Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan

Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan
Sampai


__ADS_3

Perbincangan dengan durung baru selesai beberapa saat yang lalu. Valmira kembali ke kamar untuk menidurkan G.


Bayi kecil itu dengan cepat langsung tidur setelah Valmira menyusui. malam masih panjang dan wanita itu kembali menutup matanya.


Hingga menjelang fajar, wanita itu terbangun lalu memilih keluar kamar. Dilihatnya G masih tidur nyenyak jadi dia bisa meninggalkannya sejenak.


Valmira pergi ke dapur, disana Deon ternyata sudah mulai memasak.


" kau rajin sekali, atau memang begitu menyukai memasak" tanya Valmira basa basi.


" yang mulia, sudah bangun?. saya hanya berniat mengecek saja lalu tiba-tiba ingin memasak"


" apa perlu aku bantu?"


" tidak perlu yang mulia" tolak Deon halus.


" baiklah jika begitu"


Valmira meninggalkan dapur dan termenung sejenak di pagar dek Kapal. menikmati angin fajar lautan.


Sayup -sayup dia mendengar gemericik air dari bawah.


" apa itu?" Valmira menunduk dan melihat ada hewan yang mendekat.


" Seekor Hippocampus" lirih Valmira melihat kuda air yang bergerak menarik perhatiannya. Kuda itu begitu riang sehingga membuat Valmira ingin sekali menyentuhnya.


Tanpa pikir panjang Valmira turun ke permukaan air. wanita itu disambut dengan ceria oleh sang kuda. Valmira tidak ingat jika kuda yang ada di hadapannya adalah Hippocampus yang dulu pernah menolongnya saat melawan manusia kadal.


" bagaimana bisa kau ada disini? apa kau tidak takut di buru?" tanya Valmira yang jelas tidak akan di jawab oleh kuda tersebut.


Valmira mencoba menaiki kuda tersebut dan ternyata kuda itu langsung membawanya menyelam. Valmira secepatnya membuat sihir air agar bisa bernafas di dalam air, tapi tubuhnya seakan tidak membutuhkan itu. Dia merasa jika dia sudah memiliki kekuatan lain sehingga bisa bernafas meski berada di dasar laut.


Valmira cukup senang dengan hal ini, kuda itu begitu lincah kesana kemari membawanya menuju tempat-tempat yang begitu indah. Banyak sekali bunga bunga laut yang mulai mekar. Mereka terus berenang menjelajah lautan yang luas.


Hingga setelah beberapa saat akhirnya waktu mereka bersenang-senang telah habis. Kuda itu mengantarkan Valmira menuju kapal. Saat Valmira turun sang kuda tidak mau pergi, dia menatap Valmira terus menerus, membuat wanita itu menjadi bingung.


" kenapa kau terus melihat ku?"


Valmira menyentuh kepala sang kuda sebagai bentuk komunikasi. Tak lama Valmira melihat kilasan peristiwa yang terjadi padanya saat dulu masih kehilangan ingatannya.


" jadi kau yang menolong ku dari monster itu, terimakasih ya. Kau juga tampak lebih sehat sekarang. Jika ada waktu aku akan memperkenalkanmu pada G, putraku" ucap Valmira pelan. Kuda tersebut bersuara pelan, seakan mengerti dengan apa yang Valmira ucapkan. Dan tak lama Hippocampus itu pergi, Valmira naik ke kapal dengan tubuh basah kuyup.


" yang mulia, dari mana saja. Kami kira ada hal buruk yang terjadi" ucap Kangta yang nampak sekali kekhawatirannya. Dia hanya teringat dengan kejadian Finflok dulu. Takutnya hari ini juga terjadi lagi.


" aku baru saja menaiki kuda air, kuda yang menyelamatkan kita waktu itu"


" ah ya saya tau, lalu dimana dia sekarang?"


" sudah pergi, baru saja"

__ADS_1


" yang mulia, keringkan badan dulu. makanan sudah siap" potong Deon yang sudah sejak tadi menunggu kedatangan Valmira. perutnya sudah ingin di masuki makanan.


