
Gyan menyuruh ibu suri segera bersembunyi tak jauh dari sana. Aura gelap tiba-tiba terasa di sekitar istananya. Sebentar lagi dia akan kedatangan tamu.
" segera hubungi para penyihir" ucap Gyan pada Aden.
" baik yang mulia" Lelaki itu bergegas menuju aula kerajaan untuk mengaktifkan benda yang menjadi penghubung antar penyihir.
sayangnya Aden mengambil pilihan yang salah, karena sedetik kepergiannya terbukalah sebuah portal sihir yang langsung membuka di halaman depan istana Raja. Gyan bisa merasakannya dengan baik, lelaki itu kini duduk tenang sambil menunggu tamu yang sudah dia tau siapa akan mendatanginya.
Sedangkan ibu suri masih bersembunyi di area dalam kamar, sehingga tidak akan ada yang menyadari kehadirannya.
tap tap tap
suara langkah kaki terdengar semakin dekat, bersamaan dengan bunyi perkelahian di area bawah. para penjaga istana dengan mudah di kalahkan, tamu yang datang menggunakan sihir hitam dan mereka tentu tidak dapat menangkisnya dengan mudah.
Gyan sama sekali tidak memberikan reaksi apapun. Lelaki itu hanya terdiam sambil berkonsentrasi memulihkan tubuhnya.
" yang mulia Raja Gyan yang terhormat, sepertinya kedatangan ku tidak terlalu mengejutkanmu" ucap Shana begitu sampai di ambang pintu ruang depan. Dia dengan jelas melihat Gyan yang duduk tenang menghadap kearahnya.
Mendengar suara itu Gyan langsung membuka matanya.
" aku kira kau tidak berani datang setelah aksimu tertangkap basah oleh penjaga kerajaan" remeh Gyan.
" tidak mungkin, bagaimana aku takut saat Raja Garamantian sudah menerima kutukan dariku, hahahha" ucap Shana sombong lalu berjalan memutari Gyan yang masih duduk.
Shana berhenti di belakang Gyan, tangannya turun meraba dada lelaki itu pelan.
" apa kau masih merindukannya, wanita rendahan yang mati mengenaskan itu?" bisik Shana di telinga Gyan. Shana mengingatkannya alasan kenapa Gyan bisa semudah itu meminum ramuan kutukan.
" siapa yang kau maksud rendahan? bukankah dirimu jauh lebih hina. Membunuh ibu dan ayahmu hanya demi sihir hitam" ejek Gyan, lelaki itu tidak akan mudah terintimidasi.
" itu hanya pengorbanan mereka agar putrinya menjadi penyihir terhebat" kilah santai Shana dan berpindah menjadi berdiri di depan Gyan. kedua tangannya ikut berpindah. Mengelus halus pipi Gyan dan tiba-tiba mencengkramnya kuat. menarik wajah Gyan agar mendongak melihatnya.
" yang salah adalah kau, karena mu aku memilih jalan seperti ini. Jika saja kau mau melihat ku sejenak saja, memperlakukanku sebaik mungkin. tentu aku tidak akan tergiur menggunakan sihir ini" desis Shana marah lalu dengan keras mendorong wajah Gyan ke samping.
" ck ck ck, kau mencari pembenaran yang salah. Sudah sedari awal aku menolakmu tapi kau yang terus memaksa pernikahan itu di laksanakan" balas Gyan tenang. lelaki itu pandai sekali memainkan emosi lawannya.
plak
Shana menampar keras pipi Gyan.
" brengsek!"
Gyan tertawa senang, dia memilih menahan diri untuk tidak langsung menyerang musuhnya. Dia hanya memiliki energi terbatas, jadi harus pintar memilih waktu yang pas.
Tak lama dari luar datang Douglas yang juga berjalan masuk dengan santai dan wajah sombong.
" jadi inikah istana Raja Gyan yang agung?" ejek Douglas.
" apa itu kau Douglas, kau masih sama seperti dulu. Bersembunyi di balik sosok wanita" balas Gyan membuat Douglas sedikit kaget, Gyan adalah orang pertama yang mengenalnya setelah dia merubah fisiknya.
" setidaknya aku masih bisa bertahan, tidak sepertimu yang lemah hanya karena wanita" balas Douglas tak mau kalah.
