Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan

Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan
Permulaan


__ADS_3

Sore hari menjelang, Valmira baru saja selesai membersihkan diri. Setelah kepulangannya tadi pagi, dia hanya berdiam diri di kamar. Fleur mengira jika kondisi Valmira kembali lemas, wanita itu tidak terlalu menuntut dan membiarkan saja Valmira berada di kamar seharian. Nyatanya Valmira hanya berpura-pura tidur padahal hatinya cukup bimbang menanggung beban.


" apa kau ada permintaan khusus untuk menu makan malam?" tanya Fleur. Mereka berada di depan kaca dan akan memulai menata penampilan Valmira.


" malam ini aku ingin mengunjungi Raja," ucap Valmira pelan dengan wajah datar sedikit sendu.


Fleur menatap wajah Valmira dari pantulan cermin.


" kau merindukan Raja?" tanya Fleur mendadak ikut prihatin.


" he'em, sudah lama Raja tidak kemari" balas Valmira kembali mengusik hati nurani Fleur.


Memang entah kenapa semenjak mengetahui kehamilannya, Valmira selalu saja memikirkan Gyan. merasa kasihan dan perhatian pada Gyan. Begitu bertolak belakang dengan dirinya dulu. Tak bisa di pungkiri perlakuan Gyan yang begitu memanjakannya membuat hati seorang Valmira mulai luluh.


" baiklah, aku akan menyuruh pelayan untuk mengirimkan kabar kedatangan mu"


" tidak..." baru saja Fleur menyingkir, Valmira lebih dulu menahannya.


" tidak usah, aku ingin memberikan kejutan" lanjut Valmira, sedikit menenangkan Fleur dan dia mengangguk pelan. wanita itu kembali menata penampilan Valmira.


Hingga sampai di bagian rambut. Fleur mengambil cairan arang yang biasa di gunakan untuk menghitamkan rambut Valmira.


" kita tidak perlu menggunakannya lagi" ucap Valmira menghentikan aktifitas Fleur, Fleur langsung mengerutkan keningnya.

__ADS_1


" kenapa?" tanya Fleur seketika.


" aku tidak mau menutupinya lagi" jawab Valmira enteng. Dan malah membuat Fleur bertanya-tanya seakan tidak bisa memahami keinginan Valmira.


" Alora, kau tampak berbeda sekali hari ini. apa yang sebenarnya terjadi?" Fleur merasa ada hal yang janggal yang mengubah sikap Valmira.


" tidak ada apa-apa, Fleur" balas Valmira lemah tanpa ada emosi sedikitpun.


Fleur tentu tidak percaya begitu saja, wanita itu kemudian berganti posisi di samping Valmira dan bersimpuh agar bisa melihat wajah temannya dengan jelas.


" apa ada yang menganggu pikiranmu? kau taukan bagaimana rumor di luar. Jika mereka mengetahui perubahan rambutmu, desas desus itu akan semakin besar. apa kau mau itu terjadi?" jelas Fleur penuh dengan perhatian.


Valmira diam saja menatap gambaran dirinya di cermin. Dia tidak mau beradu pandangan dengan Fleur. hal itu pasti membuat ketegarannya luruh.


" aku sudah mengingatkan, jangan mengeluh apapun jika ada hal buruk terjadi" Fleur beranjak berdiri, dan mulai menata rambut Valmira. Kini rambut dengan pangkal yang memutih terlihat dengan jelas. Meski berat hati menuruti keinginan temannya, namun Fleur juga tidak bisa melakukan apapun. hanya bisa berharap agar Valmira baik-baik saja.


Begitu langit berubah gelap, Valmira dan beberapa pelayan kamarnya berjalan menuju istana Raja. Semua nampak baik-baik saja tak kala mereka mulai memasuki lorong dan beberapa penjaga melihat penampilan selir Agung. Raut terkejut tidak bisa di sembunyikan dari wajah mereka, meski hanya sesaat sebelum mereka menundukkan wajahnya. Valmira tetap berjalan tanpa merasa terganggu sedikitpun.


" yang mulia, Selir Agung datang berkunjung" lapor Aden kepada Gyan yang sedang sibuk berada di ruang pusaka.


" Alora? apa sesuatu terjadi padanya?" Gyan menoleh dengan wajah cemas.


" Selir Agung hanya ingin makan malam bersama" jawab Aden sesuai dengan perintah Valmira sebelumnya.

__ADS_1


Gyan mengangguk lega dan berjalan menuju ruang depan istana.


" yang mulia" Valmira berdiri memberikan sanjungan.


" Alora kau baik-baik saja?" tanya Gyan menggandeng tangan Valmira agar duduk di sampingnya.


" tentu, saya baik"


" apa..." baru saja Gyan ingin bertanya lagi, tapi rambut Valmira membuat lelaki itu terdiam sejenak. Gyan menatap rambut Valmira dan mengusapnya pelan.


" rambutmu kembali memutih?" Gyan kini terang-terangan mengatakannya. Lelaki itu tidak bisa menutupi kekhawatirannya lagi.


" biarkan saja yang mulia" jawab Valmira membuat Gyan mengalihkan padangannya ke arah manik jelita Valmira.


" ada yang kau sembunyikan padaku? " Gyan menyelidik, dia takut ada sesuatu buruk yang dia lewatkan.


" sembunyikan apa? tidak ada. saya kemari ingin melepas rindu dan makan dengan yang mulia. Jangan menanyai saya terus menerus" ucap Valmira dengan wajah sedikit kesal. Dia harus menghentikan rasa penasaran Gyan padanya.


" em, baiklah aku tidak akan bertanya apapun" Gyan akhirnya menyetujui.


makan malam berlangsung dengan tenang, Valmira dan Gyan bagaikan pasangan yang di mabuk cinta. saling menyuapi bahkan makan sepiring berdua. Mereka menyingkirkan berbagai etika makan kerajaan. Dan hanya tersenyum menutupi rasa khawatir pada diri masing-masing.


Sampai saat tengah malam, Valmira tertidur di ranjang. Gyan membuka matanya, lelaki itu memeluk Valmira sambil menutup mata awalnya. berpura-pura tidur didepan Valmira.

__ADS_1


Kini saat Valmira sudah tertidur dia menghentikan aksi pura-puranya. lelaki itu menatap kembali rambut setengah putih milik Valmira. hatinya begitu terenyuh dan hancur. Dia tidak bisa menemukan pusaka apapun yang mungkin bisa membantu selirnya bertahan hidup. Gyan merasa gagal dan kecewa pada dirinya sendiri. Kini satu-satunya cara adalah mentransfer energinya secara berkala. Meski itu mungkin akan mengancam nyawanya tapi Gyan seakan tidak peduli.


__ADS_2