" ah baiklah. Maaf sudah membuat kalian khawatir dan menunggu lama"


" tidak masalah, yang mulia"


Setelah beberapa saat, mereka selesai sarapan. Sesuai dengan prediksi sebelumnya mereka bisa melihat sebuah pulau tak jauh dari sana. Sontak saja mata Deon langsung berbinar begitupun dengan Kangta yang sangat senang. Mereka bisa menginjakkan kaki di pulau ini lagi.


" yang mulia sebentar lagi kita akan sampai" ucap Kangta yang langsung menemui Valmira.


" oh ya, baiklah kita bersiap" ucap Valmira sambil mengambil sebuah jubah bertudung. Tubuh Valmira yang begitu berbeda dari manusia yang lainnya membuat wanita itu menyembunyikan diri. Dia tidak mau terlalu mencolok. Kulit dan rambut yang berwarna putih sangat jarang di temui oleh masyarakat diluar kerajaan Mystick.


" baik yang mulia. kami juga akan bersiap" balas Kangta dan Deon.


Tak perlu waktu lama, merek bertiga sudah berdiri di geladak kapal.


" saat di sana jangan panggil aku dengan sebutan yang mulia. Panggil namaku saja " pesan Valmira.


" baik yang mulia" ucap Deon dan Kangta.


Mereka tampak biasa, Valmira menggendong G di depan tubuhnya, membuatnya tidak terlihat secara langsung.


Kapal menepi dengan baik, Kangta juga menyuruh salah satu nelayan untuk menjaga kapal beberapa waktu sampai mereka kembali. Dan tentu saja Valmira sudah menyiapkan bayaran yang tinggi. jadi siapapun tidak akan menolak.


" jadi kita akan kemana?" tanya Valmira tak tau. Baginya ini adalah pertama kalinya dia melihat dunia luar. wanita itu menatap sekeliling mencari yang tampak berbeda dari pulau kerajaannya.


" sepertinya kita baru saja melewati Samudra Chantara. Dan kita berada di ujung selatan Azerbaza. Ini lumayan dekat dengan kerajaan Garamantian"


" mungkin lebih baik kita mencari penginapan terlebih dahulu. Saya akan memanggil elang untuk memudahkan kita berpindah tempat"


" ya kau benar, kita cari kedai makanan serta penginapan yang paling dekat"


Rombongan itu berjalan menjauh dermaga dan masuk ke area permukiman. Sampai saat ini mereka belum memiliki rencana akan meneruskan perjalanan kemana. Aura iblis yang kabur belum bisa di deteksi oleh Valmira.


Sedangkan di sisi lain, istana Raja Gyan tampak sepi dan terasa sekali aura gelap menyelimuti area tersebut. Akibat kutukan yang lelaki itu terima membuat area sekelilingnya juga ikut terkena dampaknya.


" yang mulia, pertemuan kali ini mereka sudah siap memberikan pertolongan mau siapapun yang akan di serang terlebih dahulu. Mereka juga mengatakan akan siap selama Yang mulia memang sanggup melawan Ratu Shana"


" apa yang mereka keluarkan untuk mengetahui keadaan masing-masing?"


" ini yang mulia, benda ini akan menghubungkan semua anggota. Semua penyihir yang tergabung sudah memiliki level kemampuan yang cukup tinggi, kebanyakan dari mereka cukup bisa andalkan" jelas Aden, lelaki itu baru saja mewakili Gyan pada pertemuan penyihir hari ini. Keadaan Gyan agak menurun. Jadi demi menutupinya Aden beralasan jika Raja Gyan tengah sibuk.


" baguslah, aku akan melakukan pemulihan dalam waktu dekat. Baru setelahnya kita datangi wanita itu"


" yang mulia yakin dengan keputusan ini? kondisi anda masih terlihat lemah"


" mau sampai kapan aku menundanya, cepat atau lambat wanita itu pasti mendatangiku untuk menyelesaikan kutukannya. Lebih baik aku mendahului agar kesempatan melawannya jauh lebih banyak"


" yang mulia, lebih baik kita tunggu tuan Kangta dan Deon. Mereka pasti akan kembali"

__ADS_1


" jangan menggantungkan hidup pada orang lain. Aku tidak akan bisa bertahan lebih lama lagi, setidaknya kematianku akan lebih berguna saat bisa memusnahkan wanita ular itu"


Deon tak bisa berkata lagi. Tuannya terlihat kekeh ingin mengorbankan dirinya.


