
Setelah berbincang sebentar di aula desa,.rombongan Gyan bersiap undur diri. Gyan tidak ingin berlama -lama disana. Dia ingin segera berbicara serius pada selirnya.
" kami akan kembali ke istana" ucap Aden kepada kepala desa.
Gyan beranjak berdiri dan berjalan keluar Aula.
Banyak yang tidak tau, jika sejak tadi Brox hanya terdiam sambil menatap ke arah Valmira. Lelaki itu sudah sejak awal tertarik pada wanita itu. Saat tau jika Valmira adalah selir Raja. Dia amat sangat kecewa dan patah hati. Dia ingin sekali berada di samping wanita itu.
" maafkan atas perlakuan kami kepada selir, yang mulia " ucap kepala desa kepada Aden. Dia masih merasa bersalah atas ketidak tahuannya. Dia tidak mau karena hal ini aka membuat Raja tersinggung. Akan sangat berat resikonya jika hal itu terjadi.
" anda jangan khawatir, Raja kita sangat bijaksana" jawab Aden menghibur. Karena sejatinya Gyan marahnya kepada selirnya bukan desa ini.
" terimakasih tuan" jawab kepala desa dengan perasaan sedikit lega.
Di tengah perbincangan itu Brox dengan tanpa takut berjalan mendekati Raja Gyan. lelaki itu ingin mengatakan sesuatu pada Raja Garamantian.
" ampun yang mulia, saya Brox. Kemarin saya membantu selir saat di serang bandit padang pasir" Brox memperkenalkan dirinya.
Karena Aden yang masih sibuk dengan kepala desa membuat penjagaan di sekitar Gyan menjadi longgar.
" em, begitu. kau ingin imbalan apa?" tanya Gyan datar. Baginya Brox sudah berani menghalangi jalannya, bahkan mengungkit jasanya terhadap selirnya. Lelaki ini cukup berani juga.
" saya tidak ingin barang apapun, hanya ingin melindungi selir dan menjadi pengawal pribadi selir" ucap Brox berani. mendengar perkataan Brox, Gyan tentu saja tidak senang. Untung saja Tozka melihat kelakuan tidak sopan cucunya dan segera mendekat ke arah Gyan.
" tolong maafkan cucu saya, dia begitu tidak sopan kepada yang mulia. Dia masih muda" ucap Tozka sambil menarik lengan Brox agar mundur. Brox terpaksa mundur dengan perasaan dongkol. menurutnya dia tidak melakukan kesalahan apapun.
Gyan menoleh dan menatap Tozka. lelaki tua ini seorang penyihir juga sepertinya, Gyan bisa merasakan energi sihir dari tubuh lelaki tua ini.
" dia cukup memilki keberanian" jawab Gyan menimpali ucapan Tozka. kalimat yang memiliki arti ganda, antara memuji atau mencela.
" maafkan kami" lanjut Tozka, lelaki itu membungkuk dalam.
__ADS_1
" sudah, tak perlu" cegah Gyan, dia tak suka terlalu di puja seperti ini. Apalagi Tozka tidak melakukan kesalahan apapun.
" yang mulia sangat baik hati, saya yakin anak yang di kandungan itu pasti akan menjadi sosok yang hebat" jawab Tozka membuat kening Gyan mengerut. Bagaimana bisa ada orang lain yang tau perihal kondisi Selir yang sedang hamil. Melihat kediaman dan raut wajah Gyan, Tozka bisa merasa ada kekeliruan yang salah dipahami.
" saya memeriksa tubuh Selir saat datang, selir mengalami luka di bagian lengannya. Maafkan kelancangan saya" jelas Tozka membuat kesalahpahaman itu sirna.
" tidak perlu, terimakasih sudah menjaga selir Alora selama disini" balas Gyan, tak keberatan. Dia baru tau jika selirnya terluka. Brox menatap Valmira, dia akhirnya tau nama selir itu, lelaki itu menarik sudut bibirnya senang.
" Aden!" panggil Gyan agar mereka segera pergi. Mereka tidak memiliki kepentingan apapun lagi disini.
" ya, yang mulia" Aden berlari kecil menuju Gyan.
