Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan

Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan
Lebih Dulu


__ADS_3

" bagaimana acara tadi?" tanya Gyan membuat Shana segera mengalihkan pandangannya dan mulai fokus pada acara makan malam.


" meski sederhana tadi saya sangat bersyukur, semua lancar, yang mulia" jawab Shana dengan penuh kelembutan, sangat berbeda saat dia berbicara dengan orang lain.


" hem" gumam Gyan sambil meneruskan makan malam. Dia mengangguk sesaat. Lelaki itu ingin segera menyelesaikan acara ini dengan cepat.


Shana merasa tidak ada hal lagi yang bisa di perbincangkan akhirnya ikut makan dengan tenang.


Di tengah waktu makannya, seorang pelayan masuk lagi dengan membawa gaun wanita. Dia berjalan ke arah yang sama dengan pelayan Selir Agung.


Shana mengikuti pergerakan pelayan itu sampai menghilang di dalam istana.


" kenapa?" tanya Gyan mengambil minuman. Makanannya sudah habis dan dia mengetahui kebingungan Shana saat beberapa kali ada pelayan masuk.


" em, tidak. hanya saja..." Shana bingung harus bagaimana bertanya dengan bahasa halus.


" Alora masih di dalam, jadi mereka aku suruh untuk melayani wanita itu" jawab Gyan singkat menjawab rasa penasaran Shana.


" Se..Selir Alora? di dalam?" tanya Shana dengan di sela -sela tertawa garing dan wajah tidak percaya.


" ada yang salah?" tanya Gyan datar dengan nada tidak suka.


" tidak yang mulia" jawab Shana cepat, seakan tidak mempersalahkannya. Padahal rasanya hatinya sangat marah dan benci dengan Valmira. Kini bertambah lagi satu alasan kenapa dia harus segera menyingkirkan wanita itu.


" lanjutkan aku sudah selesai" Gyan beranjak meninggalkan meja. Tanpa ada siapapun yang tau jika Shana menggenggam sendok dan pisau dengan sangat erat. bentuk kekesalan hatinya karena ulah Valmira yang selalu mencuri kesempatannya lebih dulu.


Alhasil Shana dengan tanpa berlama-lama segera keluar dari istana Raja. Dia tidak mau mendengar lagi perihal kebersamaan Raja dan Alora. Dengan perasaan dongkol penuh rasa kesal Shana melangkah kembali menuju kamar nya.


" aaakkkkk....sialan, dasar wanita murahan!" caci Shana, wanita itu sudah melemparkan semua barang-barang di kamarnya. Amukannya membuat kamarnya menjadi seperti kapal pecah. Berantakan, barang berserakan dimana-mana. nafasnya memburu akibat dari emosinya yang membara.


" tunggu saja, pembalasanku akan segera datang" desis Shana yang masih mengatur nafasnya dengan tangan menggenggam erat.


Lain hal yang Shana, Valmira masih tenang di atas ranjang. Fleur menunggu di depan kamar dengan kaki yang mulai pegal. Tak hanya dia, ada 2 pelayan lainnya yang menunggu sampai Valmira terbangun. Mereka sudah siap dengan gaun beserta perlengkapan mandi.

__ADS_1


" yang mulia" ucap semua pelayan saat Gyan berjalan menuju kamar.


" Alora belum bangun?" Gyan mengerutkan keningnya, tidak biasanya wanita itu tertidur begitu lama di istananya.


" belum yang mulia" jawab Fleur sopan.


Raja Gyan bejalan masuk untuk melihat keadaan wanita itu. sudut bibir Gyan tertarik saat dia melihat ke arah ranjang. semua itu tidak lainn karena selirnya benar- benar masih terlelap disana. Gyan menaiki ranjang dan mendekati Valmira.


" Alora, hey. bangun" ucap Gyan pelan sambil mengusap pipi Valmira lembut.


" Alora" Gyan berganti mulai menciumi leher jenjang serta bahu Valmira yang polosan.


" emm, " Valmira bergumam merasa terganggu dengan aksi Gyan.


" bangunlah, hari sudah malam" Gyan mengingatkan Valmira, tidak biasanya Valmira terlelap begitu lama.


" emm, jangan ganggu aku" Valmira kembali protes meski dengan mata yang masih tertutup rapat.


" emmm" Valmira menolak, dia seakan ditarik dengan cepat dari ketidaksadaran. wanita itu mendorong apapun yang ada di depannya dengan kuat.