" ah ya, panggilkan Ibu suri kemari. Ada hal penting yang ingin aku bahas dengannya"


" baik yang mulia"


Aden keluar dan pergi ke istana Harem. Di tengah perjalanan dia melewati kamar selir Agung. Lelaki itu berhenti sejenak dan menatap pintu kamar dengan tatapan sedih.


" tak ku sangka wanita seperti anda yang bisa membuat yang mulia menjadi selemah ini" lirih Aden, tak lama dia memalingkan wajahnya dengan kasar. Dia sangat kasihan dengan akhir cerita tuannya dengan wanita pujaannya. Benar-benar tidak ada kenangan bahagia.


lelaki itu berlanjut mengantarkan ibu suri ke istana Raja.


" yang mulia, ibu suri sudah menunggu di ruang depan" ucap Aden, lalu membantu Gyan berjalan.


" yang mulia" ucap ibu suri saat melihat Gyan datang. Lelaki itu terlihat tidak sebugar biasanya. Aden sudah menyingkir terlebih dahulu agar Ibu suri tidak curiga.


" duduklah, aku ingin membahas rencana pernikahan yang sudah aku diskusikan padamu"


" ah itu, saya sudah mengirimkan surat lamaran sesuai dengan instruksi yang mulia. Dan beberapa hari yang lalu sudah datang surat balasan"


" apa yang tertulis disana?"


" mereka mengatakan jika sudah pernah mengirimkan 5 surat lamaran sebelumnya namun tidak pernah ada balasan. Jadi setelan mendapatkan surat dari kerajaan, mereka langsung saja menerima dan akan menyanggupi semua syarat yang sudah kita berikan"


" bagus, jangan menunggu terlalu lama. segera persiapkan dan suruh mereka untuk langsung menemui ku"


" baik yang mulia..saya lihat kondisi anda sedang tidak baik. Apa sebaiknya kita menunggu sampai..."


" aku baik- baik saja, jangan khawatir. ikuti saja semuanya sesuai dengan instruksi awal"


" apa kita tidak perlu menjelaskan masalah ini pada putri Farfalla?"


" nanti saja,aku yakin Falla tidak akan banyak berkomentar"


" sebenarnya apa alasan yang mulia mengadakan pernikahan ini dengan begitu cepat dan rahasia?"


" tidak ada, aku hanya ingin yang terbaik untuk kerajaan Garamantian, aku merasa sudah waktunya kerajaan bisa memiliki penerus..."


ooaaaakkk ooaakk


suara elang Kangta terdengar nyaring di istana Raja. Burung itu bahkan terbang memutari ruang depan sebelum akhirnya keluar melalui jendela lebar yang berada tak jauh dari sana.


Gyan langsung berdiri dengan wajah terkejut. Sudah sangat lama elang itu hanya berdiam diri di sangkarnya. Kini tiba-tiba saja pergi dengan suara yang begitu nyaring, jelas ini pertanda baik.


" pak tua itu akhirnya kembali" lirih Gyan dengan senyum tipis. Setelah lama tak ada kabar, kini Kangta sudah kembali dengan selamat. Gyan berjalan menuju jendela dan melihat elang itu terbang semakin jauh.


tap tap tap

__ADS_1


suara langkah kaki cepat terdengar. Dan ternyata Aden berlari menuju Gyan dan Ibu suri yang masih berada di ruang depan istana Raja.


" yang mulia, istana di serang!" ucap Aden, membuat Gyan dan ibu suri menatapnya dengan wajah panik. Begitupun dengan Aden yang masih tersengal-sengal, menunggu perintah dari Gyan.


__ADS_2