Tak lama Gyan dan Valmira masuk kereta, sedang Aden menaiki kuda di barisan terdepan. Memimpin rombongan kerajaan kembali ke istana.
semua masyarakat desa menyaksikan dengan memberikan penghormatan. beberapa tampak senang atas kehadiran Yang mulia raja. Karena Gyan datang juga tidak dengan tangan kosong. Lelaki itu sudah menyiapkan beberapa bahan makanan serta kain untuk penduduknya. Meski kedatangannya karena ulah selirnya, tapi Kaum Tyan juga adalah rakyatnya. Gyan harus bisa bersikap bijak.
Berbeda dengan sorak senang penduduk desa, di dalam kereta Valmira terus diam, wanita itu sama sekali tidak mau melihat bahkan berdekatan dengan Gyan. Valmira duduk dengan tubuh menempel pada dinding kayu kereta. Sedangkan Gyan terdiam menatap Valmira.
" tidak mau bicara?" tanya Gyan lagi dengan nada yang semakin ketus.
Perasaan Valmira bercampur antara takut dan kesal. wanita itu tadinya sudah menyiapkan rangkaian kata untuk di katakan pada Gyan, tapi begitu berhadapan langsung semua kata itu menghilangkan entah kemana. membuat Valmira diam seribu bahasa.
" baiklah" saut Gyan lalu memegang lengan Valmira, dan dalam sekejab mereka sudah berada di kamar istana Raja.
Gyan berdiri sedangkan Valmira duduk di tepi ranjang. Hal aneh ini tentu saja membuat Valmira terkejut setengah mati. Wanita itu mendongak menatap Gyan tidak percaya.
" katakan kenapa kau kabur dari istana?" Gyan terus mendesak. bahkan pegangan tangannya semakin erat dan keras. Belum juga selesai rasa terkejutnya, Gyan sudah memberikan pertanyaan lagi.
" sa..sakit" cicit Valmira menarik tangan nya namun tidak bisa. Gyan menarik nafas panjang, dia mencoba sedikit bersabar. Menghadapi Valmira yang seperti ini membuatnya serba salah.
" jawab pertanyaan ku Alora!" Gyan menghempaskan tangan Valmira dengan sedikit keras. Sebagai bentuk rasa frustrasinya.
__ADS_1
Valmira bukannya menjawab, wanita itu sibuk mengusap tangannya bekas cekalan Gyan.
" Alora, jangan menguji kesabaranku" desis Gyan memberikan peringatan terkahir. Dia sudah cukup menahan diri.
Valmira merasakan angin dingin menerpa kulitnya, sangat mencekam. Pertanda sudah waktunya dia berbicara.
" aku, hanya ingin saja" jawab Valmira sekedarnya. Jelas ini tidak menjawab apapun.
" kenapa?" tanya Gyan lagi.
" aku tidak suka dengan istana" cicit Valmira membuka sedikit simpati Gyan. Lelaki itu menatap Valmira yang masih tidak berani menaikkan kepalanya. wanita ini tau jika dia sudah melakukan kesalahan. Gyan mulai mereda.
" bukankah selama ini baik-baik saja?"
" em," Valmira tak bisa menemukan jawaban. Memang baik-baik saja, tapi bukan seperti ini kehidupan yang Valmira inginkan.
" kau sudah kembali?" tiba-tiba saja Kangta berdiri di depan pintu kamar. Lelaki tua itu sama sekali tidak bisa melihat situasi dan kondisi di kamar.
Valmira dan Gyan jelas saja langsung menoleh. Gyan menghembuskan nafas panjang, Kangta masih belum puas mengurusi kepentingannya. Sangat tidak tau diri.
Sedangkan Valmira menatap tidak percaya. Ada orang yang begitu lancang masuk ke istana Raja. Valmira juga sedikit merasa aneh karena sikap Gyan yang tidak langsung marah pada lelaki tua itu.
" kau siapa?" tanya Valmira penasaran.
" apa kau yang bernama Alora itu?" tanya Kangta balik, bahkan lelaki tua itu tanpa meminta izin langsung berjalan masuk mendekati Valmira.
" iya" jawab Valmira singkat.
Gyan tidak bisa berkata-kata. Kelakuan Kangta begitu membuatnya kesal, sayangnya bukannya takut, Valmira malah terlihat senang atas kedatangan Kangta.
" kalian berdua sama saja!" teriak Gyan lalu pergi dari kamar.
__ADS_1
Valmira dan Kangta malah tidak ambil pusing, keduanya kembali meneruskan perbincangan tanpa rasa bersalah.