" apa tujuan kalian datang kemari? ingin membunuhku?" tanya Gyan langsung,
" tidak tenang saja, sekarang bukan waktu yang tepat untuk membunuhmu. setidaknya kita perlu bersenang-senang terlebih dahulu" balas Shana yang sudah duduk di hadapan Gyan. Wanita itu tersenyum licik sambil mengeluarkan sebuah botol porselen.
......................................
ooaaakkk oooaaakkk
suara burung elang terdengar dari atas penginapan. hari masih sore tentu saja hal ini menarik perhatian banyak orang.
Kangta yang masih di kamar langsung bangun dan membuka jendela kamar.
" tuan, bukankah itu elang anda" ucap Deon yang memang sekamar dengan Kangta. Tak lama elang itu masuk ke kamar dan hinggap di tangan Kangta.
" dia cukup pintar bisa langsung menemukan keberadaanku" balas Kangta sambil mengelus kepala elang miliknya.
" kau bertambah gendut, apa Gyan memberimu terlalu banyak makanan. lelaki itu sepertinya begitu memanjakan mu" komentar Kangta yang begitu senang bisa melihat hewan sihirnya yang sudah beberapa bulan tak bisa berkomunikasi.
__ADS_1
oooaaakkkk oooaakk
elang itu masih saja bersuara, padahal biasanya juga hanya diam saat Kangta mengelus kepalanya.
Dahi Kangta mengerut, dia merasa ada yang aneh dengan elang miliknya.
" kenapa dia terlihat gusar tuan?" Deonpun bisa menyadarinya.
" entahlah aku juga tidak tau, tidak biasanya dia seperti ini"
" apa dia mengalami sesuatu hal yang buruk?"
" aku akan mengeceknya"
Kangta merapal kan mantra dan menyentuh kepala elangnya. Kangta memulai komunikasi dengan hewan tersebut. Deon menatap dengan seksama proses itu dalam beberapa waktu. sampai tiba-tiba saja Kangta berteriak.
" gawat!"
" ada apa tuan?" tanya Deon panik.
" kita harus segera ke Garamantian, Gyan dalam bahaya" Kangta berjalan tergesa menuju kamar Valmira. Hanya wanita itu yang bisa menyelamatkan Gyan.
" bahaya kenapa?" tanya Deon dengan mengejar langkah Kangta.
" ceritanya panjang, yang jelas disana ada yang melakukan sihir hitam. dan ini jauh lebih berat daripada sebelumnya" jawab kangta yang semakin membuat Deon penasaran.
tok tok tok
Kangta mengetuk pintu dengan sedikit keras. Dia akan meminta maaf nanti, setelah situasinya membaik.
" ada apa?" jawab Valmira dari dalam. Dia mengira jika yang mengetuk adalah pelayan penginapan.
" Valmira, ini saya Kangta" saut Kangta dengan keras, jelas sekali nada cemas dari suaranya.
" ada hal apa Kangta?" Valmira membuka pintu dengan cepat.
" sihir hitam? apa jangan-jangan aura iblis itu sudah bercampur dengan aura gelap di sana"
" saya tidak tau Valmira, tapi keadaan sudah sangat genting. saya mohon tolonglah Garamantian"
" tentu saja, lalu kapan kita akan berangkat?"
" sekarang juga, kita bisa menggunakan elang milikku. Dia adalah hewan sihirnya yang bisa berubah ukuran"
" baiklah, aku akan bersiap"
akhirnya menjelang malam, ketiga orang itu berkumpul di sebuah tempat yang luas dan jauh dari kerumunan.
Kangta merapalkan mantra dan elang miliknya langsung berubah menjadi burung raksasa yang bisa menjadi tunggangan.
" apa dia yang mengirimkan informasi?"
" iya, yang mulia"
Valmira menyentuh pipi elang itu, dia akan memastikan seberapa parah keadaan yang terjadi.
" ini sudah sangat keterlaluan, lelaki yang ada di sana juga begitu kasihan" gumam Valmira yang belum mengenali jika yang dia lihat barusan adalah Gyan, suaminya sendiri.
" Deon sepertinya kau tidak bisa ikut dengan kami. bayi G tidak bisa kesana, akan sangat berbahaya jika sampai aura hitam itu mengincar tubuh suci G. Bisakah kau tetap tinggal dan menjaga G untukku?"
" iya, yang mulia benar. situasi di sana pasti akan membuat bayi G berada dalam bahaya" imbuh Kangta sependapat.
