
ctarr
slpsshh
suara alat-alat penyiksaan terdengar jelas di telinga para penjaga tahanan. Setiap hari penjahat Alvaro dan Violet secara rutin mendapatkan berbagai bentuk penyiksaan baik secara fisik ataupun dengan kekuatan sihir. Meskipun begitu semua itu belum bisa membuat mereka jera dan membuka mulut atas kejahatan yang sudah mereka lakukan.
" katakan bagaimana memutus mantra itu!"
slpasshh
" aakk"
satu tamparan menggunakan sihir mendarat di wajah Alvaro. Satu kali tamparan akan membuat seluruh sendi tubuhnya langsung merasakan sakit.
" aku tidak tau, Violet yang memberikan mantra-mantra itu. Dia datang saat malam hari dan aku berganti menjaga lampion untuknya. Aku mohon, aku sudah mengatakan semua kebenarannya. lepaskan aku" jelas Alvaro mengiba. Sekujur tubuhnya penuh dengan luka lebam dan luka sobek. kulit tubuhnya tidak seperti manusia normal banyak sekali bekas luka, baik luka bakar ataupun luka dari senjata tajam dan tumpul.
" kami tidak percaya, kau tau soal mayat-mayat itu. Jadi kau pasti mengetahui sesuatu. sekarang katakan semuanya pada kami" cerca Kangta berkali-kali.
" sudah aku katakan semuanya. Aku mohon ampuni aku. aku tidak kuat lagi" Alvaro terus mengiba meminta ampunan. Tapi sama sekali tidak menggoyahkan tekad Kangta.
Seharian ini mereka menyiksa 2 orang tersebut sama sekali tidak membuahkan hasil.
" bagaimana ini tuan. Kita tidak bisa menemukan apapun" cemas Deon.
" kau tenang saja, besok aku akan mencoba menggunakan sihir pemikiran. Mungkin dengan mempermainkan pikiran mereka kita bisa menemukan titik terang" jelas Kangta.
" bukankah tenaga dalam anda.."
" aku sudah sedikit pilih, mungkin besok bisa menggunakan sihir tinggi itu"
" baik tuan. Anda jangan memaksakan diri jika memang tidak sanggup lebih baik mementingkan diri sendiri dulu. kehadiran anda lebih penting disini" saran Deon yang takut jika sampai Kangta mengorbankan dirinya.
" jangan khawatir" jawab Kangta percaya diri.
Besok sorenya ruangan penyiksaan kembali di buka. kali ini Violet yang di seret lebih dulu.
" kalian tidak ada bosannya melalukan hal ini. Jawabanku masih sama, masalah mayat itu Alvaro yang bertanggung jawab" ucap Violet sinis.
" kali ini kami menggunakan metode lain, kau tidak ada menyadarinya" ucap Kangta sebelum mengangkat tangannya dan menempelkannya ke kepala bagian belakang Violet dengan cepat.
__ADS_1
craasshh
lelaki itu langsung mengirimkan sihirnya, Violet belum sempat menyadarinya langsung masuk dalam jebakan Kangta.
Kangta memejamkan matanya dan berkonsentrasi, mencoba masuk dalam pikiran Violet dan melihat beberapa ingatan wanita ini.
Deon menyaksikan dalam diam, semua ini di luar dari kemampuannya. Dia tidak tau apapun, hanya bisa melihat kerut dahi Kangta yang tidak pernah berhenti. entah apa yang lelaki itu lihat di sana.
tap tap tap
suara langkah kaki terdengar, Deon langsung menatap tak percaya seseorang yang datang.
" putri " sanjung Deon.
" apa yang Kangta lakukan?" tanya Valmira sambil menatap ke arah Kangta yang tengah serius.
" tuan Kangta menggunakan sihir pikiran untuk melihat ingatan Violet" jawab Deon apa adanya.
" sihir pikiran, apa energinya sudah pulih?"
" tuan Kangta mengatakan jika dirinya baik-baik saja"
Valmira menatap dan mendekat ke arah Kangta.
" mungkin saat menjelang senja tadi putri"
" langit sudah gelap, ini terlalu lama"
Dengan seksama Valmira memfokuskan pandangannya pada wajah Kangta dan Violet secara bergantian. Hampir dari mereka memiliki raut wajah yang serius dan beberapa bulir keringan memenuhi wajahnya.
