangta.
Aislinn dan Zephyr mendekat, mereka ikut melihat peta yang terpajang di meja.
" bagaimana bisa Raja mengetahui arah pulau Marilla?"
" dia mempelajari lewat buku. Dan yang aku tau penilaian Raja tidak pernah meleset"
" aku sedikit meragukannya" lirih Zephyr.
" tidak ada salahnya kita mencoba" saut Kangta percaya diri. Sebagai orang yang kenal betul siapa Gyan, dia takkan meragukan penilaian Raja Garamantian itu. Tapi bagi Klan Ralba yang tertutup bahkan sentimentil dengan penyihir Reuben tentu tidak mudah menerima saran dari mereka. Untung saja Zephyr masih mau mengalah, karena memang di rasa arah yang selama ini dia tuju tidak membuahkan hasil.
......................
Hari terus berganti rombongan kerajaan Prysona akhirnya sampai di istana. Ratu Prysona keluar dari tandu dengan wajah lelah. tubuhnya lelah melewati perjalanan jauh sedangkan pikirannya lelah dengan tingkah putrinya. Wanita itu sangat membutuhkan banyak istirahat.
Shana yang keluar dari tandu melangkah menuju gerbang istana depan, sesaat dia baru menyadari sebuah keanehan. Tidak ada penyambutan meskipun sederhana atas kepulangannya. Semua bagian istana tampak sepi bahkan rombongan pelayan pun tidak terlihat. Shana mencoba berfikiran positif, mungkin karena ayahandanya yang sakit maka kerajaan tidak memperbolehkan adanya acara bernuansa gembira dan bersenang-senang.
Shana berjalan mengikuti ibundanya, kedua wanita itu masih belum bertegur sapa sejak terkahir kali mereka berbincang di istana Raja Gyan.
" mari yang mulia" ucap pelayan istana menujukkan arah menuju kamar lamanya.
" tapi aku..."
__ADS_1
" istirahatlah dulu, besok baru temui Raja" ucap ibundanya tanpa menoleh. Shana yang merasa kecanggungan akhirnya menurut saja. Toh dia juga masih lelah akibat perjalanan.
" baik ibunda" jawab Shana lemah.
ibunda melanjutkan langkahnya meninggalkan Shana, dia masih bersikap dingin pada putrinya. Apalagi mereka sudah berada di Prysona. Dia tidak perlu berpura-pura memasang wajah senang dan bersahabat.
Malam berlalu dengan cepat, pagi ini setelah menyelesaikan sarapan Shana segera pergi untuk menemui ayahanda. Wanita itu berjalan menuju ruang kerja ayahnya yang memang bersebelahan dengan kamar Raja. Dia masih ingat jika ayahnya itu tidak akan rela meninggalkan pekerjaan meskipun dalam keadaan sakit.
" maaf putri, Raja sedang tidak bisa di ganggu" ucap penjaga di depan ruangan.
Shana tentu saja kaget, pasalnya ini pertama kalinya dia di larang di kerajaannya.
" aku ingin bertemu dengan ayahanda" balas Shana tidak terima.
" iya putri, Raja sedang menangani masalah serius jadi tidak mengizinkan siapapun masuk" jawab penjaga tanpa bermaksud menyinggung.
Shana langsung kesal, tapi dia harus menahan diri. Dia tidak berada di Garamantian, dia harus menjaga sikap menjadi Shana yang lemah lembut dan penurut seperti yang selama ini dia tampilkan di depan ayah dan ibunya.
" baiklah aku akan kembali, dan ingat aku sudah bukan putri lagi" tegas Shana lalu berjalan meninggalkan ruangan Raja tanpa menunggu balasan dari penjaga.
Di dalam kamar Shana terdiam sambil memikirkan kejanggalan atas sikap ayah dan ibunya. kenapa mereka seakan menghindarinya.
Sedangkan di dalam kamar Raja, kedua orang itu sedang duduk di depan sofa dekat dengan perapian.
" aku rasanya tidak percaya. Saat Raja Gyan memberikan semua bukti-bukti itu. Aku merasa gagal mendidiknya selama ini. hiks hiks" ucap Ratu.
" jangan menangis lagi, apa semalaman kau tidak lelah heum. ini bukan saja salahmu, tapi kita. aku akan mencoba berbicara pelan-pelan pada Shana, semoga dia menyesal dan mau berubah" hibur Raja yang ikut sedih melihat istrinya seperti ini.
" aku sangat malu berhadapan dengan Raja Garamantian. Raja Gyan begitu baik bersedia menutupi masalah ini dari dunia sihir. bahkan dia tidak memberikan hukuman berat. Aku sebagai ibunya tentu sangat berterimakasih"
" aku mengerti, semua ini harus di hentikan. Shana mungkin salah mengambil jalan, atau mungkin mendapatkan pengaruh buruk dari seseorang. kita harus memastikannya"
" Raja, aku mohon jangan memanjakan dia. Meski mendapat pengaruh buruk tapi Shana dengan sadar melakukan tindakan sihir hitam berkali-kali. kita harus tegas agar dia tau kesalahannya"
" iya-iya aku mengerti. Sudah kau jangan banyak pikirkan. tidurlah sejak semalam kau hanya menangis. perhatikan kesehatanmu juga" sambil mengelus punggung istrinya.
__ADS_1