" baiklah saya akan menjaga bayi G disini"
" terimakasih, aku akan sangat berhutang budi" ucap Valmira sambil menyerahkan bayi G pada Deon. Bayi itu sempat menangis sesaat tapi kemudian tenang saat Valmira mengelus kepalanya pelan.
" setelah keadaan membaik aku akan mengirimkan elang ini untuk menjemputmu"
Deon Mengangguk, menjaga keselamatan bayi G juga merupakan tugas yang terhormat.
__ADS_1
" baiklah, kalian hati-hati dan jaga diri" ucap Deon.
Valmira dan Kangta langsung menaiki elang tersebut. Tak lama burung itu terbang meninggalkan Deon yang menggendong bayi G.
" apa burung ini bisa melewati portal?" tanya Valmira pada Kangta
" bisa" jawab Kangta cepat.
Tak perlu banyak waktu Valmira memberikan sihir dimensi agar elang bisa sampai dengan cepat di Garamantian.
......................................
" jangan sentuh dia!" teriak Gyan saat anak buah Shana menyeret putri Farfalla mendekat.
" kau hanya punya 2 pilihan, minum ramuan itu atau aku akan membunuh Falla di depan matamu" ancam Shana. wanita itu sangat tau kelemahan Gyan selain Alora.
" lepaskan aku! kau Memang biadab. Aku Menyesal karena sudah menyuruh kakak menikahimu" teriak Falla di depan Shana.
" ahahahahah, penyesalanmu sudah tidak berguna! kakak yang kau banggakan ini sudah lama terkena kutukan dariku"
mendengar penuturan Shana, membuat Falla menoleh dan menatap kakaknya mencari pembenaran. sayangnya kondisi kakaknya seakan membuktikan jika ucapan Shana tidak bohong.
Pantas saja belakangan ini sulit sekali bertemu dengan sang kakak. Ternyata kakaknya sengaja menghindar dan menyembunyikan hal ini darinya.
" Dasar kau iblis!!" caci Falla dengan penuh kemarahan. Gyan menatap Falla dengan perasaan bersalah. Sebagai kakak dia tidak bisa melindungi adiknya dengan baik.
" hahahah, sudahlah. cepat kau minum ramuan ini!"
" tidak kak, jangan meminumnya" Falla menangis dengan tubuh terikat. Wanita itu menatap Gyan sambil menggeleng cepat.
" cepat minum!" teriak Shana.
" aaakkkk" ,Douglas dengan keras menjambak rambut Falla. Semuanya tau jika Falla hanya manusia biasa. Sama sekali tidak memiliki kemampuan sihir.
" ku bilang jangan sentuh dia!" teriak Gyan sekali lagi.
ccrruussshhh
Gyan menyerang Shana dan Douglas bersamaan. kedua orang itu mundur beberapa langkah. Gyan dengan cepat segera menarik Falla dan menyembunyikannya di balik tubuhnya.
" kau sangat sulit di atur. Baiklah jika kau ingin melawan. bagaimanapun tubuhmu sudah tidak memiliki energi" ucap Shana dan setelahnya dia merapalkan mantra khusus.
Gyan menatap Shana dengan nyalang, tubuhnya bisa merasakannya gejolak aura hitam yang semakin kuat.
" kakak" lirih Falla yang merasa takut.
" kau tenang saja " hibur Gyan yang terus menahan sakit di tubuhnya.
" inilah hukumannya karena kau sudah melawanku" desis Shana terus merapal kan mantra.
" aaaakkkk" rasa sakit yang luar biasa terasa di tubuhnya.
" kakak!" teriak Falla panik. Gyan terduduk dengan kepala mendongak ke atas.
" hentikan, aku mohon hiks" ucap Falla pada Shana.
" hahahahaha, rasakan itu"
" aaakkkk "
" hentikan menyiksanya. hentikan hiks"
" aku akan menghentikannya asal kau suapi Gyan dengan ramuan itu" tawar Shana sambil memberikan kode pada Douglas untuk memberikan botol porselen itu.
" apa ini?" tanya Falla pelan.
" kau tak perlu tau, suapi kakakmu dengan itu" Falla menerima botol itu dengan tangan bergetar. Dia sudah merasa jika botol ini berisikan hal yang buruk untuk kakanya. Falla menjadi bingung, melihat kakanya tersiksa seperti ini membuatnya tidak tega. Tapi jika dia menyuapi kakaknya dengan ramuan ini, bisa jadi keadaan membaik atau malah bertambah parah.
" cepat suapi dia!" paksa Shana.
__ADS_1