" aku akan memutuskan sihir ini, jika Kangta tidak memiliki banyak energi malah dirinya yang tidak bisa keluar dari ingatan Violet" jelas Valmira. waktu yang begitu lama membuat wanita itu pada akhirnya mengambil keputusan untuk memutus sihir ini.
Crusshhh
Valmira mulai menyalurkan sihirnya. Beberapa lama sampai akhirnya Kangta membuka matanya dengan nafas terengah-engah. begitupun dengan Violet nafasnya menderu kencang.
" apa yang kau lakukan!" teriak Violet mencoba menoleh. Tapi dengan tangan yang terikat tentu saja membuatnya kesusahan bergerak.
" putri, .." Kangta menyadari kehadiran Valmira yang berada di belakangnya.
__ADS_1
" kau terlalu memaksakan diri" ucap Valmira lalu berjalan menjauh. Wanita itu berdiri di samping Deon tepat di depan Violet.
" Valmira, kau tidak akan selamat. Aku akan membalas dendam atas perbuatanmu!" teriak Violet penuh benci. Dia mengira jika yang baru saja dia alami adalah karena ulah Valmira.
" jangan terlalu bersemangat Violet, Lusa adalah hari eksekusi mu. Bagaimana caranya kau membalas dendam, hah?"
" aku tidak akan mati semudah itu, kau akan menyesal Valmira" mata Violet melotot dengan nafas yang masih menderu kesal.
Kangta masih berdiri di belakang Violet, masih memikirkan ingatan yang baru saja dia tau.
" bawa dia pergi! " teriak Valmira pada penjaga tahanan.
" lepaskan aku! brengsek" Violet terus memberontak. dia sama sekali kacau, kabar kematian dirinya tentu tidak akan pernah dia terima begitu saja.
" kalian segera temui aku setelah ini" pesan Valmira lalu pergi meninggalkan Kangta dan Deon.
......................................
" ayah tenangkan diri. Semua yang ayah takutkan sudah berakhir. Kita semua akan aman disini" ucap Shana lembut di kamar ayahnya.
setelah mendengar keberadaan ayahnya di perbatasan. Shana langsung menyusul dan nampak terkejut dengan penampilan ayahnya. Bahkan lelaki itu sempat tidak mengenali putrinya sendiri. sampai Shana memberikan ramuan penenang dan membawa ayahnya ke istana.
" mereka menjadi monster dan memakan semua orang" ucap Raja Prysona dalam kebingungannya.
" ssuutt ayah tenang. itu hanya mimpi buruk, dan semuanya sudah berakhir" hibur Shana. wanita itu berpura - pura perhatian. Dia penasaran sebenarnya apa yang sudah terjadi pada ayahnya di medan perang.
" Shana, temani ayah" akhirnya ayahnya mulai sedikit bisa di ajak berbicara.
" iya ayah. Shana akan disini tidak akan kemana-mana" wanita itu membantu ayahnya berbaring dan menarik selimut. Membuat ayahnya tertidur agar pikirannya tenang dan kembali normal.
Diluar Douglas berdiri di depan kamar Shana, menunggu untuk bertemu dengan wanita itu. Kembalinya Raja Prysona dalam keadaan selamat tentu saja membuatnya sedikit kebingungan. Dia harus mempengruhi Shana agar wanita itu jangan sampai goyah untuk tetap mempelajari ilmu hitam.
Sampai malam begitu larut baru Shana terlihat berjalan masuk ke kamarnya.
" putri apa yang terjadi pada Raja?" tanya Douglas basa-basi.
" dia sepertinya kehilangan kewarasannya karena melihat pasukannya menggila" jawab Shana singkat, dia sudah lelah dan ingin segera tidur.
" apa dia mengetahui jika semua ini adalah ulah kita?"
__ADS_1
" entahlah, tapi menurutku tidak. dia bahkan memintaku menemaninya juga tak ada rasa takut saat melihatku. Sudahlah aku sangat mengantuk" usir Shana dan wanita itu langsung masuk ke kamar. Douglas mengangguk pelan, ini bukan waktu yang tepat untuk berbincang dengan Shana.
Lelaki itu menatap pintu yang tertutup dengan perasaan kalut, dan akhirnya memikirkan sebuah ide. Tanpa sepengatahuan Shana, Douglas berjalan Menuju kamar Raja. saat situasi aman Douglas segera masuk. memperhatikan Raja Prysona yang tertidur lelap, dan cepat melakukan sesuatu pada lelaki itu. Setelah selesai Douglas langsung pergi tanpa ketahuan.