Gyan tentu tidak menyerah begitu saja, dia kembali mengulangi ciumannya. Dan kali ini Valmira benar-benar terganggu.


" yang mulia!" kesal Valmira, dia masih sangat mengantuk. Dia tidak sadar jika sudah menyentak Raja Garamantian. Tak hanya itu, wanita itu malah mengganti posisinya menjadi lebih menjauhi Gyan.


Gyan bukannya marah, dia semakin gemas. Namun dia juga tak ingin mengganggu tidur selirnya terus menerus. Gyan akhirnya turun dari ranjang dan berjalan keluar.


" kalian taruh saja semuanya di dalam, dan kau tunggu saja di tempat pelayan. Alora akan tidur disini malam ini" jelas Gyan kepada para pelayan yang sudah menunggu di depan kamar.


" baik yang mulia" jawab semua orang.


Gyan kembali berjalan menuju ruang kerjanya. Dia akan meneruskan pekerjaannya yang tertunda sejak tadi siang.


" Aden" panggil Gyan.

__ADS_1


" iya yang mulia" Aden segera berlari mendekat.


" kau siapkan keperluan pertemuan penyihir beberapa minggu lagi. Atur keamanan dengan ketat dan jangan sampai ada pejabat kerajaan yang mengetahui hal ini" jelas Gyan. Dia baru saja melihat surat dari seseorang yang membicarakan mengenai masalah di Azerbaza.


" baik yang mulia, oh ya kelompok bayangan baru saja mengirimkan beberapa buku mengenai kerajaan Mystick" Aden mengeluarkan buku-buku yang di maksud.


" em, bagus" ungkap Gyan dan mengambil salah satu buku itu untuk di lihat singkat.


" kalau begitu saya pamit undur diri yang mulia" Aden akan melaksanakan perintah Gyan.


Ruangan kembali sunyi, Gyan tertarik membaca lebih jauh. Lelaki itu berpindah tempat menuju sofa dekat jendela. Dia membuka lembar buku tersebut dan mulai membaca dengan seksama.


Tak terasa malam semakin kelam, Gyan saking seriusnya sampai tidak menyadari jika waktu menunjukkan tengah malam.


" banyak sekali sejarah kerajaan ini, sayangnya tidak ada yang tau lokasi tepatnya dimana" komentar Gyan setelah menyelesaikan buku pertama. Lelaki itu melihat jendela, bulan bersinar dengan sangat terang malam ini, lingkarannya penuh. bulat sempurna begitu indah dan menawan.


Sudah beberapa bulan berlalu setelah penampakan bulan merah yang dilihat Gyan malam itu. Kondisi Valmira sama sekali belum bisa mengingat dirinya sendiri, sangat kasihan.


Nan jauh disana seorang wanita terlihat cemas sambil terus membacakan mantra di depan sebuah lilin yang terkurung. Api penjaga inti jiwa Valmira yang selama ini dia jaga mati- matian terus bergerak tidak tentu arah.


Wanita itu dengan tanpa lelah membuat agar api itu tidak padam.


" apa yang terjadi?" tanya Alvaro ikut cemas, melihat Violet yang terlihat kelelahan menjaga api itu beberapa minggu ini.


" entahlah, sepertinya wanita itu berhasil selamat dan kini tengah mendapatkan tenaga lain di tubuhnya" jelas Violet singkat.


" ku lihat apinya semakin mengecil, kita harus melakukan sesuatu" ucap Alvaro yang semakin membuat situasi menjadi lebih mengkhawatirkan.


" aku tau, ini tidak akan terjadi jika tubuhnya tidak mendapatkan kekuatan" Violet curiga jika darah Alvaro tidak kuat lagi untuk menahan darah Valmira. Meski mereka sempat menikah dengan Valmira yang sangat mencintai Alvaro, tapi jika hati Valmira menerima lelaki lain atau tubuhnya mendapatkan energi lain maka darah Alvaro dan Valmira akan memisah. Dan Api ini akan terancam padam. kekuatan Valmira bisa kembali sedikit demi sedikit.


" aku akan mencari darah hewan suci (sebutan untuk hewan yang memiliki kekuatan sihir) untuk memulihkan tenaga mu" ucap Alvaro yang langsung di angguki oleh Violet.


Memang dalam beberapa bulan ini mereka rutin menangkap hewan suci dan mengambil darahnya untuk di konsumsi. Mereka memerlukan banyak tenaga sihir untuk menyegel kekuatan Valmira yang dasyat.

__ADS_1


__ADS_2