
Tanpa perlu permisi Ratu Shana masuk ke kamar selir. Meski saat masuk dia melihat sang Raja dan selir yang saling tertawa bercanda. Tak membuatnya merasa tidak enak menganggu, justru malah ingin membuat keduanya terpisah.
" yang mulia" ucap Shana mengagetkan penghuni kamar. Gyan dan Valmira langsung menoleh ke arah pintu masuk.
" Ratu" ucap Valmira menimpali.
" bagaimana keadaanmu, begitu aku tau kau sudah sadar aku segera datang kemari" jelas Shana dengan di papah menuju ranjang.
" yang mulia Raja pasti khawatir, maafkan kelalaian saya" lanjut Shana sambil menatap Gyan. Wanita itu terlihat sangat menyesal. begitu meyakinkan sekali sandiwaranya.
" tentu saja, bagaimana bisa kamu menyuruhnya turun ke kolam" balas Gyan yang sejak awal sudah tak suka dengan kedatangan Shana.
Valmira melihat ini tentu saja ikut kasihan, jangan sampai Gyan membenci Shana, bisa-bisa dia tidak bisa pergi dari kerajaan ini. Antara Shana dan Raja harus memiliki hubungan yang baik, sampai dia pergi dari kerajaan.
" yang mulia jangan menyalahkan Ratu, saya sendiri yang berinisiatif untuk menangkap ikan disana" ucap Valmira berbohong. Dia bukanya ingin membantu Shana. Semua ini demi dirinya sendiri.
Hanya saja Valmira masih belum tau, semua yang ada di kamar ini jelas tau jika apa yang dia ucapkan barusan adalah kebohongan.
" jangan membelanya" ucap Gyan tak suka.
" saya tidak membela, semua ini adalah benar. iya kan Ratu?" tanya Valmira menatap Shana. hal ini tentu saja disambut dengan baik oleh Shana, wanita itu memang sedari tadi berusaha mencari alasan yang kuat, dan kini alasan itu datang dengan sendirinya.
" iya yang mulia, apa yang Selir katakan adalah benar" jawab Shana dengan mudah. Dalam hati dia menyeringai puas, selir Alora ternyata bodoh juga.
Gyan menarik nafas panjang, jika situasinya begini dia juga sulit mengambil sikap.
" terserah saja" jawab Gyan datar lalu pergi dari kamar.
Shana menatap kepergian itu dengan mata berbinar akhirnya dia berhasil memisahkan kedua orang ini.
" silahkan duduk Ratu, maaf saya masih begitu lemah jadi tidak bisa menyambut anda dengan benar " ucap Valmira sedikit berlebihan.
Tak berselang lama Fleur masuk membawakan cemilan, dia melihat Ratu Shana dengan tatapan datar.
" silahkan Ratu" ucap Fleur, tapi dia tidak keluar kamar. Wanita itu sudah diberikan pesan oleh raja agar menunggu Valmira didalam kamar.
__ADS_1
"aku tidak menyangka akan seperti ini jadinya. Maafkan aku ya" ucap Shana penuh dengan nada bersalah.
" Ratu jangan berbicara seperti itu. Ini semua karena saya yang kurang keahlian" jawab Valmira terus merendah. Dia tidak mau hubungan permusuhan ini terlihat jelas. Di antara mereka tidak akan bisa akur.
" selir memang benar" ucap Shana mengiyakan, dia tidak salah dalam hal ini.
Fleur yang mendengarnya mencaci maki dalam hati, wanita yang menjadi Ratu nya ini sangat licik dan angkuh. Tapi Fleur juga lebih kesal lagi dengan selir yang malah merendah dan menyalahkan dirinya sendiri.
" aku bawakan beberapa obat untuk mempercepat kesembuhan mu" Shana menyuruh pelayannya memberikan bingkisan itu.
" Ratu repot- repot sekali" Valmira meminta Fleur menerimanya.
" tentu tidak, hal seperti ini tidak ada artinya bagiku"
" benar juga, terimakasih Ratu" balas Valmira, Shana tersenyum sombong.
