
Valmira hanya tersenyum tipis melihat muka masam Fleur.
" sudah, waktunya tidur" Fleur berganti menata ranjang. Sudah beberapa hari Fleur tidak tidur sekamar dengan Valmira, wanita itu tidak bisa menemani Valmira karena dia selalu menangis saat mengingat kondisi Valmira.
Fleur tidak mau sampai Valmira tau rasa sedihnya jadi dia selalu beralasan tidak bisa saat Valmira memintanya untuk menemani.
" tidak mau menemaniku lagi?" tanya Valmira saat akan menarik selimut.
" aku harus mengurus area dapur, lagipula belakangan ini kamar pelayan kosong jadi aku bisa leluasa tidur di sana saja" jawab Fleur, menolak lagi ajakan Valmira.
" selalu saja" gerutu Valmira dan membaringkan tubuhnya membelakangi Fleur.
Fleur melangkah keluar, setelah mendengar pintu di tutup baru Valmira mengubah posisinya menatap kelambu atas ranjangnya.
namun baru akan menutup mata, kamarnya menerima kunjungan secara tiba-tiba.
wusshh..
Suara angin dan mendadak ada seorang lelaki berdiri di pojok ruangan menatap dirinya. cahaya kamar yang remang membuatnya tidak bisa melihat dengan jelas wajah lelaki itu.
" siapa?" tanya Valmira yang seketika ketakutan. Wanita itu menarik tubuhnya menjadi terduduk di ranjang.
" Aku, gadis manis" suaranya lelaki itu terdengar familiar.
tap tap
__ADS_1
suara langkahnya semakin mendekat, perlahan sosok itu mulai terlihat karena mendekati lampu nakas.
" Kangta" ucap lelaki itu membuat Valmira bernafas lega.
" pak tua, ada ada kemari?" tanya Valmira yang sudah akrab sejak pertemuan pertama.
" aku ingin mengajakmu jalan-jalan sebentar" jawab Kangta yang sebenarnya memiliki maksud tersembunyi.
" malam malam begini?" Valmira mengerutkan keningnya. meski merasa janggal tapi melihat wajah Kangta yang datar sepertinya ajakannya bukan sekedar jalan-jalan biasa.
" mari, aku tunjukkan sesuatu padamu" Kangta mendekat dan mengulurkan tangannya.
Valmira diam sesaat sambil menatap tangan kosong itu lama. Setelah memantapkan hatinya Valmira meraih tangan itu dan beranjak menuruni ranjang. Saat baru saja berdiri tiba-tiba dia seakan tersedot dan seketika dia telah berpindah tempat.
" pakailah ini" Kangta memakaikan jubah tebal miliknya.
" suka dengan pemandangan ini?" tanya Kangta ikut menatap ke depan.
" indah sekali" balas Valmira pelan dengan wajah kagum.
" inilah istana milik Raja Gyan yang termasyhur" ucap Kangta lagi.
" menurutmu apa bisa kerajaan sebesar ini bisa dihancurkan oleh satu orang?" lanjut Kangta.
" em? tentu saja tidak bisa" jawab Valmira tegas.
__ADS_1
" bagaimana mungkin, kerajaan memiliki banyak penjaga dan tentara. satu orang saja tidak ada acamannya" lanjutnya menjelaskan alasannya.
" kau salah, nyatanya kerajaan ini sedang berada di ambang kehancuran karena satu orang"
mendengar jawaban Kangta, Valmira menatap lelaki tua itu dengan tatapan tidak mengerti.
" kerajaan ini tampak kokoh tapi rapuh di dalam. Baru saja ranum dan kini mulai berguguran"
Valmira semakin tidak mengerti arah pembicaraan Kangta. Wanita itu malah menatap Kangta sangat lama tanpa mengeluarkan kata apapun.
" apa yang sebenarnya ingin kau katakan?" tanya Valmira yang tidak bisa menebak maksud percakapan Kangta.
" Gyan sedang tidak baik-baik saja. Lelaki itu berniat mengorbankan kerajaan demi seseorang," kata itu terhenti, seperti sedang memberikan jeda. Valmira pun tau ada kalimat lanjutan yang tidak ingin Kangta ucapkan.
" siapa?" tanya Valmira pelan. Kangta tersenyum tipis, pandangan mereka beradu. mata lelaki itu terlihat sayu dengan wajah penuh rasa bersalah.
" siapa seseorang itu?" tanya Valmira lagi saat Kangta hanya menatapnya dalam kebisuan.
" kau, Alora. Gyan memilihmu daripada kerajaan ini. apa kau bersedia menerima pilihannya?"
Valmira tercegang nafasnya memburu, wanita ini seakan bisa mengerti keadaan fisiknya pasti membuat Gyan memilihnya.
" kau dan bayi itu tak mungkin bisa Gyan lepaskan" lanjut Kangta, Valmira menunduk sesaat dan menatap kerajaan sekali lagi.
" apa kau membawaku kemari untuk memintaku pergi dari sisinya?" tanya Valmira lemah.
__ADS_1
" tidak, aku ingin kau tewas di depan Gyan" ucap Kangta membuat mata Valmira membelalak menatap lelaki itu tidak percaya.