" kalau begitu aku kembali dulu, semoga kau cepat pulih" ucap Shana, dengan di bantu pelayannya wanita itu beranjak dan pergi dari kamar.
" terimakasih Ratu" ucap Fleur mengantar kepergian Ratu.
" kau juga kenapa berbicara seperti itu? jelas -jelas jika dia yang seenaknya menyuruhmu masuk ke kolam" kesal Fleur, wanita itu duduk di samping Valmira.
" sudahlah tidak ada gunanya berselisih dengannya" jawab Valmira tak ambil pusing.
" selalu saja mengalah, lain kali kau perlu memberinya pelajaran" ungkap Fleur tak terima.
" iya-iya.. sudah berhenti mengomel dan bawakan aku makan malam" ucap Valmira untuk mengubah topik, lagipula dia juga merasa lapar setelah meminum ramuan tadi.
" ah ya, aku lupa jika kau belum makan. tunggu sebentar" jawab Fleur lalu berjalan keluar kamar.
Kini Valmira sendirian, wanita itu menatap jendela kamar. Diluar terlihat gelap gulita, pandangan itu kini beralih ke lilin penerangan. Wanita itu seperti mengingat sesuatu mengenai cahaya lilin.
' kalian akan menerima pembalasan ku!'
tiba-tiba kepala Valmira sakit, ingatan masa lalunya terlintas dalam sekejab. Wanita itu bingung apa yang terjadi pada dirinnya.
__ADS_1
" apa yang terjadi padaku?" ucap Valmira pelan. Dia merasa ada yang tidak beres dengan tubuhnya. entah apa itu, dia harus mencari tau.
Wanita itu melihat buku kerajaan Mystick yang sudah dia baca. Apa mungkin karena terlalu menghayati bacaan itu jadi dia sedikit terganggu. Rasanya banyak sekali hal-hal yang memiliki kesamaan dengan gambaran kerajaan Mystick.
" Alora, kau kenapa?" Fleur melihat Valmira yang melamun melihat lilin.
" tak apa, aku sangat lapar dan bosan menunggumu" jawab Valmira dengan wajah kasihan.
" ya maafkan aku, ini aku bawakan semuanya dengan porsi lebih" jawab Fleur menata semuanya di atas meja kecil. Lalu membawanya ke ranjang.
" terlihat begitu lezat" tanpa berlama- lama Valmira langsung memakan semuanya dengan lahab.
Di istana Raja Gyan masih meneruskan bacaannya pada buku penyihir Arghi. Setidaknya masih kirang 2 buku lagi, tapi lelaki itu baru menyadari jika dia kehilangan satu buku.
" Aden" panggil Gyan.
" ya yang mulia"
" bukankah kemarin buku yang kau bawakan berjumlah 7? Lalu kenapa bisa tinggal 6 disini?" tanya Gyan yang mungkin saja saat merapikan meja Aden menaruhnya di lain tempat.
" saya tidak tau yang mulia, saya kira buku itu anda bawa" jawab Aden yang memang sama kemarin mengetahui jumlah bukunya tinggal 6.
" tidak, apa ada seseorang yang datang kemari?"
" tidak ada yang kemari yang mulia, terakhir tamu yang datang kesini adalah selir Alora" jelas Aden mengingat-ingat.
" apa dia yang membawanya? lalu untuk apa?" tanya Gyan tak mengerti.
" apa saya perlu kesana dan.."
" tak usah biarkan saja, oh ya apa kau sudah mengembalikan cincin Gayde pada Alora?" potong Gyan.
" sudah yang mulia"
" untung saja dia tak memakainya kemarin" Gyan menghela nafas. Saat berkunjung tadi Gyan baru ingat tentang cincin itu. Dan melihat jika jari Valmira tidak terpasang cincin, perasaannya jadi tenang. Karena jika sampai Valmira menggunakan cincin itu dan berdekatan dengannya secara otomatis fungsinya akan menghilang. Itu sangat sia-sia.
__ADS_1
" baiklah kau boleh pergi"